NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Kehampaan di Meja Makan

​Malam telah turun sepenuhnya di atas kediaman megah keluarga Adiwangsa. Namun, tidak seperti malam-malam biasanya di mana rumah itu selalu dipenuhi oleh atmosfer keangkuhan yang tenang, malam ini udara di dalam rumah terasa begitu mencekik. Lampu kristal yang gantung mewah di ruang tengah seolah kehilangan pijar hangatnya, menyisakan keremangan yang ganjil dan dingin.

​Adrian duduk di kepala sofa, tatapannya kosong menatap dinding marmer di hadapannya. Rasa nyeri di selangkangannya akibat tendangan Aruna siang tadi perlahan mulai mereda, namun rasa ngilu yang aneh di dalam dadanya justru semakin merajalela. Di dalam kepalanya, berita tentang wanita yang melompat ke sungai itu terus berputar seperti kaset rusak.

​Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah penolakan yang sangat keras. Adrian menggelengkan kepalanya perlahan.

​Tidak. Ini tidak masuk akal, batin Adrian bergolak. Lima tahun. Lima tahun ia hidup bersama Aruna, melihat wanita itu dicaci maki oleh ibunya, melihat wanita itu bekerja tanpa keluh kesah, dan menahan segala intimidasi dengan indah tanpa pernah sekalipun meneteskan air mata di depan mereka. Aruna yang ia kenal memiliki ketahanan mental yang luar biasa. Dia bukan wanita ingusan yang akan mengakhiri hidupnya hanya karena bercerai atau kehilangan sepuluh persen harta gono-gini.

​"Aruna tidak selemah itu... Dia tidak mungkin bunuh diri," gumam Adrian lirih, nyaris seperti bisikan untuk menenangkan jiwanya yang sedang dilanda kepanikan.

​Nyonya Widya yang sedang duduk di sofa seberang sambil mengipas lehernya yang berkeringat dingin, langsung menatap putranya dengan pandangan sebal. Di samping Widya, Valerie sedang bersandar manja, sesekali melirik Adrian dengan tatapan mata yang penuh rencana manipulatif.

​"Adrian! Sudah Ibu katakan, berhenti memikirkan jalang itu!" bentak Widya, suaranya yang melengking memecahkan keheningan ruangan. "Kenapa kamu masih saja sangsi? Jelas-jelas orang lapangan kita billing polisi menemukan pakaian abu-abu di sungai, dan itu tepat di dekat jembatan pengadilan! Dia itu frustrasi karena tahu setelah bercerai dari kamu, dia akan menjadi gembel sebatang kara! Lagipula, kalau dia benar-benar mati, justru bagus untuk kita. Kita tidak perlu repot-repot mengurus berkas gono-gini sepuluh persen kelak!"

​Valerie menimpali dengan nada manja yang disengaja, jemarinya merayap di atas dada Adrian. "Iya, Mas. Ibu benar. Lagipula, buat apa sih kamu memikirkan wanita mandul yang sudah menjadi mayat di dasar sungai itu? Sekarang fokus kamu harus berubah. Kita harus segera menyiapkan pernikahan kita. Keluargaku sudah menunggu kelanjutan proyek tambang di pulau seberang. Setelah kita menikah, semua masalah finansial perusahaanmu akan selesai. Kamu akan menjadi pria paling bahagia bersamaku, Mas."

​Adrian tidak menjawab. Ia merasa sentuhan Valerie di dadanya malam ini tidak lagi terasa hangat, melainkan terasa seperti gesekan sisik ular yang dingin. Pikirannya masih terpaku pada Aruna.

​"Bi... Bi Minah! Bawa makanan ke sini! Kita makan malam dulu... biar kita semua tenang!" teriak Widya ke arah dapur, merasa perutnya sudah lapar setelah seharian terjebak di pengadilan.

​Retakan di Meja Makan

​Tidak lama kemudian, Bi Minah datang dengan langkah tergesa-gesa. Ia menyajikan beberapa menu makanan di atas meja makan marmer yang luas. Aroma rempah menyengat udara, namun penampilan makanan di atas piring terlihat sedikit berbeda dari biasanya.

​"Ini Nyonya... seperti pesanan Anda. Masakan favorit Anda, sayur asem dan semur daging," kata Bi Minah dengan kepala tertunduk takut.

​Widya langsung menarik kursi dan duduk dengan angkuh. Ia mengambil sendok, mencicipi kuah sayur asem tersebut. Namun, baru dua detik kuah itu menyentuh lidahnya, wajah Widya langsung berubah masam.

​Cuih!

​Widya menyemburkan kembali kuah itu ke atas lantai, membuat Bi Minah tersentak kaget di tempatnya.

​"Masakan apaan ini?! Kok rasanya beda dan ambyar begini, Bi?!" protes Widya dengan suara keras dan mata melotot. "Kuahnya terlalu tidak berasa, dagingnya keras seperti karet! Kamu masak pakai apa, Bi?!"

​Bi Minah gemetar, kedua tangannya berpaut di depan celemeknya yang luwuh. "Maaf Bu... maaf. Masakan ini memang saya yang masak. Saya kurang faham takarannya... Dulu, yang selalu masak dan meracik rempahnya adalah Nona Aruna..."

​Mendengar nama Aruna disebut, gerakan tangan Adrian yang hendak mengambil nasi seketika terhenti di udara.

​Adrian perlahan menurunkan sendoknya, lalu beralih meraih cangkir kopi hitam yang berada di samping piringnya. Ia menyeruput kopi itu perlahan, berharap kafein hangat bisa menenangkan dadanya yang makin sesak. Namun, begitu cairan hitam itu masuk ke kerongkongannya, Adrian tersedak kecil.

​"Bi... apa kopi ini juga buatan kamu?" tanya Adrian dengan nada suara yang rendah, namun penuh tekanan.

​"Iya Tuan... benar," jawab Bi Minah makin takut.

​"Kenapa kemanisan? Kemarin-kemarin kan takarannya selalu pas, tidak pernah terlalu manis dan tidak pernah terlalu pahit. Kenapa sekarang begini?" cecar Adrian, merasa selera makannya lenyap seketika.

​Bi Minah menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca mengingat perlakuan keluarga ini kepada mantan majikannya. "Itu juga, Tuan... semuanya Nona Aruna yang buat. Selama lima tahun di rumah ini, Nona Aruna yang selalu menyeduh kopi Tuan setiap pagi dan malam hari. Nona Aruna yang tau persis berapa sendok gula dan bubuk kopi yang Tuan sukai. Kami para pembantu di rumah ini sebenarnya hanya mengerjakan sisanya saja..."

​Widya yang mendengar penjelasan itu langsung memukul meja makan dengan keras. "Apa maksud kamu, Bi?! Kalian digaji mahal-mahal buat apa kalau hal sepele begini saja tidak becus?! Kerja kalian hanya sisanya maksudnya apa, Hah?!"

​Bi Minah akhirnya memberanikan diri mendongak, menatap Widya dan Adrian secara bergantian. "Ya Nyonya... memang begitu kenyataannya. Sebelumnya semua pekerjaan inti di rumah ini, mulai dari masak untuk Nyonya, menyiapkan keperluan Tuan Adrian, hingga membersihkan area pribadi, semuanya dikerjakan Nona Aruna. Bukankah Nyonya dan Tuan sendiri yang selalu menyuruhnya dan melarang kami untuk membantu Nona Aruna?"

​DEG.

​Hati Adrian seperti dihantam gada besi yang teramat besar dan berat. Dada Adrian terasa sesak luar biasa. Kalimat Bi Minah seperti sebuah tamparan keras yang membongkar kotak kenangan di matanya.

​Benar... semua dikerjakan Aruna atas perintahku dan perintah Ibu, batin Adrian menjerit perih.

​Adrian teringat bagaimana setiap pagi, saat dia terbangun, setelan jasnya sudah terpajang rapi dan harum. Ia teringat sayur asem kesukaannya yang selalu tersedia dengan rasa yang sempurna saat dia pulang kerja dan kelelahan. Ia teringat setiap kali Ibunya mengamuk, Aruna akan datang membawa teh hangat dan memijat kaki Widya hingga tenang. Adrian selama ini buta. Ia mengira semua kenyamanan dan kemewahan di rumahnya adalah hasil kerja para pembantu, padahal semuanya adalah hasil ketulusan tangan Aruna yang selalu mereka labeli "gembel dekil".

​"Ya sudah... kembali saja kamu ke dapur!" tebas Adrian dengan suara bergetar, tidak sanggup lagi mendengar kenyataan yang menyiksa batinnya.

​Bi Minah membungkuk hormat dan segera melangkah cepat kembali ke dapur, meninggalkan ketiganya di meja makan yang terasa makin sunyi.

​Dendam dan Penyesalan Adrian

​Widya meletakkan sendoknya dengan kasar, suasana hatinya benar-benar hancur. "Si Aruna ini memang bikin jengkel! Dari semenjak dia tinggal di sini sampai dia mati pun masih saja menghantui kita lewat masakan! Dasar perempuan kesurupan!"

​"Aruna... apa kamu benar-benar mati?" gumam Adrian, matanya mulai berkaca-kaca menatap kursi kosong di ujung meja makan, tempat di mana Aruna biasanya duduk terdiam menunggu mereka selesai makan baru dia bisa menyentuh sisa makanan.

​Rasa bersalah di dalam diri Adrian perlahan berubah menjadi sebuah logika balas dendam yang terbalik. Ia mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.

​Aruna... kalau saja kamu menurut sama aku... aku tidak akan pernah menyakiti kamu seperti ini. Kalau saja bukan karena penghinaan Paman Aldo terhadap keluargaku saat perusahaan kita hampir bangkrut dulu, aku tidak akan pernah melakukan penghinaan terhadap kamu di rumah ini!

​Adrian menumpahkan seluruh dendam dan kemarahannya kepada Paman Aldo. Dulu, saat Adiwangsa Logistik terpuruk, Adrian pernah datang merangkak ke kantor Paman Aldo untuk meminta bantuan dan kerja sama, namun Paman Aldo menolak mentah-mentah dan mengusirnya seperti anjing kurap karena mengetahui tabiat buruk keluarga Adiwangsa. Karena Adrian tidak dapat menyentuh atau membalas Paman Aldo yang terlalu tinggi dan berkuasa, Adrian menumpahkan seluruh frustrasi dan saat-saat hina itu kepada Aruna, keponakan Aldo yang berada di dalam jangkauannya.

​"Aruna... seandainya kamu masih ada... dan Paman Aldo mau mengerti dan bekerja sama dengan perusahaanku, kamu bisa mulai dari awal lagi bersamaku di rumah ini," gumam Adrian lagi, matanya meredup penuh penyesalan.

​Valerie yang sejak tadi diabaikan langsung melepaskan rangkulannya di lengan Adrian. Wajahnya berubah menjadi masam dan penuh kemarahan hasut.

​"Mas! Kamu masih kepikiran si mandul dekil itu?! Dia sudah mati, Mas! Dia sudah menjadi suapan ikan di sungai!" bentak Valerie, berusaha menyengat kesadaran Adrian dari lamunannya. "Lihat aku, Mas! Aku di sini! Aku wanita yang akan memberikan kamu keturunan, wanita yang akan membawa keluargamu ke puncak kejayaan dengan proyek tambang papaku! Kenapa kamu malah menangisi wanita miskin yang tidak punya apa-apa seperti dia?!"

​Adrian tersentak, lalu menoleh menatap Valerie. Namun, di dalam benak Adrian, sebuah rencana manipulatif dan dingin justru mulai terbentuk.

​Aku tidak percaya kamu mati semudah itu, Aruna, batin Adrian berikrar dengan kejam. Aku tau kamu wanita yang kuat. Nanti... setelah aku mendapatkan anak dari Valerie dan setelah aku berhasil menguras seluruh harta dan proyek tambang keluarganya untuk memperbesar Adiwangsa Logistik... aku akan segera menceraikan Valerie. Dan aku akan pergi mencarimu kembali ke manapun kamu berada, Aruna. Aku akan membawamu pulang ke sini sebagai istriku lagi.

​Adrian benar-benar merasakan kehilangan Aruna malam ini. Kehilangan kenyamanan, kehilangan ketulusan, dan kehilangan perisai jiwa yang selama ini selalu menjaganya tanpa syarat. Ia perlahan baru sadar bahwa Aruna selama ini telah berbuat terlalu banyak untuk keluarganya, sementara dia dan Ibunya hanya memberikan neraka sebagai balasannya.

​Adrian berdiri dari meja makan, membawa gelas kopinya yang tidak habis ke luar menuju beranda, menatap langit malam Jakarta yang hitam pekat. Di balik kesedihannya, sebuah keobsesian baru untuk mencari Aruna dan memanfaatkan Valerie mulai merayap tumbuh di dalam jiwanya yang korup. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Aruna sedang menatap menara Purnama Group dan bersiap untuk meruntuhkan seluruh dunia Adrian tanpa sisa.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!