NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.Permaisuri Diantara Manusia

Fajar menyingsing di Kota Kuoh dengan warna biru pucat yang dingin. Embun pagi masih menempel tebal di kaca jendela asrama Ren, menciptakan pola-pola air yang perlahan meluncur turun. Di dalam kamar yang masih remang-remang itu, Ren sudah berdiri di depan jendela. Ia tidak tidur dalam arti sebenarnya; bagi seorang praktisi tingkat tinggi, meditasi selama beberapa jam sudah cukup untuk menyegarkan seluru sel tubuhnya.

Pagi ini, ada sesuatu yang berbeda dalam aliran energinya. Di balik dadanya, ia bisa merasakan kehangatan yang berdenyut secara ritmis—sebuah tanda bahwa fragmen suci yang ia asimilasi semalam sedang bekerja keras menjahit kembali kesadaran Bibi Dong.

Ren mengenakan kemeja sekolahnya dengan perlahan, mengancingkannya satu per satu. Setiap gerakannya penuh perhitungan, seolah-olah ia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah upacara besar. Ia meraih kacamata hitamnya dari atas meja nakas, memakainya, dan seketika dunia yang tadinya tenang berubah menjadi aliran data energi yang kompleks.

"Mereka tidak membuang waktu," batin Ren saat Six Eyes mendeteksi dua tanda energi yang sudah menunggu di gerbang asrama.

[SISTEM: Deteksi keberadaan Tsubaki Shinra dan Akeno Himejima. Mereka telah menunggu selama 12 menit 45 detik.]

[SISTEM: Tingkat kewaspadaan area asrama meningkat. Faksi OSIS dan Klub Ilmu Gaib melakukan pengamanan bersama dalam radius 100 meter.]

[REN: Menarik. Dua ratu dari papan catur yang berbeda datang menjemputku secara bersamaan. Sepertinya kejadian semalam benar-benar merusak jam tidur mereka.]

Ren melangkah keluar kamar. Koridor asrama masih sepi, hanya ada aroma pembersih lantai dan udara pagi yang segar. Ia berjalan menuruni tangga dengan langkah yang santai, bahkan cenderung malas. Baginya, tidak ada alasan untuk terburu-buru menghadapi mereka.

Saat ia keluar dari pintu utama asrama, udara dingin pagi langsung menyambut kulitnya. Di sana, berdiri dua wanita yang menjadi pusat perhatian di Akademi Kuoh. Tsubaki dengan ekspresi datarnya yang kaku, dan Akeno yang berdiri dengan senyum manis namun mematikan, tangannya tertaut di depan tubuh dengan anggun.

"Selamat pagi, Saiba-kun. Kau tampak sangat segar untuk seseorang yang baru saja melakukan 'olahraga malam' yang cukup berat," sapa Akeno, suaranya lembut seperti sutra namun mengandung sindiran yang tajam.

Ren berhenti beberapa langkah di depan mereka. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, membiarkan angin pagi memainkan ujung rambut putihnya. "Udara pagi memang bagus untuk kesehatan, Himejima-san. Tapi aku tidak menyangka akan mendapatkan komite penyambutan yang begitu... formal."

Tsubaki memajukan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah Ren dari balik kacamatanya. "Jangan bermain-main, Saiba Ren. Ketua Sona dan Buchou Rias ingin menemuimu sekarang juga. Ini bukan permintaan, melainkan undangan resmi yang harus kau penuhi."

Ren terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar begitu tenang hingga membuat Tsubaki sedikit mengernyit. "Undangan resmi? Kedengarannya seperti aku akan diadili. Tapi baiklah, aku sedang dalam suasana hati yang baik pagi ini. Lagipula, sarapan sambil berdiskusi dengan dua wanita cantik bukanlah cara yang buruk untuk memulai hari."

Akeno sedikit memiringkan kepalanya, matanya menyipit saat ia mencoba membaca aura Ren. Namun, seperti yang dialami Rias semalam, ia hanya menemukan kekosongan yang tak berdasar. "Ara, ara... kau sangat percaya diri. Kuharap kepercayaan dirimu itu tetap bertahan saat kau berada di dalam ruang pertemuan nanti."

Ren mulai berjalan mendahului mereka, seolah-olah dialah yang memimpin perjalanan ini. "Jangan khawatir, Himejima-san. Aku adalah tipe orang yang sangat konsisten dengan kata-kataku."

Sepanjang perjalanan menuju gedung utama sekolah, suasana di antara mereka bertiga sangat sunyi. Tidak ada obrolan santai. Ren bisa merasakan tatapan kedua wanita itu terus tertuju pada punggungnya, menganalisis setiap gerakannya, setiap helai rambutnya, bahkan cara kakinya menginjak tanah.

Bagi Ren, ini adalah momen yang membosankan sekaligus menghibur. Ia tahu bahwa di dalam gedung OSIS, Sona dan Rias kemungkinan besar sudah duduk berdampingan—sesuatu yang jarang terjadi mengingat rivalitas sehat di antara mereka. Mereka bersatu hanya karena satu alasan: sebuah anomali bernama Saiba Ren.

[SISTEM: Deteksi penggunaan sihir komunikasi jarak jauh oleh Akeno Himejima. Ia melaporkan bahwa target sedang dalam pengawasan.]

[REN: Biarkan mereka merasa aman dengan laporan itu. Kejutan yang sebenarnya bahkan belum dimulai.]

Saat mereka melewati air mancur yang hancur semalam, Ren berhenti sejenak. Ia menatap bekas retakan di semen yang kini sudah ditutupi dengan garis pembatas kuning oleh pihak sekolah. Ia tersenyum tipis di balik kacamatanya, sebuah senyuman yang hanya ia tujukan untuk dirinya sendiri.

"Tempat ini membutuhkan perbaikan yang serius," gumam Ren pelan sebelum melanjutkan langkahnya.

Tsubaki dan Akeno saling melirik, namun mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka terus berjalan melewati koridor yang mulai dipenuhi oleh beberapa siswa yang datang lebih awal, menuju sebuah pintu ganda di lantai atas yang biasanya tertutup untuk umum.

Di depan pintu itu, Ren berhenti. Ia merapikan kerah bajunya sejenak, lalu menoleh ke arah Akeno dan Tsubaki. "Setelah ini, bisakah kalian menjamin bahwa aku tidak akan terlambat masuk kelas? Aku sangat benci harus menulis surat izin karena alasan yang tidak masuk akal."

Akeno hanya memberikan senyuman misteriusnya sebagai jawaban. Pintu itu terbuka, mengungkapkan sebuah ruangan besar yang biasanya digunakan untuk pertemuan antar organisasi. Di sana, duduk Sona Sitri dan Rias Gremory, menatap lurus ke arah pintu masuk.

Pertandingan catur yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!