Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa Kayla
"Mas Dokter!" panggil Kayla renyah saat melihat Dimas sedang mengobrol dengan Arumi di ruang tunggu pasien yang kebetulan tengah sepi.
"Eh, ada Kayla. Abis main ya?" tanya Dimas pada Kayla yang baru saja keluar dari ruang psikiatri anak bersama Lia.
"Um! Seru! Mainannya banyak banget kek di taman bermain," kata Kayla semangat. Dimas tersenyum.
"Mama sakit apa, Mas?" tanya Kayla dengan nada khawatir. Dimas tersenyum, lalu berjongkok di depan Kayla.
"Mama nggak sakit," kata Dimas sambil menatap kedua mata Kayla.
"Cuma sedikit sedih," lanjut Dimas. Kayla menatap Dimas.
"Sedih? Apa karena papa?" tanya Kayla pada Dimas. Dimas tersenyum. Arumi hanya terdiam. Dia ingat sesi konsultasinya bersama Dimas tentang perasaan Kayla.
"Mengapa Kayla berpikir mama sedih karena papa?" tanya Dimas lembut.
Kayla menatap mamanya, seolah bertanya bolehkan dia menjawab pertanyaan Dimas. Arumi hanya tersenyum melihat Kayla menatapnya. Kayla tahu, senyuman Arumi saat itu adalah senyuman 'Mama baik-baik saja' yang selalu ditampilkan Arumi.
"Karena... papa nggak pernah sayang mama lagi..." jawab Kayla sambil menatap Dimas.
Senyum Dimas seketika menghilang. Entah mengapa, Dimas merasakan sakit di dalam hatinya saat Kayla mengucapkan kalimat itu. Dimas memeluk Kayla.
Arumi bergeming. Dia tidak menyangka puterinya benar-benar tahu apa yang dia rasakan. Arumi menatap Kayla dalam pelukan Dimas. Arumi mencoba mengingat kapan terakhir kali Ardi memeluk Kayla seperti Dimas saat ini.
Tak terasa airmata Arumi mengalir. Kayla menatap mamanya yang menangis.
"Mama jangan sedih. Kayla janji, Kayla akan jadi anak yang baik," kata Kayla masih dalam pelukan Dimas. Dimas melepaskan pelukan Kayla lalu menoleh ke arah Arumi. Arumi tersenyum dalam tangisnya.
"Maafkan mama, Kay," kata Arumi lirih.
Lia, yang ternyata ikut menangis, menyodorkan kotak tisu pada Dimas untuk diberikan pada Arumi. Dimas berdiri lalu menghampiri Arumi yang sedang duduk di kursi tunggu pasien sambil menyodorkan tisu. Arumi tersenyum lalu mengambil beberapa lembar tisu dan mengucapkan terimakasih pada Dimas.
Kayla menatap Dimas dan Arumi bergantian. Kayla merasakan sesuatu di antara mamanya dan Mas Dokter. Sesuatu yang telah lama hilang dari mama dan papanya.
'Tuhan... boleh nggak Kayla ganti papa? Kayla mau Mas Dokter jadi papa Kayla,'
***
Dimas kembali masuk ke ruangannya. Jam istirahat kali ini dia habiskan dengan meminum susu cokelat hangat dan roti bakar di ruangannya yang dia pesan melalui pesan antar online.
Dimas kembali membuka rekam medis Arumi yang masih tergeletak begitu saja di meja. Kertas-kertas tipis berisi keluhan, catatan sesi dan pola emosi itu bukan lagi terlihat hanya sekedar rekam medis, melainkan sebuah coretan yang seolah mengguratkan kembali wajah Arumi disana.
Dimas membaca kalimat demi kalimat yang dia tuliskan disana. Matanya berhenti pada sebuah kalimat.
Pasien merasa lelah secara psikis, merasa kesepian secara batin meski tak sendiri secara raga.
"Kosong," gumam Dimas tanpa sadar.
Dimas kembali membaca catatan-catatan tangannya. Dalam catatan selanjutnya, Dimas menangkap sebuah kalimat yang entah mengapa membuat dadanya nyeri.
Puteri kecilnya tahu, tapi berusaha selalu ceria untuk memberi semangat pada pasien.
Dimas memejamkan matanya, menghela nafas panjang sambil bersandar pada sandaran kursinya. Dia ingat, bagaimana wajah polos Kayla yang mengatakan bahwa papanya tak lagi menyayangi mamanya. Dia ingat, bagaimana wajah Arumi saat mencoba tersenyum di balik airmatanya yang mengalir karena mendengarkan suara hati puteri kecilnya.
"Hampa," gumam Dimas dengan mata terpejam.
"Tok... Tok..." suara ketukan pintu menyadarkan Dimas.
"Masuk," kata Dimas sambil menutup rekam medis Arumi dan menumpuknya di atas rekam medis pasien lain di mejanya.
"Sepi?" tanya Arisa saat masuk ke ruangan Dimas.
"Baru aja Bu Arumi sama puterinya pulang," kata Dimas.
"Kayla kesini?" tanya Arisa.
"Mbak udah kenal Kayla?" tanya Dimas heran.
"Belum sih. Cuma Mbak Arumi pernah cerita soal Kayla," kata Arisa.
"Mbak Arumi?" tanya Dimas heran mendengar Arisa menyebut nama pasien secara langsung seperti sudah begitu akrab.
"Eh? Sorry. Abis dia itu jauh di bawah aku umurnya. Kek nggak pas aja kalo aku panggil 'Bu'," kata Arisa menjelaskan. Dimas mengerutkan dahi.
"Pas mulai pertemuan kedua, aku manggil dia 'Mbak', tapi ya tetep ijin dulu sebelumnya," kata Arisa. Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan sepupunya itu.
"Eh, dia itu seumuran kamu keknya. Tiga puluh dua kalo nggak salah," kata Arisa.
"Aku masih tiga puluh pas, Mbak," kata Dimas.
"Halah, cuma selisih dua taun kan ya seumuran. Kalo sama aku, itu kejauhan," kata Arisa. Dimas hanya tersenyum.
"Eh, tumben dia bawa Kayla. Kamu suruh?" tanya Arisa heran.
"Nggak. Jadwal dia itu harusnya masih lusa, tapi dia minta maju," kata Dimas. Arisa mengerutkan alisnya.
"Dia ngefans sama kamu?" tanya Arisa denga tatapan penuh selidik.
"Yaelaaah, Mbaaak... Harusnya Mbak tanya tentang perkembangan masalahnya dia, bukan malah kesitu," kata Dimas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Arisa tertawa.
"Sorry, sorry. Abis biasanya pasien kamu yang minta ganti jadwal itu rata-rata karena udah nggak sabar pengen ketemu kamu," kata Arisa sambil terkekeh.
"Tapi kan nggak semua,"
"Iya, sorry. Trus? Kenapa minta maju?" tanya Arisa kembali ke mode serius.
"Yah gitu. Katanya suaminya tambah dingin," kata Dimas.
"Malahan sekarang sering pulang larut. Pas Arumi coba nanya ke temen sekantornya, katanya suaminya pulang di jam pulang kerja seperti biasa, nggak ada lembur," lanjut Dimas. Dokter Arisa manggut-manggut dengan tatapan serius.
"Aku curiga," kata Arisa sambil menatap Dimas. Dimas mengangguk.
"Selingkuh," kata Dimas dan Arisa bersamaan.
"Trus? Mbak Arumi apa nggak curiga suaminya sampai kesitu?" tanya Arisa. Dimas mengangguk.
"Tapi, dia kemudian menyangkal sendiri pikirannya itu," kata Dimas.
"Kenapa?"
"Karena di baju kantornya tak tercium bau parfum orang lain," kata Dimas. Arisa kembali manggut-manggut serius.
"Iya juga sih. Kalo dia ke tempat seperti karaoke atau memang punya selingkuhan, paling tidak ada bau lain yang menempel di bajunya," kata Arisa.
Hening.
Arisa menghela nafas panjang lalu menoleh ke arah Dimas.
"Oke. Aku serahin dia sama kamu ya," kata Arisa sambil berlalu menuju pintu.
"Eh? Bukannya akan lebih leluasa kalo tetep sama Mbak?" tanya Dimas.
"Ditambah lagi, Mbak kan juga udah nikah," lanjut Dimas saat Arisa memegang gagang pintu. Arisa menoleh lalu tersenyum.
"Karena menurut ku, masalahnya akan segera selesai kalo kamu konsultannya," kata Arisa lalu tenggelam ditelan pintu masuk ruang konsultasi.
Dimas tertegun mendengar kata-kata Arisa. Dia masih tidak mengerti maksud kalimat sepupunya itu. Dimas kembali melirik catatan rekam medis Arumi.
'Bagaimana wanita serapuh itu bisa bertahan selama ini?'
***