Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Mencari keberadaan Qiuye.
Istana Kaisar Song.
Setelah mendapat serangan dari sekumpulan orang tidak dikenal saat perjalanan pulang, Kaisar meminta agar Tuan dan Nona Huang menginap selama beberapa hari di istana sampai keadaan benar-benar aman.
Dan selama menginap di istana, Kaisar Song telah memerintahkan tuan Huang sebagai perdana menteri pertahanan agar menyelidiki kasus tersebut.
Tuan Huang kemudian mengerahkan seluruh petugas keamanan kerajaan yang berada dibawah kekuasaannya untuk membantu dalam menyelidiki kasus penyerangan pada putrinya itu.
Sementara itu, Nona Huang yang sempat tidak sadarkan diri karena syok akhirnya siuman. Ia tersentak bangun dan menyebutkan nama seseorang dalam mimpinya.
"Qiuye!"
Semua orang lantas menghampiri, begitu pula dengan Putra Mahkota yang setia menunggunya selama tak sadarkan diri.
"Yao Er, syukurlah kau sudah sadar."
"Yang Mulia, tolong selamatkan Qiuye! Tolong selamatkan dia!" ucap Nona Huang begitu takut. Apalagi ketika melihat Qiuye berlumuran darah tertusuk pedang pada bagian perutnya.
"Ada dimana Qiuye? Ada dimana dia?" tanya Nona Huang mencari-cari keberadaan Qiuye.
"Yao Er tenanglah," ucap Putra Mahkota menenangkan.
"Tidak Yang Mulia, hamba tidak bisa tenang jika belum melihat Qiuye. Jadi katakan pada hamba Yang Mulia, ada dimana dia sekarang dan bagaimana dengan kondisinya?" tanya nona Huang bertubi-tubi.
"Yao Er, Qiuye masih belum ditemukan. Saat prajurit memeriksa kesana, mereka tidak menemukan Qiuye dimana pun," jawab Putra Mahkota apa adanya.
Nona Huang lantas tertekan dan tidak percaya. "Tidak ... Qiuye pasti masih berada disana, hamba harus kembali kesana dan mencarinya. Bibi Lan, antar aku menemui Qiuye."
"Nona, mohon tenangkan diri anda."
"Tidak Bibi, aku harus membantu Qiuye. Dia pasti sedang menungguku mencari bantuan," ucap Nona Huang hendak meninggalkan kasurnya.
Namun Putra Mahkota menahan Nona Huang pergi dan berusaha untuk menyadarkannya. "Yao Er sadarkan dirimu! Qiuye benar-benar tidak ada disana, para penjaga istana juga tidak menemukan siapapun selain para pembunuh dan penjaga kediaman Huang!"
"Lalu ada dimana Qiuye? Katakan pada hamba Yang Mulia, coba katakan!" tekan Nona Huang menangis. "Dia telah berkorban demi menolong hamba Yang Mulia, tapi hamba malah pergi meninggalkannya. Hamba benar-benar telah berdosa," isak tangis Nona Huang seketika pecah.
Putra Mahkota segera memeluk nona Huang dan para pelayan serta Bibi Lan bergegas mengundurkan diri dari kamar itu.
"Menangislah Yao Er, menangislah ... Menangislah sampai hatimu merasa tenang," ucap lembut Putra Mahkota membelai kepala Nona Huang agar tenang.
"Qiuye ..."
"Percayalah pada Qiuye, dan kau harus merasa yakin kalau dia sedang baik-baik saja saat ini."
Putra Mahkota memeluk nona Huang erat dan mulai berpikir sesuatu, "Sepertinya aku harus menjadikan Yao Er sebagai putri mahkota, karena hanya dengan cara ini Yao Er bisa tinggal aman didalam istana dan hatiku benar-benar merasa tenang."
Sementara itu Kaisar Song mendengar berita jika ada gadis lain dari rombongan keluarga Huang yang menghilang, yang kini sedang dalam pencarian para penjaga istana atas permintaan nona Huang.
"Kenapa ada gadis lain dalam rombongan keluarga Huang? Siapa gadis itu?" tanya Kaisar Song ingin tahu.
"Menurut pengakuan tuan perdana menteri, gadis itu merupakan seorang tabib muda yang ikut dalam rombongan keluarga Huang dan turut menghadiri perayaan pesta ulang tahun putri Xu atas permintaan putri perdana menteri," jawab sang kasim.
"Kenapa putri perdana menteri memintanya ikut ke istana?"
"Informasinya adalah untuk menemani dan merawat nona muda Huang yang masih sakit Yang Mulia," jawab Kasim yang menyampaikan setelah menanyakannya pada Bibi Lan.
"Hmmm... Lalu bagaimana dengan pencarian di tempat kejadian? Apa sudah menemukan sesuatu?" tanya Kaisar Song kemudian.
"Masih belum Yang Mulia, namun ada saksi mata menyebutkan jika gadis tabib itu dibawa pergi oleh seorang pria bangsawan dengan menaiki kuda," jawab Kasim.
"Pria bangsawan berkuda? Siapa dia?" tanya Kaisar Song mulai tertarik.
"Saksi mata di lokasi tidak mengetahui sosok pria itu Yang Mulia, namun ia mengatakan pria itu membawa gadis tabib yang terluka parah lalu pergi menghilang dikejauhan," jawab Kasim.
"Seorang pria berkuda membawa gadis tabib yang terluka parah? Bukan kah itu aneh? Kenapa pria itu seperti peduli dengan seorang gadis biasa, saat ada putri pejabat seperti nona Huang. Kenapa dia malah memilih menyelamatkan gadis biasa yang tidak jelas asal usulnya?" selidik Kaisar Song.
"Hamba juga tidak mengerti Yang Mulia," jawab Kasim.
"Hm.. Ya sudah kalau begitu, kau boleh pergi dan panggil perdana menteri Huang keruanganku," ucap Kaisar Song.
"Baik Yang Mulia," jawab Kasim undur diri.
Tak butuh waktu lama, tuan Huang telah tiba di ruang kerja Kaisar Song. Ia kemudian duduk setelah sang kaisar memberikannya ijin.
"Ada perlu apa memanggil hamba Yang Mulia?" tanya Tuan Huang.
"Perdana Menteri, apa benar ada seorang gadis tabib muda yang ikut bersama dengan rombonganmu kesini?"
"Benar ada Yang Mulia," jawab Tuan Huang.
"Siapa tabib itu?" tanya Kaisar Song ingin tahu.
Tuan Huang terdiam sesaat, karena ia tidak ingin memberitahu kaisar jika Qiuye adalah putri tabib Jiang, mengingat antara hubungan kaisar dengan tabib Jiang yang buruk dimasa lalu.
"Tabib kecil itu bernama Qiuye Yang Mulia," jawab Tuan Huang.
"Qiuye (musim gugur)?"
"Ya Yang Mulia, Qiuye adalah anak dari kerabat jauh hamba dan Qiuye sudah hamba anggap seperti anak sendiri," balas Tuan Huang berbohong. Takut sikap Kaisar Song berubah jika mendengar nama tabib Jiang.
"Benarkah begitu? Lalu mengenai pria bangsawan yang membawa tabib itu, apa kau mengenalnya juga?" selidik Kaisar Song.
"Maaf Yang Mulia, hamba tidak mengenalnya dan saat ini hamba memang sedang mencari informasi mengenai pria yang membawa Qiuye," jawab Tuan Huang.
"Kalau kau tidak mengenalnya, lantas apa hubungan pria itu dengan si gadis tabib? Kenapa dia tidak menyelamatkan putrimu yang nyatanya adalah seorang bangsawan dan malah menyelamatkan gadis biasa," ucap Kaisar Song merasa heran.
Tuan Huang pun merasa demikian, kenapa ada seorang pria bangsawan yang memilih membawa putri tabib Jiang daripada menyelamatkan putrinya.
Akan tetapi ia sama sekali tidak tahu harus bertanya pada siapa mengenai hal tersebut, apakah pria bangsawan itu mengenal Qiuye? Dan apakah ia harus menanyakan hal ini kepada tabib Jiang?
Siapa tahu tabib Jiang kenal dengan pria yang membawa Qiuye dan mungkin saja Qiuye saat ini sudah berada di rumahnya setelah diantar oleh pria itu?
Tetapi bagaimana jika dugaanku tidak benar? Bagaimana kalau tabib Jiang tidak tahu hal ini dan aku malah memberitahu hal yang seharusnya ku tutupi untuk sementara waktu agar ia tidak cemas dan syok. Mengingat aku telah berjanji padanya akan menjaga Qiuye selama berada diistana.
Bukankah itu akan membuatnya sedih dan kecewa? Apalagi saat ia tahu kondisi Qiuye sedang terluka parah pada saat dibawa pergi pria asing itu.
Kasus hilangnya Qiuye masih menjadi misteri, namun seluruh penjaga istana telah dikerahkan untuk mencari keberadaan Qiuye.
Hal tersebut terdengar sampai ke telinga Guan Yu, namun Guan Yu tetap enggan memberitahu kebenaran tentang dimana lokasi Qiuye saat ini dan meminta pada seluruh anak buahnya agar merahasiakan hal ini dari istana.
...Bersambung....