Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Badai Baru
Matahari pagi kembali terbit, menyiram kompleks Pesantren Al-Fatih dengan cahaya keemasan yang hangat. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dari para santri yang sedang menyetorkan hafalan terdengar bersahutan, menciptakan atmosfer yang begitu tenang dan damai. Namun, di dalam rumah utama, ketenangan itu terasa seperti sebuah lapisan tipis di atas permukaan air yang siap pecah kapan saja.
Lea terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar dibandingkan kemarin, meski rasa kaku di paha dan pinggangnya masih sedikit tersisa. Setelah melakukan mandi wajib dan shalat Subuh secara sembunyi-sembunyi di kamarnya, ia duduk di tepi ranjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Gamis longgar berwarna hijau pastel dan jilbab instan senada kini melekat di tubuhnya. Penampilan ini sangat kontras dengan dirinya yang dulu di London—gadis yang hanya tahu memakai pakaian mini dan menghabiskan malam di bawah lampu disko. Namun yang paling berubah bukan hanya pakaiannya, melainkan hatinya. Tatapan dingin Gus Malik yang semalam berubah menjadi kehangatan pelindung terus membayangi pikirannya.
"Gue... beneran udah jadi istri dia seutuhnya sekarang," gumam Lea pelan, menyentuh bibirnya yang terasa sedikit sensitif. Rasa bersalah pada Najwa masih ada, namun kini bercampur dengan rasa kepemilikan yang asing terhadap suaminya.
Ketika Lea turun ke ruang makan, suasana sudah mulai hidup. Arkan sedang disuapi oleh Mbak pengasuh sebelum berangkat sekolah, sementara Ibu mertua sedang menuangkan teh hangat untuk Najwa. Gus Malik sendiri duduk di kursi kepala meja, nampak gagah dengan baju koko putih bersih dan peci hitamnya.
Lea berjalan dengan sangat hati-hati, berusaha menjaga agar langkah kakinya terlihat senormal mungkin agar tidak memancing pertanyaan seperti semalam. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Najwa.
"Pagi, Kak. Pagi, Bu... Gus," sapa Lea kaku. Ia sengaja menghindari tatapan mata Malik.
"Pagi, Lea. Bagaimana kakimu? Sudah mendingan?" tanya Najwa dengan raut wajah penuh perhatian.
"Sudah, Kak. Udah dikasih minyak urut semalam sebelum tidur, jadi udah nggak sekaku kemarin," bohong Lea lagi. Ia melirik sekilas ke arah Malik, dan ia bisa melihat jakun pria itu naik-turun, menelan ludah dengan kaku mendengar kebohongannya.
Ibu mertua yang sedang mengunyah sepotong mendoan tiba-tiba angkat bicara. "Baguslah kalau begitu. Sebagai istri seorang pemuka agama, kamu harus kuat. Jangan ringkih. Oh ya, Malik... hari ini kamu ada jadwal mendampingi santri ke Jakarta Barat, kan?"
Malik mendongak, mengangguk hormat pada ibunya. "Benar, Bu. Ada peninjauan cabang yayasan baru di sana bersama beberapa pengurus. Mungkin saya akan berangkat agak siang."
Najwa tersenyum, lalu menoleh pada Lea. "Lea, hari ini kamu tidak ada jadwal kuliah, kan? Bagaimana kalau kamu ikut Mas Malik? Sekalian jalan-jalan keluar pesantren agar kamu tidak bosan."
*Uhuk!*
Bukan Malik yang tersedak kali ini, melainkan Lea yang hampir menyemburkan nasi goreng dari mulutnya. Ia segera meraih segelas air putih dan meminumnya dengan cepat.
"I-ikut Gus Malik, Kak? Tapi kan itu urusan yayasan, nanti Lea malah mengganggu," tolak Lea halus, melambaikan tangan. Membayangkan dirinya harus berduaan lagi di dalam mobil dengan Malik setelah kejadian kemarin membuat seluruh tubuhnya meremang.
"Tentu tidak mengganggu, Lea," sahut Najwa lembut, tangannya menggenggam jemari Lea. "Mas Malik pergi menggunakan mobil pribadi. Lagipula, kamu bisa menunggunya di kafe atau mal terdekat di area sana sementara dia rapat. Kakak hanya ingin kamu dan Mas Malik punya lebih banyak waktu bersama di luar rumah. Menjalin kedekatan."
Malik berdehem, mencoba mengendalikan situasi yang mulai membuatnya terpojok. "Jika Lea merasa keberatan, tidak perlu dipaksa, Najwa. Perjalanan ke sana juga cukup macet."
"Mas..." Najwa menatap Malik dengan tatapan memohon yang tidak bisa ditolak. "Temani Lea keluar hari ini. Tolong ya?"
Jika Najwa sudah mengeluarkan tatapan dan kata 'tolong' seperti itu, runturlah seluruh argumen Malik. Pria itu menghela napas pendek, lalu mengangguk patuh. "Baik, Humaira. Bersiaplah, Kalea. Kita berangkat jam sepuluh."
Tepat jam sepuluh siang, mobil putih milik Malik meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat sunyi, hanya ditemani oleh suara pelan dari lantunan murattal ayat suci yang diputar dari pemutar musik mobil.
Malik fokus menatap jalanan di depannya, kedua tangannya memegang kemudi dengan erat. Sementara Lea memilih melemparkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan gedung-gedung bertingkat yang menjulang. Kecanggungan di antara mereka begitu pekat hingga rasanya oksigen di dalam mobil itu menipis.
Setelah tiga puluh menit dalam keheningan, Malik akhirnya membuka suara. "Soal... kejadian semalam di dapur."
Lea tersentak, menoleh cepat ke arah suaminya. "Kenapa soal semalam?"
"Saya... saya minta maaf jika perkataan saya terkesan menuntut atau membuatmu merasa terbebani," ucap Malik dengan nada baritonnya yang tenang namun terdengar tulus. "Status kita memang sah, namun saya tahu cara kita bersatu... bukanlah cara yang kamu inginkan. Kamu berhak merasa marah."
Lea terdiam, matanya menatap jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. Keangkuhannya yang dulu meledak-ledak kini seolah menguap entah ke mana.
"Gue nggak marah, Gus," bisik Lea lirih. "Gue cuma... takut. Gue takut kalau suatu hari nanti Kak Najwa tahu semua ini. Dia terlalu baik buat dikhianati kayak begini, padahal dia sendiri yang minta kita nikah."
Malik melirik Lea sekilas melalui spion tengah, melihat raut kesedihan dan kerapuhan di wajah istri keduanya itu. "Najwa tidak akan tahu jika kita menjaga lisan dan sikap kita di depannya. Yang terjadi di antara kita adalah takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Fokuslah pada kuliahmu, dan biarkan saya yang memikirkan sisanya."
Mendengar kalimat itu, entah kenapa hati Lea merasa sedikit menghangat. Di balik sikap kaku dan dinginnya, Gus Malik adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Ia merasa aman berada di samping pria ini.
Sementara itu, di sebuah sudut kota Jakarta yang bising, tepatnya di sebuah ruangan apartemen yang berantakan, seorang pria sedang menatap layar laptopnya dengan pandangan penuh dendam. Pria itu adalah Tom.
Wajahnya nampak kusam, dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Di samping laptopnya, berserakan beberapa botol minuman keras yang sudah kosong. Di dalam kepalanya hanya ada satu nama: **Kalea**. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya ditolak mentah-mentah, dan yang paling membuatnya murka adalah fakta bahwa Lea kini telah dimiliki oleh seorang pria berpenampilan religius yang sangat ia benci.
"Lo pikir lo bisa lepas dari gue begitu aja, Lea? Setelah apa yang gue lakuin buat lo di London?" desis Tom dengan suara parau yang mengerikan.
Jarinya bergerak lincah di atas papan ketik. Di layar laptopnya, nampak beberapa foto yang sempat ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat berada di kafe kemarin. Foto saat Lea nampak sempoyongan dipapah olehnya, dan foto saat Lea masuk ke dalam mobil putih milik Gus Malik dengan pakaian yang acak-acakan.
Tom tersenyum licik, sebuah senyuman penuh muslihat yang menjijikkan. "Gus suci itu... mari kita lihat bagaimana reaksinya kalau foto-foto ini menyebar ke lingkungan pesantrennya yang sok suci itu. Kalau gue nggak bisa memiliki lo, maka nggak boleh ada satu orang pun yang bisa memiliki lo dengan tenang, Kalea."
Tom mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor, lalu mendekatkannya ke telinga.
"Halo? Temui gue di tempat biasa. Gue punya tugas buat lo. Kita bakal bikin sedikit pertunjukan untuk sebuah pesantren besar di Jakarta," ucap Tom dingin sebelum mematikan sambungan telepon.
Bahaya besar kini benar-benar sedang berjalan menuju gerbang Pesantren Al-Fatih. Tanpa disadari oleh Malik maupun Lea, kebahagiaan dan ketenangan yang baru saja mereka rintis di atas rasa bersalah, kini berada di ujung tanduk, siap dihantam oleh badai fitnah yang dirancang oleh masa lalu yang menolak untuk dilepaskan.