"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31.Membokar kedok Oliv didepan teman-temannya.
Langkah kaki Ivy berdentang tegas menyusuri lorong sekolah yang sepi, setiap langkahnya seolah membawa beban ribuan hari kesabaran yang kini telah habis tak bersisa. Ia berhenti sejenak di depan kelas Oliv, lalu menoleh ke arah sekelompok siswa yang sedang berjalan lewat.
“Maaf, di mana Oliv sekarang?” tanyanya dengan nada datar namun berwibawa.
Salah satu siswi itu menatapnya sejenak, lalu menjawab singkat, “Kamu mencari Oliv? Dia ada di taman sekolah bersama teman-teman yang lain.”
“Terima kasih,” ucap Ivy tegas, tanpa menoleh lagi ia langsung berjalan menuju arah taman sekolah.
Berita tentang keberadaannya yang hendak menemui Oliv seolah menyebar seperti api kering. Semua siswa yang berada di lorong maupun di ruang kelas segera berhenti beraktivitas, rasa penasaran yang memuncak membuat mereka bergerak beriringan mengikuti langkah Ivy dari jarak aman, ingin melihat apa yang akan terjadi antara dua gadis yang selama ini menjadi sorotan utama di sekolah itu.
Di sudut taman sekolah yang rindang, Oliv sedang duduk dikelilingi teman-teman dekatnya, tertawa riang seolah tidak ada beban yang memikul pundaknya. Namun tawa itu terhenti seketika saat mendengar suara lantang yang memanggil namanya dengan nada yang tak asing namun penuh kemarahan.
“Oliv!”
Ia menoleh dengan cepat, dan tepat saat pandangannya bertemu dengan mata Ivy yang memancarkan api kemarahan, sebuah tamparan keras mendarat kuat di pipi kanannya.
Prak!
Suara itu bergema nyaring di tengah keheningan taman, memecah kesunyian dan membuat semua siswa yang hadir tertegun serempak tanpa suara. Di hari terakhir mereka berseragam sekolah, di tempat yang seharusnya menjadi kenangan manis perpisahan, pertikaian yang selama ini tersembunyi akhirnya meledak di depan mata semua orang.
Oliv memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri, matanya terbelalak tak percaya menatap Ivy. “Kau gila ya, Ivy?! Apa-apaan kau ini berani menamparku di sini?!” bentaknya dengan suara bergetar bercampur marah dan malu.
Ivy tidak mundur selangkah pun, malah melangkah semakin dekat hingga mereka berdiri berhadapan jarak yang sangat dekat. Tatapan matanya tajam dan tak tergoyahkan, seolah ingin menembus kepura-puraan yang selama ini dipajang Oliv.
“Aku tahu persis siapa yang menyebarkan gosip bohong tentang aku di forum sekolah,” ucap Ivy dengan suara lantang yang bisa didengar semua orang yang berkumpul di sana. “Emangnya salah jika aku bertunangan dengan Rama Cahya? Kau sebar berita seolah aku dijual begitu saja, padahal kau tahu betul siapa keluarga Cahya yang kau sebut-sebut itu—keluarga paling dihormati dan terpandang di kota ini!”
Mendengar nama keluarga Cahya, kerumunan siswa berbisik-bisik semakin heboh. Mereka tidak menyangka bahwa tunangan Ivy ternyata berasal dari keluarga sebesar itu, bukan orang kaya sembarangan seperti yang dituduhkan dalam postingan fitnah tersebut.
Ivy menunjuk dada Oliv berulang kali dengan jari telunjuknya yang gemetar karena emosi, namun suaranya tetap terjaga tenang dan jelas. “Dengar baik-baik, Oliv! Saat kau berusaha mengambil alih perjodohanku dengan Brian dulu, aku diam. Saat kau membohongi teman-teman dan membuat mereka percaya bahwa akulah anak angkat yang tidak berhak di sini, aku diam. Saat kau merebut kasih sayang Ayah dan membuatku terasing di rumahku sendiri, aku juga diam! Tapi hari ini aku tidak akan diam lagi! Aku akan memberitahu semua orang di sini siapa putri kandung keluarga Dermawan yang sebenarnya!”
Wajah Oliv seketika berubah pucat pasi. Ia merasa terpojok, semua mata tertuju padanya dengan pandangan bertanya-tanya. Ia segera menurunkan nada suaranya, berusaha terlihat lemah dan memohon agar Ivy berhenti bicara. “Ivy… hentikan tolong. Kalau kau mau aku minta maaf, aku akan berlutut di sini. Aku minta maaf, jadi tolong jangan bicara lagi…”
Ivy tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh kewaspadaan. “Kalau begitu lakukan sekarang juga.”
Keraguan melanda hati Oliv. Ia menatap teman-temannya yang dulu selalu mendukungnya, kini wajah mereka tampak bingung dan mulai menyisihkan pandangan. Rasa takut kehilangan segalanya akhirnya mengalahkan egonya. Perlahan ia berlutut di atas rumput taman, menundukkan kepalanya sambil mengeluarkan air mata yang sengaja ia peras agar terlihat tulus.
“Maafkan aku… memang benar aku yang menyebarkan berita itu di forum sekolah,” ucapnya dengan nada tersedu-sedu, namun matanya melirik waspada ke arah sekeliling. “Tapi itu kan berdasar kenyataan! Bukankah kau bertunangan dengan pria yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua darimu? Aku hanya… hanya khawatir dengan masa depanmu, Ivy!”
“Khawatir?” Ivy tertawa kecil, tawa yang terdengar sinis namun penuh kepastian. “Kau tidak perlu berpura-pura peduli. Perbedaan usia sepuluh tahun bukan masalah sama sekali. Kakek Candra sendiri yang memilihku, menerima aku dengan tangan terbuka sebagai cucu menantunya. Sedangkan kau? Kau bahkan tidak diizinkan melangkahi ambang pintu rumah keluarga Cahya sampai mereka yakin kau pantas berada di sana—dan sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda itu akan terjadi.”
Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, memastikan setiap kata yang diucapkannya menancap kuat di hati Oliv. “Dan satu hal lagi Rama sendiri yang memilihku. Dia memilihku karena aku ada apa adanya, penuh pesona yang asli, tidak seperti dirimu yang selalu berusaha terlihat sempurna namun semuanya dibuat-buat.”
Wajah Oliv memerah padam menahan amarah. Ia ingin sekali meledak membalas perkataan Ivy, namun ia sadar jika ia marah sekarang, citranya sebagai gadis lembut dan penurut akan hancur berkeping-keping. Ia baru hendak membuka mulut, namun Ivy lebih dulu berbicara dengan nada yang sangat tenang namun mematikan.
“Aku tahu alasan sebenarnya kau menyebarkan gosip itu. Kau takut nanti kau harus memanggilku ‘Bibi’, dan kedudukanku di mata semua orang akan jauh lebih tinggi darimu.”
Kata-kata itu tepat sasaran. Tubuh Oliv terguncang hebat, air mata kepura-puraannya tiba-tiba berhenti. “Kau… kau bicara apa?! Kalau Ayah tahu kau menghinaku seperti ini, dia pasti akan menghukummu!”
Ivy mengangkat bahu santai, seolah ancaman itu tidak berarti apa-apa baginya. “Oh soal Ayah? Kalau kau begitu menyukainya, silakan ambil saja. Aku tidak butuh orang tua yang memihak buta seperti ayah angkatmu itu. Atau mungkin kau yang ingin menjadi putri kandungnya yang sebenarnya? Lakukan saja, toh kau sudah menyebarkan kebohongan itu selama ini.”
Oliv terduduk lemas di tempatnya. Dulu setiap kali Ivy mendengar kata-kata seperti itu, ia pasti akan menangis dan memohon maaf, berjanji akan menjadi penurut. Namun hari ini Ivy terlihat begitu bebas, begitu tidak peduli dengan gelar atau kemewahan yang dulu selalu ia takutkan hilang.
Tanpa menoleh lagi, Ivy berbalik badan dan berjalan tegak meninggalkan Oliv yang masih terduduk di rumput, dihujani tatapan kecewa dan jijik dari teman-teman yang dulu selalu mendukungnya.
Hari itu upacara kelulusan berjalan khidmat dan lancar. Ivy naik ke atas panggung dengan bangga menerima piagam penghargaan sebagai lulusan terbaik angkatan, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin. Sementara itu, Oliv duduk sendirian di sudut paling belakang, dijauhi oleh teman-teman dekatnya yang kini menyadari bahwa gadis itu hanyalah seorang pembohong yang penuh kepura-puraan.
Di tempat lain, di lobi kedatangan bandara internasional, Rama berjalan tegak diiringi asisten pribadinya, Larry. Matahari sore menyinari tubuhnya yang tampak gagah dengan setelan jas yang rapi.
“Tuan, jadwal hari ini penuh dengan rapat kerja dengan investor luar negeri dan pertemuan dengan pengurus yayasan,” jelas Larry sambil menunjuk catatan di tabletnya. “Mereka semua sudah menunggu sejak tadi.”
Belum sempat Rama menjawab, ponsel Larry bergetar. Ia melihat pesan yang masuk beserta lampiran video yang sedang viral di media sosial sekolah, lalu wajahnya berubah sedikit cemas.
“Tuan… ada hal yang mungkin perlu Anda lihat,” ucap Larry ragu, lalu menyodorkan layar ponselnya kepada Rama.
Rama memperhatikan video itu dengan saksama, melihat pertengkaran Ivy dan Oliv, serta mendengar potongan kalimat tentang dirinya yang disebut sebagai ‘bujangan tua’ yang dipilih Ivy demi harta. Keningnya berkerut dalam, ada rasa tidak suka dan sedikit kesal yang menyusup di hatinya. Ia menatap layar itu sejenak, lalu menoleh ke arah Larry.
“Larry… apakah aku terlihat tua?” tanyanya tiba-tiba.
Larry tertegun sejenak sebelum menjawab dengan sopan, “Tidak sama sekali, Tuan. Hanya terpaut sepuluh tahun itu sangat wajar. Banyak pasangan yang usianya lebih jauh dari itu. Lagipula, saya mendengar Nona Ivy memang menyukai pria yang lebih dewasa dan bisa diandalkan seperti Anda.”
Namun jawaban itu tak sepenuhnya menenangkan hati Rama. Dalam batinnya ia bergumam Dia menerima pertunangan ini bukan karena menyukaiku, tapi karena aku adalah sumber kehidupannya… karena aku bisa menambah hari-hari yang tersisa untuknya.
Rasa kesal dan ingin membuktikan dirinya meluap seketika. Ia menatap Larry dengan tatapan tegas yang tak bisa ditawar.
“Batalkan semua rapat hari ini,” perintahnya mantap. “Antarkan aku ke salon paling bergengsi di kota ini. Panggil penata gaya terbaik yang ada di sana. Aku ingin mereka mendandaniku agar terlihat jauh lebih muda dari usiaku yang sebenarnya.”
Larry terkejut mendengar perintah yang tidak wajar itu, namun ia tahu tidak boleh menentang. “Baik, Tuan. Segera saya laksanakan.”
Mereka berdua segera melangkah menuju mobil mewah yang sudah menunggu di halaman depan bandara. Pintu mobil terbuka, dan Rama masuk ke dalam dengan tekad bulat: ia tidak hanya ingin menjadi penolong bagi Ivy, ia juga ingin menjadi pria yang paling pantas untuk dicintai gadis itu.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉