Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anin Membawa Bukti 2
Tangan Anin bergerak cepat. Di tangannya masih tersisa beberapa lembar foto bukti yang sangat kuat.
WUSSS!!!
Dengan satu gerakan tangan yang anggun namun penuh kekuatan, Anin menghamburkan foto-foto itu ke udara.
BYURR!!
Ratusan lembar foto berhamburan jatuh perlahan ke seluruh lantai ruangan itu, bagaikan salju yang mematikan.
Seketika seluruh ruangan hening total. Semua orang tercengang, mata mereka membelalak lebar melihat apa yang baru saja jatuh di hadapan mereka.
Bahkan Kakek Mahesa yang tadi begitu garang, kini terpaku diam. Wajahnya berubah pucat melihat bukti nyata di depannya.
Di foto-foto itu terlihat jelas...
Bella sedang bermesraan dan bercumbu mesra dengan Jerry di berbagai tempat. Bukti perselingkuhan yang nyata dan tak terbantahkan.
Namun yang lebih mengejutkan, ada juga foto-foto yang memperlihatkan Bella sedang duduk bernegosiasi, menyerahkan amplop tebal berisi uang, dan berbicara serius dengan beberapa orang yang diduga kuat adalah para penculik dan dalang di balik kecelakaan serta peristiwa yang menimpa Gadis di hutan!
"Jadi... siapa yang sebenarnya selingkuh? Dan siapa yang sebenarnya berniat membunuh?" ucap Anin dingin, menatap tajam ke arah Bella yang kini wajahnya sudah pucat pasi dan gemetar ketakutan.
"Kakek tua... kau salah menghukum orang. Yang harusnya kau cambuk sampai mati itu ada di sana, berdiri manis sambil menikmati penderitaan orang lain!" tunjuk Anin tepat ke wajah Bella.
Melihat bukti yang begitu nyata dan jelas, emosi Silvia yang sedari tadi tertahan akhirnya meledak sempurna.
Rasa marah, kecewa, dan sakit hati melihat anaknya disiksa karena fitnah wanita jahat ini membuatnya tidak bisa diam lagi.
Dengan langkah cepat dan penuh amarah, Silvia berlari mendekati Bella yang masih berdiri terpaku.
Tanpa basa-basi, kedua tangan wanita itu langsung mencengkeram dan menjambak rambut indah Bella dengan sangat kuat.
"AAKK!! SAKIT!!" jerit Bella kaget dan kesakitan.
"INI KARENA KAMU! KARENA ULAR BERBISA SEPERTIMU!" teriak Silvia histeris. Ia menyeret paksa wanita itu, membawanya jatuh berlutut tepat di hadapan Kakek Mahesa.
Dengan kasar dan penuh kekesalan, Silvia mendorong keras bahu Bella hingga wanita itu terjungkal di lantai dingin, wajahnya mencium lantai marmer.
Di sisi lain, kedua pengawal yang dibawa oleh Anin segera bertindak sigap. Mereka berjalan cepat menolong Langit dan Gadis yang masih saling berpelukan di lantai.
"Tuan, mari kami bantu berdiri," ucap mereka lembut.
Mereka membantu menopang tubuh kedua orang itu agar bisa berdiri tegak kembali.
Namun meski sudah bisa berdiri, Langit sama sekali tidak peduli dengan rasa perih dan panas yang menjalar di sekujur punggungnya. Ia bahkan tidak merapikan bajunya yang sobek dan berdarah.
Satu-satunya hal yang ia pedulikan hanyalah Gadis.
Pria itu memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajah cantik itu di balik dadanya, dan berdiri tepat di belakang punggung Anin seolah mereka adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, terlindungi sepenuhnya oleh keberanian wanita tangguh itu.
Kini giliran Bella yang gemetar ketakutan, bukan karena cambuk, tapi karena kenyataan bahwa topengnya sudah terbuka lebar di depan semua orang!
"AKU MEMANG SUDAH PUNYA FIRASAT!" teriak Silvia dengan suara pecah, matanya memancarkan api kemarahan yang tak terbendung.
Ia menunjuk tepat ke wajah Adam, sang suami, yang kini tertunduk diam mematung.
"TAPI KAMU, ADAM! AYAH KAMU YANG NEKAT! DAN KAMU JUGA YANG MEMAKSANYA!" bentak Silvia tak terima. "Kamu yang mau menjodohkan anakku sendiri dengan wanita berbisa, ular kepala dua seperti dia!"
Tunjukannya beralih kasar ke arah Bella yang masih tergeletak di lantai dengan wajah panik dan menangis.
"Lihatlah sekarang! Benarkan dugaanku? Ular memang tetap ular! Kepanasan dia berubah jadi apa saja demi menutupi aibnya sendiri!"
Silvia menangis marah, dadanya naik turun hebat. Ia merasa sangat lega karena kebenaran akhirnya terbongkar, tapi ia juga sangat marah karena suaminya lah yang hampir menghancurkan masa depan anaknya sendiri karena terlalu percaya pada keluarga dan orang yang salah.
Kini giliran Adam dan Kakek Mahesa yang terdiam kaku, merasa malu dan salah besar karena telah salah menilai dan hampir menyiksa orang yang tidak bersalah.
Anin melirik sekilas dari ekor matanya ke arah belakang.
Ia melihat sepasang kekasih yang masih saling berpelukan erat, saling menjaga seolah dunia boleh hancur asal mereka tetap bersama. Pemandangan itu membuat hati wanita tangguh itu terharu, senyum tipis terukir di wajahnya melihat betapa tulusnya cinta mereka.
Namun tak lama, tatapannya kembali dingin dan ia berbalik menghadap keluarga yang kacau itu.
"Aku pulang," ucap Anin datar. "Uruslah urusan keluarga kalian sendiri. Tapi ingat baik-baik..."
Ia menunjuk ke arah Langit dan Gadis dengan dagunya.
"...kedua orang di belakangku ini, aku bawa."
Mendengar itu, Kakek Mahesa langsung berseru panik,
"HEI! Mau kamu bawa ke mana?! Menantu dan cucuku, Anin!"
Anin yang tadinya sudah berbalik badan, kini memutar tubuhnya kembali dengan cepat. Wajahnya menampilkan senyum miring yang penuh ejekan dan ancaman.
"Oh... jadi baru sekarang kau mengakui mereka sebagai cucu dan cucu menantumu?" tanya Anin sinis, suaranya meninggi.
"Kenapa baru sekarang bilang begitu? Kenapa tadi tidak kau pikirkan itu sebelum kau tega mencambuk mereka sampai berdarah-darah? Hah?!"
Anin melangkah selangkah mendekat, menatap mata tua itu tajam.
"Pak tua... jangan main-main denganku. Apakah perlu aku kirimkan peti mati yang paling mewah untukmu sekarang juga supaya kau tenang di dalamnya?!" gertaknya galak.
"JANGAN LANCANG KAU!" bentak Kakek Mahesa geram. "Kamu ini wanita tua tidak tahu apa-apa! Kamu tidak paham seluk beluk dan aturan keluarga Mahesa!"
"HAHAHAHA!"
Anin justru tertawa keras mengejek, tawanya terdengar menakutkan dan meremehkan.
"Apa yang tidak aku tahu, hah Kakek tua?!" hardiknya memotong. "Kau pikir keluarga kalian sehebat apa? Seluruh rahasia kotor dan busuk keluarga ini ada di tanganku! Jangan sok tahu padaku kalau nyawamu masih ingin utuh!"
Tanpa mempedulikan teriakan atau kemarahan siapa pun lagi, Anin membalikkan tubuhnya. Ia berjalan keluar dengan langkah tegap meninggalkan rumah utama itu.
Di belakangnya, dua orang pengawal pribadinya ikut berjalan setia, sambil terus memapah dan menopang tubuh Langit dan Gadis yang masih lemah dan penuh luka. Charlie pun segera menyusul di barisan paling belakang, memastikan keselamatan tuannya.
Sesampainya di area parkir yang luas dan terbuka, suasana menjadi sedikit lebih tenang namun tetap dingin.
Langit yang sejak tadi hanya diam menahan rasa sakit, kini mengumpulkan sisa tenaganya. Ia melepaskan sedikit pegangan dari pengawal, lalu tangan besarnya terulur memegang bahu wanita di depannya itu.
"Tunggu..."
Dengan tarikan pelan namun kuat, ia membuat Anin berhenti dan berbalik menghadapinya.
Wajah Langit terlihat pucat namun tatapan matanya tajam dan sulit diterka. Ia tahu, tidak ada orang yang mau menolong atau berani menantang Kakek Mahesa tanpa alasan yang jelas. Tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi bantuan sebesar ini dari wanita sekuat Anin Wiguna.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Langit langsung to the point, suaranya terdengar berat dan serak.
Pinjam dulu seratus wkkwkw....