NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Langkah Cerdas

Lingkaran itu semakin menyempit di antara pepohonan yang menjulang diam. Enam orang berdiri mengurung Alverion Dastan dengan jarak yang terjaga rapi, tidak terlalu dekat namun cukup untuk menutup setiap jalur keluar. Cara mereka bergerak dan menjaga posisi menunjukkan bahwa ini bukan sesuatu yang spontan, melainkan hasil dari kebiasaan dan latihan yang sudah terbentuk.

Ravian Kestrel berdiri di luar lingkaran dengan bahu bersandar pada batang pohon. Sikap santainya terlihat seperti dibuat dengan sengaja, seolah ia ingin menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat langsung. Namun dari tatapannya yang tidak pernah lepas, jelas bahwa ia mengamati setiap detail yang terjadi di dalam lingkaran itu.

“Jangan buat ini membosankan.”

Alverion tidak menjawab, tidak juga mengalihkan pandangan. Ia berdiri dengan posisi yang tidak terlalu mencolok, tetapi cukup stabil untuk merespons dari berbagai arah. Perhatiannya tidak tertuju pada satu orang saja, melainkan pada keseluruhan formasi yang mengurungnya.

Ia memperhatikan jarak antar mereka, bagaimana kaki mereka menapak tanah, serta arah bahu yang memberi petunjuk tentang serangan berikutnya. Ritme napas juga tidak luput dari perhatiannya, karena dari situlah ia bisa membaca siapa yang mulai kehilangan kontrol.

Mereka memang terlatih, tetapi bukan tanpa kekurangan. Koordinasi mereka cukup baik, namun belum mencapai tingkat yang benar-benar menyatu. Ada jeda kecil di antara pergerakan, dan itu cukup untuk dimanfaatkan jika waktunya tepat.

Serangan pertama datang dari sisi kanan dengan kecepatan yang tidak bisa dianggap remeh. Arah pukulannya jelas, langsung menuju bahu dengan tujuan membatasi pergerakan. Pada saat yang sama, dua orang lain bergerak dari depan dan kiri, mencoba menutup jalur menghindar dan memaksa Alverion tetap di tengah.

Koordinasi yang cukup baik untuk ukuran tim kecil.

Alverion tidak langsung melawan. Ia mundur setengah langkah dengan gerakan yang ringan, membiarkan serangan pertama melintas tipis di depan tubuhnya tanpa benar-benar menyentuh. Tangannya bergerak singkat, mendorong lengan penyerang itu sedikit keluar dari jalur semula.

Gerakan itu terlihat sederhana.

Namun cukup untuk mengganggu ritme yang sudah mereka bangun.

Serangan dari depan kehilangan sudut yang tepat karena posisi yang berubah, sementara serangan dari kiri datang terlalu cepat tanpa dukungan yang seharusnya. Dalam waktu singkat, sinkronisasi mereka terganggu.

Alverion memanfaatkan momen itu tanpa terburu-buru. Ia memutar tubuhnya dengan memanfaatkan momentum dari gerakan lawan, membuat dua penyerang hampir bertabrakan satu sama lain. Langkah mereka terhenti sejenak, cukup untuk menciptakan celah kecil.

Namun ia tidak mengejar.

Ia mundur lagi dengan langkah yang sama terukurnya. Ia masih menahan diri, masih bermain dalam batas yang ia tentukan sejak awal.

Salah satu dari mereka mengerutkan kening, jelas merasa ada yang tidak beres dengan alur pertarungan ini.

“Dia menghindar terus.”

“Paksa dia.”

Mereka kembali menyerang dengan intensitas yang lebih tinggi. Kali ini tidak ada jeda, setiap gerakan diikuti oleh yang lain dengan tujuan menekan tanpa memberi ruang.

Alverion menyesuaikan ritmenya. Ia bergerak lebih cepat, tetapi pola yang ia gunakan tidak berubah. Menghindar, menggeser, lalu membalas dengan sentuhan ringan yang tidak bertujuan menjatuhkan, melainkan mengganggu posisi dan keseimbangan.

Ia tidak mencoba mengalahkan mereka secara langsung.

Ia sedang membentuk alur.

Di luar lingkaran, Ravian mulai berdiri lebih tegak. Perhatiannya tidak lagi sekadar mengamati, tetapi mulai menganalisis.

Alverion tidak menunjukkan tanda panik. Gerakannya tetap tenang, seolah ia sudah memahami arah pertarungan ini sejak awal dimulai. Tidak ada keputusan yang terlihat terburu-buru, semua terasa seperti bagian dari rencana yang perlahan berjalan.

“Menarik,” gumam Ravian pelan.

Di dalam lingkaran, tekanan terus meningkat. Salah satu penyerang akhirnya berhasil mengenai lengan Alverion dengan benturan yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk memberi mereka dorongan kepercayaan diri.

“Dia mulai melambat,” kata seseorang.

Itu yang mereka lihat.

Namun bukan itu yang sebenarnya terjadi.

Alverion sengaja membiarkan beberapa serangan mendekat. Ia memberi mereka ilusi bahwa tekanan mereka mulai berhasil, bahwa ritme mereka mulai menguasai pertarungan. Padahal setiap langkah mundur yang ia ambil memiliki arah yang jelas.

Ia mengarahkan posisi mereka sedikit demi sedikit.

Tanpa mereka sadari.

Waktu berlalu dalam hitungan menit, dan pertarungan tetap berlangsung tanpa keputusan yang jelas. Namun perubahan mulai terasa bagi mereka yang cukup peka.

Para penyerang mulai bergerak lebih cepat dan lebih berani. Mereka merasa bahwa tekanan mereka membuahkan hasil, sehingga mulai mengurangi kehati-hatian yang sebelumnya mereka jaga.

Di situlah kesalahan mulai muncul.

Koordinasi yang awalnya rapi perlahan melemah. Jarak antar mereka tidak lagi konsisten, ada yang terlalu maju tanpa dukungan, sementara yang lain tertinggal karena ragu.

Alverion melihat semuanya dengan jelas. Setiap pergeseran kecil itu ia catat, setiap celah yang terbuka ia simpan sebagai kemungkinan.

Saatnya hampir tiba.

Salah satu penyerang melesat dari belakang dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Serangan itu ditujukan untuk mengejutkan, memanfaatkan momen ketika perhatian terpecah.

Alverion hanya menoleh sedikit, cukup untuk memastikan arah.

Kali ini ia tidak mundur.

Ia justru maju.

Langkahnya masuk ke dalam celah sempit di antara dua penyerang dengan timing yang tepat. Gerakan itu tidak mereka duga, karena selama ini ia selalu menghindar ke luar, bukan ke dalam.

Dalam sekejap, posisi berubah.

Mereka yang sebelumnya mengepung kini saling menghalangi satu sama lain.

“Jangan—”

Suara itu terputus sebelum selesai.

Terlambat.

Alverion memutar tubuhnya, menggunakan salah satu dari mereka sebagai penghalang. Serangan dari arah lain yang seharusnya mengenai dirinya justru menghantam rekan sendiri.

Kacau.

Lingkaran yang tadi solid mulai pecah.

Alverion tidak memberi mereka waktu untuk memperbaiki keadaan. Ia bergerak ke titik tengah yang sebelumnya tidak terjaga, lalu mulai mengontrol arah pergerakan mereka dengan langkah-langkah kecil.

Satu dorongan mengubah arah.

Satu tarikan mengganggu keseimbangan.

Satu langkah memaksa mereka berpindah ke posisi yang lebih buruk.

Pertarungan yang sebelumnya terlihat seperti pengepungan berubah menjadi kekacauan yang sulit dikendalikan.

Dan mereka baru menyadarinya.

“Apa yang dia lakukan?” salah satu dari mereka berbisik dengan nada tidak percaya.

Ravian kini berdiri tegak sepenuhnya. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius.

Alverion tidak menunjukkan kekuatan yang mencolok. Tidak ada ledakan energi yang terlihat, tidak ada teknik yang terlihat berlebihan. Namun setiap gerakan yang ia lakukan memiliki tujuan yang jelas.

Efisien.

Terarah.

Ia tidak melawan mereka secara langsung.

Ia membuat mereka saling melawan.

Serangan demi serangan mulai kehilangan arah. Koordinasi yang sebelumnya menjadi keunggulan kini berubah menjadi kelemahan. Mereka tidak lagi tahu harus mempercayai posisi sendiri atau memperhitungkan pergerakan rekan di sekitar.

Satu orang tersandung karena langkah yang salah.

Yang lain kehilangan keseimbangan saat mencoba menghindari tabrakan.

Dalam semua itu, Alverion tetap tenang di tengah pergerakan yang semakin kacau. Ia bergerak seperti pusat yang mengatur alur tanpa terlihat memaksa, menjaga jarak yang tepat sambil terus menggeser posisi lawan.

Akhirnya, satu momen muncul.

Kesalahan besar yang tidak bisa diperbaiki.

Dua penyerang berada di jalur yang sama, menyerang dari arah berlawanan tanpa menyadari posisi masing-masing. Jarak mereka terlalu dekat untuk dihentikan dalam waktu singkat.

Alverion hanya perlu satu langkah kecil.

Ia menyingkir dari jalur itu.

Benturan terjadi dengan keras, membuat keduanya jatuh bersamaan. Yang lain terkejut, dan jeda itu cukup untuk mengubah arah pertarungan sepenuhnya.

Alverion bergerak lebih cepat sekarang. Ia masih tidak menggunakan kekuatan penuh, tetapi tidak lagi sepenuhnya menahan diri seperti sebelumnya.

Satu serangan ke titik lemah.

Satu dorongan yang memaksa kehilangan keseimbangan.

Gerakan yang singkat namun cukup untuk membuat lawan tidak bisa melanjutkan serangan dengan efektif.

Dalam waktu yang tidak lama, jumlah mereka berkurang. Bukan karena mereka dikalahkan secara langsung, tetapi karena mereka tidak lagi mampu mempertahankan ritme pertarungan.

Ravian menatap dengan mata yang sedikit menyipit. Ia mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi sejak awal.

Ini bukan tentang kekuatan semata.

Ini tentang kendali.

Dan Alverion memilikinya.

Beberapa saat kemudian, yang tersisa hanya dua orang yang masih berdiri dengan cukup stabil. Namun posisi mereka sudah tidak menguntungkan, napas mereka tidak teratur, dan keyakinan mereka mulai goyah.

Alverion berdiri di depan mereka tanpa menunjukkan tanda kelelahan yang berarti. Sikapnya tetap sama seperti saat awal, tenang dan tidak terburu-buru.

“Cukup?”

Tidak ada jawaban langsung.

Namun mereka mengerti.

Ini sudah berakhir.

Salah satu dari mereka mundur lebih dulu dengan langkah yang ragu. Yang lain mengikuti tanpa mengatakan apa pun. Lingkaran yang tadi menutup kini benar-benar hilang, menyisakan ruang terbuka yang terasa berbeda.

Ravian berjalan mendekat dengan langkah pelan. Suara tepuk tangannya terdengar ringan, tetapi cukup jelas di tengah hutan yang kembali sunyi.

“Aku salah menilai.”

Alverion menatapnya tanpa ekspresi.

“Kamu bukan hanya menyembunyikan kekuatan,” lanjut Ravian.

Ia berhenti beberapa langkah di depan, menatap langsung tanpa menyembunyikan ketertarikannya.

“Kamu menyembunyikan cara berpikir.”

Alverion tidak memberikan respons. Ia tidak merasa perlu menjelaskan sesuatu yang memang tidak pernah ia tunjukkan secara terbuka.

Ravian tersenyum tipis, tetapi kali ini maknanya berbeda. Tidak ada lagi nada meremehkan, yang tersisa hanyalah kewaspadaan.

“Kita akan bertemu lagi.”

Ia berbalik tanpa menunggu jawaban, lalu berjalan menjauh diikuti oleh yang lain. Langkah mereka cepat, seolah tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu.

Hutan kembali sunyi.

Alverion menghela napas perlahan, merasakan ketegangan di tubuhnya mulai mereda sedikit demi sedikit. Ia tidak menggunakan kekuatan penuh, tidak membuka semua yang ia miliki, tetapi hasilnya tetap sesuai dengan yang ia rencanakan.

Jebakan itu gagal.

Dan yang lebih penting, mereka yang mencoba menjebaknya kini memahami satu hal yang sebelumnya mereka abaikan.

Alverion Dastan bukan hanya kuat.

Ia selalu berpikir beberapa langkah lebih jauh.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!