NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Sang Pertapa Gunung

Perjalanan menuju pegunungan barat memakan waktu hampir seminggu, melewati jalur-jalur pegunungan yang semakin curam dan berkabut seiring mereka mendaki lebih tinggi. Elaina, yang awalnya bersemangat melihat pemandangan baru, mulai merasa kedinginan begitu mereka memasuki ketinggian yang lebih ekstrem, sehingga Sasuke terpaksa mengeluarkan salah satu mantel tebal dari gudang Gilgamesh-nya untuk membungkusnya hangat-hangat di punggungnya.

"Kita masih jauh, Papa?" Elaina bertanya suatu sore, suaranya teredam oleh syal tebal yang membalut lehernya.

"Entahlah," Sasuke mengakui jujur. "Kita mencari seseorang yang sengaja bersembunyi, jadi kita tidak punya peta pasti untuk diikuti."

"Kalau begitu, gimana caranya kita nemuin dia?" Elaina bertanya lagi, penasaran.

"Petunjuk kecil," Saviera menjawab dari sampingnya, tersenyum kecil melihat rasa ingin tahu anaknya. "Seperti detektif dalam cerita yang pernah kubacakan padamu, ingat? Kita kumpulkan sedikit demi sedikit sampai jadi gambaran besar."

"Elaina suka jadi detektif!" serunya riang, sedikit melupakan rasa dinginnya, mulai celingukan ke kanan dan kiri sepanjang perjalanan seolah berharap menemukan petunjuk sendiri.

Mereka mengandalkan petunjuk-petunjuk kecil di sepanjang jalan—desa-desa pegunungan terpencil yang sesekali mereka singgahi untuk mengisi ulang perbekalan, di mana penduduknya kadang bercerita tentang seorang pertapa misterius yang sesekali terlihat mengumpulkan herbal langka di lereng-lereng tertentu, atau meninggalkan obat-obatan buatan sendiri di depan pintu rumah warga yang sakit tanpa pernah menampakkan diri.

Di sebuah desa kecil bernama Frosthollow, tempat mereka singgah semalam untuk beristirahat dari dinginnya udara pegunungan, seorang ibu muda menceritakan pengalamannya sendiri sambil menyusui bayinya di dekat perapian.

"Anakku sakit parah musim dingin lalu," ibu itu bercerita, suaranya penuh syukur mengenang kejadian itu. "Tabib desa sudah menyerah, bilang tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Tapi paginya, ada sebotol ramuan tergeletak di depan pintu rumah kami, tanpa catatan, tanpa siapa pun yang terlihat meninggalkannya. Anakku sembuh dalam tiga hari."

"Anda tidak pernah melihat siapa yang meninggalkannya?" Saviera bertanya.

"Tidak pernah," ibu itu menjawab, menggelengkan kepala. "Tapi para tetua desa bilang ini bukan pertama kalinya terjadi. Sudah bertahun-tahun, sosok misterius ini membantu siapa saja yang membutuhkan, tanpa pernah meminta imbalan atau bahkan pengakuan."

"Dia baik hati, siapa pun dia," penduduk desa lain menambahkan, ikut bergabung dalam obrolan malam itu. "Tapi sangat tertutup. Tidak pernah ada yang berhasil bicara dengannya lebih dari beberapa kalimat sebelum dia menghilang lagi ke pegunungan. Beberapa orang bahkan mulai menyebutnya 'Roh Baik Pegunungan', karena tidak ada yang pernah benar-benar melihat wajahnya dengan jelas."

Sasuke menyimpan setiap detail itu dalam benaknya, gambaran tentang sosok yang mereka cari perlahan mulai terbentuk—bukan sekadar buronan yang ketakutan, melainkan seseorang yang, meski bersembunyi, masih memilih untuk berbuat baik pada dunia yang mungkin telah mengkhianatinya.

---

Pada hari kelima pendakian, mereka menemukan jejak yang lebih jelas—sebuah jalur setapak kecil yang tersembunyi di balik semak-semak lebat, nyaris tidak terlihat kecuali oleh mata yang benar-benar teliti. Sasuke, dengan bantuan Rinnegannya, berhasil mendeteksi pola langkah kaki yang sering dilalui, mengarah lebih dalam ke pegunungan menuju sebuah lembah tersembunyi.

Mereka mengikuti jalur itu selama berjam-jam, melewati air terjun kecil dan formasi batu yang unik, hingga akhirnya tiba di sebuah lembah kecil yang terlindung dari angin pegunungan oleh tebing-tebing tinggi di sekelilingnya. Di tengah lembah itu, berdiri sebuah pondok kayu sederhana, asap tipis mengepul dari cerobongnya, dikelilingi kebun kecil berisi berbagai tanaman herbal yang tertata rapi.

"Kita menemukannya," Saviera berbisik, menatap pondok itu dengan campuran lega dan waspada.

Sebelum mereka sempat mendekat lebih jauh, pintu pondok itu terbuka, dan seorang pria tua dengan jubah sederhana berwarna cokelat tanah melangkah keluar, tongkat kayu di satu tangannya, matanya yang sudah dipenuhi kerutan menatap mereka dengan waspada namun tidak sepenuhnya bermusuhan.

"Kalian bukan penduduk desa," pria tua itu berkata, suaranya serak namun tegas. "Dan aku tidak ingat pernah mengundang tamu."

"Kami mencari Pastor Elric," Sasuke berkata langsung, memutuskan kejujuran adalah pendekatan terbaik. "Jika itu memang Anda."

Pria tua itu terdiam lama, matanya menyipit menilai mereka bertiga—Sasuke dengan penampilannya yang jelas bukan petualang biasa, Saviera yang berdiri waspada di sampingnya, dan Elaina yang mengintip dari balik jubah Sasuke dengan mata penasaran.

"Nama itu sudah lama tidak kudengar," pria tua itu akhirnya berkata, sebuah pengakuan tanpa benar-benar mengonfirmasi. "Siapa yang mengirim kalian?"

"Tidak ada yang mengirim kami," Saviera menjawab. "Kami mencari sendiri, berdasarkan rumor yang kami dengar di kota."

"Rumor," pria tua itu mengulang, nada suaranya sulit diartikan. "Rumor bisa berbahaya bagi orang-orang tertentu."

"Kami tidak bermaksud membahayakan Anda," Sasuke berkata tenang. "Kami hanya ingin bertanya beberapa hal tentang Gereja Cabang Utara. Tentang kenapa Anda pergi."

---

Hening panjang menyelimuti mereka, hanya suara angin pegunungan dan gemericik air terjun kecil di kejauhan yang mengisi kesunyian. Akhirnya, pria tua itu menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot seolah beban lama yang ia pikul selama bertahun-tahun akhirnya menemukan celah untuk sedikit lega.

"Masuklah," ia berkata akhirnya, membuka pintu pondoknya lebih lebar. "Aku sudah lama menunggu seseorang yang cukup peduli untuk bertanya, meski aku juga takut hari ini akan tiba."

Pondok kecil itu sederhana namun hangat, rak-rak kayu dipenuhi buku-buku dan botol-botol herbal, sebuah perapian kecil menyala di sudut ruangan. Pastor Elric—karena memang dialah orangnya, seperti yang akhirnya ia akui begitu mereka duduk di sekitar meja kayu sederhana—menuangkan teh herbal untuk mereka semua, tangannya sedikit gemetar karena usia.

"Aku pergi," Pastor Elric memulai, duduk di kursi kayunya sendiri, "karena aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan. Sesuatu tentang bagaimana Uskup Agung baru naik ke posisinya."

"Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya, mencondongkan tubuh sedikit.

"Uskup Agung lama, yang kulayani dengan setia selama puluhan tahun, tidak meninggal karena usia seperti yang diumumkan secara resmi," Pastor Elric berkata, suaranya merendah meski tidak ada seorang pun selain mereka di lembah terpencil itu. "Aku menemukan bukti bahwa kematiannya... dipercepat. Oleh orang dalam Gereja sendiri."

Saviera menutup mulutnya dengan tangan, terkejut mendengar tuduhan seberat itu. "Dibunuh?"

"Aku tidak pernah bisa membuktikannya secara pasti," Pastor Elric mengakui, menggelengkan kepala pelan. "Tapi cukup untuk membuatku yakin, dan cukup berbahaya hingga aku harus melarikan diri begitu aku mulai bertanya-tanya terlalu keras di depan orang yang salah."

"Siapa yang menggantikannya?" Sasuke bertanya, meski sudah menduga jawabannya.

"Uskup Agung yang sekarang," Pastor Elric menjawab. "Seseorang yang, menurut pengamatanku selama bertahun-tahun melayani di sana, lebih tertarik pada kekuasaan dan kendali daripada pengabdian sejati pada Dewa Agung."

"Kenapa Anda tidak melaporkannya pada pihak berwenang lain?" Saviera bertanya. "Kerajaan, misalnya, atau cabang Gereja lain yang masih bersih?"

Pastor Elric tertawa pahit, suara yang lebih menyerupai keluhan daripada tawa sungguhan. "Kau pikir aku tidak mencoba, Nyonya? Aku menghabiskan berbulan-bulan mengumpulkan bukti sebelum aku berani bicara. Tapi begitu aku mulai bertanya-tanya secara terbuka, dua orang dekatku—orang yang membantuku dalam penyelidikan itu—ditemukan tewas dalam 'kecelakaan' yang mencurigakan dalam waktu seminggu."

Ruangan itu hening sejenak, beban kata-kata itu terasa berat di udara.

"Setelah itu," Pastor Elric melanjutkan, suaranya lebih pelan, "aku sadar aku tidak punya pilihan selain melarikan diri. Bukan karena aku pengecut, tapi karena aku tahu, jika aku juga mati, kebenaran itu akan mati bersamaku, terkubur selamanya. Setidaknya dengan bersembunyi, ada kemungkinan kecil suatu hari nanti seseorang akan datang bertanya, seperti kalian sekarang."

Ia menatap ke arah kebun herbalnya yang terlihat dari jendela, matanya menerawang jauh. "Aku memilih untuk menghabiskan sisa hidupku membantu orang-orang di desa-desa sekitar sini dengan cara kecil yang masih bisa kulakukan—herbal, obat-obatan sederhana. Bukan penebusan yang cukup untuk kegagalanku melindungi Uskup Agung lama, tapi setidaknya sesuatu."

"Anda tidak gagal," Saviera berkata lembut, menyentuh tangan pria tua itu dengan simpati yang tulus. "Anda melakukan yang Anda bisa, dan Anda masih membantu orang-orang bahkan sekarang, dengan risiko besar bagi diri Anda sendiri."

Pastor Elric menatapnya, mata tuanya berkaca-kaca sejenak sebelum ia mengangguk pelan, menerima penghiburan itu meski tidak sepenuhnya percaya pada kata-katanya sendiri.

---

Elaina, yang sejak tadi duduk diam mendengarkan percakapan orang dewasa yang terlalu berat untuknya pahami sepenuhnya, menghela sebuah cangkir teh herbal hangat dengan kedua tangan kecilnya, sesekali melirik ke arah orang-orang dewasa di sekelilingnya dengan mata yang penuh perhatian meski tidak sepenuhnya mengerti.

"Kenapa Kakek sedih?" Elaina tiba-tiba bertanya, memecah suasana berat itu dengan kepolosan yang hanya bisa dimiliki anak kecil.

Pastor Elric menoleh, terkejut sejenak dengan pertanyaan tak terduga itu, sebelum senyum lembut—yang pertama sejak mereka tiba—muncul di wajahnya yang keriput. "Kakek sedih karena mengingat sesuatu yang menyedihkan, Nak. Tapi terima kasih sudah bertanya. Sudah lama sekali tidak ada yang peduli untuk bertanya."

"Elaina peduli," gadis kecil itu berkata sederhana, membuat suasana di ruangan itu sedikit melunak meski beban topiknya masih terasa berat.

Sasuke menatap Elaina sejenak, rasa hangat familiar menjalar di dadanya sebelum kembali fokus pada Pastor Elric. "Apakah Anda tahu sesuatu tentang Dewa Agung sendiri? Hubungannya dengan Gereja saat ini?"

Pastor Elric menatapnya lama, matanya menyipit penuh pertimbangan. "Kenapa kau bertanya itu, Anak Muda? Siapa sebenarnya kau?"

Sasuke terdiam sejenak, mempertimbangkan seberapa jauh ia harus membuka dirinya sendiri pada orang asing yang baru saja ia temui, meski instingnya mengatakan bahwa pria tua ini bisa dipercaya.

"Aku salah satu yang diberi kekuatan langsung oleh Dewa Agung," Sasuke akhirnya mengakui. "Diberi misi untuk memburu pemilik System. Dan aku mulai mempertanyakan apakah aku memahami seluruh gambaran di balik misi itu."

Pastor Elric menatapnya lama sekali, sesuatu yang mendekati kekaguman sekaligus kekhawatiran bercampur di matanya. "Kalau begitu," ia akhirnya berkata, suaranya lebih serius dari sebelumnya, "kau perlu mendengar apa yang kuketahui, meski aku sendiri tidak yakin seberapa banyak dari itu yang bisa kupertanggungjawabkan kebenarannya."

Ia menghela napas panjang, menatap ke arah jendela pondoknya yang menghadap ke pegunungan luas di kejauhan.

"Dewa Agung," ia mulai perlahan, "bukanlah satu-satunya kekuatan besar yang pernah terlibat dalam pembentukan Gereja ini."

---

*Bersambung ke Bab 24: Kebenaran yang Tersembunyi*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!