"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."
Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.
Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.
Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.
Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?
Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 ~ Kondisi Dhina
...🍁🍁🍁...
Perjalanan Pak Aidi, Bu Aini dan Ammar ke rumah sakit terhambat karena macet. Efek hari yang semakin siang membuat ruas jalan menjadi padat dengan kendaraan. Padahal jarak rumah sakit sudah tidak terlalu jauh.
Ammar sedang berusaha untuk mencari jalan keluar agar bebas dari kemacetan itu. Namun usahanya sia-sia. Tidak ada jalan keluar selain tetap menunggu.
Sementara Bu Aini sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putrinya yang saat ini sedang di rumah sakit. Ia masih gelisah sebelum melihat kondisi putrinya dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa tidak ada jalan lain Nak? Kita harus cepat sampai di rumah sakit." ujar Bu Aini yang sedang gelisah mengingat putrinya sedang di rumah sakit.
"Tidak ada jalan lain, Bu. Kita terpaksa harus menunggu dan mengikuti jalan ini. Ibu yang sabar ya. InsyaAllah Adek akan baik-baik saja." balas Ammar yang berusaha menenangkan Bu Aini.
"Ibu tenang dulu ya. Kita akan segera sampai di rumah sakit. Lagi pula Adek pasti sudah ditangani oleh dokter. Jadi Ibu jangan khawatir." timpal Pak Aidi seraya menenangkan istrinya itu.
Bu Aini hanya terdiam setelah mendengar perkataan Ammar dan Pak Aidi. Ia kini hanya bisa berdo'a agar kondisi putrinya baik-baik saja. Melihat sang ibu yang begitu khawatir membuat Ammar menghela nafas panjang. Ia melihat kekhawatiran di wajah Bu Aini sambil menangis.
Ammar tidak tega melihat ibunya menangis seperti itu tapi ia juga tidak ingin menyembunyikan penyakit Dhina lebih lama lagi. Akhirnya, Ammar pun kembali fokus untuk mengemudi agar bisa cepat sampai ke rumah sakit.
***
Di rumah sakit, Sadha dan Dhana masih menunggu di depan ruang UGD bersama Ibel. Lama mereka menunggu kabar dari Dokter Ronald yang belum keluar dari UGD.
Sadha yang sudah bosan menunggu pun berdiri dan hendak masuk ke UGD. Melihat sikap Sadha seperti itu membuat Dhana dan Ibel melihat ke arahnya. Lalu...
"Dokter Ronald kenapa lama sekali sih? Apa yang dia lakukan di dalam sana? Sadha tidak bisa diam saja seperti ini. Sadha harus masuk." ujar Sadha yang melihat ke arah Ibel dan Dhana secara bergantian.
"Kamu mau kemana Sadha? Kamu jangan seperti ini. Biarkan Dokter Ronald bekerja di dalam sana." seru Ibel yang meraih tangan Sadha.
"Lepaskan Sadha, Kak. Sadha tidak bisa menunggu lagi. Sadha ingin tau kondisi Adek seperti apa. Jangan menghalangi Sadha kak." ujar Sadha yang berusaha melepaskan pegangan Ibel.
"Sadha dengar Kakak! Kalau kamu masuk, itu akan mengganggu proses pemeriksaan dan itu juga akan membahayakan Dhina." jelas Ibel yang berusaha menenangkan Sadha.
"Tapi Kak..."
"Kamu mengerti tentang prosedur rumah sakit, bukan? Kalau kamu mengerti, Kakak minta kamu duduk dan tunggu saja sampai Dokter Ronald keluar!" tegas Ibel pada Sadha seraya menunjuk tempat duduk.
Sadha pun akhirnya terdiam dan kembali duduk setelah mendengar perkataan Ibel yang cukup tegas. Dhana cukup terkejut saat melihat ketegasan Ibel untuk yang pertama kalinya. Ketegasan Ibel membuat Sadha tertunduk dan tidak berani melawan. Dhana pun berdiri dan menghampiri Ibel.
"Terima kasih, Kak." ujar Dhana seraya meraih bahu Ibel yang sedang berdiri di depan UGD.
"Terima kasih untuk apa Dhana?" tanya Ibel yang heran dengan ucapan Dhana.
"Terima kasih karena membuat Mas Sadha seperti itu. Dhana tidak tau harus menghadapi sikap Mas Sadha yang seperti tadi kalau Kakak tidak ada di sini." ujar Dhana sambil menatap Ibel.
"Itu sudah tugas Kakak, kamu tidak perlu berterima kasih seperti ini." balas Ibel sambil meraih tangan Dhana.
Dhana pun tersenyum mendapat perhatian dan kasih sayang dari Ibel sebagai seorang kakak. Ia merasa lega karena Ibel berhasil membuat Sadha diam dan kembali duduk.
Saat Ibel dan Dhana sedang menguatkan satu sama lain, tiba-tiba pintu ruangan UGD terbuka dan Dokter Ronald pun keluar. Sadha yang tadinya tertunduk di kursi tunggu karena ucapan tegas Ibel, kini kembali berdiri dan menghampiri Dokter Ronald.
"Bagaimana keadaan adik kami, Dok?" tanya Sadha yang meraih tangan Dokter Ronald.
"Kondisi Dhina saat ini cukup lemah karena tadi pagi sepertinya dia lupa minum obat. Dia kelelahan dan juga tertekan, sepertinya Dhina sedang banyak pikiran. Itu sangat mempengaruhi penyakitnya." jelas Dokter Ronald setelah memeriksa keadaan Dhina.
Ini pasti karena Adek bertengkar dengan Mas Ammar tadi. Adek jadi emosi, kepikiran dan tertekan seperti ini. Gumam Sadha dalam hati.
"Apakah Adek sudah sadar Dok?" tanya Dhana yang mendekat ke arah Dokter Ronald.
"Untuk sekarang belum, Dhana. Saat ini saya sudah memberikan obat pada Dhina agar dia bisa istirahat dengan maksimal." ujar Dokter Ronald pada Dhana.
"Apakah ada hal yang cukup serius Dok?" tanya Ibel pada Dokter Ronald.
"Untuk saat ini tidak ada, Dokter Bella. Tapi saya sudah memberikan sampel darah Dhina pada suster untuk di cek lagi secara keseluruhan di laboratorium. Kalau begitu saya permisi dulu." jawab Dokter Ronald pada Ibel.
"Baik, Dok. Terima kasih. Tapi tunggu, Dok." ujar Sadha yang mencegah Dokter Ronald untuk pergi.
"Ada apa Sadha?" tanya Dokter Ronald yang heran dengan sikap Sadha.
"Apakah kami sudah boleh melihat Adek ke dalam?" tanya Sadha pada Dokter Ronald sebelum Dokter Ronald pergi.
"Boleh. Tapi jangan terlalu bersuara karena Dhina sedang istirahat." jawab Dokter Ronald sambil meraih bahu Sadha.
"Oke, Dok." ujar Sadha yang menatap Dokter Ronald.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi saya." seru Dokter Ronald pada Sadha yang hanya mengangguk.
Setelah mendapat izin dari Dokter Ronald, Sadha pun mengajak Ibel dan Dhana masuk ke ruangan UGD untuk melihat Dhina.
"Ayo Kak, Dhana. Kita masuk lihat kondisi Adek." ujar Sadha pada Ibel dan Dhana.
"Kak Ibel dan Mas Sadha saja yang masuk duluan, nanti Dhana menyusul. Dhana ingin menunggu Ayah, Ibu dan Mas Ammar dulu." ujar Dhana yang melihat sekitar untuk mencari keluarganya yang belum datang.
"Kakak masuk duluan ya." ucap Ibel pada Sadha dan Dhana yang masih di luar.
Setelah Ibel masuk, Sadha yang ragu meninggalkan Dhana di luar sendirian pun mendekatinya.
"Mas tidak yakin membiarkan kamu menemui Mas Ammar saat ini, Dhana. Apa kamu yakin?" tanya Sadha pada adik kembarnya itu.
"Bagaimana pun juga Dhana tetap salah, Mas. Pertengkaran itu tidak akan panas jika Dhana mendengarkan Mas Sadha untuk tidak ikut campur." jawab Dhana seraya meraih tangan mas tengahnya itu.
"Tapi Dhana, Mas tidak ingin kamu bertengkar lagi dengan Mas Ammar. Apalagi saat ini kita sedang di rumah sakit." seru Sadha yang khawatir pada Dhana.
"Dhana janji, Mas. Dhana tidak akan emosi lagi. Mas Sadha percaya sama Dhana. Sekarang Mas masuk dan lihat Adek, biarkan Dhana menunggu di sini." ujar Dhana seraya meraih bahu Sadha.
"Baiklah, Mas pegang kata-kata kamu." seru Sadha seraya menunjuk ke arah Dhana.
"Iya, Mas." balas Dhana yang mengangguk ke arah Sadha sebelum masuk ke ruang UGD.
***
Setelah melewati macet yang cukup panjang, akhirnya Pak Aidi, Bu Aini dan Ammar sampai di rumah sakit. Ammar langsung bergegas memarkir mobilnya. Setelah itu mereka langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
Ammar yang sudah mengetahui jalan masuk di rumah sakit, tanpa ragu ia langsung membawa ayah dan ibunya ke ruangan UGD. Saat mereka sampai di depan UGD, mereka melihat Dhana yang duduk di kursi tunggu sendirian, tanpa Sadha. Lalu...
"Dhana... adik kamu bagaimana Nak?" tanya Bu Aini yang sudah menangis pada Dhana.
"Ibu, Ayah, Mas Ammar... Adek ada di dalam. Mas Sadha juga sedang di dalam." jawab Dhana yang terkejut dengan kedatangan semuanya.
Ammar yang mendengar perkataan Dhana langsung masuk ke dalam UGD untuk melihat adik perempuannya itu. Sedangkan Pak Aidi dan Bu Aini masih meminta penjelasan pada putra kembarnya itu.
"Bagaimana keadaan adik kamu, Dhana?" tanya Pak Aidi yang duduk di sebelah Dhana.
"Kata dokter, Adek kelelahan, Ayah. Jadi sekarang Adek sedang istirahat karena masih terpengaruh dengan obat." jelas Dhana pada ayah dan ibunya.
"Lalu kamu sedang apa di sini sendirian?" tanya Pak Aidi lagi pada Dhana.
"Dhana menunggu Ayah, Ibu dan Mas Ammar di sini." jawab Dhana yang berusaha tenang di depan ayah dan ibunya.
"Kalau begitu Ibu ingin masuk. Ibu ingin melihat putri Ibu." ujar Bu Aini yang hendak masuk namun dicegah oleh Dhana.
"Ibu... di dalam sudah terlalu ramai. Kata dokter, jangan terlalu banyak yang masuk karena Adek sedang istirahat. Sebaiknya Ayah dan Ibu masuk setelah Mas Sadha dan Kak Ibel keluar." jelas Dhana seraya membawa ibunya kembali duduk.
Bu Aini pun mengikuti apa yang dikatakan Dhana. Mereka pun menunggu giliran untuk melihat Dhina di dalam.
***
Di dalam ruangan UGD, Sadha terduduk di sebelah Dhina yang saat ini sedang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Sedangkan Ibel memilih berdiri agar Sadha bisa lebih dekat dengan Dhina. Sadha tidak bisa menahan air matanya untuk keluar saat melihat kondisi adik perempuan satu-satunya itu. Sadha berusaha tenang dan kemudian meraih tangan Dhina.
"Adek... Adek tidurnya jangan lama-lama ya. Ayah sama Ibu sudah datang dan ingin menjemput kita pulang. Adek bangun ya." ujar Sadha yang menangis seraya menggenggam tangan Dhina.
"Adek pasti bangun, Sadha. Kamu harus tetap kuat ya, demi Adek." ucap Ibel yang menenangkan Sadha.
Saat Sadha sedang berusaha berbicara dengan Dhina, tiba-tiba Ammar datang. Melihat sang adik yang terbaring lemah karena ulahnya membuat Ammar tidak bisa berkata apa-apa. Selain hanya menatapi wajah sang adik yang sedang memakai selang oksigen di hidungnya dan air mata Ammar pun mengalir tanpa izin.
Sadha yang melihat itu, rasanya ingin marah pada Ammar. Akibat sikap Ammar yang tidak bisa mengontrol emosi, kondisi Dhina menjadi seperti ini. Tapi Sadha juga berpikir kalau saat ini, ia sedang berada di ruang UGD.
Untuk menghilangkan amarahnya, Sadha memilih keluar tanpa menyapa Ammar. Ibel merasa heran saat melihat ekspresi Sadha yang menahan marah sambil menatap ke arah Ammar.
Ada apa dengan Sadha? Kenapa dia keluar saat Mas Ammar masuk? Apa mereka bertengkar. Gumam Ibel dalam hati.
Sadha pun memilih keluar dari ruangan UGD dan melihat kedua orang tuanya sudah bersama dengan Dhana. Sadha berusaha menutupi rasa kesal terhadap Ammar di depan orang tuanya. Lalu ia langsung menghampiri mereka.
"Ayah, Ibu..." panggil Sadha yang berjalan menuju keduanya.
"Bagaimana adik kamu Nak? Ibu ingin melihat adik kamu di dalam." tanya Bu Aini pada Sadha seraya meraih tangan putranya itu.
"Ibu tenang dulu ya. Adek baik-baik saja kok. Adek hanya kelelahan. Jadi Ibu dan Ayah jangan khawatir." ujar Sadha yang berusaha tenang dan menenangkan kedua orang tuanya.
"Kamu yakin Nak? Lalu apa maksud Ammar saat di mobil tadi. Katanya dia akan menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibu. Memang dia ingin menjelaskan apa?" ucap Pak Aidi yang membuat Sadha terdiam mendengarnya.
Apa Mas Ammar ingin memberitahu Ayah dan Ibu? Tapi kalau benar, aku hanya bisa berdo'a agar Ayah dan Ibu kuat mendengar kabar buruk itu. Gumam Sadha dalam hati.
"Sadha... kenapa kamu diam? Kamu tau, apa yang ingin dijelaskan oleh Ammar?" tanya Bu Aini seraya meraih tangan Sadha.
"T-tidak, Bu. Sadha tidak tau apa yang ingin Mas Ammar beritahu pada Ayah dan Ibu." jawab Sadha yang berusaha untuk tenang agar ayah dan ibunya tidak curiga.
Pak Aidi dan Bu Aini sebenarnya tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Sadha kepada mereka. Namun mereka juga tidak bisa memaksa Sadha untuk memberitahu sesuatu yang tidak ia ketahui dan sebenarnya Sadha tau semuanya.
Sadha berhasil menutupi rasa kesal di wajahnya dari orang tuanya dan bersikap biasa saja. Namun tidak dengan Dhana. Dhana yang melihat ekspresi Sadha yang berbeda sejak keluar dari UGD hanya terdiam dan mencari waktu untuk bertanya pada Sadha.
***
Sementara Ibel masih berada di dalam UGD bersama Ammar. Melihat Ammar yang terlihat sangat sedih dan menangis, Ibel pun berusaha menenangkan Ammar.
"Kamu jangan menangis seperti ini, Mas. Dhina tidak butuh air mata kamu, tapi dia butuh semangat dan kasih sayang kamu." ujar Ibel yang menenangkan Ammar yang menangis di sebelah Dhina.
Ammar tetap bergeming. Matanya yang sembap karena menangis, terus menatap sendu sang adik seraya menggenggam erat tangannya.
"Mas minta maaf, Dek. Mas tidak bisa menjaga Adek dengan baik. Mas bukan kakak yang baik untuk Adek. Adek seperti ini karena Mas." tutur Ammar yang menangis di sebelah Dhina seraya mengusap wajah adik perempuannya itu.
"Kamu harus tenang, Mas. Saat ini Dhina sedang istirahat. Dia masih di bawah pengaruh obat." ujar Ibel yang masih berusaha menenangkan Ammar.
"Apa yang dikatakan Dokter Ronald setelah memeriksa kondisi Adek, Bel?" tanya Ammar pada Ibel dengan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
"Dokter Ronald bilang kalau kondisi Adek cukup lemah karena dia tidak minum obat tadi pagi, Mas." jawab Ibel yang berusaha tenang.
"Apa? Adek tidak minum obat? Kenapa?" tanya Ammar yang heran sambil melihat ke arah Dhina.
"Mungkin adek lupa, Mas. Lalu kata Dokter Ronald, Adek juga kelelahan dan tertekan, seperti sedang memikirkan sesuatu." jawab Ibel dan membuat Ammar mengerti.
"Apa lagi Bel?" tanya Ammar pada Ibel seraya mengusap air mata di pipinya.
"Dokter Ronald juga sudah membawa sampel darah Dhina ke laboratorium untuk dicek lagi, Mas." jawab Ibel dengan ragu-ragu.
Ammar menghela nafas panjang. Ia cukup mengerti dengan penjelasan Ibel yang singkat.
"Ibel... aku minta, sebaiknya kamu keluar dulu. Aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong tinggalkan aku di sini." ujar Ammar yang masih menggenggam tangan Dhina.
"Tapi, Mas..."
"Tolong, Bel." potong Ammar tanpa melihat ke arah Ibel sedikit pun.
"Baiklah. Aku permisi keluar dulu." balas Ibel yang heran dengan sikap Ammar saat ini.
Dengan berat hati, Ibel pun menyusul Sadha keluar dan meninggalkan Ammar sendirian di dalam bersama Dhina. Saat tiba di luar, Ibel melihat kehadiran kedua orang tua Ammar. Lalu Ibel langsung menghampiri mereka.
"Assalamualaikum, Om, Tante." sapa Ibel pada Pak Aidi dan Bu Aini yang menyalami keduanya.
"Wa'alaikumsalam, Nak Ibel." jawab keduanya sambil membalas salaman Ibel.
"Om dan Tante apa kabar?" tanya Ibel seraya duduk di sebelah Bu Aini.
"Alhamdulillah, baik Nak. Kamu sendiri bagaimana? Terima kasih ya karena sudah menemani anak-anak Tante di sini." ujar Bu Aini sambil memeluk Ibel.
"Ibel baik, Tante. Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Adik-adik Mas Ammar juga seperti adik-adik Ibel sendiri, Tante." ucap Ibel yang meraih tangan Bu Aini dan Bu Aini hanya tersenyum.
Sadha dan Dhana yang melihat Ibel keluar dari UGD sendirian tanpa Ammar, langsung bertanya.
"Kak... kenapa Kakak keluar? Mas Ammar mana?" tanya Sadha yang melihat ke arah belakang Ibel.
"Mas Ammar masih di dalam. Dia minta Kakak keluar karena dia sedang ingin sendiri." jawab Ibel pada Sadha.
Sadha dan Dhana pun saling pandang. Mereka cukup tau sendiri yang dimaksud oleh Ammar.
"Kalau begitu Ibel permisi sebentar ya, Om, Tante. Ibel ingin ke ruangan. Sadha, Dhana... Kakak permisi dulu ya. Kalau terjadi sesuatu, hubungi Kakak saja." ujar Ibel yang pamit pada semuanya sambil berdiri.
"Iya, Nak Ibel. Hati-hati Nak." ujar Bu Aini dan dibalas senyuman oleh Ibel.
Ibel pun meninggalkan mereka semua yang masih menunggu Dhina di depan UGD. Sebenarnya Ibel ingin menanyakan sesuatu pada Sadha dan Dhana. Namun karena mereka masih dalam keadaan seperti ini, Ibel pun menjadi tidak tega jika harus bertanya sekarang.
Ibel memilih pergi ke ruangannya untuk mencari waktu yang tepat agar bisa bertanya pada Sadha dan Dhana tentang sikap Ammar yang seperti orang merasa bersalah pada Dhina.
Happy Reading All❤️❤️❤️
🗣️🗣️🗣️🗣️🗣️
Sorry ya readers, sepertinya untuk hari ini aku cuma bisa up satu episode saja karena aku lagi ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan dulu.
Besok aku akan up dua episode seperti biasa, sekali lagi maaf ya. Jangan lupa selalu ikutin cerita aku, yang pastinya akan semakin seru.
🌺Thank You Very Much🌺
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
ttp aja nangis...
tingglkn jejak dulu ya