Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan Di Dalam Klub
Angin laut malam bertiup kencang, membawa aroma garam dan dingin yang menusuk tulang. Di ujung dermaga yang sepi itu, suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang menjadi satu-satunya latar belakang atas hening yang mendadak melingkupi mereka.
Aura menenggelamkan wajahnya di dada tegap Dante. Lingkaran tangannya meremas kuat bagian belakang mantel hitam pria itu, seolah takut jika ia melepaskannya, bayang-bayang kelam malam pembantaian dua tahun lalu akan kembali menyergapnya. Isak tangisnya pecah—bukan lagi tangisan ketakutan atau keputusasaan, melainkan pelepasan atas seluruh beban berat yang menindih dadanya sekian lama.
"A... Apa aku sudah benar-benar membayar rasa traumaku, Dante?" tanya Aura terisak pelan, suaranya bergetar hebat dan terendam di balik kemeja Dante. "Kenapa... kenapa dadaku masih terasa begitu sesak?"
Dante diam sejenak. Jemari besarnya yang terbiasa memegang senjata dingin kini bergerak lembut, membelai pelan rambut halus Aura dan melingkarkan lengan kokohnya untuk mendekap gadis itu makin erat ke dalam pelukannya.
"Pembalasan dendam tidak serta-merta menghapus luka, Aura," bisik Dante dengan suara beratnya yang penuh kehangatan dan rasa protektif yang mutlak. "Marco dan orang-orang yang menyakitimu sudah musnah di dasar laut. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Tapi memulihkan rasa sakit di dalam hatimu butuh waktu."
Dante merenggangkan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Aura dengan kedua tangannya yang hangat. Pria itu menyapu sisa air mata di pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya, memaksa mata cokelat Aura yang basah untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang tegas.
"Kau tidak lagi sendiri di tengah hutan yang gelap, Aura," tegas Dante, menatapnya tanpa ragu sedikit pun. "Traumamu tidak akan hilang dalam semalam, tapi mulai detik ini, kau tidak perlu memikulnya sendirian. Selama aku masih bernapas, aku yang akan menjadi perisaimu."
Aura menatap dalam-dalam pada binar mata Dante. Di sana, ia tidak melihat sesosok iblis kejam yang ditakuti dunia bawah, melainkan seorang pria yang siap mempertaruhkan segalanya demi menyembuhkan pecahan jiwanya.
Aura mengangguk pelan, menyandarkan dahi perlahan pada dada Dante. Hembusan napasnya mulai teratur, dan perlahan-lahan, sesak di dadanya tergantikan oleh rasa hangat yang mengalir tenang.
Di bawah naungan langit malam yang kelam, dendam telah tuntas, dan perjalanan baru untuk menyembuhkan luka kini dimulai.
Di dalam Gedung Opera—yang sebagian kawasannya telah disulap menjadi klub malam dan lounge eksklusif tempat para pengawal serta relasi Marco berkumpul—suasana yang tadinya penuh gorden kemewahan dan tawa penuh kesombongan mendadak pecah.
Pukul satu dini hari. Musik electro-house yang membentur dinding kaca masih membahana, namun di area bar privat lantai dua, dua buah pintu jati tebal terpancang tanpa ada penjagaan.
Seorang anak buah kepercayaan Marco bernama Garra, dengan tato naga membelit lehernya, berjalan sempoyongan keluar dari toiletVIP sambil memegang gelas wiski. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dua pengawal bertubuh bongsor yang seharusnya berdiri sigap di depan pintu ruang privat Marco sudah tidak ada di posisinya.
"Hei... ke mana si Johan dan Bimo?" gumam Garra dengan kening berkerut kasar.
Ia melangkah mendekati pintu kayu berukir tersebut dan mengetuknya keras-keras. "Bos Marco? Jamuan dengan para jenderal di bawah sudah mau dimulai."
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan asing yang menusuk dari balik pintu kedap suara itu.
Perasaan curiga mulai merayapi kepala Garra. Ia memutar knop pintu. Terkunci dari dalam. Tanpa membuang waktu, Garra melambaikan tangan memanggil tiga anak buah lainnya yang sedang bersenang-senang di lounge.
"Dobrak pintunya!" perintah Garra tajam, rasa mabuknya seketika menguap digantikan firasat buruk.
Brak! BUM!
Pada hantaman ketiga, engsel pintu besi itu jebol. Garra dan anak buahnya menerobos masuk dengan senjata otomatis yang sudah teracung.
Namun, pemandangan di dalam ruangan membuat darah mereka serasa membeku.
Ruangan itu berantakan. Sloki kaca pecah berantakan di lantai marmer, wiski mahal membasahi karpet, dan noda darah segar berceceran di dekat meja bar. Kamera pengawas di sudut atas ruangan telah hancur tertembak peluru peredam suara. Tapi yang paling mengerikan adalah... Bos besar mereka, Marco, telah lenyap tanpa jejak.
"B-Bos Marco... tidak ada!" seru salah satu anak buah dengan wajah pucat pasi.
Garra melangkah mendekati noda darah di lantai, lalu berlutut memegang bekas luka sayatan yang masih basah. Matanya membelalak lebar tatkala melihat sebuah kartu nama berwarna hitam pekat tergeletak tepat di tengah genangan darah tersebut.
Kartu berwarna hitam emas dengan lambang Serigala Menyilang—lambang kebesaran klan Dante.
"Dante..." bisik Garra dengan suara gemetar hebat, napasnya tertahan di tenggorokan. "T-tidak mungkin... Dante masih hidup?!"
Kepanikan massal melanda seluruh bawahan Marco di dalam klub malam itu. Suara sirene darurat internal meraung-raung, memutus alunan musik dan menghentikan pesta secara mendadak. Para jenderal, pejabat korup, dan pengusaha yang hadir berlarian ketakutan tatkala menyadari bahwa pelindung utama bisnis haram mereka telah diculik di bawah hidung mereka sendiri.
Kekaisaran bisnis gelap yang dibangun Marco selama dua tahun runtuh hanya dalam waktu satu malam. Tanpa pemimpin dan bayang-bayang kembalinya sang Iblis Dante, sisa-sisa pasukan Marco kini bagaikan kawanan domba yang menunggu giliran untuk dibantai.