NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23: Batasan dan Rasa Lelah

Aroma kopi pagi yang pekat mulai memenuhi seisi Thalassa Coffee, berbaur dengan wangi mentega hangat dari arah dapur. Suasana kedai masih relatif tenang karena jam operasional baru saja dimulai. Di balik meja bar, Sila tampak beberapa kali meregangkan otot lehernya yang kaku sambil menata beberapa cangkir di rak atas.

"Mbak Savya ya, adonan kue untuk pagi ini sudah selesai semua di oven," lapor Sila, mengembuskan napas panjang. "Tapi jujur ya Mbak, baru seminggu kita jalanin menu cake baru ini, badan rasanya kayak habis ikut maraton. Subuh-subuh buta sudah harus sampai kedai untuk baking."

Farel yang sedang mengelap mesin espresso ikut mengangguk setuju dari posisinya. "Iya, Mbak. Jam operasional kita kan cukup panjang, sampai jam sembilan malam. Kalau setiap hari harus bangun dua jam lebih awal untuk menyiapkan kue dari nol, fisik anak-anak sepertinya mulai keteteran. Arka saja tadi hampir salah menakar biji kopi karena masih mengantuk."

Mendengar keluhan jujur dari karyawan-karyawannya, Savya melipat tangan di dada. Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh pengertian. "Kalian benar. Fisik kita semua adalah aset paling penting di kedai ini. Kita tidak bisa memaksakan menu cake ini hadir setiap hari kalau akhirnya membuat pelayanan kita menurun karena kelelahan."

Savya menjeda kalimatnya sejenak, menimbang sebuah keputusan taktis yang sudah ia pikirkan sejak tadi. "Mulai minggu ini, aku memutuskan untuk membuat batasan baru demi menjaga ritme kerja kita."

"Batasan seperti apa, Mbak?" tanya Farel penasaran.

"Kita akan menghadirkan menu cake ini hanya tiga kali dalam seminggu. Setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu," ujar Savya mantap. "With begitu, di hari-hari lain kita tidak perlu bangun terlalu awal dan bisa menjaga energi dengan baik sampai jam tutup kedai pukul sembilan malam. Bagaimana menurut kalian?"

"Setuju banget, Mbak!" sahut Sila dengan mata berbinar lega.

Mika yang baru keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi kain bersih ikut mengangguk dengan ritme bicaranya yang santai dan tenang. "Pilihan bagus, Mbak Savya ya. Tiga kali seminggu... bikin kue jadi terasa lebih spesial. Pelanggan pasti... bakal lebih penasaran dan rebutan datang di hari-hari itu."

Savya tersenyum lega mendengar respons positif dari anak-anak kedai. Batasan baru ini tidak hanya menyelamatkan fisik mereka, tetapi juga secara tidak langsung menjadi benteng pertahanan bagi hatinya sendiri. Alasan "lelah karena menu baru" ini setidaknya bisa menjadi tameng terbaik untuk menutupi rasa canggung dan kurang tidurnya yang sebenarnya disebabkan oleh hal lain.

Namun, baru saja Savya hendak bernapas lega, lonceng kuningan di pintu depan mendadak berdenting nyaring.

Ting!

"Selamat pagi, Mas Valerius," sapa Farel dengan sopan dari balik meja bar.

Savya seketika membeku di tempatnya. Ia menoleh perlahan dan mendapati sosok tegap itu sudah berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kerja yang rapi dan segar, sangat kontras dengan penampilannya yang tampak lelah semalam. Sepasang netra gelap milik Valerius langsung bergerak lurus, melewati anak-anak kedai, hingga akhirnya berhenti tepat pada manik mata Savya.

Langkah kakinya yang mantap membawa Valerius berjalan mendekat ke arah meja bar. Ia berhenti tepat di depan Savya, lalu sedikit menunduk untuk menyamakan tingkatan matanya. Tatapannya tampak meneliti wajah Savya yang sedikit pucat.

"Selamat pagi, Savya," sapa Valerius, suaranya berat dan tenang. "Wajahmu kelihatan pucat. Kamu kelihatan sangat lelah pagi ini. Apa kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan perhatian yang teramat spontan itu seketika menarik paksa ingatan Savya mundur ke kejadian jam tujuh malam kemarin.

Dalam lamunan kilas baliknya, Savya mengingat betul bagaimana Valerius berdiri sedekat ini di sudut kedai yang temaram. Pria itu menunduk, mengunci pandangan mereka, lalu jemari hangatnya bergerak perlahan menyelipkan sehelai rambut Savya ke balik daun telinganya. Sentuhan singkat yang sukses menghentikan detak waktu di sekeliling mereka. “Aku sudah berjanji semalam, Savya. Dan aku tidak akan membiarkanmu menungguku seharian tanpa kepastian,” bisik Valerius semalam, disusul seulas senyum tipis yang sarat akan makna mendalam sebelum dia pamit pulang. “Tapi melihat caramu menatapku sekarang... sepertinya kalimatku semalam benar-benar menyita waktu tidurmu, ya?”

Ingatan itu membuat bulu kuduk Savya meremang halus. Pipinya mendadak terasa panas. Sadar bahwa dia sedang ditatap langsung oleh pemilik suara dalam ingatannya itu, Savya buru-buru menarik kesadarannya kembali ke dunia nyata. Ia harus memasang batasan sekarang juga sebelum pria di hadapannya ini tahu kalau dialah penyebab Savya kurang tidur semalam.

Savya berdehem pelan, berusaha menata raut wajahnya seprofesional mungkin, meskipun suaranya terdengar agak kaku.

"Aku baik-baik saja, Vale. Ini... ini murni karena aku agak kelelahan saja," ucap Savya, langsung mengeluarkan alasan rentetan menu kue yang sudah ia siapkan sejak subuh tadi. "Semenjak kita meluncurkan menu cake baru, aku dan anak-anak harus selalu bangun jauh lebih awal setiap pagi untuk menyiapkan segalanya dari nol. Jadwal operasional kedai kita kan cukup panjang sampai jam sembilan malam, jadi wajar kalau hari ini otakku agak lambat karena kurang istirahat."

Savya mengucapkannya dengan rentetan kalimat yang terkesan sangat rapi dan dibuat-buat, seolah-olah dia sedang membacakan laporan evaluasi bisnis di depan investor, bukan sedang mengobrol santai dengan seorang kenalan. Ia bahkan sengaja menunjuk ke arah dapur untuk memperkuat kebohongannya.

Valerius tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, memperhatikan bagaimana bola mata Savya bergerak gelisah dan tidak berani menatap langsung ke arahnya. Pria itu tentu tidak bodoh; dia bisa menangkap kesan defensif dan alasan yang sengaja dibuat-buat oleh wanita di hadapannya ini demi menjaga jarak atau batas aman.

Sudut bibir Valerius perlahan terangkat tipis, membentuk seringai kecil yang hampir tak kentara. "Oh, jadi murni karena menu kue baru itu?" tanya Valerius retoris, nadanya terdengar begitu santai namun seolah sedang menguliti kebohongan Savya yang menggemaskan.

"I-iya, tentu saja," jawab Savya cepat, menelan ludahnya susah payah karena merasa skakmat lagi.

Valerius mengetukkan jarinya perlahan di atas meja bar, lalu dengan gerakan tenang, ia melepaskan mantel panjang hitamnya dan menyampirkannya dengan rapi di salah satu kursi kosong terdekat. Ia kemudian menggulung kemeja putihnya hingga sebatas siku, memamerkan lengan bawahnya yang kokoh dan berurat.

"...Kalau begitu, kurasa keputusanku untuk datang sepagi ini sangat tepat. Aku ke sini bukan untuk memesan kopi hitam seperti biasanya, Savya. Tapi aku ke sini untuk bekerja. Kebetulan jadwalku pagi ini sedang kosong sampai makan siang nanti."

Savya membelalakkan matanya, benar-benar tidak siap dengan arah pembicaraan ini. "M-maksudmu? Pekerjaan apa?"

"Membantumu," jawab Valerius tenang. Tanpa meminta izin lagi, pria itu melangkah mantap melewati sekat kayu pembatas dan masuk ke area dalam meja bar—berdiri tepat di samping Savya.

Aroma maskulin khas Valerius seketika mengepung indra penciuman Savya, mengalahkan aroma biji kopi yang biasanya mendominasi tempat itu. Jarak mereka kini teramat dekat, bahkan lengan mereka hampir bersentuhan karena area di balik mesin espresso itu memang tidak terlalu luas.

"Vale, kamu tidak bisa di sini. Ini area staf—"

"Tadi kamu bilang otakmu sedang lambat karena kurang tidur dan kelelahan mengurus menu kue, kan?" potong Valerius pelan. Ia menunduk, menatap lekat kedua manik mata Savya hingga membuat wanita itu refleks menahan napas. "Aku tidak bisa membiarkan barista andalanku membuat kopi dengan fokus yang berantakan. Jadi, biar aku yang mencuci cangkir atau mengangkat nampan hari ini. Anggap saja ini kompensasi karena aku sudah mengacaukan waktu tidurmu."

Kalimat terakhir Valerius diucapkan dengan nada yang teramat rendah, hampir seperti bisikan, murni hanya untuk didengar oleh Savya sendiri. Kalimat itu adalah serangan telak yang membuktikan bahwa Valerius tahu persis kalau alasan "lelah karena menu kue" yang diucapkan Savya hanyalah kebohongan belaka.

Savya meremas ujung celemeknya, lidahnya mendadak kelu dan pipinya merona hebat. Batasan aman yang sejak subuh tadi ia bangun dengan susah payah, hancur lebur hanya dalam hitungan detik karena keberadaan fisik Valerius yang begitu nyata di sisinya.

Sementara itu, Farel dan Sila yang menyaksikan pemandangan langka itu dari sudut lain kedai hanya bisa saling lirik dengan mata membelalak tak percaya. Seorang Valerius—pria kaku berwibawa yang biasanya hanya duduk tenang di kursi pelanggan—kini sedang berdiri di balik bar, siap mencuci piring demi meringankan beban lelah sang pemilik kedai.

"Mas Valerius... serius mau bantu?" tanya Farel ragu-ragu, memastikan pendengarannya tidak salah.

Valerius menoleh pelan pada Farel dan mengangguk formal. "Ya. Berikan aku pekerjaan yang paling mudah agar tidak merusak sistem kerja kalian."

"A-Arka!" panggil Sila setengah berbisik, menyenggol lengan Arka yang masih melongo. "Cepat ambilkan celemek bersih cadangan di loker untuk Mas Valerius!"

Valerius menerima celemek kain berwarna hitam polos itu dari tangan Arka. Dengan gerakan tenang, ia mengalungkan tali celemek itu ke lehernya. Namun, saat hendak mengikat tali di bagian pinggang, tubuh tegapnya yang terbiasa dibalut setelan desainer itu tampak sedikit kesulitan meraih tali di balik punggungnya sendiri.

"Biar aku bantu, Mas," tawar Farel sigap, hendak melangkah mendekat.

"Tidak usah, Farel. Selesaikan saja pesanan di mesinmu," potong Valerius pelan, lalu matanya kembali bergulir menatap wanita di sampingnya. "Savya... bisa tolong ikatkan?"

Savya yang sejak tadi berusaha memalingkan muka langsung menoleh dengan mata membelalak kecil. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Namun, melihat Valerius yang masih kerepotan dan anak-anak kedai yang sengaja pura-pura sibuk membuang muka, Savya tidak punya pilihan lain.

Ia melangkah ragu-ragu, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma maskulin dari tubuh Valerius kembali menguar kuat. Savya memajukan kedua tangannya, meraih sepasang tali di pinggang belakang Valerius. Posisi ini memaksa Savya seolah sedang memeluk pria itu dari depan. Jarak mereka begitu intim hingga Savya bisa mendengar helaan napas berat Valerius tepat di atas kepalanya.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Savya buru-buru mengikat tali itu menjadi simpul mati. "Su-sudah," cicit Savya, langsung menarik mundur tubuhnya secepat mungkin untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

Valerius hanya tersenyum tipis, merapikan letak celemeknya yang kini melekat sempurna di atas kemeja putihnya yang digulung sebatas siku.

Tepat pada saat itu, lonceng pintu kembali berdenting nyaring.

Ting!

Dua orang pelanggan wanita kantoran masuk ke dalam kedai sambil berbincang seru. Mereka langsung berjalan menuju meja bar untuk memesan. Namun, langkah kedua pelanggan itu mendadak melambat, dan obrolan mereka terhenti seketika begitu pandangan mereka jatuh pada sosok pria yang berdiri di balik kasir.

Valerius berdiri tegak di samping Savya, wajahnya datar tanpa ekspresi, memancarkan aura dingin dan berwibawa yang sangat dominan—sama sekali tidak terlihat seperti seorang pelayan kedai kopi pada umumnya.

Kecanggungan instan langsung menyelimuti area bar. Kedua pelanggan itu tampak saling lirik dengan tatapan ragu, sedikit terintimidasi oleh tatapan tajam dan perawakan tegap Valerius.

"Selamat pagi... mau pesan apa?" tanya Savya, mencoba memecah kekakuan dengan senyum ramah yang agak dipaksakan.

Pelanggan wanita yang memakai kacamata berdehem pelan, suaranya agak mencicit saat berbicara. "E-eh, iya, Mbak. Saya mau iced americano satu, sama... croissant satu."

"Baik, iced americano dan croissant ya," jawab Savya sigap. Jemarinya mulai menekan layar mesin kasir. "Ada tambahan lain?"

"Itu saja, Mbak." Pelanggan itu mengeluarkan dompetnya, namun matanya sesekali masih mencuri pandang ke arah Valerius dengan rasa penasaran yang besar.

"Totalnya jadi tiga puluh lima ribu rupiah," ucap Savya.

Sebelum Savya sempat bergerak, Valerius sudah mengulurkan tangannya yang besar dan mulus untuk menerima uang dari pelanggan tersebut. "Biar aku yang mengurus transaksinya, Savya. Kamu siapkan pesanannya," ucap Valerius tenang, suaranya yang berat bergema di balik bar.

"Ah... i-iya," sahut Savya gugup.

Saat Savya berputar untuk mengambil croissant di etalase kaca, ruang bar yang sempit membuat pinggangnya tidak sengaja bergesekan lembut dengan lengan kokoh Valerius. Sentuhan fisik yang tak direncanakan itu membuat Savya hampir saja menjatuhkan penjepit kue yang dipegangnya. Ia buru-buru memunggungi Valerius, menahan napasnya dalam-dalam dengan dada yang bergemuruh hebat.

Sementara itu di depan kasir, kecanggungan makin terasa saat Valerius menyerahkan uang kembalian. Gerakan tangannya sangat formal, seolah sedang menyerahkan dokumen kontrak kerja ratusan juta, bukan uang kembalian lima belas ribu rupiah.

"Ini kembalian Anda. Terima kasih," ucap Valerius dengan nada sedatar es.

Kedua pelanggan itu menerima uang tersebut dengan gerakan kaku, lalu buru-buru berjalan menuju meja di sudut ruangan. Begitu jarak mereka sudah agak jauh, mereka langsung saling berbisik heboh.

"Eh, itu barista baru? Kok auranya kayak CEO di drama-drama, ya? Serem tapi ganteng banget!" bisik salah satu pelanggan yang sayangnya masih bisa terdengar samar oleh Savya.

Savya yang sedang meletakkan croissant di atas piring kecil hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu. Ia menoleh sedikit pada Valerius yang kini sedang berdiri santai menantinya di samping mesin espresso.

"Vale... kamu membuat pelanggan takut," bisik Savya setengah memprotes, mencoba mengalihkan rasa canggungnya sendiri.

Valerius menunduk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Savya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Aku tidak berniat menakuti mereka, Savya. Aku hanya sedang serius fokus membantumu," sahutnya dengan nada rendah, menatar lurus ke dalam mata Savya yang tampak panik. "Atau... sebenarnya bukan mereka yang merasa takut di sini, melainkan kamu yang sedang gugup karena jarak kita terlalu dekat?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!