NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Hadiah Rahasia dan Pembuktian di Meja Para Kolektor

Keesokan harinya, Chen memulai langkah baru dengan kekayaan masif yang kini ia miliki. Didampingi oleh agen properti kelas atas, Chen membeli sebuah rumah mewah bak istana di kawasan elite kota. Rumah itu memiliki halaman yang luas, arsitektur megah, dan keamanan nomor satu.

Namun, Chen memutuskan untuk belum menempatinya sekarang. Ia mengunci rapat rumah itu dan menyimpan kuncinya di laci terdalam. Rencananya sudah bulat: rumah mewah ini akan ia rahasiakan dari Mei dan akan dijadikan sebagai kejutan serta hadiah pernikahan terindah saat mereka naik ke pelaminan kelak. Selain rumah, Chen yang berotak cerdas juga membeli beberapa hektar lahan pertanian subur di pinggiran kota sebagai investasi jangka panjang yang aman. Baginya, tanah adalah aset yang tidak akan pernah menyusut harganya.

Sore harinya, ponsel Chen bergetar. Layarnya menampilkan nama Liu.

"Chen! Kamu sibuk tidak?" suara Liu terdengar bersemangat di seberang telepon. "Malam ini aku ada pertemuan pribadi dengan beberapa kolektor batu giok papan atas dari luar kota. Mereka semua adalah taipan berkantong tebal yang sangat berpengaruh. Aku ingin mengenalkanmu pada mereka!"

Chen berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baiklah, kirimkan lokasinya. Aku akan ke sana."

Pandangan Sebelah Mata

Pertemuan itu diadakan di sebuah ruang VIP restoran privat bintang lima yang sangat tertutup. Saat Chen melangkah masuk, ia melihat Liu sedang duduk melingkar bersama empat orang pria paruh baya yang mengenakan pakaian sutra mahal dan jam tangan mewah. Di atas meja melingkar itu, terdapat beberapa bongkah batu mentah yang sengaja mereka bawa untuk dipamerkan.

"Ah, Chen! Sini duduk!" seru Liu langsung berdiri menyambut sahabatnya.

Liu kemudian berbalik ke arah para taipan tersebut. "Tuan-tuan, perkenalkan, ini Chen. Pemuda yang semalam kuberi tahu, orang yang berhasil mengimbangi paman saya, Tuan Feng, di Paviliun Giok Surgawi."

Mendengar perkenalan Liu, keempat kolektor besar itu hanya melirik Chen sekilas dari atas ke bawah. Melihat penampilan Chen yang tetap sederhana tanpa perhiasan mencolok atau pakaian bermerek mahal, kilat meremehkan langsung terpancar dari mata mereka.

"Tuan Muda Liu, Anda pasti bercanda," ucap salah satu kolektor berwajah gemuk sambil mengisap cerutunya. "Pemuda sekecil ini mengimbangi Master Feng? Mungkin Paman Anda hanya sedang mengalah karena Anda keponakannya. Dunia giok membutuhkan pengalaman puluhan tahun, bukan sekadar keberuntungan anak muda."

Kolektor lainnya menyahut sambil terkekeh sinis, mengabaikan kehadiran Chen seolah-olah pemuda itu hanya angin lalu. Mereka kembali asyik mengobrol sendiri, tidak memedulikan Chen yang duduk tenang di samping Liu. Liu sempat ingin marah melihat sahabatnya diremehkan, namun Chen menepuk lutut Liu pelan, memberi isyarat agar Liu tetap tenang.

Tamparan Fakta sang Dewa Giok

"Koleksi batu mentah yang Anda bawa dari Myanmar ini cukup menarik, Tuan-tuan," suara Chen terdengar tenang memotong obrolan mereka.

Chen memajukan tubuhnya, menatap sebuah batu hitam berukuran sebesar kepala manusia yang sedang didebatkan oleh para kolektor sejak tadi. Di balik retinanya, energi hangat berdesir lembut. Mata ajaib Chen seketika aktif, membedah struktur molekul pembentuk batuan tersebut hingga ke inti terdalam.

"Batu hitam di tengah ini... Anda semua memprediksi ini berisi Giok Merah (Blood Jade) tingkat tinggi karena guratannya yang keunguan di kulit luar, bukan?" tanya Chen datar.

"Tentu saja! Kami para ahli sudah menganalisisnya dengan senter khusus selama dua jam!" jawab kolektor gemuk itu ketus.

Chen tersenyum tipis. "Sayang sekali, analisis Anda salah besar. Jika batu ini dipotong sedalam tiga sentimeter, Anda hanya akan menemukan lapisan batu kali biasa. Gioknya memang ada, tetapi bergeser ke sudut kanan bawah, dan jenisnya bukan Giok Merah, melainkan Giok Lumut Hijau (Moss Agate Jade) kualitas menengah yang retak di bagian dalamnya. Nilai batu ini tidak lebih dari sepuluh ribu yuan. Anda sudah tertipu."

Mendengar ucapan berani Chen, ruangan seketika hening. "Sombong sekali kau, Anak Muda! Berani bertaruh?!" tantang sang pemilik batu yang merasa dihina.

"Liu, minta pelayan membawa mesin pemotong portabel ke sini," perintah Chen tenang.

Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai mesin pemotong tiba. Atas instruksi presisi dari Chen, batu hitam itu dibelah tepat di bagian tengah.

Zrrrtt... Tok!

Batu itu terbelah menjadi dua. Dan persis seperti yang dikatakan Chen: di bagian tengah yang mereka duga berisi giok merah, hanya ada batu hitam kosong tanpa nilai! Ketika pisau mesin mengikis sudut kanan bawah seperti yang ditunjuk Chen, barulah muncul giok lumut hijau yang dipenuhi retakan mikro di dalamnya.

Berbalik Arah Menjadi Sok Akrab

Suasana ruangan VIP itu seketika senyap mencekam. Keempat kolektor besar itu melompat dari kursi mereka dengan mata melotot hampir keluar. Mereka menatap potongan batu, lalu beralih menatap Chen dengan tubuh yang gemetar karena syok.

Menebak isi batu secara akurat adalah hal biasa bagi seorang master. Tetapi menebak letak pergeseran giok, jenis warnanya, hingga cacat retakan di dalamnya tanpa menyentuh batu itu sama sekali... ini adalah keahlian tingkat dewa yang belum pernah ada dalam sejarah!

Dalam sekejap, keangkuhan di wajah para taipan itu runtuh total. Ekspresi meremehkan mereka menguap, digantikan oleh wajah penuh sanjungan yang memuakkan.

"Astaga! Tuan Chen! Anda benar-benar seorang jenius sejati!" kolektor gemuk yang tadi meremehkan kini langsung berpindah tempat duduk ke sebelah Chen, menyodorkan cerutu mahalnya dengan wajah sok akrab. "Maafkan kefanaan mata tua saya ini semalam. Perkenalkan, saya Tuan Zhang dari Kota Utara. Ini kartu nama saya, jika Anda ada waktu luang, mari kita makan malam bersama!"

"Benar, Tuan Chen! Mohon bimbingannya! Saya memiliki beberapa proyek tambang, jika Tuan Chen bersedia menjadi penasihat kami, kami siap membayar berapa pun yang Anda minta!" kolektor lain ikut menimpali sambil menuangkan teh ke gelas Chen dengan sikap yang sangat tunduk dan penuh hormat.

Liu yang melihat perubahan sikap drastis para taipan itu langsung tertawa terbahak-bahak dalam hati. Ia menyandarkan punggungnya dengan penuh kebanggaan. Sahabatnya, Chen, sekali lagi membuktikan bahwa di hadapan kemampuan yang mutlak, kekuasaan dan uang pun harus bertekuk lutut dan memohon.

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!