Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Efek obat bius dan penenang akhirnya membuat tubuh kekar Adrian benar-benar tak berdaya.
Pria itu kini terbaring pasrah di atas ranjang penunggu pasien.
Tangan kanannya yang telah selesai dijahit oleh dokter kini terbungkus perban putih yang tebal, kontras dengan baju koko putih yang masih melekat di tubuhnya.
Meskipun matanya terpejam erat, sisa-sisa air mata penyesalan masih menggenang di sudut matanya, perlahan mengalir melewati pelipis dan luka lebam di pipinya.
Fatma menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Mengabaikan rasa perih yang menjalar di punggungnya, ia memaksakan diri bangkit dari duduknya.
Dengan langkah perlahan dan tertatih, ia mendekati ranjang Adrian.
Tangan Fatma yang bebas dari jarum infus terulur lambat.
Dengan ujung jemarinya yang lembut, ia menghapus sisa air mata yang membasahi wajah suaminya.
Sentuhan itu begitu pelan, seolah takut membangunkan raksasa yang baru saja takluk oleh penyesalannya sendiri.
"Istirahatlah, Mas..." bisik Fatma sangat lirih, hampir menyerupai hembusan angin.
Setelah memastikan selimut Adrian terpasang dengan benar, Fatma kembali melangkah mundur dan naik ke atas ranjang perawatannya sendiri.
Ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, mencoba mencari posisi yang nyaman bagi tubuhnya yang teramat lelah.
Drrt... drrt...
Ponsel Fatma yang tergeletak di atas nakas mendadak bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama Hakam—adik kandung Adrian yang saat ini masih berada di Yogyakarta untuk mengurus beberapa bisnis keluarga sekaligus menenangkan diri setelah ketegangan kemarin.
Fatma menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Assalamu’alaikum, Kam?"
"Wa’alaikumussalam. Mbak Fatma..." Suara Hakam di seberang telepon terdengar sangat cemas dan dipenuhi rasa khawatir.
Tanpa basa-basi, ia langsung menanyakan kondisi kakak iparnya.
"Bagaimana Mas Adrian, Mbak? Apa si jahanam itu masih menyiksa Mbak Fatma di sana? Katakan padaku, Mbak. Kalau dia macam-macam lagi, aku akan langsung terbang ke Jakarta sekarang juga dan menghajar dia sampai sekarat!"
Mendengar letupan amarah Hakam yang begitu besar demi melindunginya, Fatma sempat terdiam beberapa saat.
Matanya melirik ke arah ranjang sebelah, menatap Adrian yang terlelap dalam pengaruh obat dengan tangan terperban.
Pria yang kemarin dihajar Hakam habis-habisan itu kini tampak begitu rapuh.
Fatma mengembuskan napas panjang, mencoba menata suaranya agar terdengar setenang mungkin.
"Sudah nggak, Kam," jawab Fatma lirih namun mantap.
"Maksudnya, Mbak? Mas Adrian menyerah atau bagaimana?" tanya Hakam, nada suaranya terdengar tidak percaya.
"Mas Adrian sudah berubah, Kam. Dia... dia sudah meminta maaf dan menyesali semuanya di hadapan Allah," lanjut Fatma, setetes air mata kembali lolos dari sudut matanya.
"Kamu tidak perlu khawatir lagi. Kakakmu sudah meletakkan senjatanya."
"Mbak yakin? Aku belum percaya, Mbak," sahut Hakam cepat dari seberang telepon. Nadanya dipenuhi skeptisisme yang mendalam.
Sebagai adik yang tahu betul bagaimana watak keras dan angkuh kakaknya selama bertahun-tahun, Hakam merasa mustahil seorang Adrian bisa berubah hanya dalam waktu semalam.
Fatma menarik napas panjang, mencoba memberikan pengertian kepada adik iparnya itu.
"Hakam, kamu tidak boleh suudzon sama Masmu sendiri. Bagaimanapun, dia kakak kandungmu."
"Tapi perbuatannya keterlaluan, Mbak—"
"Dengar dulu, Kam," potong Fatma dengan lembut namun tegas.
"Kalau misal Masmu belum berubah, lusa Mbak akan membawanya ke pondok pesantren. Ini sesuai dengan surat perjanjian yang sudah Masmu tanda tangani kemarin. Dia harus menebus kesalahannya dan belajar agama dari nol di sana."
Mendengar penjelasan Fatma tentang rencana cadangan dan adanya surat perjanjian tertulis, Hakam akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Jika Adrian berani melanggar, konsekuensinya akan jauh lebih berat.
"Iya, Mbak. Aku setuju kalau begitu," ucap Hakam, suaranya mulai melunak.
"Sekarang Mbak Fatma istirahat ya. Jangan terlalu banyak pikiran dulu. Mungkin besok aku baru bisa kembali ke sana dari Yogyakarta. Pekerjaanku di sini benar-benar menumpuk."
Fatma tertawa kecil mendengar keluhan adik iparnya. Rasa hangat sedikit menjalar di hatinya yang sempat beku.
Di saat suaminya sendiri bertingkah layaknya iblis, ia bersyukur masih memiliki adik ipar yang begitu peduli dan bertanggung jawab.
"Iya, adik iparku. Terima kasih banyak ya, Hakam," ucap Fatma tulus.
"Sama-sama, Mbak. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumussalam."
Fatma mematikan ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke atas nakas.
Ia mengembuskan napas panjang, memandangi langit-langit kamar rawat yang sunyi.
Perlahan, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit, mencoba memejamkan mata demi mengistirahatkan batin dan fisiknya yang teramat lelah.
Sementara itu, di balik pintu kamar rawat yang tertutup rapat, Bryan tetap berdiri tegap seperti patung hidup.
Mentari sore mulai tenggelam, membiarkan semburat cahaya oranye kemerahan menyusup melalui celah gorden kamar rawat. Efek obat bius dan penenang yang kuat perlahan memudar dari tubuh Adrian.
Kelopak matanya yang lebam bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Fatma yang sedang duduk bersandar di ranjang sebelah, menatapnya dengan pandangan yang tenang namun sarat akan ketegasan.
"Sudah tenang, Mas?" tanya Fatma, suaranya mengalun datar di tengah keheningan sore.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melirik tangan kanannya yang kini terbungkus rapi oleh perban putih tebal, lalu beralih menatap wajah istrinya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Adrian menganggukkan kepalanya pelan.
Penyesalan itu masih ada, namun amarah meledak-ledak yang menyiksa dirinya sendiri tadi pagi telah mereda.
Klek.
Keheningan mereka mendadak terputus oleh suara pintu kamar yang terbuka agak kasar.
Sosok pria jangkung berwajah tegas dengan gamis abu-abu melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Itulah Ustaz Damar.
Beliau baru saja mendarat dari Dubai, dan setibanya di pondok pesantren, beliau langsung mendengar kabar mengejutkan dari Abah mengenai kondisi Fatma yang dirawat akibat penganiayaan.
"Fatma!" panggil Ustaz Damar, melangkah cepat mendekati ranjang. Matanya memancarkan rasa khawatir sekaligus amarah yang tertahan.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku tidak apa-apa, Ustaz," jawab Fatma, mencoba tersenyum tipis untuk menenangkan guru sekaligus pelindungnya itu.
Pandangan Ustaz Damar seketika beralih tajam, menghujam langsung ke arah Adrian yang terbaring lemas di ranjang samping.
"Dia, lelaki yang menyiksamu?!"
Adrian hanya bisa terpaku, tidak mampu membela diri di hadapan wibawa sang ustaz yang begitu besar.
"Fatma, dengarkan aku," ujar Ustaz Damar, suaranya meninggi dengan nada penuh penekanan hukum syariat. "Pernikahan kalian dari awal tidak sah! Kalian tidak bisa meneruskan pernikahan yang sejak awal dilandaskan oleh ancaman dan paksaan. Di dalam Islam, rida adalah syarat mutlak, dan apa yang dia lakukan kepadamu adalah sebuah kezaliman yang membatalkan haknya sebagai suami!"
Mendengar kalimat tegas itu, jantung Adrian bagai dihantam gada besi.
Kenyataan bahwa pernikahannya dianggap tidak sah oleh seorang ahli agama membuatnya mendadak disergap ketakutan luar biasa akan kehilangan Fatma untuk selamanya.
Adrian memaksakan diri untuk duduk, menatap Ustaz Damar dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Lalu, apakah kamu ingin aku menceraikannya?" tanya Adrian, suaranya bergetar egois, merasa cemburu melihat kedekatan dan kepedulian Ustaz Damar pada istrinya.
"Iya! Kamu harus menceraikan Fatma!" tegas Ustaz Damar tanpa ragu sedikit pun.
"Kenapa? Apakah, kamu menyukainya?!" cecar Adrian, egonya sebagai laki-laki kembali terusik di tengah rasa bersalahnya.
"Astaghfirullah, Mas!" pekik Fatma, tidak menyangka Adrian akan berpikir sepicik itu di situasi genting ini.
Fatma memandang Adrian dengan tatapan kecewa yang mendalam, lalu menarik napas panjang untuk menegaskan posisinya.
"Ustaz Damar ada benarnya, Mas. Pernikahan kita dari awal dilandaskan oleh ancamanmu. Kamu memaksaku bersanding denganmu bukan karena Allah, tapi karena egomu. Dan hari ini, syariat Allah sendiri yang menunjukkan bahwa jalan kita memang sudah salah sejak awal."
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡