Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilusi yang Runtuh
Nampan kayu di tangan Kayla bergetar hebat. Cangkir porselen berisi teh hangat di atasnya berdenting pelan, menciptakan suara kecil yang beradu dengan detak jantungnya sendiri.
"Aku merindukanmu, Valerie."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Kayla.
Begitu ringan.
Begitu alami.
Dulu, kata rindu itu selalu menjadi miliknya. Adrian akan mengatakannya sambil memeluk pinggangnya dari belakang atau mengecup keningnya sebelum tidur.
Namun sekarang, nama yang mengikutinya bukan lagi dirinya.
Mendengar langkah kaki Adrian bergerak dari dalam ruang kerja, kesadaran Kayla langsung tersentak.
Panik menguasai tubuhnya yang melemah.
Dengan langkah tergesa, Kayla buru-buru berbalik dan berjalan cepat menyusuri koridor lantai dua. Dia bahkan nyaris tersandung karena kakinya gemetar hebat.
Begitu masuk ke kamar mandi kamar utama, Kayla langsung mengunci pintu.
Nampan teh diletakkannya di atas wastafel dengan tangan mati rasa sebelum tubuhnya ambruk di sudut dekat pancuran.
Kayla menekuk lututnya. Wajahnya tenggelam di sana.
Tangannya membekap mulutnya sendiri kuat-kuat agar suara tangisnya tidak keluar.
Dia ingin berteriak.
Ingin bertanya kenapa Adrian tega melakukan semua ini saat dirinya sedang mengandung anak mereka.
Namun yang keluar hanyalah isakan patah yang tertahan dan napas sesak yang bergetar menyakitkan.
Air mata terus jatuh membasahi daster batiknya.
Untuk pertama kalinya, Kayla benar-benar sadar.
Semua ini bukan salah paham.
Bukan sekadar kecurigaan.
Adrian memang mencintai perempuan lain.
Di tengah guncangan emosinya, perut Kayla mendadak menegang hebat.
"Akh..."
Kayla langsung mencengkeram perut buncitnya. Bayi di dalam kandungannya bergerak aktif, seolah ikut gelisah merasakan kehancuran ibunya.
Rasa kram itu datang semakin kuat hingga membuat napas Kayla memburu.
"Sabar ya, Nak..." bisiknya lirih dengan suara pecah. "Ibu mohon... jangan kenapa-napa..."
Tangannya terus mengusap perutnya perlahan, mencoba menenangkan malaikat kecilnya meski dirinya sendiri sudah hampir hancur.
Di tengah dunianya yang runtuh, hanya bayi itu alasan Kayla masih bertahan.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi neraka sunyi bagi Kayla.
Dia mulai sulit tidur.
Setiap malam, saat Adrian tertidur membelakanginya sambil menyimpan ponsel di bawah bantal, bayangan Valerie terus memenuhi kepala Kayla.
Foto-foto mesra mereka.
Pesan-pesan manis itu.
Nada lembut Adrian saat menelepon Valerie.
Semua terus menghantuinya.
Kayla baru bisa memejamkan mata saat azan subuh mulai terdengar samar.
Nafsu makannya pun perlahan menghilang.
Bahkan aroma makanan kini membuat perutnya mual. Dalam waktu singkat, wajah Kayla terlihat semakin pucat dan tirus. Lingkar hitam di bawah matanya membuatnya tampak jauh lebih lelah dari usianya.
Sementara itu, Adrian justru semakin nyaman dengan jarak di antara mereka.
Pria itu pulang semakin larut.
Kadang lewat tengah malam.
Kadang menjelang pagi.
Dan setiap pulang, matanya selalu terpaku pada layar ponsel.
Tak ada lagi sentuhan hangat.
Tak ada lagi perhatian kecil.
Adrian memperlakukan Kayla seperti seseorang yang hanya numpang hidup di rumahnya.
Di media sosial, Valerie Amanda pun semakin terang-terangan.
Suatu pagi, perempuan itu mengunggah foto buket mawar merah besar di dalam sebuah mobil mewah.
"Dikasih kejutan pagi-pagi sama orang tersayang 🤍."
Wajah Adrian memang tidak terlihat.
Namun Kayla mengenali interior mobil itu.
Itu mobil suaminya.
Rasa sesak di dada Kayla semakin menjadi-jadi.
Penderitaannya terasa lengkap karena Ibu Sandra dan Tiara terus menaburkan luka baru setiap hari.
Sore itu, televisi ruang tengah sedang menayangkan acara gosip yang membahas Valerie Amanda sebagai ikon fashion baru.
"Duh, perempuan kayak Valerie ini baru cocok jadi pasangan Adrian," ujar Ibu Sandra sambil melirik sinis ke arah Kayla.
"Cantik, pintar dandan, kelasnya jelas."
Tiara terkekeh kecil. "Iya, Ma. Gak kayak orang di rumah ini. Dasteran terus, muka kusut, aura miskinnya keliatan banget."
Kayla menunduk dalam.
Jemarinya saling meremas pelan.
"Kak Adrian itu CEO sekarang," lanjut Tiara tanpa rasa bersalah. "Kalau istrinya kayak begini terus ya malu-maluin."
Kayla diam.
Namun setiap kata mereka terasa seperti pisau kecil yang menusuk perlahan ke dalam dadanya.
Rasa rendah diri mulai tumbuh semakin besar.
Untuk pertama kalinya, Kayla mulai takut.
Takut suatu hari nanti Adrian benar-benar membuangnya begitu saja setelah anaknya lahir.
Malam harinya Adrian pulang sekitar pukul sepuluh malam.
Pria itu tampak jauh lebih santai dibanding biasanya.
Kayla yang masih mencoba mempertahankan sisa harapan di hatinya segera membuatkan teh jahe hangat—minuman favorit Adrian saat lelah bekerja.
"Mas... teh jahenya," ucap Kayla pelan sambil mendekat.
Namun Adrian bahkan tidak menoleh.
Pria itu sibuk mengetik di ponselnya.
Saat Kayla mengulurkan cangkir lebih dekat, Adrian tiba-tiba berdiri.
Tangannya tak sengaja menyenggol cangkir tersebut.
Prang!
Cangkir porselen itu jatuh dan pecah di atas lantai marmer. Air teh hangat tumpah membasahi sepatu mahal Adrian.
"Sialan, Kayla!" bentak Adrian spontan. "Kamu tuh bisa gak sih kerja yang bener?!"
Tubuh Kayla langsung menegang.
"Aku gak sengaja, Mas..."
"Gak sengaja terus!" Adrian menatapnya penuh emosi. "Aku pulang udah capek malah harus lihat beginian!"
Kayla buru-buru berlutut memunguti pecahan porselen dengan tangan gemetar.
Namun Adrian malah mundur satu langkah dengan wajah muak.
"Udah! Jangan bikin aku makin stres lihat muka kamu!"
Setelah mengatakan itu, Adrian langsung pergi menaiki tangga tanpa menoleh lagi.
Kayla kembali sendirian di ruang tamu yang dingin.
Keesokan paginya, saat Adrian sudah pergi bekerja dan rumah sedang sepi, Kayla masuk ke ruang kerja suaminya untuk membersihkan debu.
Saat sedang mengelap meja kayu besar milik Adrian, tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak jam tangan Rolex di dalam laci yang terbuka sedikit.
Kotak itu bergeser.
Dan memperlihatkan sebuah amplop kulit hitam di bagian bawah laci.
Entah kenapa, jantung Kayla mendadak berdetak tidak tenang.
Perlahan, dia mengambil amplop tersebut. Di dalamnya ada beberapa dokumen dan sebuah buku catatan kecil eksklusif.
Namun saat Kayla membukanya, sesuatu jatuh ke atas meja.
Sebuah foto Polaroid,Jemari Kayla langsung membeku.
Di foto itu, Adrian dan Valerie sedang berpelukan mesra di tepi pantai dengan latar matahari terbenam.
Senyum Adrian terlihat begitu bahagia.Sangat bahagia.
Di sudut bawah foto, terdapat tulisan tanggal dengan tinta emas.
14 Februari 2024.
Tubuh Kayla langsung bergetar hebat.
Matanya membelalak tidak percaya.
Februari 2024.
Dua tahun lalu.
Saat itu rumah tangga mereka masih terlihat sempurna.
Saat itu Adrian masih mengecup keningnya setiap pagi dan memanggilnya dengan penuh cinta.
Ternyata...
Perselingkuhan ini sudah dimulai sejak lama.
Jauh sebelum Kayla hamil, Jauh sebelum hubungan mereka membeku seperti sekarang Selama ini, dirinya hidup di dalam kebohongan yang dibangun begitu rapi oleh pria yang paling dia cintai.