NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Sang malam sudah berlalu, menyongsong langit terang di siang itu, sahutan sahutan para binatang di pagi itu untuk memberitahukan pada makhluk lainnya bahwa waktu subuh akan segera tiba.

Suara suara langkah kaki saling bersahutan satu sama lain, membuyarkan mimpi indah bagi Prediansyah yang bisa di tela,ah, biasanya waktu di saat itu dia masih nyenyak nyenyak nya tidur, namun tidak bagi dirinya saat ini.

Prediansyah bangun dari tidurnya meregangkan otot ototku kaku akibat tidur yang hanya beberapa jam saja, menggeliat geliat seraya mengucek matanya seraya menunggu kesadaran nyawanya untuk berkumpul lagi dalam raganya.

Setelah mengibaskan gorden penutup kamarnya, tampak Prediansyah tersenyum penuh arti pada mereka yang sedang berduduk sejajar menunggu waktu adzan subuh berkumandang.

" Kak Predi...............!

Sapa mereka serempak, yaitu si kembar dan dua bocah berusia delapan tahun dan sepuluh tahun, sementara perawan berusia 20 tahun hanya tersenyum menunduk ada rasa tenang sejuk dan damai bila memandang pemuda yang baru beberapa jam saja tinggal di rumahnya.

" Aden Predi.!

Dari ujung dapur seorang wanita menegurnya, Prediansyah pun menoleh tersenyum manis ke arah teguran itu.!

" Ehk Bu. Ini mereka sudah bangun.?" Sekilas ucapan itu keluar dari mulut Prediansyah.

" Hehehehe...... Udah kebiasaan Aden di keluarga kami, bangun lebih pagi berjamaah di waktu subuh." Terang nya Iroh.

" Ohk begitu ya Bu, kalau begitu aku ikut berjamaah ya Bu.!

" Silahkan Aden, udah Ibu siapkan airnya, untuk Aden berwudhu."

Ini keluarga sungguh membuat diriku bangga, memperhatikan dan menyiapkan kebutuhan sang tamu agar tidak susah untuk menjalankan segala aktivitas nya. Predi tau untuk mengambil air saja, keluarga ini hanya mengandalkan alat sederhana saja, dengan menimba air dari sumur, berbeda dengan kehidupan ku yang ada di kota besar semuanya secara instan dan praktis.

" Terima kasih Bu. Kalau begitu saya akan berwudhu dulu." Predi melangkah ke arah dapur, adzan subuh berkumandang pelan di telinga mereka karna suara toa yang cukup jauh dari warga sekitar.

Aktivitas di kamar mandi tak cukup lama hanya sepuluh menit Prediansyah sudah kembali, semuanya menoleh dengan senyuman senyuman manis ke arahnya, sang istri dari Kodir berkata." Aden sudah wudhu nya.?"

" Sudah Bu, airnya dingin hehehe." Langkah seraya menggigil kedinginan membuat mereka tertawa kecil.

" Air dari sini memang dingin kak, soalnya dari gunung." Didin memberikan jawabannya dari ucapan Prediansyah.

" Aden jadi imam ya, pimpin Solah subuh ini." Pinta Iroh yang kemungkinan terbesar pemuda di hadapannya akan bertanya tentang suaminya itu.

Prediansyah sudah menyadari dan arahnya akan kesitu, jika aku mengajukan pertanyaan kemana suaminya, entah apa yang akan di jawab oleh Bu Iroh ini. Namun apa salahnya aku bertanya dan apakah Bu Iroh ini tipikal orang yang berkata jujur atau kah masih dengan keras menyembunyikan rahasia nya.

" Kok, saya Bu jadi imam. Kan ada Mang Kodir suami Ibu.?"

Tanpa berpikir panjang Bu Iroh pun berkata membuat Prediansyah mengacungkan jempolnya dalam hatinya.!

" Suami ibu malam langsung berangkat ke dalam hutan, mencari sesuatu untuk kesembuhan pemuda yang malam di temukan oleh bapak dan Aden, kemungkinan terbesar tiga hari atau seminggu baru kesini lagi, karna ada obat yang susah untuk di cari dalam batas waktu singkat."

" Sebaiknya Aden pimpin sholat subuh dulu, nanti obrolan panjang akan ibu obrolkan karena waktu subuh sangat mepet." Lanjut istri Mang Kodir kemudian.

Prediansyah garuk garuk kepalanya, ada rasa enggan menolaknya untuk menjadi imam karna dirinya tidak lancar dalam bacaannya.!

" Kak ayo pimpin." Desak Didin yang sudah siap untuk mengumandangkan Iqomah.

Prediansyah dengan terpaksa melangkah ke arah sajadah, namun langkah kakinya berhenti membisikkan sesuatu pada pemuda yang barusan mendesak nya itu.

Bu Iroh terkekeh di hatinya pemuda di hadapannya malu untuk mengungkapkan ketidabisaan nya hingga ia membisikkan pada salah satu anak kembarnya itu, yang tampak terlihat sang anak berkerut keningnya lalu mengangguk.

" Baiklah Kak. Biar aku aja yang jadi imam, kakak jadi ma,mum berdiri di belakang ku." Didin melangkah ke depan, menoleh ke arah adiknya untuk iqomat.

Setelah iqomat berkumandang mereka pun shalat berjamaah dengan khusyuk nya, Prediansyah tampak merasakan rasa amat tenang setelah selesai berjamaah dengan anak anak dari pasangan suami istri Kodir dan Iroh itu menyalami tangannya satu persatu secara bergiliran, langit pun langsung cerah setelah beberapa menit kemudian selesai dari aktivitas di waktu subuh itu.

Si kembar dan kedua adiknya yaitu Raka dan Fadil mulai melakukan aktivitas nya memakai baju seragam sekolah untuk melakukan kewajiban sebagai anak, sementara Iroh bersama putri tetuanya di dapur bergelut menyiapkan sarapan pagi nya.

Singkat cerita setelah selesai dengan sarapan paginya, si kembar dan kedua adiknya pun sudah berangkat ke sekolah, Prediansyah melangkah menemui Bu Iroh yang sedang gegeroh ( Cuci Piring ) di dapur untuk meminta izin ke kota.

" Bu boleh meminta waktunya sebentar.?" Prediansyah berkata setelah sampai di dapur.

" Iya Aden ada apa." Iroh menghentikan aktivitas nya bangkit melangkah ke arah pemuda berkulit putih hidung mancung itu.

" Aku mau ke kota hari ini dan kemungkinan sore baru balik lagi, izin seandainya ibu mengijinkan untuk Santi menemaniku untuk menunjuk jalan arah ke kota.!

" Ohk gitu, ya sudah ibu izinkan, namun apakah Aden sudah bertanya pada putri ibu, apakah bersedia menemaninya.?"

" Belum Bu, aku meminta izin dulu pada ibu, dan meminta ibu untuk membicarakan pada Santi." Prediansyah berkata ragu ragu, Iroh mengerti dengan tingkah pemuda di hadapannya itu.

" Ya sudah kebetulan sekali tadinya esok ibu mau menyuruh Santi untuk pergi ke kota membeli obat obatan untuk kesembuhan pemuda yang masih koma sampai saat ini, sekaligus ingin membeli bumbu bumbu untuk membuat bubur, seandainya pemuda itu sadar dari koma nya, hal yang utama adalah memberikan asupan makanan yang lunak." Terang Iroh.

Hatimu sangat besar Bu, dia itu orang lain tapi kamu dan sekeluarga sungguh sangat peduli, satu dari ribuan orang akan melakukan ini terhadap orang lain, dan di sini di keluarga ini aku mendapatkan ketentraman yang tidak pernah aku dapatkan seumur hidupku.

" Aden bersiap siaplah dan pakai pakaian suami ibu, jangan lupa pake topi dan masker, sejatinya itu untuk kenyamanan Aden dalam perjalanan ke kota yang menempuh tiga jam bila naik ojeg dari kampung di ujung sana." Iroh berkata kembali, dan di angguki oleh Prediansyah seraya melangkah ke arah kamar tidur.

Setelah setengah jam berlalu, Prediansyah sudah siap, dan Santi pun dengan memakai pakaian layaknya orang kampung serta dengan kecantikan alami tanpa memakai skincare atau pun wedak, membuat jantung lelaki itu berdetak kencang tak beraturan.

" Sudah siap kak.?" Santi membuyarkan lamunan Prediansyah.!

" Ehk... Itu..... Iya siap." Prediansyah terbata bata menjawabnya, hingga itu membuat lucu bagi Iroh.

" San....... Ini obat yang harus di beli di apotek ya, mudah mudahan satu juta cukup ya, namun seandainya kurang, yang penting nya aja yang di beli." Pinta Iroh pada anaknya seraya memberikan selembar kertas, Santi mengangguk.

Mohon bantu ya kak, novel ecek ecek namun berjuang untuk menghibur para author.

Bersambung.

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!