Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nada Indah di Tengah Lapangan dan Bakat Baru yang Terungkap
Minggu-minggu berlalu dengan sangat cepat dan penuh warna. Sejak hari pertama Dika memimpin latihan tambahan, suasana di SMA Merdeka benar-benar berubah. Lapangan olahraga yang dulu sepi sepulang sekolah, kini selalu riuh terdengar suara teriakan, tawa, dan bunyi sentuhan bola yang berirama. Semangat menular dari Dika telah mengubah teman-temannya. Raka yang dulu sombong dan mengandalkan otot saja, kini menjadi anak yang paling rajin bertanya dan belajar teknik. Rio yang biasanya malas, kini menganggap latihan sebagai petualangan seru, meski sering kali tingkah konyolnya membuat suasana jadi ceria.
Sore itu, langit cerah berwarna biru bersih tanpa awan sedikit pun. Angin sore berhembus lembut, mengibarkan rambut-rambut mereka yang mulai agak panjang. Latihan hari ini berjalan sangat lancar. Dika sedang mengajarkan mereka teknik mengoper jarak jauh dengan lengkungan bola—teknik yang sering dipakai pemain-pemain kelas dunia untuk membelah pertahanan lawan dari tengah lapangan.
"Perhatikan posisi kaki ya!" seru Dika sambil mendemonstrasikan sekali lagi. Kakinya menyapu bagian bawah bola dengan sudut miring, bola pun melayang indah, berputar perlahan di udara, lalu jatuh tepat di dada Raka yang berlari menyambutnya di sisi kanan. "Sentuhan terakhirnya harus lembut tapi tegas, biar bolanya berputar naik, jadi lebih susah ditangkap kiper atau dipotong bek lawan. Ingat, putaran itu kuncinya."
"Siap, Kapten!" seru Raka antusias, lalu mencoba meniru gerakan itu. Meski belum semulus Dika, tapi perubahannya sangat terasa. Bola yang ditendangnya tidak lagi melesat kaku lurus ke depan, tapi sudah mulai ada lengkungan halus.
Latihan berlanjut sampai hampir jam lima sore. Keringat sudah membasahi seragam, napas mereka mulai terengah-engah, tapi wajah-wajah mereka penuh kepuasan. Dika baru saja meniup peluit kecil tanda berhenti sejenak untuk istirahat dan minum air. Mereka duduk bergerombol di bawah pohon besar pinggir lapangan, bersandar pada batang pohon yang kasar tapi teduh.
Rio yang sedang duduk bersila sambil mengipas-ngipaskan topi di depannya, tiba-tiba berseru dengan suara keras.
"Wah, panas banget ya! Kalau ada musik enak nih, asyik juga kali ya sambil istirahat begini," celoteh Rio, lalu dengan santai ia mulai bersenandung pelan. Lagunya adalah lagu pop Indonesia yang sedang sangat ngetop saat itu, yang sering diputar di radio dan televisi. Suara Rio melengking-lengking dan agak sumbang, membuat teman-teman yang lain langsung tertawa terbahak-bahak.
"Eh, Rio! Udah deh, diam aja! Nanti burung-burung pada terbang jatuh denger suara kamu," ejek Doni sambil tertawa keras sampai terbatuk-batuk.
Rio tidak peduli, malah makin keras menyanyikan bagian reff-nya dengan gaya sok keren, membuat semua makin tertawa. Dika ikut tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu. Namun, saat Rio berhenti bernyanyi untuk bernapas sejenak, Dika tanpa sadar ikut menyambung lirik lagu itu dengan suara pelan, hanya sekadar gumaman saja.
"Mencintaimu... adalah hal yang indah... hidupku berubah... karena hadirmu..."
Suara Dika terdengar lirih, namun sangat jernih, bergetar indah, dan terdengar sangat merdu. Nadanya pas, nada tingginya keluar dengan mudah tanpa berteriak, dan nada rendahnya terasa tebal dan menenangkan.
Seketika... hening seketika.
Tawa teman-teman terhenti. Rio yang tadi bersemangat bersuara sumbang, mulutnya menganga ternganga. Doni yang sedang meminum air, berhenti mengangkat botol ke mulutnya. Raka yang sedang memijat kakinya, langsung menoleh kaku menatap Dika. Semua mata tertuju padanya.
Dika sendiri tidak sadar. Ia masih menatap ke arah lapangan kosong di depannya, matanya menerawang, masih menyambung lirik lagu itu dalam hati, mulutnya bergerak pelan.
"Dik..." panggil Rio berbisik, suaranya terdengar tak percaya. "Dik... itu... itu suaramu?"
Dika tersentak kaget, menoleh cepat ke arah teman-temannya yang menatapnya dengan pandangan takjub luar biasa. "Hah? Ada apa? Kenapa pada ngeliatin aku kayak hantu gitu?"
Raka langsung melompat berdiri, lalu duduk berjongkok tepat di depan wajah Dika, matanya berkedip-kedip cepat. "Kamu... kamu baru aja nyanyi kan? Itu suaramu? Serius itu suara kamu? Bukan suara kaset atau apa?"
Dika mengerutkan kening bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya... aku cuma nyanyi dikit doang. Emangnya kenapa? Salah ya?"
"Salah?! Salah apa nggak tahu deh, tapi... GILA! SUARAMU BAGUS BANGET BUNG!" teriak Doni meledak, langsung berdiri dan memukul bahu Dika dengan antusias. "Dik, itu suara emas tahu nggak?! Jernih, empuk, nadanya pas banget! Kamu sembunyi apa lagi sih dari kami?! Main bola aja udah kayak pemain pro, ternyata nyanyi juga bisa jadi penyanyi top!"
Rio langsung merangkul leher Dika, mengguncang-guncangkan bahu sahabatnya itu dengan heboh.
"Ya ampun Dika! Kamu ini manusia apa sih?! Dari dulu kita sekolah bareng, naik kelas bareng, main bareng, tidur bareng, aku nggak pernah denger kamu nyanyi. Pas ada pelajaran seni musik, kamu kalau disuruh nyanyi selalu ngumpet di belakang punggung aku! Ternyata kamu punya suara sebagus itu?! Kamu curang, Dika! Kamu nyembunyiin bakat lagi!"
Dika masih tertegun kebingungan. Ia sendiri benar-benar kaget. Selama hidupnya, Dika tidak pernah merasa punya bakat menyanyi. Dulu, kalau ada acara menyanyi atau pelajaran seni, dia selalu malu-malu dan merasa suaranya biasa saja, bahkan mungkin kurang enak didengar. Tapi tadi... saat dia menyanyi, rasanya begitu mudah. Seolah-olah nada-nada itu keluar begitu saja dari tenggorokannya tanpa susah payah, tanpa harus memaksa, dan rasanya nyaman sekali.
Dika terdiam sejenak. Di kepalanya, kenangan dari masa depan berputar cepat. Di tahun 2026, dia ingat betul. Banyak pemain sepak bola hebat yang setelah pensiun, mereka bingung mau melakukan apa lagi. Ada yang jadi pelatih, ada yang jadi komentator, tapi banyak juga yang hidupnya sepi dan kehilangan arah karena identitas mereka hanya "pemain bola". Ada juga yang mencoba terjun ke dunia hiburan, tapi gagal karena tidak punya bekal yang cukup.
Dan tiba-tiba, sebuah pemikiran cemerlang menyambar benaknya.
"Benar juga... Karier pemain sepak bola itu pendek saja. Paling banter sampai umur 35 tahunan. Itu pun kalau tidak cedera parah. Lalu apa setelah itu? Aku harus punya jalan lain. Aku harus punya keahlian lain yang bisa diandalkan seumur hidup. Dan kalau ternyata suaraku sebagus ini... kenapa tidak? Menjadi penyanyi itu karier panjang, bisa dilakukan sampai tua, bisa dinikmati kapan saja."
Mata Dika berbinar terang. Ini bukan sekadar hobi baru. Ini adalah rencana strategis lain untuk masa depan, sama pentingnya dengan sepak bola dan investasi Bitcoin. Dia tidak mau hanya bergantung pada satu hal saja. Dia ingin menjadi pribadi yang lengkap, serba bisa, dan bernilai tinggi.
Dika menatap teman-temannya yang masih heboh membicarakan suaranya. Ia tersenyum lebar, senyum penuh rencana besar.
"Kalian serius ya? Suaraku... bagus banget?" tanyanya memastikan sekali lagi.
"Serius banget! Sejujurnya, kalau kamu rekam suaramu, jual ke kaset, pasti laku keras. Lebih enak dengerin kamu nyanyi daripada penyanyi aslinya di radio," jawab Raka dengan jujur, matanya berbinar kagum.
"Oke kalau begitu," kata Dika sambil berdiri tegak, membersihkan debu di celana seragamnya, lalu menatap teman-temannya satu per satu dengan tatapan serius dan penuh tekad. "Mulai hari ini, ada aturan baru lagi dalam jadwal harianku. Selain latihan fisik, latihan teknik bola, dan belajar strategi... aku bakal mulai belajar mengolah suara. Aku mau latihan nyanyi dengan benar, belajar teknik pernapasan, belajar nada, belajar segala hal soal vokal."
Rio melongo bingung, mulutnya kembali terbuka. "Hah? Serius? Kamu mau jadi penyanyi juga? Dik, dik... jangan sampai kamu kebanyakan urusan terus malah nggak ada yang maksimal. Nanti bola kebagian, nyanyi kebagian, uang internet kebagian... semuanya cuma jadi setengah-setengah lho."
Dika tertawa kecil, lalu menepuk dada kirinya dengan mantap.
"Tenang saja, Rio. Aku sudah atur semuanya di kepalaku. Sepak bola tetap nomor satu, itu jalan utamaku. Tapi menyanyi... ini jadi bekal masa depan. Ingat, nanti pas aku sudah tua, sudah nggak kuat lari dan nendang bola lagi, aku harus tetap bisa berprestasi, tetap bisa menghasilkan karya, dan tetap bisa membahagiakan orang tua dan keluarga. Kalau aku bisa menyanyi dengan bagus, aku bisa terus berkarya sampai kapan pun. Ini investasi jangka panjang juga, sama kayak Bitcoin kita itu."
Dika mendekat ke arah Rio dan berbisik dengan nada bercanda tapi serius, "Lagipula, siapa tahu nanti pas kita sudah terkenal, aku bisa bikin lagu tentang persahabatan kita, terus kamu jadi model videonya. Keren kan?"
Rio tertawa cengengesan, menggaruk kepalanya. "Yaudah deh, kalau kamu sudah bilang begitu, aku percaya aja. Kamu emang jenius kalau soal rencana masa depan. Tapi ingat ya, kalau nanti kamu jadi penyanyi terkenal, jangan lupa aku, sahabat pertamamu ini. Harus kasih tiket VIP kalau ada konser!"
"Pasti! Bukan cuma tiket VIP, kamu jadi manajerku sekalian deh nanti," jawab Dika sambil tertawa.