NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Dialog Santun di Antara Pilar-Pilar Jati

​Langkah kaki Arvand Pratama yang awalnya hendak berayun menuju koridor ruang privat VIP Singgasana Kencana 01 kembali tertahan dengan sangat anggun. Pemuda agung yang mengenakan setelan jas hitam formal berpadu dengan arloji Rolex Daytona itu memiringkan posisi tubuhnya, bersandar dengan gaya yang sangat rileks namun tetap memancarkan wibawa tirani pada salah satu pilar kayu jati kuno besar yang menyangga kemegahan langit-langit Restoran Nusantara Royale.

​Sepasang mata tajam milik Arvand menatap lekat-lekat ke arah wajah Tuan Gunawan, sosok pria paruh baya di hadapannya yang penampilannya malam ini terlihat jauh lebih tenang setelah melewati rangkaian candaan segar mengenai "logika marga Gunawan" beberapa menit yang lalu. Dari guratan-guratan halus di sekitar pelipis dan pembawaan karakternya yang sangat matang dalam mengelola industri pelayanan bintang lima, Arvand yang memiliki insting sosiologis tingkat tinggi berkat atribut Sistem Mengajar Mutlak dapat memperkirakan dengan sangat akurat mengenai latar belakang usia sang manajer operasional sekaligus pemilik saham minoritas ini.

​‘Pria ini... kira-kira usianya baru menginjak dua puluh tujuh tahun,’ batin Arvand menganalisis secara mendalam. ‘Di usia yang tergolong masih sangat muda untuk ukuran pelaku bisnis kelas atas, dia sudah mampu memegang kendali atas operasional sebuah restoran legendaris yang menjadi tempat berkumpulnya para menteri, selebritas, dan taipan tua kota ini. Ini bukan sebuah pencapaian yang instan. Pasti ada sebuah narasi sejarah yang sangat kuat di balik berdirinya panggung kemewahan dunia ini.’

​Arvand merogoh saku jasnya, menyentuh permukaan bodi titanium dari 1 Unit Apple iPhone 16 Pro Max (1TB) miliknya untuk memastikan gawai tersebut berada dalam mode senyap, lalu melipat kembali kedua belah tangannya di depan dada dengan gerakan yang sangat santun khas budaya ketimuran.

​"Tuan Gunawan..." panggil Arvand dengan intonasi suara yang sangat bersahabat, jernih, dan tidak mengandung unsur tekanan atasan sedikit pun.

​"Mumpung waktu pertemuan saya dengan Bapak Drs. Hadi Wicaksana masih ada sisa beberapa menit lagi, saya ingin bertanya sesuatu yang menarik perhatian intelektual saya sebagai seorang pendidik. Anda ini masih sangat muda, kira-kira baru berusia dua puluh tujuh tahun, bukan? Bagaimana ceritanya Anda bisa memiliki pemikiran visioner untuk membangun usaha dengan konsep campuran yang sangat berani ini? Menggabungkan cita rasa masakan tradisional asli Indonesia yang kaya akan rempah-rempah dengan standar teknik penyajian makanan mancanegara tingkat tinggi di bawah satu atap? Bagaimana sejarah awal dari berdirinya Nusantara Royale ini?"

​Mendengar pertanyaan yang penuh dengan ketertarikan tulus dari sang dewa finansial baru pemilik Titan Artha Group, wajah Tuan Gunawan seketika berubah. Rasa takut dan canggung yang sempat membayangi dirinya kini sepenuhnya runtuh, digantikan oleh binar mata yang dipenuhi oleh rasa bangga, haru, dan gairah hidup yang sangat membara. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu menarik napas dalam-dalam, menegakkan posisi berdirinya dengan sikap hormat yang sangat takzim.

​"Aduh, Tuan Muda Arvand... jenengan bener-bener menebak usia saya dengan sangat tepat," ucap Tuan Gunawan dengan senyuman lebar yang sangat tulus, suaranya tidak lagi gemetar melainkan mengalir dengan sangat lancar dan penuh penjiwaan sejarah.

​"Jika Tuan Muda berkenan mendengarkan kisah kecil dari hamba rendahan ini... sebernarnya, konsep megah yang tertulis di dinding lobi tentang 'Where Indonesian Heritage Meets Global Cuisine' ini bukanlah lahir murni dari isi kepala saya yang bodoh ini, Tuan Muda. Sosok pahlawan sejati, otak jenius, dan pondasi utama di balik berdirinya seluruh kemewahan Restoran Nusantara Royale ini... tidak lain dan tidak bukan adalah istri tercinta saya sendiri."

​Tuan Gunawan menjeda kalimatnya sejenak, tatapan matanya menerawang ke arah langit-langit restoran seolah-olah sedang membuka kembali lembaran memoar masa lalu yang penuh perjuangan.

​"Tiga tahun yang lalu, saat kami berdua baru saja menikah di usia yang sangat muda, kami melihat ada sebuah keresahan sosiologis yang sangat besar di kota ini," cerita Tuan Gunawan dengan nada suara yang penuh rasa takzim kepada pasangannya.

​"Istri saya, yang kebetulan merupakan seorang wanita berdarah campuran Jawa-Sunda namun menempuh pendidikan tingginya di akademi kuliner terbaik di Paris, Prancis, sering kali menangis saat melihat makanan-makanan tradisional warisan leluhur kita seperti rendang, soto, ayam penyet, hingga sayur lodeh selalu diidentikkan dengan makanan kasta bawah yang hanya layak disajikan di warung-warung tenda pinggiran jalan yang kumuh. Sementara itu, mall-mall megah dan gedung pencakar langit kota ini selalu dipenuhi oleh restoran asing bergaya Barat atau Jepang yang harganya selangit namun mboten memiliki jiwa kedalaman rasa."

​Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu melangkah satu langkah lebih dekat ke arah pilar, tangannya bergerak menggambarkan sebuah visi yang besar.

​"Malam itu, di sebuah dapur kontrakan kecil kami yang sangat sederhana, istri saya mendadak bangun di sepertiga malam dan berkata kepada saya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca: 'Mas... kenapa kita mboten menciptakan sebuah istana kuliner di mana rendang daging sapi lokal kita bisa disajikan dengan teknik penataan estetika ala koki bintang Michelin Prancis? Kenapa kita mboten bawa sambal terasi dan ayam ungkep nusantara kita ke atas meja marmer mewah dengan pelayanan standar internasional, agar para pejabat dunia tahu bahwa tradisi kita adalah kemewahan yang sesungguhnya?'"

*​**Arvand Pratama** mendengarkan setiap bait cerita yang mengalir dari bibir Tuan Gunawan dengan kepala yang mengangguk-angguk kecil penuh apresiasi. Sebagai seorang guru sosiologi, Arvand*** sangat mengagumi bagaimana sebuah ide bisnis mampu lahir dari sebuah keresahan kultural dan rasa cinta yang mendalam terhadap tanah air.

​"Ide yang sangat luar biasa dan penuh dengan nilai nasionalisme yang tinggi," puji Arvand dengan senyuman hangat yang tulus. "Lalu, bagaimana peran Anda sendiri dalam mewujudkan mimpi besar dari istri Anda tersebut, Tuan Gunawan?"

​Tuan Gunawan tersenyum dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kebanggaan luar biasa sebagai seorang suami yang berhasil mendampingi perjuangan istrinya. Ia menepuk dadanya sendiri dengan gerakan yang sangat sopan namun mantap.

​"Istri saya memegang kendali penuh atas rasa, menu, dan konsep estetika di dalam dapur, Tuan Muda," jelas Tuan Gunawan dengan mata yang berbinar-binar.

​"Dan saya... selaku suaminya, bertugas menambahkan serta mengeksekusi ide jenius tersebut ke dalam dunia nyata. Saya memutar otak untuk mencari investor, membangun jaringan hukum, dan merancang arsitektur interior tempat ini dengan menggabungkan ukiran kayu jati kuno hasil karya para pengrajin di Jepara dengan pilar-pilar marmer modern bergaya Eropa. Saya yang mendatangkan koki-koki terbaik dari berbagai negara untuk belajar memahami keajaiban rempah-rempah Indonesia di bawah bimbingan langsung dari istri saya."

​Tuan Gunawan membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Arvand sebagai bentuk rasa syukurnya yang mendalam. "Jadi, jika malam ini Restoran Nusantara Royale ini bisa berdiri dengan megah, dikenal oleh seluruh lapisan konglomerat, dan memiliki slogan 'Cita Rasa Nusantara, Kemewahan Dunia', itu semua adalah buah dari kerja keras cinta kami berdua. Saya hanya menambahkan detail-detail kecil operasionalnya saja, sementara jiwanya... sepenuhnya adalah milik istri saya, Tuan Muda Arvand."

​Mendengar penuturan sejarah yang begitu indah dan sarat akan nilai-nilai moralitas kehidupan dari Tuan Gunawan, Arvand Pratama merasakan sebuah kepuasan spiritual yang mendalam di dalam jiwanya. Ia melangkah maju, melepaskan sandaran tubuhnya dari pilar jati, lalu menepuk pundak Tuan Gunawan dengan sangat mantap—sebuah tepukan apresiasi dari penguasa tertinggi Titan Artha Group yang nilainya jauh lebih berharga daripada tumpukan emas batangan.

​"Tuan Gunawan... kamu bener-bener seorang suami dan pemimpin bisnis yang sangat luar biasa di usiamu yang baru dua puluh tujuh tahun ini," tutur Arvand dengan nada suara yang sangat berwibawa, penuh karisma, dan memancarkan kebijaksanaan seorang guru sejati.

​"Jangan pernah merendahkan peranmu sendiri dengan mengata-ngatakan dirimu sebagai pengelola rendahan. Sebuah ide sejenius apa pun dari seorang istri, mboten akan pernah bisa terbang tinggi menjadi sebuah mahakarya jika mboten didampingi oleh seorang suami yang memiliki keberanian eksekusi, kesetiaan, dan manajemen operasional yang hebat seperti yang kamu tunjukkan. Kalian berdua adalah kombinasi sempurna yang melambangkan bagaimana adab tradisional dan standar internasional bisa berjalan beriringan dengan sangat terhormat."

​Arvand menarik kembali tangannya, lalu melirik ke arah lorong privat yang berada di balik meja resepsionis utama yang bermarmer hitam. Atmosfer di dalam restoran bintang lima itu kini terasa jauh lebih bermakna di dalam benak Arvand setelah mengetahui sejarah di balik berdirinya tempat ini.

​"Nggih pun, Tuan Gunawan. Terima kasih banyak atas kisah sejarahnya yang bener-bener sangat menginspirasi jiwa saya malam ini," ucap Arvand dengan seulas senyuman kemenangan yang agung, membetulkan letak jas hitam formalnya agar terlihat sangat sempurna sebelum memasuki ruang perundingan sakral.

​"Cerita dari usiamu yang dua puluh tujuh tahun ini akan saya simpan sebagai bahan pelajaran sosiologi yang berharga bagi murid-murid saya di kelas besok pagi. Sekarang... waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang beberapa menit. Tolong antarkan saya menuju ke pintu Ruang Privat VIP Singgasana Kencana 01 itu sekarang nggih, karena takdir perjodohan saya bersama keluarga Bapak Drs. Hadi Wicaksana sudah menunggu di balik dinding sana."

​"Baik! Siap dilaksanakan dengan segala rasa hormat yang setinggi-tingginya, Tuan Muda Arvand Pratama! Silakan berjalan lewat sebelah sini, Tuan Muda," jawab Tuan Gunawan dengan membungkuk takzim sedalam sembilan puluh derajat, memandu langkah kaki sang kaisar finansial baru menuju ke arah lorong eksklusif tempat di mana tirai rahasia masa depan institusi pendidikan dan lembaran asmara bersama Yasmin Adiba akan segera dibuka dengan penuh kemegahan dunia.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!