Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disurganya Allah Ya Abi ...
Perpisahan di Hari Jumat
Mata Abi terlihat jauh lebih sayu dari biasanya. Tangan kanannya mencengkeram dada kiri dengan sisa tenaga yang ada. Aku menatapnya dengan hati hancur; napas pria itu pendek-pendek, tidak beraturan. Di sisi ranjang, Bunda Syana terus terisak, menceritakan bahwa beberapa hari ini Abi sering mengeluh sesak, lebih banyak diam, dan hampir tidak menyentuh makannya.
Rasa bersalah menghujamku. Sudah terlalu lama aku tidak mampir ke rumah ini.
Tak lama, Fattah dan Nisa tiba. Fattah melangkah mendekat, lalu dengan tenang ia duduk di ujung ranjang untuk memijat kedua kaki ayah kandungnya itu. Aku tertegun melihat Fattah masih bisa tersenyum kecil.
"Kenapa lo senyum, Fat?" tanyaku dengan suara serak, tak mengerti bagaimana ia bisa setenang itu.
"Abi mau pamitan, Ri," jawabnya santai, namun matanya fokus menatap wajah Abi dengan kedalaman kasih yang tak terlukiskan.
Aku terdiam. Kalimat Fattah seolah mengisyaratkan bahwa Abi Rehadi akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Di sudut lain, Bunda Syana terus melantunkan surah Yasin sambil sesegukan, suaranya bergetar di dekat tubuh Abi yang kian melemah. Nisa, istri Fattah, ikut mengaji di sampingnya.
Sementara itu, Nathan menunggu di ruang tamu bersama si kecil Abror.
"Bunda ... Rasyid mau nangis lihat Bunda Syana," lirih putra kecilku, Rasyid, dengan suara polos yang bergetar.
Aku kehilangan kata-kata. Aku dan Fattah dibesarkan oleh Abi dan Bunda Syana sejak kecil. Melihat pilar kekuatan kami goyah seperti ini rasanya sungguh menyesakkan. Napas Abi mulai terdengar berat, satu per satu tarikan oksigennya terasa seperti perjuangan besar.
"Abi?" panggilku, tangisanku pecah seketika.
Abi tidak bersuara, namun ia perlahan melepas genggaman tangan Fattah di kakinya.
"Pegang tangan Aku, Abi. Enggak apa-apa kalau Abi mau pamitan. Biar Abi saja yang lepaskan tangan Fattah, ya?" ucap Fattah dengan senyum yang nampak getir—sebuah ketegaran yang dipaksakan.
Leherku terasa tercekik, bagai ada kawat berduri yang menusuk kerongkonganku.
"Abi ... terima kasih sudah menjaga Fattah dan Riana sampai hari ini. Sampai kapan pun, Abi tetap Ayah terbaik buat Fattah. Fattah bangga punya Abi yang kuat menjaga nama baik pesantren.
"Fattah janji akan jaga Bunda, Abi. Jangan khawatir lagi ... Fattah juga akan jaga Riana seperti adik sendiri.
Permintaan Abi sudah terkabul, Abi sudah melihat kedua cucu Abi; Rasyid dan Abror."
"Abi ... terima kasih sudah jadi Kakek yang baik buat Acit. Makasih sudah sayang Acit, sudah sering gendong Acit ... nanti kalau sudah sehat, gendong Acit lagi ya, Abi," ucap Rasyid spontan, membuat tangisan Nisa pecah seketika.
Hamdan hanya terdiam di sampingku, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara.
"Peluk Abi sekarang, Rasyid. Mas Hamdan, panggil Nathan dan Abror masuk," perintah Fattah.
Hamdan keluar sejenak. Aku mendekat, memeluk Abi yang terbaring lemah.
"Abi ... makasih sudah jagain Ri. Abi, maafin ... maafin Riana yang jarang mampir!"
Tak lama, Hamdan kembali menggendong Abror dan mendudukkannya di samping Rasyid.
Tangan mungil kedua bocah itu memegang tangan kakek mereka.
"Fat, gue—" ucapanku terputus oleh isak tangis.
"Sekarang, Ri," Fattah mengangguk lembut, memberi isyarat bahwa waktunya telah tiba.
Wajah Abi mengernyit, menahan sakit yang luar biasa di dadanya. Matanya tiba-tiba terbuka penuh. Di telinga kanan Abi, Fattah tak henti-hentinya membisikkan kalimat tauhid, "Laa ilaha illallah..." dengan nada yang tenang namun tegas.
Satu tarikan napas panjang, lalu semuanya menjadi sunyi. Jantung itu berhenti berdetak.
Pukul 12.10, di hari Jumat yang mulia, Abi Rehadi mengembuskan napas terakhirnya. Beliau telah pulang ke Rahmatullah.
"ABI! YA ALLAH, ABI!" jeritku histeris. Fattah segera memeluk raga Abi yang mulai kaku, lalu dengan tangan kanannya, ia menutup kedua kelopak mata sang ayah dengan sangat perlahan.
Bunda Syana memeluk Nisa erat-erat dalam duka yang mendalam. Aku sendiri ditarik ke dalam dekapan Hamdan, menangis sejadi-jadinya, masih tidak menyangka pilar pesantren ini telah tiada.
Fattah tidak menangis saat itu. Bukan karena ia tidak kehilangan, tapi karena perpisahan itu sudah terjadi lebih awal baginya. Semalam, Abi sempat memanggilnya dan berbisik parau, "Fattah, Abi titip semua ke kamu. Jaga Bunda, Riana, dan cucu Abi. Abi mau tidur yang sangat lama..."
Malam itu Fattah sudah menghabiskan air matanya di pelukan sang ayah. Maka siang ini, sebagai putra semata wayang, ia memilih untuk menjadi karang bagi yang lain.
Suara speaker masjid pesantren bergema, mengumumkan berita duka yang memecah ketenangan siang itu. Seluruh santri, baik laki-laki maupun perempuan, tertunduk dalam tangis.
Pesantren mendadak gelap oleh duka.
Tak lama, Mama dan Daddy Nathan tiba dengan wajah penuh kesedihan setelah ditelepon oleh Hamdan. Mereka langsung bergabung dalam barisan pelayat yang kian menyemut. Sesuai wasiatnya, Abi Rehadi dimakamkan tepat setelah salat Jumat.
Pukul 17.16 petang.
Suasana rumah masih terasa begitu berat. Aroma khas tubuh Abi seolah masih tertinggal di dalam kamar, membuat siapa pun yang masuk akan teringat kembali pada sosoknya. Fattah terduduk merenung di sudut ruangan, sementara Bunda Syana masih nampak lemas di ruang tamu.
Aku duduk di samping Bunda, memeluknya erat agar ia tak merasa sendiri. Di kamar lain, Hamdan sedang menidurkan Rasyid yang kelelahan menangis, begitu juga Nisa yang sedang merebahkan Abror.
Di teras rumah, Nathan dan Fattah berbincang dengan nada rendah.
Suasana sore itu begitu sunyi, namun anehnya, kehadiran sosok Abi Rehadi seolah masih ada di antara kami, menjaga kami untuk terakhir kalinya melalui kenangan yang ditinggalkannya.
Keluarga kecilku dan Hamdan masih menginap sampai Bunda Syana merasa lebih baik terlebih dahulu.
Namun Nisa dan Abror harus pulang karna pekerjaan yang tidak bisa Nisa tinggalkan dirumah, Jualan Pecel Lele.
"Fatt? Jangan pulang dulu ya Nakk?"
"Fattah kalo perlu tinggal disini aja nemenin Bunda aja gimana hehe?"
"Makasih Nakk..." Bunda mengusak rambut Putra semata wayangnya.
Aku dan Hamdan menatap keharmonisan Ibu dan Anak itu masih manis walau tanpa kehadiran Abi Rehadi pun, Bunda Syana dan Fattah tetap harmonis.
Tamat__
semangat tor