Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 - Menyelinap
Bus nomor 666 berhenti di persimpangan jalan yang sepi, berlindung di bawah rindangnya pohon angsana tua.
Suasana Perumahan Asri Indah Blok C tampak sangat lengang. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning redup, sementara sebagian besar rumah warga sudah gelap gulita. Jam dinding di pos ronda terdekat menunjukkan pukul dua dini hari.
"Rombongan tetap di dalam bus," perintah Madam Helga seraya berdiri dari kursi beludrunya. "Damar, Pak Tejo, ikut saya!"
Damar merinding diselimuti rasa cemas saat melangkah keluar bus. Menyelinap ke rumah orang di tengah malam bukanlah tipe keahlian yang dimiliki seorang introvert penakut sepertinya.
Jika ketahuan warga, dia tidak tahu harus beralasan apa.
Maaf Pak Satpam, saya cuma antar hantu bapak-bapak nyari kunci brankas. Begitu?
Yang ada dia bakal langsung diarak keliling kampung.
"Rumahnya yang nomor 12 itu, Mas!" bisik Pak Tejo penuh semangat sambil menunjuk sebuah rumah tipe 45 bernuansa hijau muda dengan pagar besi rendah.
Madam Helga melangkah santai menuju pagar tanpa beban sedikit pun. Saat tiba di depan pagar yang terkunci slot dari dalam, wanita itu hanya mengibaskan tangan kirinya. Klek. Slot pagar besi meluncur terbuka secara ajaib tanpa menimbulkan suara decitan sekecil apa pun.
"W-Wah ... canggih," gumam Damar kagum, walau hatinya tetap deg-degan setengah mati.
Mereka bertiga berjalan melintasi halaman kecil menuju pintu depan. Madam Helga kembali menjentikan jarinya pelan. Pintu kayu utama langsung terbuka sedikit, memberi celah bagi mereka untuk masuk ke dalam ruang tamu yang gelap.
Suasana di dalam rumah sangat hening, hanya terdengar deru halus kipas angin dari arah kamar utama.
Di sudut ruang tamu, menempel pada dinding cat krem yang mulai memudar, berdiri sebuah lemari kayu jati tua. Di atas lemari itu tergeletak sebuah radio antik bermaterial kayu dengan antena kawat yang agak bengkok—radio kesayangan Pak Tejo sewaktu masih hidup.
"Itu radionya!" bisik Pak Tejo dengan nada emosional. Hantu berkumis tebal itu melayang mendekati lemari, mencoba memegang radionya, namun tangannya yang kasat mata hanya menembus material kayu tersebut. "Aduh ... saya lupa kalau saya udah nggak punya jasad!"
"Makanya saya yang disuruh ikut, 'kan?" gumam Damar seraya berjinjit mendekati lemari.
Damar mendongak, meraih radio tua yang berdebu itu dengan hati-hati. Bobotnya cukup berat. Dia menurunkan radio tersebut dan meletakkannya di atas meja kaca ruang tamu.
Madam Helga hanya berdiri bersedekap di dekat pintu, memperhatikan gerak-gerik Damar dengan tatapan mengawasi.
"Coba periksa di lubang baterai atau kompartemen belakangnya, Damar," instruksi Madam Helga dengan suara bisikan yang sangat tipis namun tegas.
"Iya, Madam." Damar memutar posisi radio tua tersebut. Dengan bantuan lampu pendar tipis dari pendar gaib tubuh Pak Tejo, Damar meraba bagian belakang radio. Ada sebuah celah kecil tempat memasukkan kaset pita kuno. Damar menekan tombol eject.
KLAK!
Suara pegas radio tua itu memantul keras di tengah heningnya ruang tamu yang sepi.
"SSSHHH!" Damar refleks menutupi mulutnya sendiri, membelalak ketakutan sambil melirik ke arah lorong kamar tidur.
Kringgg ... klutuk!
Belum sempat jantung Damar kembali ke detak normal, dari dalam celah kaset yang terbuka, sebuah benda logam kecil terlontar keluar dan jatuh meluncur di atas meja kaca! Benda itu memantul beberapa kali dengan bunyi nyaring yang memekakkan telinga Damar.
Ting! Ting! Ting!
Sebuah kunci kuningan kecil mengilat berputar-putar di atas meja kaca sebelum akhirnya berhenti total.
"Kuncinya! Itu kuncinya!" seru Pak Tejo kegirangan.
"Pak Tejo, diam! Suaranya kenceng banget!" bisik Damar panik setengah mati.
Dan benar saja, kecemasan Damar menjadi kenyataan. Dari arah kamar utama di ujung lorong, terdengar suara gesekan selimut diikuti erangan seseorang yang terbangun dari tidur. Langkah kaki berat mulai terdengar mendekat.
"Siapa di luar? Dimas, kamu bangun?" suara seorang wanita terdengar sayup-sayup dari dalam kamar.
Lalu suara pria dewasa menjawab kasar, "Bukan, Yang. Perasaan tadi ada suara barang jatuh di ruang tamu. Coba aku cek sebentar. Ambilkan pemukul kasti di belakang pintu!"
Mata Damar melotot selebar piring. Keringat dingin meledak seketika di seluruh permukaan kulitnya.
"M-Mati gue. Anaknya bangun bawa pemukul kasti!"
Damar langsung meraih kunci kuningan di atas meja, lalu celingukan panik mencari tempat bersembunyi. Ruang tamu itu sangat minim perabotan. Hanya ada satu sofa kain berukuran sedang dan meja kaca.
"Madam! Sembunyi di mana nih?!" bisik Damar histeris.
Madam Helga hanya memutar matanya malas, tidak berniat menggunakan sihirnya hanya untuk urusan sepele seperti ini.
"Sembunyi di balik sofa, Dasar Penakut!"
Damar langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, tiarap serendah-rendahnya di celah sempit antara bagian belakang sofa dan dinding. Dia menahan napas rapat-rapat, merapatkan dadanya ke lantai marmer yang dingin. Sementara itu, Pak Tejo melayang panik di langit-langit ruang tamu, berputar-putar seperti kipas angin rusak.
Cklek.
Sakelar lampu ruang tamu ditekan dari luar. Cahaya lampu neon yang terang benderang seketika menerangi seluruh ruangan.
Langkah kaki telanjang seorang pria dewasa melangkah ragu-ragu memasuki ruang tamu. Di tangannya, pria yang tak lain adalah Dimas—anak kandung Pak Tejo—memegang erat tongkat pemukul kasti kayu. Wajahnya tampak tegang dan bernapas memburu, matanya yang sembap menyapu setiap sudut ruangan.
"Siapa di sana?!" gertak Dimas dengan suara bariton yang agak bergetar.
Dari tempat tiarapnya di balik sofa, Damar memejamkan mata rapat-rapat. Dia bisa melihat sepasang kaki Dimas hanya berjarak setengah meter dari posisi kepalanya.
Jantung Damar berdegup begitu kencang sampai-sampai dia takut bunyi detak jantungnya bisa terdengar oleh pemilik rumah.
Tolong ... Tuhan, kalau saya selamat malam ini, saya janji bakal rajin salat dan nggak telat bayar kos lagi.
Damar berdoa dalam hati dengan derai air mata penyesalan.
Dimas melangkah mendekati meja kaca. Dia melihat radio tua milik almarhum ayahnya berada di atas meja dengan kompartemen kaset yang terbuka.
"Lho? Radio Bapak kok ada di bawah?" gumam Dimas heran. Dia meletakkan tongkat kastinya di atas sofa—tepat beberapa sentimeter di atas kepala Damar yang sedang tiarap!
Dimas berlutut di dekat meja, memutar-mutar radio tua itu dengan raut wajah bingung.
"Aneh ... perasaan tadi sore ini radio masih di atas lemari. Kok bisa jatuh sendiri? Kena angin gitu?"
Di atas plafon, Pak Tejo menatap anaknya dengan tatapan penuh kepedihan dan kerinduan.
"Dimas ... ini Bapak, Nak," bisik Pak Tejo pelan, walau suaranya tentu tidak bisa didengar oleh telinga manusia hidup.
Namun, di celah bawah sofa, kepanikan baru menghampiri Damar. Seekor cicak kecil yang terkejut tiba-tiba merayap naik ke punggung tangan Damar!
"Mmph ...!" Damar membekap mulutnya sendiri rapat-rapat menggunakan kedua tangan, menahan jeritan histerisnya setengah mati. Badannya bergoyang-goyang kaku menahan geli dan geliat ketakutan pada serangga.
Dimas yang sedang memegang radio mendadak menghentikan gerakannya. Dia mendengar suara desisan aneh dari balik sofa.
"Siapa itu?!" Dimas mencengkeram kembali tongkat kastinya, lalu berdiri perlahan. Dia melangkah memutari sofa, bermaksud menajamkan matanya untuk mengintip langsung ke area sempit di belakang sofa tersebut!
Jarak mata Dimas dengan punggung Damar tinggal hitungan sentimeter! Damar sudah pasrah, siap untuk dipukuli memakai tongkat kayu kasti sampai pingsan.
Tepat sebelum pandangan Dimas menemukan tubuh Damar, sebuah sentilan dingin berembus di tengkuk Dimas.
Brak!
Pintu dapur di bagian belakang rumah mendadak membanting terbuka dengan sendirinya, menciptakan angin dingin yang menebas ruang tamu!
Dimas tersentak kaget. Wajahnya mendadak pucat pasi. "A-Apaan itu?!"
Tidak berhenti di situ, Madam Helga yang berdiri tak terlihat di sudut ruangan mengibaskan jarinya pelan. Lampu neon di langit-langit mendadak berkedip-kedip liar, disusul suara bisikan halus yang bergema seperti rintihan angin di dalam telinga Dimas.
"A-Anjir! Rumah ini ada hantunya?!" jerit Dimas panik. Tanpa pikir panjang lagi, pria berbadan tegap itu langsung melempar tongkat kastinya, berbalik arah, dan berlari terbirit-birit kembali ke dalam kamarnya sambil membanting pintu keras-keras!
Brak! Klek! Suara kunci pintu kamar diputar dari dalam.
Keheningan kembali melingkupi ruang tamu.
Damar menghela napas lega yang amat sangat panjang, serasa baru saja mendapat pasokan oksigen dari surga. Dia merayap keluar dari balik sofa dengan susah payah, bajunya sudah penuh dengan debu lantai.
"A-Hampir aja mati berdiri ...," gumam Damar sambil mengelap keringat di dahinya yang bercampur debu.
Madam Helga melangkah mendekatinya dari kegelapan sudut ruangan, menyibak gaun hitamnya yang tetap bersih tanpa noda sedikit pun.
"Reaksimu terlalu lambat, Damar. Kalau tidak saya bantu dengan sedikit manipulasi atmosfer, kepalamu sudah bocor kena kayu kasti itu."
"Y-Ya maaf, Madam! Saya 'kan bukan agen rahasia!" balas Damar berbisik gusar, seraya menggenggam erat kunci kuningan kecil di tangannya.
Pak Tejo melayang turun dari langit-langit, menatap kunci kuningan di tangan Damar dengan mata berbinar-binar.
"Mas Damar ... itu kuncinya! Kamu berhasil mengambilnya!"
Damar menatap kunci kecil berdebu itu di telapak tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar tempat Dimas bersembunyi ketakutan.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Damar setelah melihat reaksi Dimas saat memegang radio tua milik ayahnya tadi.
"Pak Tejo ..." panggil Damar pelan. "Waktu Dimas megang radio tadi ... mukanya sama sekali nggak kelihatan marah atau benci sama Bapak. Wajahnya malah kelihatan ... merindukan Bapak."
Pak Tejo tertegun di udara. Aura gaibnya perlahan bergetar halus.
"Me-merindukan?"
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt