Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AYAH DAN ANAK
Fajar yang merayap naik di atas kawasan pergudangan tua itu sama sekali tidak membawa atmosfer segar layaknya pagi di dunia lama. Tidak ada kicau burung, tidak ada deru bising aktivitas komuter kota. Yang tersisa hanya embusan angin sedingin es, menyelinap bebas di antara celah-celah karat pagar besi dan deretan gedung pabrik tua yang berdiri angkuh, tampak menyerupai siluet tulang belulang raksasa dari peradaban yang sudah lama mati.
Damar duduk melungkur, menyandarkan punggung penatnya pada dinding beton bagian dalam gudang utama. Sepasang kelopak matanya tampak dihiasi urat-urat merah tipis akibat kurang tidur. Sisa waktu beberapa jam tadi malam tidak bisa disebut sebagai istirahat yang layak; tidurnya timbul tenggelam, digulung oleh rentetan visualisasi mimpi buruk yang berputar silih berganti di dalam kepalanya.
Di sekeliling aula gudang yang luas dan lembap, para penyintas dari kamp lama mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Pergerakan mereka lambat, layaknya sekumpulan jiwa yang kehilangan raga. Ada yang berjalan tertatih mencari sisa pasokan air bersih, ada yang sibuk membebat ulang luka robek dengan kain seadanya, dan sisanya hanya memilih duduk terpekur diam. Tatapan mata mereka kosong, seolah-olah otak mereka masih menolak takdir bahwa benteng pertahanan yang mereka agungkan kemarin kini telah rata dengan tanah, dan mereka dipaksa berpindah ke titik asing yang baru.
Sebuah tempat baru, tanpa jaminan keamanan, dan tanpa kepastian masa depan.
Damar mengembuskan napas panjang yang terasa berat, lalu melirik ke samping. Bilah linggis besi miliknya tergeletak statis di atas lantai semen. Entah mengapa, hanya dengan melihat benda tumpul berlumuran noda karat dan darah kering itu, Damar baru bisa merasakan secuil kewarasan dan rasa "utuh" di dalam dadanya.
"Abang..."
Sebuah vokal suara yang kecil, jernih, dan ritmis tiba-tiba memecah keheningan sunyi di sudut tersebut.
Damar refleks menolehkan kepalanya ke arah bawah. Seorang anak perempuan bertubuh mungil sudah berdiri tegap tak jauh dari posisinya duduk. Tubuh kecilnya seolah tenggelam di balik balutan jaket *hoodie* berwarna merah terang yang kebesaran. Rambutnya yang hitam tampak agak berantakan, membingkai sepasang bola mata besar yang masih memancarkan aura kepolosan—sebuah binar yang rasanya terlalu murni untuk tetap bertahan di dunia sekotor ini.
Damar sedikit mengangkat sebelah alisnya, mencoba mengingat-ingat konfrontasi singkat di halaman gudang tadi malam. "Eh... Rania, nya?"
Anak perempuan itu mengerutkan dahinya kecil, seolah bingung mengapa pria asing di depannya sempat ragu mengeja namanya. Namun sedetik kemudian, ia mengangguk pelan sembari melangkah mendekat. Tanpa ada guratan rasa takut atau canggung sama sekali, ia menjatuhkan diri untuk duduk di atas lantai semen tepat di sebelah Damar.
"Kata Ayah... kemarin Abang yang paling sibuk narik-narik orang biar bisa naik ke bak truk, ya?" tanya Rania, menopang dagunya dengan kedua tangan mungilnya.
Damar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mendadak merasa rikuh mendapat todongan pertanyaan seperti itu. "Ah... biasa aja itu mah. Kebetulan sayanya aja yang ada di barisan paling belakang."
"Bohong."
Damar langsung menghentikan gerakan tangannya, menatap anak kecil itu dengan dahi berkerut. "Loh, kok bisa tahu kalau abang lagi bohong?"
Rania mengarahkan jari telunjuknya yang mungil, menunjuk tepat ke arah dada Damar. "Kata Ayah, kalau orang dewasa lagi ngomong tapi dadanya deg-degan kencang sama suaranya agak sedikit berubah, itu tandanya mereka lagi nyembunyiin sesuatu. Berarti bohong."
Damar seketika terbungkam, mulutnya sedikit terbuka tanpa mampu membalas kalimat itu. Sementara itu, Alya yang sedari tadi duduk bersila beberapa meter di seberang mereka tampak ikut melirik. Sudut bibir gadis itu berkedut tipis, menahan kepuasan melihat Damar yang mati kutu diskakmat oleh seorang anak berusia delapan tahun.
"Anak ini... kayaknya terlalu jujur buat ukuran manusia zaman sekarang," gumam Alya lirih, suaranya nyaris tenggelam di balik bising aula.
Belum sempat Damar menetralisasi rasa canggungnya, derap langkah kaki yang berat dan tegas menggema dari arah pintu masuk utama gudang. Semua kepala di dalam ruangan otomatis menoleh secara sinkron.
Rangga melangkah masuk.
Sama seperti impresi pertama tadi malam, kehadiran pria bertubuh tegap itu seolah memiliki medan magnet tersendiri yang mampu mengubah atmosfer ruangan secara instan. Tidak ada kesan ramah, jauh dari kata hangat, namun pembawaannya yang dingin secara otomatis mengirimkan pesan bawah sadar kepada para pengungsi bahwa tempat ini dikelola oleh seseorang yang memiliki otoritas mutlak dan aturan main yang tegas.
Kedua belah tangannya membawa tumpukan beberapa kaleng makanan logistik dan beberapa botol air mineral berukuran besar. Tanpa sepatah kata pun, ia menjatuhkan barang-barang tersebut di atas meja kayu panjang di dekat kerumunan pengungsi kamp.
"Makan. Isi perut kalian dulu," ucap Rangga pendek. Intonasinya bariton, tegas, dan sama sekali tidak menerima obrolan basa-basi.
Mendengar instruksi tersebut, beberapa pengungsi yang sudah kelaparan langsung bergerak merapat, membagi jatah dengan tertib. Namun, perhatian Damar tidak tertuju pada makanan kaleng itu. Matanya tetap intens memperhatikan gerak-gerik Rangga.
Pria bertubuh kekar itu sama sekali tidak menyentuh bagian makanannya sendiri. Alih-alih mengurus urusan fisiknya, sepasang matanya yang tajam tampak bergerak dinamis menyisir sudut-sudut aula gudang, seolah-olah sedang mencari satu-satunya barang paling berharga yang ia miliki di dunia ini.
Dan begitu fokus pandangannya mendarat tepat pada sosok Rania yang sedang duduk di samping Damar, kekerasan yang terpahat di wajah Rangga seolah melunak dalam satu kedipan mata.
"Rania."
Mendengar suara bariton yang teramat akrab itu, si anak kecil langsung melompat berdiri dengan riang. "Papa!"
Ia berlari kecil menembus celah pengungsi, menghambur lurus ke dalam dekapan Rangga. Meskipun intensitas dekapannya tidak sefrustrasi tadi malam, anak itu tetap mengalungkan sepasang lengan mungilnya di leher sang ayah dengan erat. Rangga mengangkat tubuh Rania dengan satu tangan, menepuk-nepuk punggung anaknya pelan, seolah sedang mengonfirmasi secara fisik bahwa harta bendanya masih utuh tanpa lecet sedikit pun.
"Sudah sarapan?" tanya Rangga, menyugar rambut anaknya yang agak berantakan.
"Sudah, tadi dikasih biskuit sama Om tentara di depan."
"Minum airnya banyak?"
"Banyak, Pa."
Rangga mengangguk pelan, sebuah senyum tipis yang nyaris tak kentara muncul di sudut bibirnya sebelum akhirnya ia menurunkan Rania kembali ke lantai. Sebuah interaksi yang teramat sederhana, namun di mata Damar, fragmen singkat itu sarat akan makna yang mendalam.
Damar menyaksikan seluruh pemandangan itu dalam kesunyian. Ada sebuah sensasi asing yang mendadak merayap di dalam lubuk hatinya. Itu bukan rasa iri yang kekanak-kanakan, bukan pula sekadar rasa kagum yang dangkal. Melainkan sebuah pertanyaan eksistensial yang belum mampu ia formulasikan bentuknya dengan kata-kata.
"Kenapa lo? Selalu kayak gitu kalau lagi ngelihatin interaksi orang," suara ketus Alya tiba-tiba memecah lamunan Damar, gadis itu tahu-tahu sudah menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat.
Damar mendengus pelan, membuang muka ke arah langit-langit gudang. "Kayak gimana maksudnya? Jangan hobi menuduh lah, Al."
"Ya kayak gitu. Tatangan mata lo berubah kayak orang yang lagi mikirin beban konspirasi tingkat tinggi," sahut Alya sembari membersihkan sisa debu yang menempel di permukaan celana jinsnya. "Gue cuma penasaran aja, apa yang sebenarnya lagi muter di otak lo?"
Damar terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk gagang linggis secara ritmis. "Saya cuma lagi mikir... kenapa takdir dunia bisa seberengsek ini. Di saat semua orang udah berubah jadi monster kelaparan, masih ada aja sisa-sisa hal kayak begitu."
Alya mengangkat kedua bahunya dengan gestur tak acuh. "Mikirin hal kayak begitu nggak bakal bikin perut lo kenyang atau bikin zombi di luar sana mendadak insaf, Mar."
"Enya, tah eta masalahna." balas Damar dengan helaan napas gusar.
Mereka berdua kembali tenggelam dalam keheningan masing-masing. Di ujung aula yang agak terang, Rangga tampak sedang terlibat dalam pembicaraan serius dengan Kapten Rendra. Gestur tubuh keduanya tampak tegang. Meskipun jarak yang terlalu jauh membuat untaian kalimat mereka tidak terdengar jelas, Damar bisa melihat beberapa kali Kapten Rendra menganggukkan kepalanya dengan raut wajah berat—sebuah indikator kuat bahwa apa yang sedang mereka diskusikan bukanlah urusan logistik remeh-temeh.
Pandangan mata Alya kemudian bergeser, memperhatikan sosok Rania kecil yang kini tengah asyik duduk sendiri di atas tumpukan karung goni, bermain dengan seutas tali rafia bekas dengan riang.
"Anak itu... dia sama sekali nggak kelihatan takut, ya," komentar Alya dengan nada suara yang sedikit melunak.
Damar mengangguk setuju. "Kadang-kadang, kondisi mental anak kecil itu jauh lebih tangguh dan elastis dibanding kita-kita yang udah dewasa, Al."
Alya menolehkan kepalanya, menatap tajam ke arah samping wajah Damar. "Lo beneran percaya sama teori omong kosong kayak begitu?"
Damar mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang jauh menembus celah atap seng. "Saya lihat sendiri buktinya tadi malam pas kita dikejar anjing mutasi. Orang-orang gede yang badannya kekar pada jerit-jerit histeris kayak orang gila sampai bikin formasi pecah. Tapi anak itu? Pas bapaknya datang, dia cuma nanya hal-hal simpel yang biasa ditanyain anak rumahan. Mereka punya cara sendiri buat memproses trauma."
Alya terdiam membisu mendengarkan analogi tersebut. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, sebelum akhirnya berbisik dengan nada yang teramat lirih. "Kalau gue dipaksa ngadepin situasi jahanam kayak begini di umur delapan tahun... mungkin otak gue udah konslet dan gila sejak hari pertama, Mar."
Damar memilih untuk tidak memberikan respons verbal. Ia tahu, di balik dinding ketangguhan yang selalu dipamerkan Alya di jalanan, gadis itu menyimpan tumpukan luka masa lalu yang tidak ingin diganggu gugat oleh siapa pun.
Beberapa jam setelah matahari naik lurus di atas kepala, dinamika di dalam gudang logistik mulai bergeser ke arah yang lebih terorganisasi. Rangga berdiri tegak di tengah-tengah ruangan aula, mengumpulkan seluruh sisa pengungsi kamp dalam sebuah lingkaran besar.
Begitu pria itu berdehem kecil, seluruh volume suara obrolan di dalam gudang seketika lenyap tak berbekas. Semua pasang mata menatap lurus ke arahnya.
"Dengarkan baik-baik. Saya cuma mau menyampaikan ini sekali, jadi tolong pakai telinga kalian dengan benar," buka Rangga, suaranya yang berat menggema di sela-sela dinding beton. "Tempat pergudangan ini bukan pangkalan militer resmi, dan bukan rumah aman permanen yang bisa kalian huni sampai akhir hayat."
Kalimat pembuka itu langsung memicu riak kepanikan kecil di barisan belakang, namun Rangga mengabaikannya dan terus melanjutkan kalimatnya. "Ini cuma titik transit sementara. Tempat singgah biar kalian bisa meluruskan kaki dan mengisi perut, sampai kita semua bisa merumuskan rute baru untuk mencari lokasi koordinat yang jauh lebih aman di luar radius kota."
Mendengar penjelasan tersebut, salah seorang pengungsi pria paruh baya memberanikan diri mengangkat tangannya, suaranya terdengar agak menuntut. "Kalau memang di luar sana ada tempat yang jauh lebih aman, kenapa kita tidak langsung bergerak ke sana saja memakai truk Anda sekarang, Bung? Kenapa harus buang-buang waktu diam di gudang kosong ini?"
Rangga memutar posisi tubuhnya, menatap lurus ke arah pria paruh baya tersebut dengan pandangan mata yang sedingin es, membuat si penanya langsung menciut di tempat.
"Karena sampai detik ini, tidak ada satu pun manusia yang tahu di mana koordinat pasti dari tempat aman yang kamu maksud itu," jawab Rangga datar, tanpa emosi namun sarat akan penekanan.
Aula gudang itu seketika diselimuti oleh keheningan yang mencekat.
"Buka mata dan otak kalian lebar-lebar," lanjut Rangga lagi, melangkah perlahan mengitari barisan pengungsi. "Di luar sana, sisa-sisa peradaban pemerintahan sudah runtuh. Tidak ada lagi yang namanya zona aman resmi yang dijaga oleh barikade tentara lengkap dengan suplai helikopter logistik. Realitas dunia kita hari ini cuma menyisakan satu fakta: yang disebut tempat aman hanyalah sebuah lokasi acak yang kebetulan belum beruntung ketemu sama masalah. Begitu masalah itu datang, tempat itu akan berubah jadi kuburan. Sama persis kayak kamp lama kalian."
Untaian kalimat yang teramat jujur dan dingin itu telak menghantam mental para penyintas. Beberapa wanita tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam, terpaksa menelan mentah-mentah pil pahit realitas dunia baru yang tidak lagi menyisakan ruang bagi dongeng-dongeng harapan palsu.
Pasca-pertemuan yang menguras energi mental itu selesai dibubarkan, Damar memutuskan untuk melangkah keluar dari dalam aula gudang, berniat mencari pasokan udara segar guna mendinginkan isi kepalanya yang mulai berdenyut pening. Alya, entah karena bosan atau memilik motif yang sama, tampak berjalan mengekor di belakang langkah kakinya.
Mereka berdua berdiri bersandar di dekat struktur pagar besi pembatas luar gudang. Di seberang jalan, pemandangan yang tersaji hanyalah bentangan aspal yang retak-retak, jajaran mobil yang terbengkalai dengan pintu terbuka, dan barisan gedung tua yang sunyi senyap tanpa ada tanda-tanda pergerakan makhluk hidup.
"Jadi... pada akhirnya kita semua cuma lagi mengantre buat nunggu giliran mati pelan-pelan, Mar?" tanya Alya tiba-kira, matanya menatap lurus ke arah cakrawala kota yang kelabu.
Damar menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya bergerak membersihkan noda tanah yang menempel di ujung linggisnya. "Duka alah, Al. Saya juga nggak tahu."
"Jawaban paling jujur yang pernah gue denger dari mulut lo semenjak kita jalan bareng," cibir Alya dengan tawa hambar yang dipaksakan.
"Ya habisnya mau gimana lagi? Untuk saat ini, sayanya sendiri emang lagi nggak punya stok jawaban lain yang kelihatan keren," balas Damar sembari mengembuskan napas pendek.
Alya mencengkeram erat bilah tongkat aluminium kecil andalannya yang selalu terselip di pinggang jinsnya. "Gue bener-bener benci sama kondisi tak berdaya kayak begini, Mar. Rasanya kayak kita cuma jadi pion catur yang tinggal nunggu waktu buat disapu bersih dari papan."
Damar melirik profil samping wajah Alya. "Memangnya ada manusia normal di dunia ini yang suka sama kondisi kayak begini?"
Alya terdiam sebentar, matanya menyipit saat embusan angin malam mulai bergeser menusuk kulit. "Kalau emang dunia udah resmi sekorup dan sehancur ini... kenapa pria kayak si Om Rangga itu masih mau bersusah payah nyerahin sisa hidup dan energinya buat ngelindungin nyawa orang lain? Bukannya secara kalkulasi matematis, bergerak sendirian itu jauh lebih efisien buat bertahan hidup?"
Pertanyaan filosofis itu menggantung begitu saja di udara pagi yang dingin. Sebelum Damar sempat memutar otaknya untuk merangkai untaian kalimat balasan yang filosofis, sebuah suara langkah kaki kecil terdengar mendekat dari arah belakang tubuh mereka.
"Abang..."
Rania kecil sudah berdiri di ambang pintu masuk darurat gudang, kedua tangannya disembunyikan di dalam saku *hoodie* merahnya. "Kata Ayah... kalau kita masih dikasih kesempatan buat napas sama Tuhan, kaki kita nggak boleh berhenti melangkah jalan ke depan."
Damar memutar posisi tubuhnya setengah lingkaran, menatap anak kecil itu dengan dahi berkerut heran. "Papa kamu... beneran pernah ngomong begitu ke Rania?"
Anak perempuan itu mengangguk dengan tegas, sepasang bola mata besarnya menatap Damar tanpa ada keraguan. "Iya. Kata Ayah, kalau kita milih buat berhenti jalan gara-gara takut atau capek, itu tandanya jiwa kita sebenarnya udah beneran hilang dan mati dari dunia ini sebelum badannya membusuk."
Hening seketika merayap turun menyelimuti area perimeter pagar luar. Angin pagi berembus pelan, memainkan ujung rambut mereka. Dan untuk pertama kalinya semenjak seluruh tatanan peradaban manusia runtuh akibat wabah zombi, Damar merasakan bahwa rentetan kalimat yang keluar dari mulut seorang anak berusia delapan tahun itu bukanlah sekadar nasihat klise atau petuah motivasi murah penenang jiwa.
Melainkan sebuah hukum alam dan aturan main yang mutlak di dalam lembar dunia baru.
Malam harinya, dinamika di dalam area pergudangan logistik mulai berangsur sunyi dan tenang. Sebagian besar pengungsi yang kelelahan fisik dan mental sudah memilih untuk memejamkan mata di atas hamparan tikar seadanya, sementara beberapa tentara sisa pasukan Kapten Rendra tampak berjaga secara bergantian di beberapa titik perimeter luar pagar.
Damar memilih posisi duduk di dekat celah pintu gerbang besi utama gudang—sebuah posisi taktis yang sudah menjadi kebiasaan refleksnya sejak hari pertama pelarian guna mempermudah ruang gerak jika sewaktu-waktu terjadi serangan mendadak. Linggis besinya setia berdiri tegak di balik jangkauan tangan kanannya.
Di sudut ruangan yang agak gelap, Alya tampak sudah tertidur lelap dengan posisi meringkuk di atas tumpukan karung logistik kosong, menjadikan tas punggungnya sebagai bantalan darurat. Sementara itu, di ujung koridor luar, sosok Rangga tampak berdiri kokoh layaknya patung penjaga, sepasang matanya fokus mengawasi pergerakan malam di balik jeruji pagar besi. Rania kecil tampak tertidur pulas di area dalam bilik kemudi truk fuso, tubuh mungilnya dibalut oleh jaket kulit tebal milik ayahnya.
Semua tampak berjalan dengan begitu tenang dan damai. Untuk sementara waktu.
Namun, intuisi taktis di dalam benak Damar lagi-lagi tidak bisa mengabaikan denyut rasa tidak nyaman yang terus bergejolak di dalam dadanya. Sebuah perasaan yang teramat familier; bahwa ketenangan yang mutlak seperti ini, biasanya tidak akan pernah diizinkan bertahan lama di dalam dunia mereka yang sekarang.
"Kamu... namanya Damar, kan?"
Suara bariton Rangga tiba-tiba memecah kesunyian malam tanpa ada riak peringatan sebelumnya. Pria itu berbicara dengan posisi tubuh yang tetap memunggungi Damar, pandangan matanya sama sekali tidak bergeser dari area luar pagar besi pergudangan.
Damar agak tersentak kecil, namun ia buru-buru menetralkan suaranya. "Iya, Om. Nama saya Damar."
Rangga mengembuskan napas pendek, menciptakan kepulan uap putih tipis di udara malam yang dingin. "Kalau besok atau lusa... terjadi sesuatu yang buruk di tempat ini... saya minta kamu jangan pernah memelihara rasa ragu di dalam kepala kamu."
Damar mengernyitkan dahinya dalam-dalam, merasa bingung dengan arah pembicaraan yang mendadak bergeser ke ranah yang kelam. "Ragu? Maksudnya ragu dalam urusan apa ya, Om?"
Rangga perlahan memutar posisi tubuhnya. Di bawah bias minimnya cahaya rembulan malam, sepasang mata pria itu tampak memancarkan aura dingin yang teramat pekat sekaligus menakutkan.
"Ragu dalam memilih dan menentukan... siapa nyawa yang harus kamu prioritaskan buat selamat, dan siapa nyawa yang terpaksa harus kamu lepas buat ditinggal mati di belakang," ucap Rangga dengan nada suara yang teramat datar, seolah sedang membicarakan urusan kalkulasi bisnis remeh.
Kalimat itu terdengar begitu dingin, kejam, namun di saat yang sama... memancarkan sebuah kejujuran realitas yang teramat mutlak.
Damar terbungkam seribu bahasa, lidahnya mendadak terasa kelu untuk sekadar merangkai kalimat sanggahan moralitas dunia lama. Karena untuk pertama kalinya semenjak ia melangkah keluar dari rumahnya pasca-wabah pecah, Damar akhirnya benar-benar menyadari satu hal yang fundamental; bahwa tantangan terbesar manusia di fase dunia baru ini bukanlah lagi sekadar urusan bagaimana cara menembak kepala zombi atau berlari menghindari monster mutasi.
Melainkan tentang bagaimana cara menghadapi hati nurani sendiri, saat dipaksa memilih siapa yang berhak untuk tetap bernapas melihat matahari besok, dan siapa yang harus rela dikorbankan menjadi tumbal jalanan.