NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA

KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.

Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.

Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.

Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Kecopetan

Di malam hari, Kara baru saja teleponan dengan Tama. Keduanya saling bertukar cerita tentang keseharian mereka.

Tama tentu dibuat makin bingung, karena Kara berpamitan dengan Pak Rudi jika dirinya ingin pergi mencari teman lama.

Dia sudah tinggal dengan Kara sejak kecil, dia sangat tau semua nama-nama orang yang berkenalan dengannya. Dan tidak ada yang bernama Salsa Bila.

Orang suruhannya juga berkata, jika Kara dan Caca terlihat berkenalan, yang menandakan jika keduanya belum pernah bertemu dan tidak saling kenal.

Tapi Tama tidak ingin bertanya, suatu hari nanti Kara pasti akan memberitahunya. Tama makin yakin, jika ada sesuatu yang Kara sembunyikan

Kara melihat tanggal di ponselnya. "Haaahh.." terdengar helaan nafas panjang.

Ulang tahunnya seminggu lagi, dan Tama saat itu mungkin masih di luar Negri. Dia sempat bertanya kepulangannya, tapi Tama juga belum bisa memastikan, karena ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh koleganya.

"Tunggu Tama pulang saja baru dirayain!" Kara ingin ulang tahunnya di kehidupan ini dirayakan bersama Tama dengan para sahabatnya.

Di masa lalu, Kara hanya merayakannya dengan Arka, Sarah dan antek-anteknya. Dia tak pernah mau jika Tama yang mengajaknya, bahkan kado dari Tama langsung dia buang tanpa melihat isinya.

"Ternyata aku sejahat itu. Dan sekarang aku yang sangat ingin merayakan bersama dengannya.!" gumam Kara sambil melihat foto Tama yang ada ponselnya.

...----------------...

Beberapa hari kemudian, karena tidak ada kerjaan Kara ingin pergi ke Panti Asuhan lagi, di sana banyak anak-anak yang bisa dia ajak untuk berbincang.

Tentu kali ini dia tidak ingin pergi dengan tangan kosong. Kara mampir di sebuah mini market yang tidak jauh dari Panti Asuhan.

Kara membeli banyak berbagai makanan dan minuman, setelah menutup bagasi mobilnya tiba-tiba tas yang ada tangannya ditarik oleh seseorang, karena tidak siap, tas itu lepas dari genggamannya..

"Copeeeett....!"

"TOLONG ADA COPET..!" kara berteriak minta tolong.

Beberapa orang sudah mengejar pencopetnya, dan Kara hanya bisa menyusul mereka dengan berlari pelan, karena jarak mereka sudah cukup jauh.

Yang dia khawatirkan adalah ponsel yang ada di tasnya, ada banyak data penting yang tersimpan dalam perangkat itu.

Kara sudah ngos-ngosan, dia memilih untuk berhenti, dia tidak sanggup lagi untuk berlari. "Sial.. Semoga mereka bisa menangkap pencopetnya.!"

Kara Duduk di bangku yang ada dipinggir jalan, setelah beberapa menit menunggu seorang pengendara motor berhenti di depannya dan orang yang dibelakang turun menyodorkan tasnya.

"Kalian berhasil menangkapnya?" tanya Kara dengan bahagia. Namun dia langsung tertegun saat melihat mata pria itu.

Tatapannya tidak asing, Kara merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Saat dia ingin bertanya orang itu sudah pergi.

Bersamaan dengan kembalinya orang-orang yang ikut mengejar pencopetnya. Ternyata pencet itu sudah dikirim ke kantor polisi..

Kara mengajak mereka ke mini market sebelumnya, dia ingin membeli minuman sebagai ucapan terima kasih, karena mereka menolak uang yang Kara sodorkan.

***

Kara lanjut berkendara menuju Panti Asuhan, dia masih berusaha mengingat pemilik tatapan itu, tapi dia tak kunjung mengingatnya.

Kara tidak lagi memarkir mobilnya di tengah jalan, karena di halaman panti cukup luas dan mobil bisa masuk ke halaman.

Melihat kedatangan Kara, anak-anak menyambutnya dengan bersorak riah. Baru bertemu sekali mereka langsung menyukainya. Karena Kara, mereka bisa makan tiga kali sehari.

Kara juga ikut bahagia melihatnya, dan kali ini dia bertemu dengan suami Ibu Jelita. Ternyata suami Ibu Jelita adalah orang yang membonceng pria itu.

"Nona kita bertemu lagi!" ucapnya.

"Ya. Tak disangka!" balas Kara dengan sedikit terkejut.

Kara dan suami Ibu Jelita yang bernama Pak Dalang hanya mengobrol sejenak, karena Pak Dalang harus pergi lanjut bekerja.

Ngomong-ngomong, Jelita adalah nama anak kedua pasutri itu. Tapi anaknya sudah meninggal karena sakit, dan Ibu Jelita tidak bisa hamil lagi karena rahimnya bermasalah.

Agar tidak kesepian, Mereka akhirnya menjadikan rumah mereka sebagai Panti Asuhan. Banyak yang menghina keduanya karena sok peduli, untuk makan saja mereka sudah sangat susah, dan sekarang malah menampung banyak anak.

Ibu Jelita dan suaminya sangat sakit hati mendengar omongan orang-orang di luar sana. Tapi keduanya tetap melanjutkan, sehingga panti Asuhan mereka dilirik oleh pemerintah dan beberapa Donatur.

Mungkin karena kondisi ekonomi yang makin sulit, satu persatu para Donatur berhenti membantu Panti mereka. Dan orang-orang itu makin mengejeknya.

Karena sudah terlanjur sayang dengan anak-anak, mereka tetap berusaha untuk merawat mereka semua.

Kara menanyakan keberadaan Caca, ternyata anak itu sedang berada di halaman belakang.

"Caca kamu ngapain?" tanya Kara sambil jalan mendekat.

Caca tersenyum melihat kedatangan Kara, dia juga ikut senang karena Kara datang tepat waktu hari itu, sehingga salah satu dari mereka yang sedang sakit bisa dibawa berobat.

"Aku sedang jahit sepatu!" balasnya sambil memperlihatkan beberapa sepatu yang robek atau sol nya yang sudah terlepas.

Kara duduk dan memperhatikan Caca yang begitu lihai dalam menjahit, seolah-olah bukan lagi hal yang sulit.

Tiba-tiba mata Kara terbelalak, akhirnya dia bisa mengingat pemilik tatapan mata itu. Ya. Orang itu ada diantara orang-orang yang datang bersama Caca saat dirinya hampir dilecehkan.

"Siapa orang itu?" gumam Kara dengan pelan.

"Siapa yang Kakak maksud?" tanya Caca yang mendengar ucapan Kara.

"Oh bukan siapa-siapa?" Kara tidak ingin membahasnya, karena itu urusan orang dewasa.

Caca tidak lagi bertanya dan melanjutkan pekerjaannya. Kara juga berpamitan untuk pulang, karena hari mulai gelap.

...----------------...

Seseorang terihat panik saat orang suruhannya berada di kantor polisi. Dia takut jika orang itu buka mulut dan menyebut namanya.

"Aku sudah memintamu untuk tidak melakukan sesuatu tanpa persetujuanku!" bentak Arka.

Ya. Copet itu suruhan Sarah, dia sudah kehabisan uang sekarang. Dan gajinya sebulan juga tidak seberapa.

"Ya maaf, soalnya aku butuh uang! Hampir dua bulan aku tidak ke salon.!" balasnya dengan wajah kesal.

"Apa yang kau harapkan jika orang itu berhasil?" tanya Arka dengan jengkel, karena Sarah sudah tidak lagi mau mendengar ucapannya.

Sarah terdiam, apalagi jika bukan uang. Di tas Kara itu tidak pernah kosong dengan uang cash. Jika Tidak ada uang, ponsel bisa dijual, tapi sebelum itu dia Manarik semua uangnya, karena dia mengetahui password ponsel Kara.

"Bagaimana jika tidak ada uang dan ponsel di tas itu?"

"Tas nya mahal, pasti lumayan kalau dijual!" kata Sarah dengan enteng.

"Tapi rencanamu gagal. Berdoalah agar orang itu tidak menyebut namamu! Jika kau terseret, maka kita tidak saling kenal!" ucap Arka dengan serius.

Tentu dia lebih memilih tidak mengenalnya, daripada harus ikut kasus yang bukan dia pelakunya, dia hanya mengenal orangnya.

Sarah menatap Arka dengan tatapan tak percaya, ternyata dia sudah tidak penting lagi baginya.

Braaakkk...

Sarah melempar botol minum ke dinding, dia beranjak dan meninggalkan Arka dengan wajah marah.

"Terlalu percaya diri. Emang kau punya apa?" ucapnya dengan nada mengejek.

.

.

.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Fii
Kalau ada typo langsung komen yaa 🙏🙏

Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
Sulati Cus
typo mulu😅
Fii: Hai kk. maksih sudah komen😍🙏
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
Fii
maksih kk sudah komen..
sering2 yaa kalau ada typo😍😍
neni onet
typo ini heii, Sisil lah, koq Sarah 🫣
Sribundanya Gifran
lanjut
neni onet
penasaran banget, seberapa jahat duo pasangan Sarah dimasa lalu sampai Kara begitu banyak melakukan kesalahan dimasa lalu 🫣
Sribundanya Gifran
lanjut
Mamta Okta Okta
lanjut thor
Fii
aahh typo.. makasih sudah komen😍🙏
neni onet
siapakah Aruna /Bye-Bye/
Fii: Aruna PU di novel LINTAS DIMENSI. jangan lupa mampir yaa🙏😍
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjit up lagi thor
Mamta Okta Okta
lanjut thor 💪💪🙏🙏
Mamta Okta Okta
lanjut thor crazy up semangat 💪💪💪🙏🙏
Mamta Okta Okta
lanjut thor crazy up semangat 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!