NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. JERAT SUTRA DI LEHER SERIGALA

Salju di luar vila Inari mungkin mulai mencair, namun di dalam kepala Alana, sebuah badai baru justru sedang dibangun dengan sangat rapi. Ia berdiri di depan meja rias, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra merah darah, warna yang sengaja ia pilih karena ia tahu Alexei menyukai kontras warna itu pada kulit pucatnya.

​Malam ini bukan tentang bertahan hidup. Malam ini adalah tentang penaklukan.

​Kau ingin memilikiku, Alexei? batin Alana sambil memulas gincu merah tua di bibirnya. Maka aku akan memberimu versi diriku yang paling kau dambakan, sampai kau tidak bisa bernapas tanpa keberadaanku.

​Langkah kaki Alexei terdengar mendekat. Pria itu tidak lagi mengetuk pintu ia merasa memiliki setiap jengkal ruang di mana Alana berada. Saat Alexei muncul di ambang pintu, langkahnya melambat. Matanya yang biasanya sedingin es itu berkilat, sebuah reaksi insting yang tidak bisa ia sembunyikan saat melihat Alana berdiri di sana, tampak begitu menawan sekaligus berbahaya.

​"Kau terlihat... berbeda malam ini," ucap Alexei, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.

​Alana berbalik, memberikan senyum kecil yang ia latih selama berjam-jam, senyum yang mengandung sedikit kerentanan namun penuh dengan misteri. Ia melangkah mendekat, membiarkan aroma parfumnya yang memabukkan menyentuh indra penciuman Alexei.

​"Aku hanya berpikir," Alana merapikan kerah jas Alexei, membiarkan ujung jarinya bersentuhan dengan kulit leher pria itu sedikit lebih lama dari biasanya. "Jika aku harus menjadi bagian dari duniamu, aku tidak ingin hanya menjadi bayangan. Aku ingin berdiri di sampingmu, Alexei. Aku ingin membantumu menghancurkan mereka yang telah menyakiti ibuku... dan juga mereka yang mencoba menghancurkanmu."

​Alexei tertegun. Tangannya yang besar meraih pinggang Alana, menariknya lebih dekat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Kau yakin, Alana? Dunia ini akan mengotori tanganmu dengan darah. Aku sudah berusaha menjaga tanganmu tetap bersih."

​"Tangan yang bersih tidak bisa memegang takhta, Alexei. Kau sendiri yang mengatakannya," balas Alana berani, matanya menatap langsung ke dalam manik mata biru Alexei yang kelam. "Ajari aku. Berikan aku akses ke pengiriman logistik di Helsinki. Biarkan aku yang menangani negosiasi dengan keluarga Sokolov. Aku ingin mereka tahu bahwa pewaris Volskaya telah kembali."

​Alexei menatap Alana dengan intensitas yang mengerikan. Ada bagian dari dirinya yang curiga, logika mafianya memperingatkan bahwa ini adalah perubahan yang terlalu drastis. Namun, ego dan obsesinya jauh lebih kuat. Ia haus akan pengakuan Alana. Ia ingin percaya bahwa cintanya yang "sakit" itu akhirnya membuahkan hasil.

​"Baiklah," bisik Alexei, suaranya terdengar seperti janji iblis. "Jika itu yang kau inginkan, aku akan membukakan pintunya untukmu. Tapi ingat, Alana, sekali kau masuk, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi."

​Seminggu setelah pembicaraan itu, Alana mulai menunjukkan taringnya. Di bawah bimbingan Alexei, ia mulai mempelajari jaringan pencucian uang Dragunov dan jalur penyelundupan senjata di Baltik. Namun, Alana tidak hanya belajar; ia mulai menanamkan pengaruhnya. Ia bersikap manis pada bawahan Alexei, memberikan perhatian kecil yang tidak pernah diberikan Alexei yang dingin. Tanpa sadar, para prajurit Dragunov mulai melihat Alana sebagai "Ibu Negara" yang bijaksana.

​Malam itu, di sebuah restoran pribadi di Helsinki, Alana duduk di hadapan salah satu kolega bisnis Alexei, seorang pria Rusia bertubuh tambun yang terkenal licin. Alexei duduk di sampingnya, membiarkan Alana memimpin pembicaraan, sebuah tes yang ia berikan untuk Alana.

​"Sergei Volsky menawarkan harga yang lebih rendah untuk keamanan jalur ini," ucap pria itu sambil menyesap votka.

​Alana tertawa kecil, suara tawa yang jernih namun terdengar meremehkan. "Sergei menawarkan harga rendah karena dia tidak punya jaminan keamanan, Tuan. Kapalnya dibajak dua kali bulan lalu di teluk Finlandia. Apa gunanya harga murah jika barang Anda berakhir di dasar laut? Bersama Dragunov, Anda membayar untuk kepastian. Dan sebagai Volskaya, aku menjamin bahwa darah keluargaku akan memastikan setiap kontainer Anda sampai dengan selamat."

​Alexei yang duduk di sampingnya, menyesap anggurnya sambil menyembunyikan senyum kemenangan. Ia terpesona. Alana bukan lagi mawar yang hanya bisa dipajang, dia adalah pedang yang ia asah sendiri.

​Sepulangnya dari pertemuan itu, di dalam mobil yang melaju menembus kabut malam, suasana terasa berbeda. Alexei tidak lagi menatap keluar jendela. Ia menatap Alana.

​"Kau luar biasa malam ini," ucap Alexei. Ia meraih tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan lembut.

​Alana tidak menarik tangannya. Ia justru mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Alexei. "Aku melakukannya untuk kita, Alexei. Agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."

​Alana merasakan tubuh Alexei menegang sejenak sebelum akhirnya pria itu merilekskan bahunya dan merangkul Alana erat. Untuk sesaat Alana merasakan Alexei bukan sebagai predator, melainkan sebagai seorang pria yang haus akan kasih sayang. Ada getaran aneh di dada Alana saat merasakan detak jantung Alexei yang tidak beraturan.

​Hanya akting, Alana. Ingat itu, tegurnya pada diri sendiri.

​Namun, rencana Alana mulai menemui retakan saat mereka tiba di vila. Malam itu, Alexei tidak langsung menuju ruang kerjanya. Ia membawa Alana ke balkon lantai atas yang menghadap ke danau yang membeku.

​"Alana," panggil Alexei pelan. Suaranya tidak lagi dingin. "Aku punya sesuatu untukmu."

​Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari beludru hitam. Di dalamnya ada sebuah cincin dengan batu safir biru tua yang dikelilingi berlian kecil. "Ini milik ibuku. Satu-satunya barang yang berhasil kuselamatkan sebelum ayahku membunuhnya di depan mataku."

Alana tertegun. "Alexei, ini..."

Alana merasakan jemari Alexei yang dingin menyentuh kulit jari manisnya saat cincin safir itu terpasang. Ada kilat di mata Alexei, sesuatu yang tampak seperti pemujaan, namun Alana segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa pria ini adalah ahli dalam menciptakan ilusi. Jika Alexei bisa menciptakan sosok "Dmitri" yang fiktif, maka dia bisa dengan mudah memalsukan tatapan cinta ini.

Suara Alexei merendah, hampir menyerupai bisikan rahasia. "Dia mati karena memercayai orang yang salah. Aku memberikan ini padamu bukan karena aku memercayaimu, Alana. Tapi karena aku ingin kau tahu bahwa sekarang, kau adalah bagian dari beban sejarahku. Jika kau hancur, maka sisa kenangan ibuku pun ikut hancur."

Alana menatap batu safir yang berkilau di bawah cahaya bulan. Alih-alih merasa luluh, ia justru merasakan beban yang berat. Ini bukan pernyataan cinta yang manis; ini adalah pengikatan. Alexei sedang menjeratnya dengan rasa bersalah.

"Kau memberiku beban yang sangat berat, Alexei," ucap Alana tenang, matanya menatap Alexei tanpa emosi yang berlebihan.

Alexei tidak membalas dengan ciuman romantis yang lembut. Sebaliknya, ia menarik Alana mendekat, mencengkeram tengkuknya dengan posesif, dan mencium keningnya dengan intensitas yang lebih mirip sebuah sumpah kepemilikan.

"Memang berat. Karena di dunia ini, hanya orang mati yang tidak memiliki beban," bisik Alexei di depan bibirnya.

Malam itu, saat mereka kembali ke dalam kamar, Alexei tertidur di sisi tempat tidur yang jauh, memunggungi Alana, namun tangannya tetap menggenggam pergelangan tangan Alana dengan erat, seolah-olah takut gadis itu akan menghilang di tengah kegelapan malam.

Alana menatap langit-langit kamar. Hatinya tidak "retak" oleh cinta. Hatinya justru sedang menghitung. Ia menyadari bahwa ia mulai terbiasa dengan kehadiran Alexei. Ia mulai terbiasa dengan rasa aman yang diberikan oleh pria ini. Ketertarikan itu mulai muncul bukan karena dia memaafkan Alexei, tapi karena ia mulai merasa bahwa hanya Alexei-lah satu-satunya manusia yang bisa mengimbangi kegelapan di dalam dirinya.

Ia terjebak dalam rencananya sendiri, namun bukan karena cinta yang buta. Ia terjebak karena ia menyadari bahwa untuk menghancurkan Alexei, ia mungkin harus menghancurkan satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia yang kejam ini.

Di laci meja rias, telepon satelitnya bergetar pelan. Sebuah pesan dari informan rahasia yang ia hubungi muncul:

"Informasi jalur logistik Helsinki sudah diterima. Pergerakan dimulai dalam 48 jam. Apakah kau sudah siap memberikan koordinat gudang utama?"

Alana menatap punggung lebar Alexei yang bernapas dengan teratur. Ia tidak merasakan penyesalan, hanya sebuah keraguan strategis yang dingin. Jika ia memberikan koordinat itu sekarang, Alexei akan hancur, namun ia juga akan kehilangan akses ke kekuasaan yang baru saja mulai ia cicipi.

Ia menyentuh cincin safir itu, memutarnya perlahan di jarinya.

Belum sekarang, batin Alana. Aku belum mendapatkan semua yang aku butuhkan darimu, Alexei.

Alana memejamkan mata, membiarkan dirinya ditarik ke dalam tidur sambil tetap menggenggam rahasianya sendiri. Di balik tirai vila Inari, badai salju terus mengamuk, menyembunyikan dua orang yang tidur di satu ranjang namun masing-masing memegang pisau di balik punggung mereka.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!