NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Perempuan Itu Kembali

Tiga minggu berlalu sejak Arga dan Nadira resmi menjadi suami istri.

Waktu ternyata mampu mengubah banyak hal. Rumah yang dulu terasa begitu asing kini perlahan memiliki ritmenya sendiri. Keheningan yang sempat terasa canggung mulai tergantikan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang muncul tanpa direncanakan. 

Tidak ada lagi rasa kikuk setiap kali mereka berpapasan di lorong rumah atau duduk berdua di meja makan. Meski belum sepenuhnya seperti pasangan pada umumnya, setidaknya mereka sudah belajar hidup berdampingan.

Pagi itu, aroma roti panggang memenuhi dapur.

Nadira sibuk menyusun dua kotak bekal di atas meja. Ia memasukkan potongan buah, sayuran, dan ayam panggang yang dimasaknya semalam. Sesekali ia membuka tutup kotak untuk memastikan semuanya tersusun rapi.

Sementara itu, di ruang keluarga, Arga duduk sambil menatap layar tabletnya. Jadwal rapat hari itu sudah memenuhi halaman kalender digitalnya. Namun, pandangannya beberapa kali beralih ke arah jam dinding.

Delapan lewat lima belas.

"Mas, sebentar ya!" seru Nadira dari dapur.

Arga menghela napas pelan. "Kamu bilang begitu lima menit yang lalu."

"Iya, ini tinggal masukin buah." Beberapa detik berlalu. "Sebentar lagi!"

Kali ini Arga bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Dilihatnya Nadira masih sibuk menutup kotak bekal sambil sesekali mengusap anak rambut yang jatuh ke wajahnya.

"Aku mulai curiga."

Nadira menoleh. "Curiga apa?"

"Kalau arti 'sebentar’ menurutmu berbeda dengan orang lain."

Nadira tertawa kecil. "Aku cuma nggak mau nanti siang kamu makan makanan kantor terus."

Arga melirik dua kotak makan yang sudah tertata. "Untukku juga?"

"Iya."

"Padahal di kantor ada katering."

"Anggap saja variasi."

Jawaban sederhana itu membuat sudut bibir Arga terangkat tipis. Nagira sudah selesai dengan persiapnnya. "Kalau begitu, kita berangkat."

Perjalanan menuju pusat kota berlangsung tenang. Kemacetan pagi belum terlalu padat. Cahaya matahari menembus kaca depan mobil, menciptakan suasana hangat yang membuat perjalanan terasa nyaman.

Nadira memandang jalanan di luar sambil memangku sebuah novel yang baru dibelinya beberapa hari lalu.

"Tadi malam ada pelanggan langganan datang lagi."

Arga mengangguk pelan. "Yang suka cari buku sejarah?"

Nadira langsung menoleh. "Kamu masih ingat?"

"Katamu dia selalu datang awal bulan."

Tanpa sadar, Nadira tersenyum. "Iya. Dia nitip nyari buku cetakan lama. Susah banget ternyata."

"Kamu pasti tetap dicarikan."

"Namanya juga pemilik toko buku."

Percakapan mereka terus mengalir ringan. Nadira bercerita tentang pelanggan kecil yang menghabiskan waktu membaca komik tanpa membeli apa pun. Arga hanya sesekali menanggapi, tetapi selalu mendengarkan.

Mobil akhirnya berhenti di depan Toko Buku Senja. Nadira membuka sabuk pengamannya.

"Makasih ya."

Arga mengangguk.

"Nanti kalau pulangnya lebih malam, kabari."

"Iya."

"Jangan pulang sendirian."

Nadira menatap Arga beberapa detik sebelum tersenyum kecil. "Siap, Mas."

Arga menggigit bibir bawahnya, agak canggung ketika Nadira memanggilnya begitu. Lambat lau, perhatian sederhana seperti itu kini tak lagi terasa asing. Justru perlahan menjadi kebiasaan yang membuat Nadira merasa diperhatikan.

Setelah mengantar Nadira, Arga langsung melesat ke kantornya. Suasana kantor Wijaya Group seperti biasa.

Arga menghabiskan sebagian besar paginya dalam rapat bersama jajaran direksi. Laporan keuangan, rencana ekspansi, hingga evaluasi proyek berjalan silih berganti memenuhi meja rapat.

Baru menjelang sore ia kembali ke ruang kerjanya. Belum sempat membuka laptop, terdengar ketukan di pintu.

"Masuk."

Dimas Prakoso melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna cokelat.

"Selamat sore, Pak Arga."

"Silakan duduk, Pak Dimas."

Pengacara keluarga itu meletakkan map di atas meja. Sebelumnya pertemuan mereka sudah direncanakan.

"Beberapa hari lalu saya menghubungi Anda untuk membahas hal ini. Saya membawa kabar baik."

Arga mengangkat pandangannya.

"Seluruh proses administrasi terkait syarat warisan telah selesai. Dokumen Bapak sudah disetujui."

Arga terdiam sejenak. "Berarti semua sudah selesai?"

"Dalam waktu dekat hanya tinggal menunggu jadwal resmi pembacaan wasiat dari notaris."

Untuk pertama kalinya hari itu, Arga mengembuskan napas lega. Beban yang selama berminggu-minggu berada di pundaknya seolah sedikit berkurang.

"Terima kasih, Pak Dimas."

"Sama-sama. Selamat, Pak."

Matahari sudah tenggelam ketika mobil Arga berhenti di depan Toko Buku Senja. Lampu-lampu toko mulai dinyalakan. Nadira terlihat sedang membantu seorang pelanggan memilih buku sebelum akhirnya menutup mesin kasir.

Dari balik rak buku, Maya langsung menyenggol pelan lengan Nadira.

"Tuh, sopir pribadimu datang."

Nadira mengikuti arah pandangan Maya.

"Itu suamiku."

"Nah, justru itu."

Maya terkekeh. "Baru tiga minggu nikah aja udah rajin jemput."

Nadira menggeleng geli. "Jangan mulai."

"Titip salam sama Pak Arga."

Nadira hanya menghela napas sambil mengambil tasnya. Ketika keluar, Arga sudah berdiri di samping mobil.

"Capek?"

Nadira menggeleng.

"Nggak terlalu."

"Kalau begitu, ayo."

Mobil Arga berbelok memasuki area parkir sebuah hotel berbintang di pusat kota. Lampu-lampu gantung yang menghiasi lobi memancarkan cahaya keemasan, memantul di lantai marmer yang mengilap. Beberapa tamu tampak berlalu-lalang dengan pakaian rapi, sementara alunan musik piano mengalun pelan dari restoran yang berada di sisi kanan lobi.

Nadira menoleh ke arah Arga begitu mesin mobil dimatikan.

"Kita makan di sini?"

Arga mengangguk singkat. "Ada yang ingin aku rayakan."

Nadira mengernyit. "Merayakan apa?"

"Nanti aku kasih tau." Jawaban itu membuat Nadira hanya menghela napas kecil sebelum mengikuti Arga turun dari mobil.

Begitu memasuki restoran, seorang pelayan langsung menyambut mereka dan mengantar menuju meja yang berada di dekat jendela. Dari sana, pemandangan lampu kota terlihat jelas, berkelap-kelip menghiasi malam.

Nadira sempat merasa canggung. Ia memang beberapa kali pernah datang ke hotel, tetapi bukan untuk makan malam seperti ini.

"Mas..."

"Hm?"

"Ini terlalu mewah."

Arga membuka buku menu, lalu menatap Nadira sekilas. "Menurutku biasa saja."

"Iya buat kamu."

Sudut bibir Arga terangkat tipis. "Aku hanya ingin makan malam dengan tenang."

Entah kenapa, jawaban sederhana itu membuat Nadira tidak lagi mempermasalahkan tempat yang dipilih Arga.

Setelah memesan makanan, keheningan sesaat menyelimuti meja mereka. Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang terasa nyaman.

Arga mengambil gelas air putih di depannya.

"Tadi siang Pak Dimas datang ke kantor."

Nadira langsung mengangkat wajah. "Pak Dimas?"

"Pengacara keluarga yang warisan kakek. Katanya semua proses administrasi warisan sudah disetujui."

Mata Nadira membulat. "Serius?"

Arga mengangguk. "Tinggal menunggu jadwal pembacaan wasiat."

Senyum Nadira perlahan mengembang. Tanpa sadar, ia benar-benar ikut merasa lega mendengar kabar itu.

"Syukurlah. "Berarti perjuangan kita selama ini nggak sia-sia."

Arga hanya memandangnya dalam diam.

"Sebentar lagi kontrak kita berhasil." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nadira.

Namun, entah mengapa, kata berhasil justru membuat Arga kehilangan senyum tipisnya. Bukankah sejak awal memang itu tujuan mereka? Bukankah ia seharusnya merasa lega?

Lalu... kenapa yang muncul justru perasaan aneh yang sulit dijelaskan?

Seolah-olah keberhasilan itu berarti hitungan mundur menuju berakhirnya kebiasaan-kebiasaan kecil yang mulai memenuhi hari-harinya.

Makan malam bersama. Mengantar Nadira ke toko. Menjemputnya saat senja. Mendengar perempuan itu bercerita tanpa henti tentang buku-buku yang ia sukai.

Tanpa sadar, semuanya telah menjadi bagian dari rutinitas Arga.

"Mas?"

Suara Nadira membuyarkan lamunannya. "Aku mau bilang terima kasih, kamu sudah melunasi semua angsuran bank yang nominalnya puluhan juta sekaligus merenovasi toko buku senja."

"Memang seharusnya aku lakukan. Sesuai dengan kesepakatan kita." Arga berdiri sembari mendekat ke arah Nadira, mengajaknya menikmati langit malam dari balik kaca hotel.

Pelayan baru saja meletakkan dua piring utama di atas meja ketika lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu di balik dinding kaca restoran. Dari tempat mereka duduk, jalanan di bawah tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti. Mobil-mobil melintas perlahan, sementara gedung-gedung tinggi memantulkan kilau malam yang menenangkan.

Nadira ikut berdiri di samping Arga. Kedua tangan mereka sama-sama bertumpu di pagar pembatas kaca, memandang hamparan lampu kota yang berkilauan dari ketinggian.

Dari atas sana, jalanan tampak seperti garis-garis cahaya yang terus bergerak tanpa henti. Sesekali suara dentingan gelas dari arah dapur terdengar samar, lalu kembali tenggelam oleh alunan piano yang mengisi ruangan.

"Indah ya," gumam Nadira pelan.

Arga mengangguk tipis. "Aku juga suka pemandangan malam."

Angin dari pendingin ruangan membuat beberapa helai rambutnya tertiup hingga menutupi wajah. Tanpa berpikir panjang, Arga mengulurkan tangan, menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga Nadira.

Gerakan itu begitu singkat, cukup membuat Nadira membeku. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Arga melingkarkan satu tangannya perlahan di pinggang Nadira. Tarikannya pelan dan pasti, membuat tubuh mereka kembali saling mendekat. "Jadi tidak ada yang bisa mengganggu kita," ucapnya lirih.

Nadira menelan ludah pelan. Jarak mereka kini begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma parfum Arga yang samar.

"Mas..." Suara Nadira terdengar jauh lebih pelan daripada yang ia inginkan.

Arga mengangkat satu tangannya, lalu menyentuh pipi Nadira dengan ujung jemarinya. Tatapannya tak pernah lepas dari mata perempuan itu, seolah sedang mencari jawaban tanpa perlu bertanya.

Nadira tidak bergerak. Entah karena gugup atau memang tidak ingin menjauh.

Perlahan, Arga mendekat. Kening mereka hampir bersentuhan. Napas keduanya saling berbaur dalam keheningan restoran yang hanya diisi alunan musik piano.

Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti.

Hingga...

Brrt... Brrt...

Getaran ponsel di atas meja memecah suasana.

Arga mengembuskan napas pelan. Tatapannya masih tertahan pada Nadira beberapa saat sebelum akhirnya ia melepaskan pelukan itu.

"Maaf," gumamnya. Ia meraih ponselnya yang terus bergetar.

Belum sempat Arga membalik layar ke arahnya, mata Nadira lebih dulu menangkap nama yang terpampang jelas di sana.

Bianca Calling.

Rona tipis di wajah Nadira perlahan memudar. Jemarinya yang semula masih menggenggam ujung jas Arga refleks terlepas.

Arga ikut melihat layar ponselnya. Raut wajahnya yang semula hangat berubah dalam sekejap. Garis rahangnya mengeras, sementara alisnya berkerut tipis.

Nadira mencoba tersenyum, meski ada rasa asing yang tiba-tiba menyelusup ke dadanya.

"Diangkat aja, Mas."

Arga menatap Nadira sejenak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Namun, telepon itu terus berdering.

Akhirnya ia menggeser tombol hijau.

"Halo."

Dari seberang terdengar suara perempuan yang terdengar tergesa-gesa.

"Ga ... ini aku, Bianca. Kita harus ketemu. Ada sesuatu yang harus kamu tahu."

Nadira mendengar jelas suara itu. Raganya masih tak berjarak dari Arga, tetapi siapa yang tahu hati mereka berjarak seberapa jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!