NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09 - Rumah Tanpa Ratna

Rumah itu kacau sebelum jam tujuh pagi.

Nasi belum matang. Seragam Bima belum disetrika. Obat Mama Sulastri belum disiapkan. Raka berputar-putar di dapur sambil membuka tutup panci seperti orang tersesat di rumah sendiri.

"Maya, nasi di rice cooker kenapa keras begini?"

Maya yang sedang memakaikan sepatu Bima menjawab kesal, "Mana aku tahu? Biasanya Mama yang masak."

"Kamu kan perempuan."

Maya langsung mendongak.

"Mas, jangan mulai. Perempuan bukan berarti otomatis jadi mesin dapur."

Raka melotot.

"Lalu Bima makan apa?"

"Beli di sekolah."

"Jajan terus tidak sehat."

"Kalau Mas khawatir, Mas masak."

Mama Sulastri muncul dari kamar dengan wajah masam.

"Astaghfirullah, pagi-pagi sudah ribut. Ini semua gara-gara Ratna. Perempuan itu sengaja membuat rumah berantakan."

Raka mengusap wajah.

"Pa di mana?"

"Pergi subuh tadi," jawab Mama Sulastri. "Katanya ada urusan kantor."

Maya mendengus pelan.

Kantor.

Setelah foto dan video semalam, kata itu terdengar seperti lelucon.

Raka mendengarnya.

"Kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Jangan ikut-ikutan menyalahkan Papa. Ini masalah orang tua."

Maya menatap suaminya.

"Mas, Papa punya perempuan lain dan anak. Itu bukan sekadar masalah orang tua. Itu memengaruhi semua."

"Tapi Mama juga berlebihan. Langsung bawa pengacara, bawa orang kaya. Seolah Papa penjahat."

Maya hampir menjawab, tapi Bima menarik bajunya.

"Ma, Nenek ke mana?"

Pertanyaan kecil itu membuat dapur sunyi.

Bima menatap mereka satu per satu.

"Nenek marah sama Bima?"

Maya berjongkok.

"Tidak, Sayang. Nenek cuma kerja."

"Nanti jemput?"

Maya terdiam.

Hari ini ia punya janji dengan teman-teman arisan. Sudah bayar DP untuk perawatan wajah. Biasanya semua mudah. Ia tinggal mengirim pesan pada Ratna, lalu Ratna yang mengatur.

Sekarang ia harus menjemput Bima sendiri.

Untuk pertama kalinya Maya sadar, jadwal hidupnya berdiri di atas waktu orang lain.

"Mama yang jemput," katanya akhirnya.

Bima tampak tidak puas, tapi mengangguk.

Mama Sulastri duduk di kursi makan.

"Maya, buatkan Mama teh manis. Obat Mama mana?"

Maya menoleh ke Raka.

Raka membuang muka.

Maya menarik napas panjang, lalu mencari kotak obat. Ada banyak strip, botol kecil, dan plastik apotek. Ia tidak tahu mana yang diminum pagi, mana yang malam.

"Ma, obat yang mana?"

Mama Sulastri langsung marah.

"Kamu tinggal di rumah ini berapa tahun tidak tahu obat mertua? Menantu macam apa?"

Maya tersinggung.

"Biasanya Mama Ratna yang atur."

"Makanya kamu jangan bisanya cuma salon!"

"Lho, kok saya yang disalahkan? Selama ini Mama Ratna yang Mama suruh-suruh terus. Sekarang beliau tidak ada, baru terasa, kan?"

Raka membentak, "Maya!"

Bima mulai menangis lagi.

Di tengah kekacauan itu, pesan masuk ke grup keluarga.

Ratna: "Mulai hari ini, semua kebutuhan rumah diurus masing-masing. Saya tidak bisa lagi menjadi penanggung jawab semua orang."

Raka langsung menelepon.

Tidak dijawab.

Ia mengetik cepat.

"Ma, jangan kekanak-kanakan. Bima butuh Mama."

Pesan terkirim, centang dua, tapi tidak dibalas.

Mama Sulastri menyambar ponselnya.

"Ketik begini: kalau kamu tidak pulang, Mama sakit kamu tanggung."

Raka mengetik.

Masih tidak dibalas.

Maya menatap layar itu dengan perasaan aneh. Biasanya Ratna akan menjawab dalam hitungan detik. Bahkan kalau sedang sakit pun, perempuan itu tetap bertanya obat apa yang habis, Bima makan apa, Raka pulang jam berapa.

Sekarang hanya ada diam.

Dan diam itu membuat rumah panik.

Siang harinya, kekacauan makin jelas.

Raka lupa membawa dokumen meeting karena biasanya Ratna yang menaruh tas kerjanya di dekat pintu. Maya terlambat menjemput Bima dan ditegur Bu Nisa. Mama Sulastri salah minum obat karena memaksa memilih sendiri. Hendra pulang dengan wajah kusut dan menemukan rumah berantakan.

"Ini apa-apaan?" tanyanya.

Mama Sulastri langsung mulai menangis.

"Lihat istrimu, Hendra. Dia membuat Mama seperti ini. Dari pagi Mama belum makan benar."

Maya yang baru pulang bersama Bima tampak lelah.

"Di meja ada nasi padang, Ma."

"Mama tidak bisa makan yang pedas!"

"Saya tidak tahu."

"Itulah gunanya Ratna!"

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Semua orang mendengarnya.

Itulah gunanya Ratna.

Maya menatap ibu mertuanya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar sendiri betapa rendahnya posisi Ratna di rumah itu. Bukan istri. Bukan ibu. Gunanya hanya untuk membuat hidup orang lain mudah.

Hendra melempar kunci mobil ke meja.

"Cukup. Aku akan bicara dengannya."

Raka bertanya, "Pa, Mama serius mau cerai?"

Hendra tidak menjawab.

Mama Sulastri langsung berkata, "Mana mungkin. Perempuan seusia dia mau ke mana? Dia cuma keras kepala karena ada yang mengompori."

Maya pelan-pelan melepaskan tas Bima.

"Kalau Mama Ratna benar-benar pergi, kita memang tahu cara hidup sendiri?"

Raka menoleh tajam.

"Maksud kamu apa?"

"Aku cuma tanya."

"Kamu sekarang bela Mama?"

Maya menatap suaminya. Dulu ia akan mengalah. Hari ini ia terlalu lelah.

"Mas, aku tidak membela siapa-siapa. Tapi dari pagi aku baru sadar, pekerjaan yang kita anggap kecil itu ternyata banyak. Banget."

Raka mencibir.

"Jadi kamu menyalahkan aku?"

"Aku menyalahkan kita semua."

Bima berdiri di samping Maya, memegang gambar dari kelasnya. Biasanya ia akan berlari ke Ratna untuk menunjukkan hasil gambar. Hari ini ia hanya menatap ruang tengah kosong.

"Nenek belum pulang?"

Tidak ada yang menjawab.

Malam itu Hendra akhirnya mengirim pesan pada Ratna.

"Pulang. Kita bicara baik-baik."

Ratna membaca pesan itu di kamar Bu Laras. Ia sedang membantu perempuan tua itu memilih siaran televisi.

Bu Laras melirik.

"Dia minta kamu pulang?"

Ratna mengangguk.

"Kamu mau?"

Ratna menatap layar.

Ada masa ketika satu pesan dari Hendra cukup membuatnya berlari pulang. Sekarang, pesan itu terasa seperti suara dari rumah yang sudah jauh.

Ia mengetik.

"Bicara dengan pengacaraku."

Hendra langsung membalas.

"Jangan bawa orang luar."

Ratna menatap pesan itu lama.

Lalu ia mengetik lagi.

"Orang luar sudah masuk rumah kita sejak Clara melahirkan anakmu."

Setelah mengirim pesan itu, Ratna mematikan layar.

Bu Laras tertawa puas.

"Nah. Itu baru menantuku."

Ratna tersedak kecil.

"Bu..."

"Apa? Aku cuma latihan."

Ratna menggeleng, tapi untuk pertama kalinya ia tertawa sedikit.

Di rumah Hendra, pesan itu membuat laki-laki tersebut membanting ponselnya ke sofa.

Dan di sudut ruang tengah, Maya melihat semuanya.

Entah kenapa, kali ini ia tidak merasa Ratna keterlaluan.

Ia justru merasa, mungkin Ratna baru saja terlambat membela diri.

Maya membawa Bima ke kamar dan menutup pintu pelan. Di dalam, anak itu tertidur sambil sesekali mengigau memanggil nenek. Maya duduk di lantai, punggung bersandar pada ranjang.

Ia membuka galeri ponsel. Banyak foto dirinya di salon, kafe, arisan, tempat liburan singkat. Hampir di setiap hari seperti itu, Bima bersama Ratna.

Dulu Maya menganggap itu bantuan keluarga.

Sekarang ia melihatnya seperti utang.

Ia membuka chat lama dengan Ratna. Ada banyak pesan darinya.

"Ma, bisa jemput Bima?"

"Ma, paketku tolong ambil."

"Ma, hari ini aku capek banget, Bima sama Mama dulu ya."

Balasan Ratna hampir selalu sama.

"Iya."

Maya menutup wajah dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya, kata "iya" itu terdengar tidak ringan.

Besok, ia harus bertemu Ratna.

Bukan untuk meminta bantuan lagi.

Untuk meminta maaf dengan benar.

Di ruang tengah, Raka masih berdebat dengan Hendra soal cabang toko. Maya mendengar suara mereka dari balik pintu. Tidak satu pun menyebut Ratna sebagai orang yang terluka. Mereka hanya menyebutnya sebagai masalah, sebagai sumber kerepotan baru.

Maya memandangi Bima yang tidur.

Ia teringat saat melahirkan dulu. Ratna yang begadang menemaninya. Ratna yang memandikan Bima ketika ia takut menyentuh bayi sekecil itu. Ratna yang berkata, "Kamu istirahat dulu, nanti kalau sudah kuat belajar pelan-pelan."

Maya menangis tanpa suara.

Ia dulu mengira Ratna membantu karena memang itu tugas nenek.

Sekarang ia tahu, bantuan yang tidak pernah diberi batas sering berubah menjadi perbudakan halus.

Dan ia ikut menikmati itu.

Maya membuka pintu sedikit dan melihat ruang tengah. Hendra duduk dengan wajah gelap, Raka berdiri seperti anak kecil yang dimarahi, Mama Sulastri masih mengeluh soal obat. Tidak ada satu pun yang bertanya apakah Ratna sudah tidur, makan, atau aman.

Maya menutup pintu lagi.

Besok, ia tidak boleh datang dengan tangan kosong. Ia mulai menyalin beberapa chat lama, terutama pesan ketika Mama Sulastri menyuruh Ratna membeli obat dan ketika Raka meminta uang tambahan untuk kebutuhan rumah.

Mungkin itu belum cukup menebus kesalahannya.

Tapi setidaknya ia bisa berhenti berpura-pura tidak tahu.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!