Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Sesi presentasi dimulai saat jarum jam mendekati pukul satu siang.
Panitia meminta peserta menjauh dari meja kerja masing-masing. Tirai merah kecil menutupi karya yang sudah selesai. Penonton di tribun kembali ramai, tetapi kali ini suara mereka tertahan oleh rasa ingin tahu.
Seline dipanggil lebih dulu.
Ia berdiri dengan senyum lembut, lalu menyingkap tirai merah.
Bros Merak muncul di bawah lampu sorot.
Rubi merah di pusat tubuh merak memang mencuri perhatian. Ekor logamnya terbuka lebar, dihiasi detail batu-batu kecil dan garis yang dibuat untuk terlihat mewah. Dari jauh, karya itu memukau.
Batu Rubi, meski masih kesal, tetap berusaha bangga. "Aku mahal. Aku merah. Aku terluka, tapi tetap pusat semesta."
Namun saat kamera close-up menyorot karya itu di layar besar, garis kasar di tepi detail rubi terlihat bagi mata yang cukup terlatih.
Seline menahan napas sepersekian detik.
Ia baru menyadarinya.
Satu goresan tidak rata.
Kecil.
Tetapi ada.
Ia langsung melanjutkan presentasi sebelum orang lain menatap terlalu lama.
"Bros Merak ini melambangkan keberanian perempuan menunjukkan keindahannya," kata Seline dengan suara manis. "Merak tidak takut membuka bulunya di depan dunia. Setiap perempuan juga berhak bersinar."
Anya bertepuk tangan paling dulu.
Alvin mengangguk bangga.
Gilbert menatap karya itu, lalu menatap Seline, ekspresinya tidak selembut dulu.
Dosen tamu dari asosiasi perhiasan memuji lebih dulu. "Komposisi mewah, pilihan material sangat kuat. Untuk tingkat mahasiswa, ini matang."
Prof. Hartono mengangguk. "Tekniknya baik. Proporsi ekor merak juga cukup stabil."
Pujian itu cukup untuk membuat sebagian penonton bertepuk tangan. Bagi mata awam, harga rubi dan ukuran ekor merak sudah terasa seperti kemenangan. Alvin bahkan menoleh ke beberapa mahasiswa di belakangnya dengan ekspresi seolah berkata, lihat, keluarga Santoso masih punya kebanggaan.
Seline tersenyum lega.
Lalu Cicely berbicara.
"Lumayan."
Satu kata itu membuat senyum Seline menegang.
Cicely menatap bros itu tanpa ekspresi berlebihan. "Tapi tidak sebaik karya UTS-mu."
Ruangan hening sebentar.
Keira menurunkan pandangannya.
Karya UTS itu.
Karya yang dulu membuat Cicely menerima Seline sebagai murid.
Karya yang sebenarnya hasil curian dari sketsa lama Keira.
Wajah Seline pucat satu tingkat, tetapi ia masih tersenyum. "Terima kasih, Guru. Saya akan terus belajar."
Batu Rubi bergumam, "Belajar dengar material dulu, deh."
Giliran beberapa peserta lain lewat tanpa kejutan besar.
Lalu panitia memanggil nama Keira.
"Keira Santoso."
Bisik-bisik langsung naik.
"Material sisa itu mau jadi apa?"
"Safir retak kan?"
"Paling cuma liontin sederhana."
Wulan menggenggam kedua tangannya di dada. Di baris belakang, Brandon tanpa sadar mencondongkan tubuh ke depan.
Keira berdiri di samping mejanya.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hanya menyingkap kain penutup.
Kalung Kupu-kupu Retak muncul di bawah lampu.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara sama sekali.
Safir retak itu telah menjadi dua sayap kupu-kupu yang terbuka setengah, seolah baru keluar dari kepompong. Retakan alami di dalam batu tidak disembunyikan. Keira memperjelasnya menjadi urat sayap. Pecahan berlian kecil tersebar di sepanjang garis retak seperti cahaya pagi yang terperangkap. Badan kupu-kupu dari titanium begitu tipis hingga hampir menghilang, membiarkan biru safir menjadi napas utama. Mutiara cacat yang warnanya tidak rata justru menjadi titik cahaya di ujung sayap, lembut dan tidak sempurna.
Batu Safir berbisik dengan suara gemetar, "Aku... cantik?"
Keira menyentuh tepi meja. "Sangat."
Layar besar menampilkan close-up karya itu.
Aula meledak dalam bisikan.
"Itu dari safir retak?"
"Retakannya jadi urat sayap."
"Kok bisa kelihatan... sengaja?"
Seseorang di baris depan berbisik, "Ini bukan material yang menyelamatkan karya. Ini karya yang menyelamatkan material."
Kalimat itu menyebar cepat. Mahasiswa yang tadi menertawakan meja sisa mulai diam. Beberapa sponsor bahkan mencondongkan tubuh ke depan, bukan karena kasihan, tetapi karena mata mereka mengenali sesuatu yang bisa dijual, dipamerkan, dan dibicarakan.
Prof. Hartono berdiri.
Tindakannya membuat seluruh aula lebih sunyi daripada tepuk tangan.
"Ini baru desainer sejati," katanya. "Mengubah yang dianggap cacat menjadi yang indah, tanpa menghapus sejarah materialnya."
Dosen tamu mendekat, kali ini lebih hati-hati daripada saat melihat karya Seline. "Penggunaan titanium sangat cerdas. Ringan, tidak mencuri perhatian. Pecahan berlian tidak dipakai untuk pamer, tetapi untuk memandu mata."
Cicely tidak langsung bicara.
Ia berdiri, berjalan ke depan meja Keira, lalu menatap kalung itu dari jarak dekat.
Semakin lama ia menatap, semakin tajam matanya.
"Akhirnya," katanya pelan, "ada karya yang membuat mata saya terbuka hari ini."
Seline menggenggam ujung roknya.
Cicely menoleh pada Keira. "Konsep?"
Keira menjawab tenang, "Retakan bukan kegagalan. Dalam alam, tekanan membentuk jejak. Saya ingin membuat karya yang tidak menyembunyikan luka, tapi membiarkan luka menjadi arah."
Wulan berdiri tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Wulan tidak peduli. Ia menunjuk ke arah bros Seline. "Maaf, saya cuma mau bilang. Kalau konsepnya setiap perempuan bisa menunjukkan keindahannya, kenapa harus pakai bahan paling mahal sejak awal? Itu bukan empati. Itu ironi."
Anya langsung berdiri. "Kamu siapa berani komentar?"
"Peserta yang punya mata."
Beberapa mahasiswa tertawa tertahan.
Seline membuka mulut, tetapi Cicely sudah berkata lebih dulu.
"Gadis itu benar."
Wajah Seline membeku.
Cicely menatap Bros Merak. "Karya Seline punya merak. Punya harga. Punya teknik. Tapi tidak punya jiwa."
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada palu juri mana pun.
Alvin terlihat tidak percaya. Gilbert memalingkan wajah. Rio dan Kelvin saling pandang, kali ini tidak punya bahan mengejek.
Penilaian akhir dilakukan cepat, tetapi hasilnya tidak lagi mengejutkan.
Dosen tamu memilih Keira.
Prof. Hartono memilih Keira.
Cicely memilih Keira.
Ketiga pilihan itu seperti tiga paku yang menutup peti keyakinan Seline.
Tidak ada ruang untuk alasan ranking.
Tidak ada ruang untuk menyalahkan material.
Tidak ada ruang untuk berkata juri tidak mengerti.
Panitia mengumumkan dengan suara yang menggema di aula.
"Juara pertama Piala Gemilang tahun ini, Keira Santoso, dengan karya Kalung Kupu-kupu Retak."
Wulan berteriak paling keras.
Batu Safir menangis tanpa air mata. "Aku juara?"
"Kita juara," bisik Keira.
Di tribun, Gilbert berdiri mendadak. Wajahnya gelap, campuran malu dan marah yang tidak menemukan sasaran. Ia mendengus, lalu pergi meninggalkan aula.
Seline tetap berdiri di tempatnya.
Tepuk tangan memenuhi ruangan, tetapi baginya, suara itu terdengar seperti pintu yang tertutup satu per satu.
Ujung jarinya dingin. Senyum yang biasa ia pakai di depan orang banyak tidak lagi mau terbentuk sama sekali.
Cicely mengambil kartu nama dari tas kecilnya, lalu berbalik kepada Keira di depan semua orang.
"Keira," katanya, jelas dan tenang. "Mau tidak jadi murid saya?"
Seline membeku.
semangat thor💪