NovelToon NovelToon
ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

ZHARA MEMUTAR DIMENSI WAKTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Balas Dendam
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.

Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.

Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.

Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.

Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.

Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat sedekat nadi

...Tiara mengetuk pintu dan membukanya secara pelan, melangkah masuk tanpa suara, kemudian menutup kembali pintu di belakangnya dengan perlahan. Terlihat Zhara yang terbaring lemah di atas ranjang, memandangi jendela, tatapanya kosong mengarah jendela....

...Tiara menarik nafas pelan, lalu berjalan mendekat....

...“Zhara... ” panggilannya lembut....

...”Hay...” ucapnya lemah....

...“Gimana? sudah lebih membaik?... ” tanya tiara kawatir....

...“Masih agak sesak, tapi sudah jauh lebih baik” Zhara tersenyum, melihat Tiara sibuk dengan kantong tasnya....

...“Maaf sudah merepotkanmu Tiara.” ucapnya canggung....

...“Santai... Santai... Kita sudah terbiasa saling merepotkan, jadi jangan terlalu sungkan...” Tiara mengeluarkan kotak bubur dan menyiapkannya....

...Zhara tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. “Terimakasih...”...

...“Terimakasihnya simpan dulu, kamu makan bubur dulu, biar ada tenaga. Habis itu baru boleh nangis bombay lagi...” ucapnya tersenyum nyengir....

...“Mau makan sendiri, atau mau aku suapin?” Tanya Tiara menyodorkan mangkuk bubur....

...“Makan sendiri...” Zhara tersenyum mengambil mangkok buburnya....

...“Makannya pelan pelan, nggak ada yang mau ngerebut tuh...” Tiara tiba tiba nyeletuk....

...Zhara hampir tersedak mendengar ucapannya, matanya menatap tajam Tiara....

...“Kalau masak jangan terlalu enak, aku sungkan menikmatinya...” ucapnya terkekeh....

...Tiara tersenyum hangat, melihat wajah Zahra yang kini sudah tidak murung lagi. Ia melangkah pelan, lalu menarik kursi yang berada di samping ranjang, dengan hati-hati Tiara duduk....

...“Aku sudah minta izin pada buk Mirah dan kak Mega, kalau kamu saat ini sedang sakit, dan di izinkan istirahat sampai kamu pulih.” ujarnya menjelaskan dengan santai....

...“Aku benar benar berterimakasih... Maaf sudah merepotkan mu.” Ucap Zahra merasa sungkan....

...“Aduhh... Formalnya!!... Seperti di meja rapat saja.” ledek Tiara melihat sahabat terlalu kaku....

...Zhara tersenyum mendengar ledekan sahabatnya, mereka tumbuh besar bersama, melewati hari hari yang tidak selalu mudah. teman dari masa SMP yang penuh tawa, hingga masa remaja yang dipenuhi banyak masalah, mereka tetap ada di sisi satu sama lain....

...Bagi Zhara, Tiara bukan sekadar sahabat, tapi seperti saudara yang tak sedarah. Mereka sering berbagi cerita tentang cita cita, ketakutan, dan luka yang tidak pernah mereka tunjukkan ke orang lain....

...“Aku dan Alvaro... ”...

...“Aku sudah tau” potong Tiara terlihat kesal....

...“Tau dari?... ”...

...Zhara menatap wajah sahabatnya....

...“Dari kak Lani, dia menceritakannya. Dan Kak Lani menyampaikan permintaan maafnya, karena dia tidak menyangka, adik sepupunya kurang ajar.” ucapnya bergetar, menjaga suaranya tetap tenang....

...“Sebenarnya Alvaro hanya kehilangan jati dirinya... dia dulu tidak seperti itu...” ucap Zhara dengan lembut....

...“Kamu masih saja membela manusia itu, Zhara andai aku laki laki sudah ku patahkan lehernya... Beraninya mempermainkan sahabatku... ” ucapnya kesal, tangannya mengepal....

...“Andai saja dulu aku mau sama om om yang kamu tawari...” Zhara terkekeh, melihat ekpresi Tiara menggerutkkan wajahnya....

...“Mungkin saja kamu sekarang sedang bahagia di Paris, jadi sugar baby.” ucap Tiara cengengesan malingkan wajahnya....

...“mulutmu itu...” ucap Zhara tersenyum. Tiara tertawa geli, mengingat dirinya dulu....

...“Aku sudah putus dengannya, kami berpisah secara baik baik, jadi kamu tidak perlu khawatir. ” Zhara menjelaskannya....

...“Zhaa... Kamu terlalu baik, makanya orang tidak segan menyakitimu, sudah di sakiti sampai babak belur masih saja mau berdamai... ” ucapnya kesal....

...“Sebelum dia berubah, dia adalah pacar yang sangat baik, aku tidak mau meninggalkan kesan seakan akan, selama ini tidak pernah bahagia bersamanya.” Zhara tersenyum tipis....

...“Kalau kamu kira aku baik, tidak juga Tiara. Aku marah ingin berteriak, aku mau menghancurkannya, aku juga mau dia merasakan sakit seperti ku. Tapi itu bukan diriku...” Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipi yang sejak tadi berusaha terlihat tegar....

...“Nangis aja... ngak papa... lepasin semua bebanya...” Ucap Tiara menepuk nepuk punggung Zhara pelan....

...Zhara menangis terisak, bahunya bergetar pelan menahan luapan perasaan yang akhirnya tak terbendung....

...“Aku selalu bertanya tanya, mengapa hidupku tidak pernah berjalan dengan baik, selalu... berat... untuk... dijalani.” ucapnya lembut tapi terdengar sedih....

...“Zhara... Setiap orang juga menjalani hidupnya dengan berat, kebetulan saja mereka menyembunyikan masalahnya. Tidak semua orang sanggup menunjukkan penderitaannya, mereka lebih memilih terlihat baik baik saja, padahal lebih terluka.” Tiara menunjuk dirinya....

...“Terkadang orang yang kelihatannya paling kuat, paling keras ketawanya… justru yang paling banyak nyimpen luka” ucapnya lirih, melihat mata sahabatnya masih basah....

...“Zhara... Lebih baik kecewa dan sakit sekarang daripada nanti pada saat kamu menikah. Kamu memilih pergi tapi sudah punya anak, memilih bertahan tapi hidup bagai neraka.” Tiara tersenyum tipis mengangkat bahunya....

...“Iya... Kamu benar, Jika Alvaro memilih menyembunyikan masalahnya dan memilih tetap bersamaku, itu hanya menambah luka baru. Pada saat itu aku akan sangat sangat membencinya...” Zhara berbisik pelan, air matanya kembali jatuh tanpa suara....

...“Mungkin… perpisahan mengajarkan luka… dan dari luka, aku bisa jadi lebih dewasa…” ucapnya lembut, lalu mengusap pelan sisa air mata di pipinya....

...“Perpisahan juga dapat mengajarkanmu. Disakiti opet, di tunggu oppa yang sedang menanti diluar sana” ucap Tiara percaya diri....

...“Zhaa... Mati satu tumbuh seribu. Jangan menangisi lelaki yang tidak beryukur sudah bersamamu” Tiara menggoyangkan bahu Zhara....

...“Kamu boleh sedih, kamu boleh benci, kamu juga boleh hancur sekarang... Tapi hanya Zhara yang sekarang bukan untuk Zhara yang besok...“ Tiara menatapnya lembut, lalu mengangguk pelan...

...“Terimakasih sahabat sedekat nadiku, kamu sangat banyak mebantuku, tanpamu mungkin aku hanyalah upik abu yang masih tersesat...” Zhara menatap wajah sahabatnya....

...“Emmm... Kok jadi terharu...” Ucap Tiara tersenyum gemas....

...Tiara memeluk Zhara dengan hangat, menguatkan sahabatnya. Seolah mengatakan tidak apa apa ada aku disini. Tangannya mengusap usap punggung Zhara dengan lembut....

...◦•●◉✿✿◉●•◦...

...Seminggu setelah Zhara pulang dari rumah sakit, suasana kosnya terasa tenang, walau tenang terkadang membawa suasana kesepian....

...Pagi itu, Zhara duduk di tepi ranjang dengan secangkir teh hangat di tangannya. Tehnya masih mengepul panas, tapi ia hanya menatap dengan tatapan kosong, pikirannya berada jauh di tempat lain....

...“Alvaro... apa kamu sudah bahagia dengan sang pengganti?... apa dia menggantikanku dengan sangat baik... sebentar lagi kamu menjadi suami orang.” ucapnya lirih, dengan senyum sinis....

...Sesekali bayangan itu menghantui lagi, tawa bahagia Alvaro saat mereka bercanda. Cara Alvaro selalu memanggil namanya, dengan nada manja. Dan momen sederhana, seperti duduk berdua di taman tanpa banyak kata. Tapi sekarang terasa sangat asing....

...Zhara menarik nafas panjang, mencoba menguatkan dirinya. “Harusnya aku bahagia, melepas laki laki yang tidak dapat menjaga komitmen... harusnya aku belajar terbiasa.” ucapnya menyemangati dirinya....

...Zhara menutup matanya sejenak, angin pagi menyentuh wajahnya dengan lembut....

...”Alvaro jika tidak kali ini, maka tidak untuk selamanya. Selamat tinggal kenangan mantan, selamat datang Zhara Chandrawinata yang tangguh.”...

1
Rahayu
Semangat Thor, ceritanya mulai seru.
Luh Belong: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!