Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah tante sena
Setelah memastikan Pak Sanggara tertidur pulas, Felisyah keluar perlahan dari ruang perawatan. Ia menutup pintu dengan hati-hati agar tidak mengganggu istirahat sang ayah.
Niatnya hanya satu.
Mencari sedikit udara segar untuk menenangkan hati yang sejak tadi terasa sesak.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan ruang rawat, langkahnya mendadak terhenti.
Di ujung lorong, tak jauh dari lorong tempatnya berdiri, seorang anak perempuan kecil tampak berlari riang. Tawa renyahnya memenuhi suasana, sementara kedua orang tuanya mengejar dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Pemandangan sederhana itu membuat bibir Felisyah tanpa sadar mengulas senyum tipis.
Matanya memancarkan kerinduan yang begitu dalam.
"Andai saja... aku seberuntung anak itu," bisiknya lirih.
Senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti tatapan kosong.
Kenangan masa kecil yang selama ini berusaha ia kubur kembali memenuhi pikirannya.
Saat usianya baru menginjak sepuluh tahun, ibunya memilih pergi meninggalkan dirinya dan Pak Sanggara demi kehidupan yang lebih mewah bersama pria lain.
Sejak hari itu, rumah kecil mereka kehilangan kehangatan.
Tidak ada lagi pelukan seorang ibu.
Tidak ada lagi suara lembut yang meninabobokannya saat menangis.
Bahkan...
"Aku tidak pernah benar-benar melihat senyum Ibu untukku," gumamnya dengan suara bergetar.
Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.
Kini ayahnya terbaring lemah di rumah sakit, sementara wanita yang telah melahirkannya hidup bahagia bersama keluarga barunya.
Dan dirinya...
Terjebak dalam pernikahan dengan seorang pria yang dulu benar-benar asing baginya.
Tanpa disadari Felisyah, di ujung lorong Kevin tengah berjalan sambil terus memikirkan wanita misterius yang dirawat di ruang VIP.
Tatapannya tak pernah lepas dari arah kamar itu.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" gumamnya pelan.
Tanpa sadar, langkahnya berhenti tepat beberapa meter di belakang Felisyah.
Namun pandangannya tetap tertuju ke pintu ruang rawat, bukan pada wanita yang berdiri membelakanginya.
Kevin sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang selama ini memenuhi rasa penasarannya berada begitu dekat dengannya.
"Aku harus mencari tahu semuanya. Tante Sena pasti mengetahui sesuatu," gumam Kevin sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.
Kevin sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang berdiri beberapa langkah di depannya adalah sosok yang selama ini membuatnya penasaran.
Selama memeriksa Felisyah, ia tak pernah benar-benar melihat wajah wanita itu dengan jelas. Felisyah selalu memalingkan wajahnya, sementara tubuhnya tertutup selimut hingga hanya menyisakan sebagian wajah yang tampak. Ditambah lagi kini rambut Felisyah tergerai rapi dan ia telah berganti pakaian biasa, membuat penampilannya sangat berbeda dibanding saat berada di ranjang rumah sakit.
Yang Kevin tahu, wanita misterius itu seharusnya masih berada di dalam ruang rawat VIP.
Tanpa sedikit pun rasa curiga, ia terus melangkah meninggalkan lorong rumah sakit menuju tempat yang diyakininya akan memberikan jawaban atas semua pertanyaannya.
Baru setelah langkah Kevin menghilang di ujung lorong, Felisyah perlahan menoleh.
Tatapannya jatuh pada pintu ruang rawat tempat hidupnya berubah untuk selamanya.
Di ruangan itulah...
Ia kehilangan kebebasannya.
Dan di ruangan itu pula, ia menjadi istri seorang pria asing yang hingga kini belum mampu ia pahami.
Felisyah mengembuskan napas panjang.
Entah keputusan itu akan menjadi awal dari kebahagiaan...
Atau justru awal dari luka yang lebih dalam.
......................
Di sisi lain, Kevin keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa. Tanpa membuang waktu, ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan halaman rumah sakit.
Sebenarnya Kevin bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Namun, jika itu menyangkut keluarganya, rasa penasarannya selalu sulit dibendung.
Apalagi kali ini menyangkut Garendra.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Bukankah Oma sedang bersikeras menjodohkan Garendra dengan Monica?"
Kevin mengembuskan napas panjang.
"Padahal Monica sudah pernah mengkhianati Garendra. Hanya karena kelicikan Monica, Oma dan Tante Sena sempat terpengaruh hingga tetap ingin menyatukan mereka."
Lalu siapa sebenarnya wanita yang kini selalu berada di sisi Garendra?
Semakin dipikirkan, semakin banyak teka-teki yang belum terjawab.
Tanpa sadar, Kevin kembali menekan pedal gas. Tak lama kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah megah milik keluarga Pratama.
Begitu mobil berhenti, Kevin langsung turun dan melangkah cepat menuju pintu utama.
"Tante! Tante Sena!" panggilnya lantang begitu memasuki rumah.
Suaranya menggema, tetapi tak ada jawaban.
Kevin menyusuri ruang tamu hingga ruang keluarga, namun sosok yang dicarinya tak juga terlihat.
"Ke mana Tante?" gumamnya heran.
Saat itu, seorang pelayan kebetulan melintas.
"Permisi, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Di mana Tante Sena?"
"Nyoya baru saja masuk ke kamarnya, Tuan."
"Baik."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kevin segera menaiki tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di depan kamar Sena, ia menarik napas panjang. Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa jawaban dari semua pertanyaannya ada di balik pintu itu.
Tok... Tok... Tok...
"Tante... ini Kevin. Buka pintunya, dong!" teriak Kevin dari balik pintu.
Tak lama kemudian terdengar suara kunci diputar.
Ceklek...
Pintu pun terbuka.
"Ya ampun, Kevin. Baru saja Tante mau istirahat," keluh Sena sambil mengusap pelipisnya.
Kevin tersenyum canggung, tetapi wajahnya tetap terlihat serius.
"Tante, Kevin datang bukan buat bercanda. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Sena mengangkat sebelah alisnya.
"Tumben sekali. Biasanya kamu datang cuma minta dimasakin atau minta uang jajan."
"Ya ampun, Tante... kali ini beda. Ini benar-benar penting."
Sena memperhatikan wajah keponakannya beberapa saat. Kali ini ia tidak menemukan sedikit pun gurauan di sana.
"Hmm... baiklah. Memangnya ada apa?"
Kevin melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada seorang pun yang mendengar.
"Tante... boleh kita bicara di dalam saja?"
Sena menghela napas pelan.
"Memangnya serahasia itu?"
"Iya, Tante. Kevin nggak mau ada orang lain yang dengar."
Melihat kesungguhan Kevin, Sena akhirnya mengangguk.
Mereka masuk ke dalam kamar. Kevin segera menutup pintu, lalu mengajak Sena duduk di sofa.
"Tante..."
Kevin menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Garendra... sekarang sedang di mana?"
Sena menatap Kevin penuh heran.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal Garendra?"
"Tante jawab dulu. Soalnya ini ada hubungannya."
Sena menghela napas.
"setahu Tante, dia sedang keluar kota mengurus pekerjaan"
Kevin membeku.
"Keluar kota?" batinnya.
Padahal sejak pagi ia melihat sendiri Garendra berada di rumah sakit, bahkan pria itu terus menjaga wanita misterius tersebut.
Kenapa Garendra harus berbohong kepada keluarganya?
Semakin dipikirkan, semakin besar rasa penasaran yang memenuhi benaknya
semangat✍️😉