Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
Keesokan paginya.
"Semoga hari ini lebih baik lagi." Viola berucap pelan. Sementara tangannya sibuk mengolah adonan croissant di atas meja kerja. Sejak subuh ia sudah berada di dapur Sweet Cake. Rambutnya diikat sederhana, sementara celemek menutupi pakaian rumah yang dikenakannya.
Semalaman ia tidak tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus kembali pada hari pertama pembukaan.
Toko memang ramai. Semua cake, roti, dan dessert bahkan bahkan habis sebelum waktunya tutup. Namun, setelah mengetahui beberapa pelanggan datang karena intruksi Han Seokjin, ada sedikit rasa kecewa yang tertinggal.
Ia ingin Sweet Cake ramai karena orang-orang memang ingin mencicipi kue buatannya. Bukan datang karena perintah seseorang.
"Sweet Cake pasti bisa." Viola menarik napas panjang. Tangannya kembali melipat adonan.
Tepat pukul enam pagi, suara pintu depan terdengar.
"Selamat pagi, Bu."
"Selamat pagi, Dimas."
Dimas masuk ke dapur dan langsung mengenakan celemek. Beberapa detik kemudian, Mario, pria hampir paruh baya yang baru direkrut beberapa hari yang lalu menyusul dari arah pintu depan.
"Selamat pagi, Bu Viola."
"Selamat pagi, Pak Mario." Viola menoleh ke arah keduanya. "Hari ini kita buat adonan lebih sedikit daripada kemarin."
"Baik, Bu."
Tanpa bertanya lagi, Mario segera mencuci tangan dan bersiap di meja kerja.
"Dimas, kamu bantu bagian roti. Pak Mario bisa mulai dari adonan cake."
"Siap, Bu." Meski dilanda rasa bingung karena atasannya justru mengurangi adonan namun Dimas tetap melakukan tugasnya tanpa bertanya lebih jauh.
Mereka bertiga langsung bekerja.
Viola kembali mengurus adonan croissant. Dimas menimbang tepung dan bahan roti, sementara Pak Mario mulai menyiapkan adonan cake.
Suara mixer mulai memenuhi dapur. Oven dinyalakan. Aroma mentega perlahan menyebar.
"Bu, adonan croissant yang ini sudah bisa masuk pendingin?" tanya Dimas.
"Sudah. Setelah itu lanjutkan yang berikutnya." Tatapan Viola beralih pada Mario. "Pak Mario, untuk adonan cake jangan terlalu lama diaduk"
"Siap, Bu."
Kesibukan pagi itu terasa berbeda. Tidak ada kepanikan seperti kemarin. Mereka sudah mulai memahami ritme masing-masing.
Satu jam kemudian, pintu depan kembali terbuka.
"Selamat pagi, Bu!"
Rani dan Siska datang hampir bersamaan.
"Selamat pagi." Viola menoleh dari meja kerja. "Agus dan Wawan belum datang?"
"Sudah datang, Bu. Mereka sedang menata bagian depan," jawab Rani.
"Bagus. Kalian langsung bantu di dapur."
"Siap."
Rani dan Siska segera bergabung.
Beberapa menit kemudian, Agus dan Wawan masuk untuk mengambil beberapa nampan.
"Bu, etalase sudah siap," lapor Agus.
"Kalau begitu mulai susun cake yang sudah dingin."
Satu per satu cake, roti, dan dessert mulai memenuhi etalase. Tidak terlalu berlebihan seperti kemarin. Viola sengaja membuat jumlah yang lebih terukur. Ia yakin Asisten Kim sudah menyampaikan pesannya kemarin.
Viola ingin melihat bagaimana Sweet Cake berjalan tanpa bantuan dari pelanggan yang sengaja dikirimkan oleh siapa pun.
Pukul delapan tepat, semuanya sudah siap. Deretan cake, roti, dan dessert memenuhi etalase.
Viola menatap seluruh ruangan. Meja dan kursi bersih, etalase penuh, pendingin ruangan cukup.
"Rani, tolong balik papan di depan pintu. Sweet Cake siap menerima pelanggan."
"Baik, Bu." Rani segera melangkah menuju pintu depan dan membalik papan kecil bertuliskan TUTUP menjadi BUKA.
Viola masih berdiri di tengah ruangan. Kemarin ia membuka toko dengan rasa cemas. Hari ini rasa itu masih ada. Namun, di baliknya tumbuh keyakinan kecil. Ia ingin membuktikan bahwa Sweet Cake bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Ia pernah melakukan itu beberapa bulan yang lalu. Dan dengan keyakinan yang sama, kini ia kembali membuka toko itu.
"Semoga hari ini pelanggan yang datang karena memang ingin mencoba kue kita," gumam Viola pelan. Ia tersenyum tipis, kemudian berbalik ke meja kasir.
Hari kedua Sweet Cake pun dimulai.
*****
Sementara di tempat lain ....
"Selamat pagi, Tuan Han," sapa Asisten Kim.
Seokjin tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil sambil terus berjalan menuju ruangannya. Langkahnya tetap tenang dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Penandatanganan pembebasan lahan Distrik Timur akan dilakukan siang nanti." Asisten Kim menyusul di belakangnya.
"Bagus. Pastikan semuanya berjalan lancar. Proyek itu harus segera berjalan." Seokjin meletakkan jasnya di sandaran kursi. "Bacakan agendaku hari ini."
"Rapat dengan tim legal pukul sembilan. Setelah itu makan siang bersama beberapa pemegang saham proyek Distrik Timur. Pukul dua ada pertemuan dengan pihak kontraktor. Sore hari ada rapat internal mengenai anggaran pembangunan." Asisten Kim membacakan agenda yang telah disusunnya.
Seokjin duduk di kursi kerjanya. "Batalkan agenda sore, lalu rubah jadwalnya menjadi besok pagi."
"Baik, Tuan." Asisten Kim mengangguk lalu menyerahkan tablet yang dibawanya. "Ini laporan perkembangan proyek Distrik Timur.
Seokjin menerima tablet itu. Ia mulai membaca beberapa halaman laporan. Tatapannya bergerak cepat, sesekali berhenti pada angka dan keterangan mengenai pembiayaan proyek itu.
"Bagaimana dengan Sweet Cake?" Seokjin bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan proyek yang sedang dibacanya.
"Berjalan lancar, Tuan." Asisten Kim masih berdiri di depan meja kerja. "Seluruh cake, roti maupun dessert habis terjual."
"Bagus." Seokjin membalik halaman berikutnya. "Sepertinya lokasi baru cukup membantu."
Asisten Kim terdiam sejenak. Sedikit ragu untuk menyampaikan pesan Viola kemarin sore.
"Apa ada sesuatu?" tanya Seokjin. Ia sempat melirik dan menangkap Asistennya yang tampak ragu.
"Ada satu hal yang disampaikan Nona Viola."
Seokjin meletakkan tablet yang dipegangnya ke atas meja. "Katakan!"
"Nona Viola mengatakan terima kasih karena Tuan sudah banyak membantu," ucap Asisten Kim sedikit ragu. "Selain itu, Nona juga mengatakan maaf karena sudah banyak merepotkan Tuan."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Jari Seokjin mengetuk perlahan permukaan meja.
Maaf karena terlalu banyak merepotkan.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, Seokjin memahami maksud lain di baliknya.
Viola bukan orang yang suka bergantung pada orang lain. Dulu, saat masih memimpin perusahaan, wanita itu dikenal selalu berusaha menyelesaikan banyak persoalan dengan kemampuannya sendiri.
Karena itu, mungkin bantuan yang ia berikan selama ini sudah terlalu banyak dan wanita itu merasa semakin tidak nyaman.
"Kim!" Seokjin kembali bersuara.
"Ya, Tuan."
"Apa kau meminta staf perusahaan datang ke Sweet Cake hari ini?"
"Jika Tuan menginginkannya seperti kemarin, maka saya akan melakukannya."
Seokjin terdiam beberapa detik. Pandangannya beralih ke jendela besar di samping ruangan. Di luar sana, pagi berjalan seperti biasa. Sementara di tempat lain, mungkin saat ini Viola sedang sibuk membuat adonan dan menata etalase. Wanita itu pasti ingin melihat hasil usahanya sendiri. Tanpa bantuan siapa pun.
"Jangan lakukan lagi," ucap Seokjin kemudian.
Asisten Kim mengangguk. "Baik, Tuan."
"Biarkan Sweet Cake berjalan dengan caranya sendiri." Seokjin kembali menyalakan tablet. Namun, sebelum benar-benar kembali bekerja, ia berkata pelan. "Dia pasti lebih menyukai itu."
Asisten Kim tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Karena pertama kalinya, ia melihat atasannya yang selama ini selalu mengatur segala sesuatu dengan perhitungan matang, memilih mundur satu langkah.
Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia mencoba memahami apa yang diinginkan wanita bernama Viola.
*** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor