NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Melawan Sekawanan Rogue

"Halo, Paman semua? Apakah kedatanganku yang mendadak ini mengganggu acara makan malam kalian?"

Alan melangkah keluar dari balik semak belukar dengan ekspresi wajah yang teramat polos. Suara cempreng khas anak-anak miliknya memecah suara kecapan daging yang menjijikkan di area kliring tengah hutan tersebut.

Sepasang mata ungunya menatap langsung ke arah sekumpulan serigala Rogue di hadapannya tanpa ada secercah keraguan.

Para Rogue yang semula sedang fokus mengoyak daging hasil buruan mereka sontak menghentikan aktivitasnya. Mereka memutar kepala serentak, menatapi sosok bocah berambut putih itu dengan geraman rendah yang mengerikan. Bulu-bulu di tengkuk mereka berdiri, merasa terganggu oleh intrusi lancang dari mahluk asing.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk merespons. Salah satu serigala berukuran paling besar mendadak bangkit berdiri dengan dua kaki belakangnya. Tubuhnya mengejang, bergetar hebat saat struktur tulangnya bergeser secara tidak alami, bermutasi melakukan shifting kembali menjadi wujud sesosok laki-laki manusia dewasa yang bertubuh kekar.

Laki-laki berambut pudar itu menyeringai kejam, melangkah lambat mendekati Alan dengan tatapan predator. "Apakah kau sedang tersesat di kedalaman wilayah ini, wahai anak kecil? Di mana gerangan orang tuamu? Kenapa bocah sepertimu berkeliaran sendirian di hutan kabut pada malam purnama?"

Pria itu tertawa jahat, sebuah suara parau yang sarat akan hawa membunuh. "Kebetulan sekali kami sedang menyantap hidangan malam, dan sepertinya satu porsi manusia fana saja tidak akan cukup untuk memuaskan lambung kami. Jadi... apakah kau dengan sukarela ingin menyerahkan tubuh kecilmu itu untuk kami santap sebagai hidangan penutup? Hahaha!"

Alan menggelengkan kepalanya secara perlahan sembari menyunggingkan seulas senyuman tipis di bibirnya.

"Tidak, Paman. Aku sama sekali tidak tersesat di sini. Aku sedang berjalan-jalan menikmati langit malam bersama teman baikku," sahut Alan dengan nada suara yang teramat santai. "Tadi aku melihat aktivitas kalian dari atas langit dan merasa penasaran ingin berkenalan secara langsung. Tapi... kalau boleh tahu, kenapa Paman sama sekali tidak mengenakan pakaian? Apakah Paman tidak memiliki rasa malu bertelanjang bulat di depan umum seperti ini?"

Alan melayangkan fokus tatapannya pada penampilan polos laki-laki dewasa tersebut dengan raut wajah heran yang murni. Mendengar rentetan pertanyaan yang teramat polos namun menusuk tepat ke harga dirinya, rahang si laki-laki Rogue mengeras seketika, dadanya bergemuruh oleh amarah yang membara.

Sejatinya, seorang Werewolf atau Rogue liar memang akan kehilangan seluruh pakaian mereka saat bertransformasi menjadi serigala, dan mereka akan kembali dalam kondisi telanjang bulat saat kembali ke wujud manusia.

Bagi para Rogue gelandangan yang hidup bebas di kedalaman hutan tanpa aturan hukum klan, estetika berpakaian adalah hal terakhir yang mereka pikirkan. Namun, dihina secara verbal oleh seorang bocah berusia tujuh tahun adalah sebuah anomali yang meruntuhkan ego mereka.

Laki-laki itu melayangkan pelototan matanya yang merah menyala, menatap berang ke arah Alan. "Sebaiknya kau tutup mulut lancangmu itu, Bocah sialan! Aku akan merobek moncongmu dan mencabik-cabik seluruh struktur tubuhmu itu sekarang juga!" gertak pria itu dengan suara parau yang menggetarkan dedaunan di sekitar mereka.

Sesaat setelah ancaman verbal itu lolos dari mulutnya, tubuh pria itu kembali bergetar masif. Bunyi patahan tulang yang berderak mengerikan terdengar jelas saat bulu-bulu kasar berwarna abu-abu kotor tumbuh menembus pori-pori kulitnya. Dalam satu kedipan mata, dia telah melakukan shifting kembali, bertransformasi menjadi seekor serigala Rogue berukuran raksasa yang didera rasa lapar yang ekstrem.

Serigala itu merendahkan posisi tubuh bagian depannya, menyeringai lebar hingga cairan air liurnya yang berbau busuk menetes membasahi rumput, lalu melompat menerjang ke depan untuk mengoyak leher Alan.

Alan tersentak. Tekanan angin kencang yang dihasilkan oleh daya lompat serigala raksasa itu menerpa keras wajah tampannya. Namun, mental bertarungnya tidak bisa diremehkan; berkat insting ksatria klan Pegasus yang tertanam di dalam sel tubuhnya, Alan bergerak refleks. Dia menjatuhkan tubuhnya, berguling cepat ke arah samping tepat pada milidetik sebelum sepasang cakar tajam sang Rogue menghantam telak tanah tempatnya berdiri sebelumnya.

"Paman... cara bermainmu kasar sekali!" seru Alan. Wajah polos kekanak-kanakannya kini instan bermutasi menjadi teramat serius dan dingin.

Tanpa membuang momentum, Alan menegakkan tubuhnya, lalu menghentakkan kaki kanannya ke atas permukaan tanah hutan dengan pengerahan tenaga magis murni yang masif.

BUMMM!

Gelombang kejut elemen bumi meledak dari pijakan kakinya. Tanah di bawah posisi berdiri sang serigala Rogue bergetar hebat, retak memanjang bagai jaring laba-laba, dan dalam sekejap mata langsung ambles ke bawah, membentuk sebuah lubang jebakan vertikal yang teramat dalam dan gelap.

Serigala raksasa itu melolong kaget di udara sebelum akhirnya tubuh masifnya terperosok jatuh masuk ke dalam kegelapan lubang jebakan buatan tersebut.

Justin yang sejak tadi menyaksikan seluruh adegan gila itu dari atas dahan pohon ek hampir saja kehilangan keseimbangan dan terjatuh akibat rasa terkejut yang luar biasa.

"Elemen manipulasi tanah? Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin seorang Pegasus yang seharusnya menguasai elemen udara bisa memanipulasi struktur bumi seperti itu?" bisik Justin dengan detak jantung yang berdegup kencang di balik rongga dadanya.

Melihat pemimpin mereka terjebak tak berdaya di dasar lubang, sisa kawanan Rogue lainnya mengeluarkan geraman rendah yang sarat akan dendam. Sepasang mata mereka berkilat merah menyala di balik remang-remang kegelapan hutan.

Tanpa membutuhkan aba-aba faksi, lima ekor serigala raksasa sekaligus melompat dari berbagai sudut arah mata angin, membentuk formasi pengepungan udara untuk menyerang Alan secara serentak dari atas.

Alan menarik napasnya dalam-dalam, menstabilkan barier energinya. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Paman, tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi menu santapan malam kalian!"

Dengan pergerakan motorik yang teramat cepat—hampir menyerupai kilatan cahaya keperakan—Alan melesat maju. Dia menjulurkan lengannya, menangkap pergelangan kaki belakang salah satu serigala Rogue yang sedang melayang di udara, memutar tubuh masif hewan itu dengan satu putaran horizontal, lalu membantingnya keras-keras ke arah lintasan terbang serigala Rogue yang lain.

Suara hantaman tulang yang beradu hebat bergaung membelah malam, disusul oleh suara rintihan kesakitan yang parau saat tubuh-tubuh serigala besar itu terpelanting jatuh, menghantam jajaran pohon-pohon purba di sekitar mereka hingga tumbang tercerabut dari akarnya.

Alan berdiri tegak di titik tengah lingkaran pertempuran, debu tanah dan serpihan daun kering beterbangan mengelilingi tubuhnya. Deru napasnya tetap mengalir teratur dengan stabil, sementara dari balik punggungnya, sepasang sayap putih megahnya mulai mengepak dan berpendar pelan, menciptakan visual kontras yang luar biasa indah di tengah pekatnya hutan yang kelam.

Batang-batang pohon raksasa itu tumbang dengan suara berdentum keras menembus tanah, memunculkan kabut debu pekat yang sempat mengaburkan jarak pandang.

Para serigala Rogue yang terkapar di tanah mencoba untuk kembali bangkit berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Struktur tulang zirah mereka terasa remuk akibat bantingan Alan, namun sepasang mata kuning mereka tetap memancarkan aura haus darah yang tidak kunjung padam.

Melihat musuh-musuhnya masih menolak untuk menyerah, Alan menyunggingkan seulas seringai tipis di sudut bibirnya. "Sepertinya... tubuh kalian sedang membutuhkan sedikit kehangatan malam."

Alan mengangkat jari telunjuk tangan kanannya ke udara. Dalam satu hentakan waktu, ujung jari mungil itu memercikkan kobaran api berwarna merah keunguan—api elemen murni Diamond—yang berkobar dengan suhu panas yang ekstrem.

Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan anggun, Alan mengibaskan jarinya ke depan, melepaskan gelombang lidah api vertikal yang melesat cepat menyambar seluruh sekumpulan serigala Rogue tersebut. Bau busuk dari daging yang terbakar dan helai bulu yang hangus seketika memenuhi atmosfer udara malam yang dingin.

Lolongan jeritan kesakitan dari para Rogue hanya terdengar selama beberapa detik saja, sebelum akhirnya seluruh tubuh besar mereka tumbang, terbakar habis menjadi tumpukan abu hitam yang sunyi dalam hitungan sekejap mata.

BRUKK!

Justin melompat turun dari atas dahan pohon ek, mendarat dengan anggun di atas tanah meskipun detak jantung vampirnya masih berpacu dengan ritme yang kencang akibat sisa ketegangan. Dia melangkah cepat menghampiri Alan yang tampak sedikit terengah-engah, dengan sisa-sisa pendaran api ungu yang masih menari-nari di ujung jemarinya.

Prok! Prok! Prok!

Justin bertepuk tangan dengan raut wajah takjub yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya. "Luar biasa! Kau benar-benar menghabisi seluruh kawanan kriminal itu sendirian tanpa bantuanku, Alan!"

Alan memutar tubuhnya, lalu bersedekap dada dengan angkuh. Dia menatap Justin dengan senyuman bangga yang menghiasi wajah tampannya. "Bagaimana, Pangeran Justin? Apakah kau menikmati pertunjukan seni tempurku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!