NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?

Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.

Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.

Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 26

Setelah berganti pakaian tidur, Aiko memilih untuk duduk di atas ranjang. Kedua tangannya meremas ujung pakaiannya sendiri.

"Apa Ren akan tetap memegang janjinya, setelah ia tahu yang sebenarnya?" ucap Aiko lirih. "Sumpah yang diminta Ayah-pun sepetinya tidak akan cukup menjamin nyawaku di rumah ini."

Sreekk

Suara pintu geser yang terbuka tiba-tiba membuyarkan lamunan Aiko. Ia langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Ren melangkah masuk.

Saat masuk Ren tidak mengatakan sepatah kata pun. Pandangan matanya sempat melirik Aiko sekilas, sebelum pria itu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi, Aiko mengembuskan napas panjang. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menarik selimut dan coba memejamkan matanya.

Suasana kamar terasa hening, biasanya setelah mandi dan membersihkan diri, Ren akan langsung keluar lagi dari kamar untuk kembali ke ruang kerjanya hingga fajar tiba.

Namun kali ini, suara pintu kamar mandi yang terbuka disusul oleh langkah kaki yang semakin mendekati ranjang, membuat Aiko menahan napasnya saat merasakan sisi kasur di sebelahnya di isi oleh Ren.

Tanpa membalikan tubuhnya Aiko memberanikan diri untuk bertanya. "Ren, kau tidur di sini malam ini?"

"Ya." jawabannya pendek. "Tidurlah, aku lelah." Ren memejamkan matanya setelah sebelumnya ia mematikan lampu tidur di meja nakas.

Karena tak enak hati dan takut menganggu tidur Pria itu. Dengan gerakan perlahan Aiko membuka selimutnya. Ia menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu berjalan jinjit menuju sudut ruangan untuk mengambil kasur lantai yang dulu biasa ia pakai.

Dalam kegelapan kamar yang temaram Aiko menarik napas lega saat berhasil meraih kasur lantainya tanpa menimbulkan suara. Ia mulai menggelar kasur itu di atas lantai tepat di pojok ruangan di bawah jendela.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Ren mendadak terdengar.

Aiko tersentak, refleks membalikan tubuhnya. Ia menatap ke arah Ren yang kini sudah terduduk di atas ranjang. menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

"Ah... itu..." Aiko menelan ludah. "Aku... aku hanya takut gerakan tidurku akan mengganggu istirahatmu."

Ren terdiam beberapa detik, disusul desah napasnya yang berat. "Tidurlah di ranjang, aku tidak ingin repotan mengurusmu jika sakit."

"Tapi, Ren..."

"Aku tidak suka mengulang perintahku," potong Ren cepat.

Aiko menatap Ren sesaat, lalu perlahan mengangguk patuh. Ia meletakkan kembali kasur lantainya dan berjalan kembali menuju ranjang.Ia merebahkan tubuhnya dengan perlahan di sisi ranjang. Suasana kembali hening, hingga Aiko bisa merasakan bahwa Ren sebenarnya belum benar-benar terlelap.

"Aiko." panggil Ren, dengan tubuhnya yang tiba-tiba berbalik menghadap Aiko. "Aku tahu, kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku." ucap ren tiba-tiba, dengan matanya yang menatap tajam.

Tubuh Aiko menegang, dengan pandangan matanya yang terpaku menatap langit-langit kamar yang gelap. "Apa maksudmu Ren?"

"Sudah ku katakan Aiko, kau itu... Tidak pandai untuk berbohong." Ren menjeda kalimatnya. "Sudah beberapa hari aku merasa sikapmu menjadi patuh kepadaku, Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku? Kau bahkan tidak berani menatap mataku."

Aiko mengigit bibir bawahnya, seraya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.​dengan Jantung yang berdegup kencang.

"Kau ingin jujur padaku atau aku sendiri yang menyelidikinya?" ucap Ren dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Aiko.

​Otak Aiko berputar cepat. "Ayo Aiko berikan alasan yang masuk akal." gumamnya dalam hati.

​Aiko memantapkan hatinya. seraya membalikkan tubuh perlahan, memberanikan diri untuk menatap balik ke arah mata Ren yang masih menatapnya dengan sorot mata yang mengintimidasi.

​"Tidak ada yang kusembunyikan, Ren," ucap Aiko, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar. Ia menelan ludahnya susah payah. "Aku... aku hanya takut."

​Ren menyipitkan matanya tajam. "Takut...? Karena Kaito?"

​"Bukan," potong Aiko lirih, menatap lekat-lekat wajah di hadapannya. "Aku hanya takut... Takut jika... Jika, Aku akan benar-benar jatuh cinta padamu, Ren." jawab Aiko cepat yang di susul gestur tubuhnya yang langsung berbalik membelakangi pria itu yang masih mencerna kata-kata yang Aiko ucapkan.

​Suasana kamar mendadak semakin hening.​Ren terdiam. Dengan matanya yang seketika terpaku.

​Aiko segera menarik selimutnya sedikit lebih tinggi, dengan posisi badan yang memunggungi pria itu. "Tidurlah, Ren. Kau bilang kau lelah."

"Semoga dia percaya dengan alasanku." gumam Aiko dalam hatinya.

Di balik selimut, Aiko bisa merasakan kasur di belakangnya perlahan bergerak saat Ren akhirnya kembali merebahkan tubuhnya. Pria itu tidak membalas sepatah kata pun setelahnya.

**

Keesokan paginya, cahaya matahari musim semi menyelinap samar di balik celah jendela kamar. Aiko mengerjapkan matanya, mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya.

​Sisi kasur di sebelahnya sudah kosong, Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya untuk ke kampus, Aiko melangkah keluar menuju ruang makan. Langkah kakinya mendadak melambat saat ia melihat sosok Ren sudah duduk di sana, mengenakan kemeja hitam dan sedang menikmati kopi hitamnya sembari membaca beberapa laporan di tablet.

​Suasana di ruangan itu seketika berubah canggung. Aiko menelan ludah, mencoba mempertahankan ekspresi tenangnya.

​"Pagi, Ren," sapa Aiko pelan, mengambil posisi duduk di kursi yang agak berjarak dari pria itu.

​Ren tidak langsung menoleh. Ia mematikan layar tabletnya dengan ketukan yang sedikit lebih keras. lalu melirik Aiko dari sudut matanya.

​"Makan sarapanmu," ucap Ren datar. "Jangan buang waktu dengan gerakanmu yang lambat itu."

​Aiko melirik pelayan yang dengan cekatan menghidangkan semangkuk nasi hangat dan sup miso di depannya. Seraya menyuap makanannya dengan cepat.

​"Hari ini mungkin aku tidak pulang," ucap Ren, bahkan tanpa melihat ke arah Aiko. Pria itu meletakkan cangkir kopinya, bangkit berdiri, dan melangkah pergi begitu saja tanpa menunggu respons dari Aiko.

"Kenapa dia?" gumam Aiko dengan pandangan matanya melihat punggung Ren yang semakin menjauh.

Satu jam kemudian, Aiko sudah siap untuk berangkat kuliah. Ia menuju pekarangan Namun, saat ia melangkah ke luar, ia tidak mendapati Daichi yang biasanya sudah bersiap di samping mobil.

Sebaliknya, Daichi sedang berdiri di bawah bayangan pohon maple, berbicara di telepon dengan nada serius dan nada yang ditekan serendah mungkin. bahkan keringat dingin terlihat di pelipisnya.

Aiko memperlambat langkah kakinya, mencoba menajamkan pendengarannya.

"Bagaimana bisa gerbang barat tidak merespons? ... Sialan, bos sudah setengah jalan menuju ke sana!" desis Daichi. "Kurogawa... para tetua keparat itu pasti dalangnya. Mereka sengaja menggunakan umpan penandatanganan wilayah untuk memancing Bos Ren masuk!"

Jantung Aiko seketika mencelos. Langkah kakinya mendadak terdiam.

Para sekutu Kurogawa... jebakan?

Sebelum Aiko sempat mencerna semuanya, Daichi menyadari kehadirannya. Pria itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya, berusaha keras mengubah ekspresi wajahnya.

"Nyonya Aiko... maaf membuatmu menunggu. Mari, kita berangkat ke kampus," ucap Daichi, seraya membungkuk hormat dan di susul tangannya yang membukakan pintu mobil.

Aiko tidak langsung masuk. Ia menatap Daichi. "Daichi," panggil Aiko dingin. "Apa yang terjadi pada Ren? Apa maksudmu dengan klan Kurogawa yang memancingnya masuk?"

Daichi tersentak. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Nyonya, ini... ini bukan urusan yang harus Anda khawatirkan..."

"Daichi!" potong Aiko tegas, dengan suara yang sedikit meninggi. "Katakan padaku, Sebenarnya kemana Ren pergi pagi ini?"

Daichi memejamkan matanya dengan bahu yang merosot. "Pertemuan penyerahan wilayah dari Tuan Hiroshi... itu jebakan, Nyonya," bisik Daichi dengan suara bergetar. "Para tetua klan Kurogawa yang tidak setuju dengan pengalihan kekuasaan ini telah menyabotase jalur barat. Mereka berniat menghabisi Bos Ren hari ini di sana. Dan Bos..." Daichi menjeda kalimatnya. "Sialnya, para pengawal yang ikut dengan bos di mobil lain... Sebagian sudah tewas karena penyerangan terselubung selama perjalanan."

1
PrettyDuck
malah jadi aiko yg diiencer 😮‍💨
PrettyDuck
ngerinya gess 😫
PrettyDuck
kira2 kalo yakuza berkhianat hukumannya apa yaa~ 🥴
PrettyDuck
dan salah mencari kawan juga 🤭

makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
PrettyDuck
iss iblis bener emang si kaito ini.
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
RahmaYesi
Jujur, aku suka cerita mafia mafia gini. Tapi, aku sangat amat lemah dan mengingat nama Karakter... 😂🙏

Semangat.....
PrettyDuck
kenapa mereka segitu pinginnya yumi mati sih? 😭😭
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
PrettyDuck
lah? mereka penjahatnyaa??
PrettyDuck
waduh. aiko punya nasib yang sama gak? gak bisa berumur panjang. dia kan punya kemampuan kayak ibunya tuh 😭
PrettyDuck
ooo berarti kalian tuh waktu kecil udah pernah ketemu 🥺
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
jujur aja aiko. drpd kamu dituduh mulu. lagian dia juga sdh jd suamimu dan terlihat peduli padamu juga
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
huaaa menegangkan sekali. dua duanya harus di buat selamat ya Thor. jangan bikin aku nangis
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
terngiang ngiang enggak tuh
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku galau gais. aku takut Aiko terluka tapi aku juga tidak rela Ren terluka juga😭
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
haduuuh nih org ya. apa perlu diliatin penampakan di sekitar situ
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
susyaah ya kalo orang curigaan mulu.
Suhadhanie Nur Ezah
boleh ke minta lebih episod....jln cerita bagus....
PrettyDuck
berarti dulu tachibana sama kurogawa bestie ya? kenapa jadi musuh?
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏
🌺⃟ SasMaya: ada di bab selanjutnya kak 🤭
total 3 replies
PrettyDuck
kayak aiko suka muntah darah 🥺
PrettyDuck
ooo ternyata sengsaranya karena ke-indigo-an dia 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!