NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Bayangan dari Hutan Tarik

Kemenangan gemilang sayap kanan bawah dalam perang simulasi besar tidak hanya melahirkan kekaguman, tetapi juga memicu riak kecurigaan yang merayap di sela-sela barak pelatihan Barat. Ketika malam kembali merangkul Trowulan, keheningan di dalam barak hunian nomor empat terasa jauh lebih pekat. Lampu minyak di tiang tengah berayun pelan ditiup angin yang menyelinap dari celah dinding bambu, memantulkan bayangan puluhan pemuda yang sedang tertidur lelap karena kelelahan fisik yang luar biasa setelah mengeksekusi strategi jepitan lambung.

Di sudut paling belakang yang pengap dan gelap, Mada tidak memejamkan matanya. Ia duduk bersila di atas amben bambunya yang lapuk, mengatur napasnya dalam ketukan yang sangat halus. Mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya diaktifkan seujung kuku, memindai area luar barak. Indra pendengarannya yang tajam menangkap suara jangkrik malam, deru angin, dan sesuatu yang asing: sebuah langkah kaki yang bergerak sangat halus di atas permukaan tanah liat kering di luar dinding barak, tepat di balik sudut tempat tidur Mada.

Langkah kaki itu berbeda dengan langkah kaki para bintara patroli malam yang selalu mengenakan sandal kulit tebal dan berjalan dengan hentakan berirama. Langkah kaki ini sangat ringan, pendek, dan sesekali berhenti selama beberapa hitungan napas, seolah sang pemilik sedang memastikan tidak ada mata menara pengawas yang melihat pergerakannya.

(Seseorang sedang mengintai barak ini. Dan arah pergerakannya murni mengunci pada titik koordinat amben tempat dudukku.)

Mada tidak mengubah posisinya. Ia tetap melipat kedua tangannya di depan dada, membiarkan tubuh jangkungnya menyatu dengan kegelapan sudut barak, sembari mempersiapkan sirkulasi batin emas Batara Niti Mandala di titik siaga terdalam jika sewaktu-waktu serangan fisik mendadak terjadi menembus dinding bambu.

Di luar barak, di bawah bayangan pohon mangga tua yang rimbun, seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian katun hitam lusuh berdiri menyandarkan punggungnya pada tiang pagar pancang. Pria itu bernama jarnwaji, seorang mata-mata tingkat rendah dari jaringan bawah tanah Singo Barong yang dikendalikan oleh Mahapati. Tugas harian jarnwaji sebenarnya hanyalah mengawasi pasokan logistik beras dan minyak untuk kebutuhan barak pelatihan Barat, namun sore tadi, ia tidak sengaja berdiri di tepi lapangan luar ketika sorak-sorai kemenangan kelompok barak nomor empat pecah di bawah siraman matahari fajar.

Saat jarnwaji melihat sosok prajurit nomor nol empat puluh tujuh berjalan mundur sambil berpura-pura terengah-engah dan memegangi lututnya, sebuah kilatan ingatan lama mendadak menyengat benaknya. Wajah jangkung Mada, struktur tulang pipinya yang tegas, serta cara bahunya bergerak saat berbalik, mengingatkannya pada selembar lukisan sketsa perkamen kuno yang disimpan di dalam ruang rahasia markas Singo Barong. Lukisan itu adalah wajah seorang perwira tinggi Majapahit masa awal yang menjadi buronan nomor satu setelah peristiwa penghancuran keluarga besar keturunan empu di pedalaman Jawa daerah timur.

(Wajah pemuda itu... kemiripannya terlalu mengerikan untuk disebut sebagai sebuah kebetulan acak. Bentuk rahangnya, ketenangan matanya di tengah keriuhan, semuanya sama persis dengan ciri-ciri darah keturunan menjijikkan yang diperintahkan untuk ditumpas habis oleh Gusti Mahapati dua puluh tahun lalu.)

jarnwaji meraba sebuah pisau belati kecil yang terselip di balik kain ikat pinggangnya. Ia melangkah mendekati celah anyaman bambu barak nomor empat, mencoba mengintip ke dalam guna memastikan kembali posisi tidur pemuda jangkung bernama Mada tersebut. Dari sela celah bambu yang sempit, ia bisa melihat samar-samar bayangan tubuh jangkung Mada yang sedang duduk bersila di sudut gelap.

Tepat ketika mata jarnwaji mencoba memfokuskan pandangan ke arah wajah Mada, Mada mendadak membuka sepasang matanya. Di dalam kegelapan sudut yang pekat, sepasang mata Mada memancarkan pendaran batin emas yang sangat tipis namun memiliki ketajaman yang begitu menusuk sukma.

Glek.

jarnwaji mendadak menelan ludahnya dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Tekanan hawa dingin yang tak kasat mata seolah-olah baru saja menembus dadanya, membuat seluruh aliran darah di lengannya membeku seketika. Saraf tubuhnya meledakkan sinyal bahaya yang sangat besar, sebuah insting alami dari seorang pemburu yang menyadari bahwa makhluk yang sedang diintainya di dalam barak bukanlah seekor anak ayam desa yang lemah, melainkan seekor harimau purba yang sedang terbangun dari tidurnya.

(Gila! Tatapan mata apa itu tadi? Pemuda desa tidak mungkin memiliki pancaran aura batin sedalam dan setajam itu! Laporan ini harus segera sampai ke tangan tetua Singo Barong di ibu kota sebelum fajar pecah!)

jarnwaji segera menarik tubuhnya mundur dengan terburu-buru. Ia tidak berani lagi melanjutkan pengintaiannya. Dengan langkah kaki yang sedikit gemetar menahan rasa takut yang tidak bisa dijelaskan oleh logikanya, ia melesat pergi meninggalkan area luar barak hunian nomor empat, menyelinap di antara bayangan dinding batu luar menuju ke arah gerbang logistik Barat.

Di dalam barak, Mada perlahan menutup kembali matanya, mengembuskan napas panjang secara teratur. (Mata-mata Singo Barong akhirnya menemukan jejak fisikku lebih cepat dari perkiraan matematisku. Nama Hutan Tarik yang tertulis di papan pengumuman seleksi kemarin tampaknya telah memicu pergerakan jaringan intelijen Mahapati untuk menggali kembali kuburan masa lalu yang mereka hancurkan.)

Mada meraba permukaan kulit dadanya, merasakan detak jantungnya yang kembali normal. (Bagus. Biarkan laporan pertama itu terkirim menuju Trowulan pusat. Semakin Mahapati merasa terancam oleh keberadaan seorang anak desa dari Tarik, semakin banyak bidak rahasianya yang akan dipaksa bergerak keluar dari kegelapan istana, dan itu akan memudahkan mata sakral Niti Sastra milikku untuk memetakan seluruh nama pengkhianat di dalam lingkaran kekuasaan Majapahit.)

Fajar hari berikutnya tiba dengan suasana yang terasa berbeda di dalam barak nomor empat. Ketika para pemuda mulai terbangun untuk bersiap menghadapi latihan fisik harian, Ragajaya tampak berdiri di dekat pintu depan sambil mengamati setiap orang yang lewat dengan pandangan mata yang sangat suram. Semalam, ia hampir tidak bisa memejamkan mata karena terus memikirkan kejeniusan taktis yang dibisikkan Mada di balik semak berduri kemarin fajar.

Saat Mada berjalan melintasi amben tengah sambil membawa ember kosong untuk mencuci wajah, Ragajaya mendadak melangkah menghalanginya, menancapkan lengannya pada tiang kayu di samping kepala Mada.

"Mada," ucap Ragajaya, suaranya terdengar sangat rendah namun memiliki tekanan yang menuntut jawaban mutlak. "Jangan berpura-pura bodoh lagi di depanku pagi ini. Siasat jepitan lambung dan istilah nama Gelar Supit Urang yang kamu ucapkan kemarin... dari mana seorang anak petani miskin pembawa kambing di Hutan Tarik bisa mengetahui nama strategi militer sakral yang bahkan tidak pernah diajarkan oleh para bintara daerah kepada kami?"

Wiranata dan Lembu Sora yang sedang merapikan kain ikat pinggang mereka langsung menghentikan gerakan mereka, ikut menoleh ke arah sudut tengah untuk mendengarkan jawaban Mada.

Mada segera mengubah ekspresi wajahnya, menurunkan pundaknya, dan memasang kembali senyum polosnya yang tampak sangat bingung dan canggung seorang pemuda desa.

"Tuan Ragajaya, tolong jangan menatap hamba seperti itu," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat agak bergetar ketakutan. "Hamba sudah mengatakannya kemarin, nama Supit Urang itu hanyalah istilah yang sering diucapkan oleh mendiang ayah hamba, Sidacerma, ketika beliau mengajari hamba cara membuat jepitan bambu untuk menangkap udang besar di sungai pedalaman Hutan Tarik. Udang sungai di Tarik itu sangat besar dan memiliki taring yang kuat, jika kita tidak menjepitnya dari arah samping menggunakan dua bilah bambu secara bersamaan, jari tangan kita bisa putus dipotong oleh taringnya! Hamba tidak tahu kalau cara menangkap udang di desa hamba memiliki nama yang sama dengan strategi perang para ksatria istana yang agung!"

Mendengar penjelasan Mada mengenai udang sungai yang dikaitkan dengan strategi perang legendaris Majapahit, Lembu Sora langsung tertawa terbahak-bahak dari arah belakang amben.

"Udang sungai? Ha ha ha! Ragajaya, lihatlah anak jangkung ini!" seru Lembu Sora sambil menepuk pundak Ragajaya, mencoba mencairkan ketegangan pagi. "Kamu terlalu banyak berpikir semalam hingga menyamakan kejeniusan taktis dengan cara menangkap udang di dalam hutan! Mada ini memang hanya seonggok daging jangkung yang beruntung dikaruniai ingatan ingatan alami mengenai kebiasaan hewan liar!"

Ragajaya menarik kembali lengannya dari tiang kayu dengan mendengus sangat remeh, meski jauh di lubuk hatinya, rasa tidak nyaman terhadap sosok Mada tetap tidak bisa terhapus sepenuhnya. "Udang atau serigala, terserah apa katamu, nomor nol empat puluh tujuh. Tapi ingat, hari ini adalah ujian pembersihan kandang kuda dan pembawaan logistik berat, keberuntungan udang sungaimu tidak akan bisa membantumu jika punggungmu patah memikul log jati."

Ragajaya membalikkan badannya melangkah keluar barak dengan angkuh, diikuti oleh Lembu Sora dan Jaka Wulung. Mada hanya menatap punggung mereka dengan senyuman keluguannya yang tetap bertahan, berjalan mengekor di barisan paling belakang kelompok.

Sementara itu, di sebuah kedai teh kecil yang terletak di luar gerbang logistik kompleks Barat, jarnwaji tampak sedang duduk terburu-buru menuliskan sebaris kalimat pendek di atas selembar perkamen daun lontar kecil yang digulung setebal lidi. Wajahnya masih tampak sedikit kuyu karena kurang tidur, dan tangannya agak bergetar saat memberikan cap lilin hitam berlogo kepala singa barong di atas gulungan tersebut.

"Kirimkan gulungan lontar ini menggunakan burung merpati pos sayap hitam tercepat menuju ke kediaman Gusti Mahapati di kompleks istana timur sekarang juga!" bisik jarnwaji kepada seorang pemuda pelayan kedai yang ternyata merupakan salah satu kaki tangan rahasianya. "Katakan pada tetua pengawas bahwa benih pengkhianat lama dari silsilah Hutan Tarik telah menduduki barak Tamtama nomor nol empat puluh tujuh di bawah perlindungan Senopati Kudamerta!"

Pelayan kedai itu menerima gulungan lontar dengan anggukan patuh sedalam-dalamnya, lalu segera menyelinap masuk ke dalam ruang dapur belakang yang terhubung dengan sangkar merpati rahasia.

Burung merpati pos dengan bulu sayap hitam legam itu perlahan mengepakkan sayapnya, terbang tinggi menembus kabut fajar Trowulan yang mulai memudar, membawa sebuah laporan investigasi rahasia pertama yang kelak akan memicu pergerakan gelombang pembunuhan berdarah dan intrik politik tingkat tinggi langsung ke pusat lingkaran kekuasaan terdalam kerajaan Majapahit.

Mada yang saat itu sedang berjalan memasuki lapangan utama bersama kelompoknya, mendadak mendongakkan kepalanya sedikit menatap ke arah langit timur, melihat kepakan sayap burung merpati yang melintas jauh di atas menara pengawas. Sepasang mata sakralnya berkilat dingin di balik poni rambutnya yang berantakan, menyadari bahwa bidak pertama di papan catur takdirnya telah resmi bergerak maju melintasi garis perbatasan Hutan Tarik.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!