NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Hari Minggu ini, Nenek Bani menyuruh anak, menantu dan para cucunya berkumpul di ruang tamu. Ada satu kabar penting yang ingin beliau sampaikan. Dengan senyum penuh harap, Nenek Bani mengumumkan bahwa Ratna telah dijodohkan dengan cucu dari sahabat lamanya. Perjodohan itu bukan keputusan yang tiba-tiba, melainkan janji persahabatan yang telah disepakati sejak puluhan tahun lalu.

Semua anggota keluarga tampak terkejut, tetapi belum sempat ada yang memberi selamat, Ratna lebih dulu bangkit dari duduknya. "Aku menolak."

Ucapan itu membuat suasana seketika hening.

Ratna menyampaikan penolakannya tanpa ragu. Baginya, perjodohan adalah sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Ia ingin menentukan sendiri pasangan hidupnya, bukan dipilihkan oleh siapa pun. Penolakannya semakin keras ketika mengetahui calon suaminya adalah seorang tentara.

Ratna yang sebentar lagi lulus kuliah merasa lelaki itu tidak pantas bersanding dengannya. Dalam pikirannya, seorang tentara pasti hanya lulusan SMA yang langsung mendaftar menjadi prajurit. "Aku calon sarjana, Nek. Masa harus menikah dengan prajurit TNI? Aku juga punya cita-cita dan standar dalam memilih pasangan."

Kalimat itu membuat beberapa anggota keluarga saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Ratna akan mengucapkan kata-kata setajam itu di hadapan semua orang. Sementara Nenek Bani hanya mengembuskan napas pelan.

Di keluarga besar Bani, Ratna adalah cucu perempuan paling tua. Sejak kecil ia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, sebab setelah kematian abangnya, Bani, Ratna otomatis menjadi anak satu-satunya. Makanya ia tumbuh dengan karakter agak keras, ia juga dikenal paling berani menyampaikan pendapat, bahkan kepada Nenek Bani sekalipun.

Padahal, di keluarga itu, Nenek Bani adalah pemimpin tertinggi. Semua keputusan penting selalu dimusyawarahkan bersama, tetapi kata terakhir tetap berada di tangan beliau. Anak-anaknya sangat menghormati sang ibu, para menantu pun tidak pernah membantah, sementara para cucu terbiasa menuruti nasihat nenek mereka.

Hanya Ratna yang berani terang-terangan menyatakan penolakan. Di hadapan seluruh keluarga, ia membantah keputusan sang nenek tanpa ragu, membuat suasana yang semula hangat berubah tegang. Ayahnya hanya menunduk, khawatir perdebatan itu akan melukai hati perempuan yang selama puluhan tahun menjadi tiang penyangga keluarga besar mereka.

"Kamu kan belum kenal pemuda itu," ujar Nenek Bani. "Temuilah sekali dulu. Setelah itu baru kamu putuskan."

Ratna menggeleng tanpa ragu. "Nggak mau, Nek."

"Kamu kan belum tahu seperti apa dia. Barangkali cocok."

Ratna menyilangkan kedua tangan di dada. "Nenek juga nggak pernah minta pendapatku sebelum memutuskan perjodohan ini, kan? Jadi sekarang aku juga berhak bilang nggak mau." Perkataan itu membuat suasana ruang tamu berubah tegang.

"Lha, bagaimana Nenek bisa meminta pendapat kamu, waktu itu kamu kan masih bayi." Neneknya mendengus kesal.

Nenek Bani tetap berusaha menasihati, sedangkan Ratna sama sekali tidak mau mengalah. Keduanya saling beradu argumen. Tak ada yang bersedia menarik ucapannya lebih dulu.

Di sudut ruangan, ayah Ratna hanya bisa menundukkan kepala. Sebagai anak laki-laki tertua, ia tumbuh dengan didikan untuk selalu patuh kepada ibunya. Selama puluhan tahun, ia hampir tidak pernah membantah keputusan Nenek Bani. Namun, di sisi lain, yang sedang berdebat kali ini adalah putri semata wayangnya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa membela salah satu pihak.

Dalam hati, ia hanya bisa menghela napas panjang. Dua perempuan itu memang berbeda generasi, tetapi memiliki sifat yang nyaris sama, keras kepala, teguh pada pendirian, dan sama-sama pantang mundur jika merasa dirinya benar. Melihat keduanya saling bersikeras, ia mulai khawatir. Entah akan seperti apa akhir dari persoalan ini.

Perdebatan itu belum juga mereda. Suasana ruang tamu semakin tegang. Tak ada satu pun anggota keluarga yang berani menyela. Hingga akhirnya Ani, menantu pertama Nenek Bani yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, perlahan angkat bicara. Ia menatap mertuanya dengan penuh hormat, tetapi sorot matanya menunjukkan ketegasan. "Maaf, Bu. Kali ini saya sependapat dengan Ratna." tentu saja, sebagai ibu, Ani dan putrinya selalu seiya sekata.

Semua mata langsung beralih kepadanya.

Sebagai menantu tertua, Ani dikenal sangat menjaga sikap. Tetapi paling tidak mau jika pendapatnya tidak diterima. Ia akan selalu siap berdebat untuk menang. "Bukannya saya tidak menghormati Ibu," lanjutnya pelan, "tapi Ratna adalah putri satu-satunya kami. Wajar kalau kami ingin dia mendapatkan pasangan terbaik." Ani menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. "Menurut saya, urusan jodoh seharusnya dibicarakan lebih dulu dengan Ratna dan kami sebagai orang tuanya. Jangan sampai anak kami dijodohkan begitu saja dengan seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya."

Suasana kembali hening. Mendengar istrinya akhirnya bersuara, ayah Ratna hanya mengembuskan napas pelan. Kini bukan hanya Ratna yang berseberangan dengan Nenek Bani, tetapi juga istrinya sendiri. Jantungnya berdebar kencang, entah bagaimana nasibnya nantinya.

"Haduh kalian berdua ini, kenapa sih tidak mau mengikutiku. Diminta ketemu dulu juga tidak mau. Kamu Ratna, kan belum melihat biodatanya juga." Nenek semakin kesal sebab perdebatan ini jadi satu lawan dua.

"Aku nggak mau, Nek. Sampai kapanpun tetap tidak akan mau!" Ratna mulai menaikkan nada suaranya sebab ia pun sudah kesal terlalu lama berdebat. "Yah, ayo katakan sesuatu!" kini Ratna meminta bantuan ayahnya.

"Hah, kok ayah?" Aji, ayahnya Ratna langsung gelagapan. Sampai usianya nyaris kepala lima, belum pernah ia membantah ibunya. Apalagi saat itu juga ibunya langsung melotot padanya. Seolah memberi isyarat, akulah yang harus kamu dukung!

Di tengah perdebatan yang semakin memanas, Tara yang merupakan cucu dari anak Nenek Bani yang lain hanya menjadi penonton. Ia tinggal serumah dengan sang nenek bersama ibunya dan kedua adiknya, sehingga pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang asing baginya. Kalau saja yang menjadi lawan debat Nenek adalah dirinya atau salah satu dari keluarga intinya, mungkin perdebatan ini tak akan lama sebab ia dan keluarganya tidak punya hak debat di rumah ini.

Sesekali Tara menguap lebar sambil menopang dagu. Di sebelahnya, sang ibu dan kedua adiknya juga hanya saling pandang tanpa berani ikut campur. Bagi mereka, pertarungan pendapat antara Nenek Bani dan Ratna ibarat dua batu besar yang saling bertabrakan. Lebih aman menonton daripada terseret ke dalamnya.

Sementara itu, Tara mulai berjuang melawan kantuk yang sejak tadi menyerang tanpa ampun. Semalam ia hampir tidak tidur karena membantu ibunya menyiapkan pesanan katering hingga menjelang subuh. Kelopak matanya terasa semakin berat. Dalam hati, Tara benar-benar ingin menyela.

"Halo semuanya... Nenek, Kak Ratna... silakan lanjutkan perdebatannya sampai puas. Aku izin ke kamar dulu, ya. Ngantuk banget. Semalam begadang bantu Ibu masak buat katering." Sayangnya, itu hanya berani ia ucapkan dalam hati. Kalau benar-benar mengatakannya, bisa-bisa seluruh perhatian langsung beralih kepadanya. Padahal yang ia inginkan saat ini cuma satu... Kasur, bantal dan guling. Lalu tidur sampai siang!

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!