Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Naluri Ayah yang Muncul
Minggu siang, Arka akhirnya diizinkan pulang dari rumah sakit setelah kondisinya benar-benar stabil. Dokter memberikan resep obat dan instruksi ketat tentang cara menjaga Arka agar tidak kejang lagi.
Reyhan menggendong Arka keluar dari rumah sakit meski anak itu protes bilang ia sudah bisa jalan sendiri. Reyhan tak peduli. Ia ingin memastikan anaknya benar-benar aman.
“Yah, aku berat lho. Nanti Ayah capek,” kata Arka sambil melingkarkan tangannya di leher Reyhan.
“Ayah nggak capek. Ayah kuat kok,” jawab Reyhan sambil tersenyum. “Lagian kamu ringan. Kayak bulu ayam.”
“Ayah bohong! Aku kan udah lima tahun! Berat aku 18 kilo!”
“Tetep ringan buat Ayah.”
Alya berjalan di samping mereka dengan tas berisi obat-obatan dan perlengkapan Arka. Ia tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
Mereka… benar-benar ayah dan anak, pikirnya dengan hati hangat.
Di mobil
Arka duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman terpasang rapi. Wajahnya sudah jauh lebih segar dari dua hari lalu, meski masih sedikit pucat.
“Ma, nanti di rumah aku boleh main robot kan?” tanyanya dengan nada penuh harap.
“Boleh, tapi cuma sebentar ya. Kamu harus banyak istirahat,” jawab Alya sambil menoleh dari kursi depan.
“Tapi aku udah istirahat dua hari di rumah sakit, Ma!”
“Tetap harus istirahat. Dokter bilang kamu harus jaga kondisi.” Reyhan melirik dari kaca spion dengan tatapan serius. “Ayah nggak mau kamu sakit lagi, Nak. Ayah… nggak sanggup lihat kamu kayak kemarin.”
Suara Reyhan bergetar di kalimat terakhir membuat Alya dan Arka terdiam sejenak.
Arka menatap ayahnya dengan tatapan yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. “Ayah… takut ya?”
Reyhan terdiam lama. Lalu ia menjawab dengan jujur, “Sangat takut, Nak. Ayah baru ketemu kamu. Ayah baru belajar jadi ayah yang baik. Ayah… nggak mau kehilangan kamu.”
Air mata Alya menggenang mendengar pengakuan itu.
Arka tersenyum tipis. “Aku janji akan hati-hati, Yah. Aku nggak mau bikin Ayah sedih.”
Reyhan tersenyum lewat kaca spion senyum yang penuh cinta dan lega.
Di rumah sore hari
Sesampainya di rumah, Reyhan langsung membawa Arka ke kamar dan memastikan anak itu berbaring dengan nyaman.
“Yah, aku nggak capek. Aku mau main,” protes Arka sambil mencoba duduk.
“Tidur dulu sebentar. Nanti kalau udah istirahat, baru main.” Reyhan menyelimuti Arka dengan lembut gerakan yang sudah terasa sangat alami.
“Tapi”
“Nggak ada tapi-tapian. Ayah yang atur sekarang.” Nada Reyhan tegas tapi penuh kasih sayang.
Arka cemberut, tapi akhirnya menurut. Ia berbaring dengan patuh, meski matanya masih terbuka lebar.
Reyhan duduk di tepi ranjang, mengusap rambut Arka dengan lembut gerakan yang menenangkan.
“Ayah akan di sini sampai kamu tidur,” bisiknya.
“Ayah nggak kerja?”
“Hari ini Ayah libur. Ayah mau jaga kamu.”
“Tapi Ayah kan sibuk”
“Nggak ada yang lebih penting dari kamu, Nak,” potong Reyhan dengan tegas. “Kerja bisa nanti. Tapi kamu… kamu cuma satu.”
Arka merasakan dadanya hangat mendengar kata-kata itu. Ia meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya erat.
“Terima kasih, Yah. Terima kasih udah jadi ayah yang baik.”
Reyhan merasakan tenggorokannya menyesak. Ia membungkuk, mencium dahi Arka dengan lembut.
“Terima kasih juga udah jadi anak Ayah. Ayah bangga sama kamu.”
Arka tersenyum lalu perlahan matanya mulai tertutup kelelahan mengalahkan keinginannya untuk tetap terjaga.
Reyhan tetap duduk di sana, mengusap rambut Arka dengan lembut sampai napas anak itu teratur, tanda ia sudah tertidur.
Baru setelah itu Reyhan keluar dari kamar dengan hati-hati, menutup pintu perlahan.
Di dapur
Alya sedang menyiapkan sup ayam makanan ringan yang baik untuk Arka ketika Reyhan masuk ke dapur dengan wajah lelah tapi lega.
“Arka tidur?” tanya Alya sambil mengaduk sup.
“Iya. Akhirnya dia mau tidur juga.” Reyhan berjalan mendekat, berdiri di belakang Alya, lalu memeluknya dari belakang pelukan yang sangat jarang ia lakukan.
Alya terkejut, tapi tak menolak. “Rey… kamu kenapa?”
“Aku… takut kehilangan kalian,” bisik Reyhan di telinga Alya. “Waktu Arka kejang kemarin… aku merasa dunia aku runtuh. Aku baru sadar… seberapa penting kalian buat aku.”
Alya mematikan kompor, berbalik menghadap Reyhan, menatap wajahnya yang tampak lebih tua karena kelelahan dan kekhawatiran.
“Rey… kita udah melewati yang terburuk. Arka baik-baik saja sekarang.”
“Tapi bagaimana kalau terjadi lagi? Bagaimana kalau”
“Jangan mikirin yang belum terjadi,” potong Alya lembut sambil mengusap pipi Reyhan. “Kita akan jaga Arka baik-baik. Kita akan waspada. Dan kalau terjadi sesuatu… kita hadapi bersama. Kamu nggak sendirian, Rey.”
Reyhan menarik Alya ke dalam pelukannya erat, seolah takut kehilangan.
“Terima kasih,” bisiknya dengan suara parau. “Terima kasih udah kuat buat kami. Terima kasih udah… ada.”
Alya membalas pelukan itu dengan erat. “Kita keluarga, Rey. Kita saling menguatkan.”
Mereka berdiri seperti itu, berpelukan di dapur dengan aroma sup ayam yang hangat, merasakan kekuatan dari kebersamaan.
Malam hari
Malam itu, meski Arka sudah tidur nyenyak di kamarnya dan Alya juga sudah tertidur, Reyhan tak bisa tidur.
Ia keluar dari kamarnya masih terpisah dengan kamar Alya dan Arka lalu berjalan ke kamar mereka dengan pelan.
Ia membuka pintu perlahan, masuk dengan hati-hati agar tak membangunkan siapa pun.
Arka tidur di tengah ranjang dengan selimut sampai dagu, wajahnya damai. Alya tidur di samping Arka, satu tangannya melingkari tubuh kecil anak mereka secara protektif.
Reyhan berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan dada penuh emosi.
Ini… ini yang namanya keluarga.
Perlahan, ia berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang dengan sangat hati-hati.
Ia mengusap kepala Arka dengan kebiasaan gerakan yang sudah menjadi rutinitas.
“Ayah janji akan selalu jaga kamu, Nak,” bisiknya sangat pelan. “Ayah nggak akan biarkan apapun terjadi sama kamu.”
Lalu ia mengusap rambut Alya dengan lembut. “Dan kamu… terima kasih udah jadi ibu yang luar biasa. Terima kasih udah kuat.”
Ia duduk di sana lama sekali, hanya menatap dua orang yang paling ia cintai di dunia.
Lalu karena kelelahan, ia berbaring di ujung ranjang di sisi lain Alya. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia tidur satu ranjang dengan istri dan anaknya.
Bukan karena nafsu. Bukan karena kewajiban.
Tapi karena ia tak bisa jauh dari mereka.
Karena naluri sebagai ayah dan suami memaksanya untuk melindungi keluarganya.
Pagi berikutnya
Alya terbangun dengan perasaan aneh ada kehangatan ekstra di ranjang.
Ia membuka mata perlahan dan terkejut melihat Reyhan tidur di ujung ranjang, wajahnya menghadap ke arah mereka, satu tangannya terulur seolah ingin menyentuh Arka bahkan dalam tidur.
Hati Alya mencelos melihat pemandangan itu.
Dia… tidur di sini semalam.
Ia tak membangunkan Reyhan. Ia hanya menatap wajah suaminya yang terlihat damai dalam tidur wajah yang biasanya tegang dan serius, sekarang terlihat… rapuh.
Dia benar-benar takut kehilangan kami, pikir Alya dengan dada sesak.
Perlahan, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh tangan Reyhan hanya menyentuh, tak menggenggam.
Tapi Reyhan bahkan dalam tidur refleks menggenggam tangan Alya dengan erat, seolah takut kehilangan.
Alya tersenyum senyum yang penuh dengan cinta.
Terima kasih, Rey. Terima kasih sudah mencintai kami.
Dua jam kemudian
Reyhan terbangun dengan sedikit bingung ia tak ingat kapan ia tertidur di kamar Alya dan Arka.
Ia duduk dengan cepat, melirik ke samping Arka dan Alya sudah tak ada di ranjang.
Panik, ia langsung turun ke bawah dan menemukan Alya sedang menyiapkan sarapan sementara Arka duduk di meja makan dengan buku di tangannya.
“Pagi,” sapa Alya dengan senyum lembut.
“Pagi, Yah!” seru Arka ceria. “Ayah tidur di kamar kami semalam ya?”
Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajahnya sedikit merah. “Eh… iya. Maaf, aku nggak sengaja”
“Nggak apa-apa kok,” potong Alya sambil tersenyum. “Aku senang malah. Berasa kayak keluarga beneran.”
Reyhan menatap Alya tatapan yang penuh dengan cinta. “Kita memang keluarga beneran.”
Alya merasakan pipinya memanas. “Iya… kita keluarga beneran.”
“Wah! Berarti nanti malam Ayah tidur di kamar kami lagi dong?” tanya Arka dengan antusias.
Reyhan dan Alya saling pandang lalu tertawa bersamaan.
“Kalau Mama izinkan, Ayah mau kok tidur di sana terus,” kata Reyhan sambil menatap Alya dengan senyum nakal.
Alya merasakan jantungnya berdegup kencang. “K-kita lihat aja nanti.”
Arka tertawa senang. “Mama malu! Mukanya merah!”
“ARKA!”
Mereka sarapan dengan penuh tawa dan kehangatan keluarga yang semakin hari semakin utuh.
Dan Reyhan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasakan apa artinya memiliki rumah.
Bukan rumah yang terbuat dari batu dan semen.
Tapi rumah yang terbuat dari cinta, kehangatan, dan keluarga.
Siang hari
Siang harinya, Alya harus keluar sebentar untuk membeli obat Arka di apotek. Reyhan yang tinggal di rumah menjaga Arka dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendirian dengan anaknya untuk waktu yang lama.
“Yah, aku mau minum,” kata Arka dari sofa.
“Tunggu sebentar ya, Ayah ambilkan.” Reyhan berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih dengan suhu pas tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas.
Ia membawanya ke Arka dengan hati-hati. “Ini, pelan-pelan ya.”
Arka minum dengan lahap, lalu menyerahkan gelas kosongnya. “Makasih, Yah.”
“Sama-sama. Kamu mau apa lagi? Lapar?”
“Nggak. Aku mau… Ayah duduk di sini. Temani aku.”
Reyhan tersenyum, lalu duduk di sofa, menarik Arka ke pelukannya dengan lembut.
Arka menyandarkan kepalanya di dada Reyhan, mendengar detak jantung ayahnya yang stabil dan menenangkan.
“Yah…”
“Ya?”
“Aku senang Ayah jadi ayah aku.”
Reyhan merasakan dadanya sesak. “Ayah juga senang jadi ayah kamu, Nak.”
“Dulu… aku sering sedih lihat temen-temen punya ayah. Tapi sekarang aku punya Ayah. Dan Ayah… lebih baik dari ayah temen-temen aku.”
Air mata Reyhan jatuh tak bisa ia tahan lagi.
Ia mencium puncak kepala Arka dengan lembut. “Ayah akan selalu ada buat kamu, Nak. Sampai kapanpun. Ayah janji.”
Arka memeluk Reyhan lebih erat. “Aku sayang Ayah.”
“Ayah juga sayang Arka. Sangat, sangat sayang.”
Mereka duduk seperti itu ayah dan anak yang baru menemukan satu sama lain merasakan ikatan yang tak bisa diputuskan oleh apa pun.
Ikatan darah.
Ikatan cinta.
Ikatan keluarga.