NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Bab 10

Pendopo rumah. Satu jam kemudian.

Mereka duduk di pendopo bangunan terbuka di depan rumah joglo yang beralaskan ubin tanah liat. Di atas meja kayu jati, dua cangkir kopi pahit mengepul, tidak tersentuh. Di sudut pendopo, sebuah pedupaan mengeluarkan asap cendana yang menenangkan. Angin pegunungan bertiup pelan, membawa suara gemericik air dari sungai kecil di bawah bukit.

Lusi sudah selesai bercerita.

Semuanya. Dari pertemuan pertama di tangga kampus, lima bulan jadi pacar, malam di hotel, video di grup WhatsApp, sampai tiga hari ia mengurung diri di kamar kost dan mencoba menusuk nadi tangannya dengan cutter.

"Tapi aku nggak jadi, Mbah," katanya sambil menatap perban kotor di pergelangan tangannya. "Aku ingat pesan Ibu... pantang mati sia-sia."

Ki Sarowang tidak berkata apa-apa selama lima menit penuh.

Ia hanya duduk bersila, kedua tangannya diletakkan di atas lutut, matanya terpejam. Wajahnya tenang. Tapi siapa pun yang mengenalnya akan tahu bahwa ketenangan itu adalah ketenangan sebelum badai.

Bi Tun yang duduk di pojok pendopo menatap keduanya dengan cemas. Ia sudah mengerti apa yang terjadi. Dan ia tahu, kalau Ki Sarowang sudah diam seperti ini, berarti ada sesuatu yang besar akan terjadi.

Akhirnya, lelaki tua itu membuka mata.

“Wong papat.”

(Empat orang.)

Suaranya datar. Tidak ada emosi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.

"I...iya, Mbah."

"Irawan. Dimas. Rendy. Bayu."

"Iya, Mbah."

“Kowe njaluk opo nduk?”

(Dan kamu mau apa, Nduk?)

Lusi mengerjapkan mata. "Apa... Mbah?"

“Kowe mrene. Kowe cerito kabeh. Mesti ono sing mbok pingini. Opo?”

(Kamu datang ke sini. Kamu cerita semua ini. Pasti ada yang kamu mau. Apa?)

Ki Sarowang menatapnya. Tatapannya tajam, tapi ada kelembutan di dalamnya.

“Kowe gelem mbah kirim santet nggo wong wong kuwi? Kowe gelem wong wong kuwi mati? Saiki yo iso. Jam piro wong wong kuwi mati mbah iso ngatur.”

(Kamu mau Mbah kirim santet untuk mereka? Kamu mau mereka mati? Sekarang juga bisa. Pukul berapa mereka mati, Mbah bisa tentukan.)

Bi Tun tersentak. "Ki Sarowang…"

“Menengo, Lastri.”

(Diam, Lastri.)

Bi Tun langsung menutup mulutnya.

Lusi menatap kakek buyutnya. Jantungnya berdebar kencang. Tawaran itu menggiurkan. Sangat menggiurkan. Bayangan Irawan dan teman-temannya mati mengenaskan, sekarat, menderita... itu terdengar seperti musik yang indah di telinganya.

Tapi...

"Nggak, Mbah."

Alis Ki Sarowang terangkat.

“Ngopo?”

(Kenapa?)

"Aku nggak mau mereka mati." Suara Lusi bergetar, tapi ada kekuatan baru di dalamnya. "Mati itu terlalu mudah, Mbah. Mereka nggak akan merasakan apa-apa. Cuma sakit sebentar, terus selesai. Aku mau... aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan. Aku mau mereka menderita. Aku mau mereka... jadi budakku."

Angin tiba-tiba berhenti bertiup. Asap dupa di sudut pendopo membeku di udara, seperti waktu sedang ditahan oleh tangan raksasa.

Ki Sarowang menatap cicitnya lama. Sangat lama. Lalu, perlahan, bibirnya yang keriput melengkung ke atas.

“Kowe… bener bener turunanku.”

(Kamu... kamu benar-benar darahku.)

"Maaf, Mbah?"

“Opo kowe ngerti, nduk, ngopo mbah ora gelem ngajari kowe ilmu opo wae?”

(Apa kamu tahu, Nduk, kenapa Mbah nggak pernah mau ngajari kamu ilmu apa pun?)

Ki Sarowang bangkit dari duduknya.

“Mergo geni sing nang njero awakmu iku… gedhi. Guwedhi. Mbah wedih, sesok nek kowe sinau, geni iku bakalan ngobong kabeh nganti entek. Termasuk awakmu dewe.”

(Karena api di dalam dirimu itu... besar. Terlalu besar. Mbah takut, kalau kamu belajar, api itu akan membakar semuanya. Termasuk dirimu sendiri.)

Ia berjalan mendekati Lusi, lalu meletakkan tangan keriputnya di atas kepala cicitnya.

“Tapi kowe wis milih. Simbah… Mbah bakal nganut opo sing mbok pilih.”

(Tapi kamu sudah memilih. Dan Mbah... Mbah akan menghormati pilihanmu.)

"Mbah..."

“Kowe njaluk ilmu opo, nduk? Ilmu hitam? Santet? Teluh? Racun?”

(Kamu mau pelajari ilmu apa, Nduk? Ilmu hitam? Santet? Teluh? Racun?)

Lusi menatap mata keemasan kakek buyutnya. Sejak tragedi itu, ia tersenyum. Bukan senyum manis seorang gadis yang jatuh cinta. Tapi senyum seorang perempuan yang telah menemukan tujuan hidupnya.

"Aku mau belajar Semar Mesem, Mbah."

Keheningan.

Lalu Ki Sarowang tertawa. Bukan tawa mengejek. Bukan tawa merendahkan. Tapi tawa kagum.

“Semar mesem? Kowe ngerti opo iku?”

(Semar Mesem? Kamu tahu apa itu?)

"Ilmu pengasihan."

"Itu definisi anak-anak. Semar Mesem itu bukan cuma pengasihan. Itu adalah ilmu yang mengikat jiwa. Kamu akan jadi tali, dan orang yang kena ilmu itu akan jadi layangan. Ke mana kamu pergi, dia ikut. Apa yang kamu suruh, dia turuti. Dia akan cinta mati padamu. Tapi kamu... kamu nggak akan pernah bisa mencintainya balik."

"Aku nggak mau mencintainya, Mbah." Suara Lusi tegas. "Aku cuma mau dia jadi budakku."

Ki Sarowang tersenyum lagi.

“Yakin?”

(Kamu yakin?)

"Lebih dari yakin."

Lelaki tua itu menghela napas panjang. Lalu ia berbalik dan berjalan ke dalam rumah. Lima menit kemudian, ia kembali dengan sebuah kotak kayu kecil di tangannya. Kotak itu berukir, kuno, dan baunya seperti sesuatu yang sudah disimpan selama ratusan tahun.

“Iki warisane eyang buyutku.”

(Ini warisan eyang buyutku,)

katanya sambil membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah buku tua bersampul kulit. "Ini kitab Semar Mesem. Ditulis oleh Ki Ageng Prawangsa, leluhur kita yang pertama. Kamu akan belajar dari sini. Tapi ingat, Nduk..."

Ia menatap Lusi dengan mata yang tiba-tiba serius.

“Ilmu iki landep. Nek kowe nggak kuat mental, iso gendeng. Siji ngkas…”

(Ilmu ini tajam. Kalau kamu nggak kuat mental, bisa gila. Dan satu lagi…)

"Apa, Mbah?"

“Kowe ngawiti ritual iki, kowe ora iso leren. Nek kowe leren tengah dalan, ilmune bakalan balik nang awakmu dewe. Kowe sing bakalan dadi budak, kowe sing bakal gendeng.”

(Begitu kamu mulai ritual ini, kamu nggak bisa berhenti. Kalau berhenti di tengah jalan, ilmunya akan berbalik ke kamu. Kamu yang akan jadi budak. Kamu yang akan gila.)

Lusi menatap kitab di tangan kakek buyutnya. Tangannya bergetar saat ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tapi getaran itu bukan karena takut.

Itu getaran karena antusias.

"Aku ngerti, Mbah."

\[BERSAMBUNG…\]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!