Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
SELAMAT MEMBACA !!!
Mobil berwarna hitam pekat berhenti mendadak tak jauh dari kendaraan Kapten William. Pintu terbuka, keluarlah seorang pria paruh baya yang penampilannya tegap, seusia Zayan, anak sulung keluarga Adhitama.
Itulah Santosa. Ia melangkah dengan wajah merah padam menahan amarah, matanya menatap tajam ke arah orang-orang yang berdiri di sana.
"Siapa yang berani-beraninya menantangku? Siapa orang yang berani ikut campur urusanku dan membantu kaum miskin itu? Hah?!" bentaknya keras. Ia sama sekali belum menyadari siapa sosok yang kini berdiri tegap menunggunya, bahkan belum menyangka bahaya besar sedang mengintainya.
Santosa melangkah mendekat dengan dada membusung, matanya menatap tajam satu per satu orang yang berdiri di sana seolah mencari sasaran kemarahannya. Belum juga ia sempat berbicara lagi, sosok yang sedari diam berdiri di belakang Kapten William perlahan maju selangkah ke depan.
"Saya, Tuan Santosa yang terhormat," jawab Arya tenang namun matanya menatap tajam dan dingin, seolah menembus ke dalam hati lawannya.
Santosa tertegun sejenak, lalu matanya membelalak lebar saat mengenali wajah dan sikap itu. Ia bahkan mundur selangkah tanpa sadar. "Tu... Tuan... Tuan Arya?!" serunya gagap, keberaniannya seketika lenyap berganti ketakutan begitu ia tahu siapa sosok yang berdiri di hadapannya.
"Benar, saya orangnya," ucap Arya pelan namun tegas.
"Bagaimana kabar Anda, Tuan Santosa?" tanyanya sekadar basa‑basi, sambil mengamati perubahan ekspresi wajah pria itu.
Wajah Santosa seketika berubah pucat, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia buru‑buru merapikan sikapnya dan sedikit membungkukkan badan tanda hormat. Siapa yang tidak mengenal keturunan dua keluarga yang terkenal di Negeri ini.
"Maafkan saya, Tuan Arya...saya sama sekali tidak tau kalau wilayah ini dibawah naungan anda, Tuan Arya!" seru Santosa menundukkan kepalanya.
Namun Arya tetap berdiri tegak tatapannya tak berubah sedikitpun.
"Saya memanggil anda ke sini, bukan untuk mendengarkan alasan apapun,Tuan Santosa. Tapi saya mau bertanya, mengapa anda bersikap semena-mena terhadap warga yang kurang mampu seperti mereka? Anda bertindak sesuka hati ingin menggusur tempat orang lain tanpa memberikan ganti rugi sedikitpun.
Katakanlah memang benar tanah ini atas nama Anda, setidaknya Anda berkewajiban mengganti kerugian atas bangunan rumah yang telah mereka bangun sendiri dengan keringat mereka. Bukan sembarangan datang lalu mengusir begitu saja seolah mereka bukan manusia yang punya hak juga," tegas Arya dengan nada suara yang makin berat, matanya tak lepas menatap Santosa yang kini tampak mulai gelisah.
"Berapa harga tanah ini?" tanya Arya kemudian masih dengan nada dingin.
"Saya tak akan menjual tanah ini, Tuan Arya. Jangan hanya saya yang disalahkan dong. Mereka juga salah," ucap Santosa tak terima, kenapa ia yang justru yang disalahkan.
"Apakah pendengaran Anda kurang baik, atau Anda sengaja tidak mau mendengar? Hah?! Dari tadi saya sudah katakan, saya akui sepenuhnya tanah ini memang atas nama Anda, dan warga yang tinggal di sini memang salah karena menempati tanah milik orang lain tanpa izin resmi.
Tetapi Anda juga tidak boleh menutup mata begitu saja! Di atas tanah itu sudah berdiri bangunan rumah yang mereka bangun sendiri, tempat berteduh keluarga mereka selama bertahun‑tahun. Hukum sekalipun tetap mengakui ada hak ganti rugi atas apa yang sudah berdiri di sana," tegas Arya dengan nada suara yang makin berat, tak memberi celah bagi Santosa untuk berdalih lagi.
Santosa terdiam terpaku, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya lagi. Pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar, namun tak ada satu pun alasan yang cukup kuat untuk membalas perkataan Arya.
Ia sadar posisinya makin terdesak dan tak akan menang melawan Adhitama. Ia tak bisa menyangkal kebenaran itu, namun memberikan ganti rugi berarti kerugian besar baginya.
"Segera berikan ganti rugi yang pantas, atau lepas tanah ini pilih salah satu? Atau anda mau saya yang membuka semua kecurangan yang anda lakukan demi mendapatkan proyek‑proyek perusahaan anda itu? Bagiku, mencari dan mengungkap buktinya sama sekali bukan hal yang sulit," ancam Arya tegas, nadanya dingin namun mematikan.
Pikiran Santosa berkecamuk hebat. Jika ia melepaskan tanah itu, rencana membangun taman wisata yang akan mendatangkan keuntungan besar pasti gagal total. Namun memberikan ganti rugi berarti ia harus mengeluarkan biaya besar dan merasa merugi.
Belum lagi ancaman Arya tentang bukti kecurangan yang dimilikinya. Jika hal itu terungkap, bukan hanya keuntungan yang hilang, tapi posisinya bahkan kebebasannya bisa terancam. Ia benar‑benar terjepit tanpa jalan keluar.
"Beri saya waktu sebentar untuk berpikir, Tuan Arya!" seru Santosa dengan nada memohon.
Arya mendengus kasar, menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Cih... gampang sekali kau meminta waktu sekarang. Tapi saat anda datang mengusir warga sini, di mana rasa belas kasihanmu? Mengapa anda tidak memberi mereka waktu berpikir sedikit pun sebelum anda mengusir mereka begitu saja? Hah?!" seru Arya dengan suara meningginya, membuat Santosa mundur satu langkah, tanpa menatap ke arah Arya yang sedang marah.
"Cepat jawab atau video kecurangan anda beredar di internet!" seru Arya lagi.
"Ba... baiklah, saya akan memberikan ganti rugi kepada seluruh warga ini, Tuan Arya. Saya berjanji, selama ganti rugi itu belum saya serahkan sepenuhnya, saya tidak akan berani menyuruh mereka meninggalkan rumah atau mengganggu mereka sedikit pun!" ucap Santosa terbata‑bata, meski di dalam hatinya ia menggerutu kesal dan merasa sangat dirugikan.
Arya menatapnya tajam sejenak, seolah ingin memastikan kebenaran janji itu. "Ingat baik‑baik ucapanmu ini. Sekali saja anda melanggar atau berusaha menyakiti mereka, anda tahu sendiri apa yang akan terjadi," ucapnya singkat namun penuh ancaman.
Akhirnya Santosa memberi isyarat kepada anak buahnya untuk pergi. Mereka semua segera masuk kembali ke dalam kendaraan, membawa serta segala alat dan barang yang dibawa sejak tadi, tidak ada satu pun yang tertinggal di lokasi itu.
Mobil berwarna hitam pekat itu pun bergerak menjauh, meninggalkan tempat itu dengan cepat seolah takut akan ada hal lain yang menahan mereka.
Begitu kendaraan Santosa lenyap dari pandangan, para warga segera berkerumun mendekat dengan wajah penuh haru dan lega.
"Terima kasih banyak, Tuan... Tanpa bantuan Tuan, kami entah harus ke mana lagi," ucap salah satu tetua warga sambil menahan air mata.
"Apakah kita tidak sebaiknya segera menyusun perjanjian tertulis di atas kertas bermaterai, Dek? Aku melihat jelas sikapnya, dia sangat licik dan pandai berkelit. Aku khawatir janji lisan itu nanti tidak bisa dipegang sama sekali," tanya Kapten William sambil menatap serius ke arah Arya, yang sedari tadi berdiri tenang sambil memandang ke arah jalan yang dilalui kendaraan Santosa.
"Jangan khawatir, Bang. Kalau dia berani main licik dan berkelit berarti dia sudah siap menerima kehancurannya sendiri," jawab Arya nada bicaranya sudah berubah lembut lagi, tak seperti waktu melawan Tuan Santosa.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"SIAL! SIAL! SIAL!" Santosa memukul kemudi di depannya berkali‑kali sambil menggeram marah. Keringat dingin masih menetes di pelipisnya, amarah dan rasa penasaran bercampur menjadi satu.
"Dari mana warga itu sampai bisa mendapatkan bantuan anak sulung keluarga Kavindra Adhitama? Bagaimana mungkin ia ikut campur urusan ini?!" batinnya berteriak bingung, ia sama sekali tak menyangka ada hubungan apa? antara warga miskin itu dengan sosok yang begitu berkuasa dan ditakuti seperti Arya.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka