Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 15 - Tali Menggantung
Alexa membuka kedua matanya perlahan. Melihat ke sekeliling kontrakannya yang bersih dan rapi. Sesaat otaknya masih memutar ingatan kapan terakhir kali dia merapikan rumahnya yang sebelumnya kacau.
Pandangannya berpindah ke langit - langit tanpa plafon itu.
"ASTAGA!" teriaknya kaget langsung bangkit terduduk saat melihat sebuah tali menggantung di langit - langit rumahnya, tepat di hadapannya.
Tali gantung itu menjuntai berayun - ayun membuat Alexa merasa kalau ada yang merencanakan p3mbunuhan terhadap dirinya. Apalagi, dia tidak pernah merasa memasang tali itu.
"Kaget banget..." ujarnya dengan tubuh yang seketika lemas.
Dia kemudian mengumpulkan semua mood untuk bangkit dari ranjangnya. Mimpi buruk tidak muncul semalam. Yang ada, Alexa justru tidur terlalu nyenyak dan bangun dalam keadaan perut keroncongan.
Tapi di ingatannya, tak ada bahan makanan yang dia miliki lagi. Semuanya terbuang sia - sia saat tubuhnya tidak menerima makanan apa pun meski dia mengolah semua bahan makanannya.
Alexa meraih handuk dan pergi ke kamar mandi. Tapi lagi - lagi dia dikejutkan dengan tali yang sama menggantung di atas kamar mandinya juga.
Tak hanya tali, bahkan di dinding kamar mandi ada sebuah pesan yang tertulis menggunakan odol.
[Tidak usah repot pergi ke jalan. Aku sudah bikinin tali gantung.]
"Kurang ajar banget!" rutuk Alexa langsung menyiram tembok dengan air.
Membaca pesan itu, Alexa langsung tahu siapa yang menjailinya. Ingatannya tentang kejadian sebelum dia akhirnya tertidur pun mulai kembali terekam.
"Sebentar..." Matanya langsung berpindah ke keranjang cuciannya yang sudah tidak ada.
Dengan panik, Alexa pergi mencari - cari keranjang itu ke setiap sudut ruangan dan tidak menemukan apa pun. Dia sampai berlari keluar menuju rumah pemilik kontrakan untuk bertanya barangkali tahu.
Tapi Alexa urungkan niatnya ketika mendapati pakaian - pakaiannya menggantung rapi di jemurannya. Dia hanya mematung lama.
"Neng Alexa, liatin apa?" tanya Bu Susi, Pemilik Kontrakan.
"Jemuran saya, Bu. Saya belum merasa mencuci, tapi kok—"
"Oh, satu hari yang lalu, ada yang jemur baju Neng Alexa malam - malam. Katanya Kakak laki - lakinya Neng Alexa." Bu Susi menjelaskan.
"Hah?! Kakak laki - laki?" Alexa cukup terkejut mendengar itu. Jangankan seorang kakak, dia bahkan sudah tidak memiliki orang tua.
Bu Susi mengangguk pelan dan tampak mencoba mengingat - ingat wajah laki - laki yang dilihatnya saat itu.
"Berarti saya sudah tidur lama ya, Buk?" tanya Alexa, "sekarang tanggal berapa, Buk?"
"Sekarang tanggal 17, Neng."
Alexa menganga. Dia ingat terakhir kali dia hampir tertabrak mobil adalah Senin tanggal 15 malam. Itu berarti dia sudah terlelap selama satu hari dua malam.
"Soal kakak saya—"
"Postur tubuhnya tinggi dan... ah, cakep pisan, Neng. Padahal dia pakai masker, lagi pilek katanya ketularan Neng Alexa." Bu Susi menjelaskan—menyela ucapan Alexa.
"O - oh... gitu ya, Buk. Makasih ya, Buk. Saya lupa kalau kakak laki - laki saya datang." Alexa langsung mengamb baju - bajunya dan nyelonong masuk begitu saja.
Itu sudah pasti Steven. Segala mengaku sebagai kakak laki - lakinya.
Alexa melemparkan pakaiannya di atas ranjang dan mengacak - acak rambutnya frustrasi. Bukan karena Steven saat itu ada dib kontrakannya. Tapi cowok itu terlalu banyak ikut campur sampai mencuci baju Alexa.
Ada beberapa dalaman juga yang tercuci membuatnya merasa sangat malu.
"Dia sebenarnya beneran idola bukan sih?!" keluhnya kesal.
Tak bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Steven saat mencuci baju - bajunya. Steven juga yang pasti membereskan kontrakannya sampai menjadi sangat rapi dan bersih. Padahal Alexa masih sanggup membereskannya sendiri.
Entah apa saja yang sudah dilihat oleh Steven.
Dengan kesal, Alexa berjalan menuju kulkasnya meski tahu dia tidak memiliki bahan makanan selain mie instan.
Tapi ketika kulkasnya dibuka, ada banyak bahan makanan, bahkan beberapa buah dan minuman kemasan seperti protein dan masih banyak lagi. Beras di dalam tong miliknya juga penuh.
Satu kertas note tempel berwarna kuning ada terpajang di tutup freezer.
[ 08222233****. Itu nomorku kalau kamu mau bilang makasih. ;)) ]
"Steven memang mau bikin aku marah!" Alexa mengambil ponselnya dan mencatat nomor itu lalu meneleponnya.
Tak ada tanggapan beberapa kali hingga ke lima kalinya, akhirnya panggilan itu tersambung. Tapi bukan suara Steven.
"Halo? Siapa ini?" tanya orang dari seberang sana.
Alexa membuka mulutnya tapi tidak berani mengatakan siapa dirinya karena suaranya jelas berbeda dengan suara Steven.
"M - maaf. Bisa bicara dengan Steven?" Alexa berbicara dengan hati - hati.
"Steven? tidak ada yang bernama Steven di sini. Apa anda salah sambung?" sahut orang itu.
"Tidak. Saya tidak salah sambung. Ini nomor yang ditinggalkan."
"Tapi tidak ada keluarga saya yang bernama Steven. Steven siapa yang anda maksud?"
"Oh, Steven dari NOVA. Anda tahu band NOVA?"
Hening sesaat—kemudian tawa orang itu pecah seketika.
"Pasti anda penggemar Steven NOVA, ya? sampai - sampai berharap Steven akan memberikan nomor teleponnya ke penggemarnya hahaha..."
Dengan cepat Alexa memutus sambungan telepon dengan kesal dan juga malu. Dia sudah dikerjai Steven lebih dari sekali dalam satu waktu. Tak tanggung - tanggung, Alexa memblokir nomor itu.
Kertas nota itu di serobotnya dari kulkas. Tapi ternyata, ada satu tumpukan lain di kertas itu. Kali ini, berisi nomor telepon lain lagi.
"Aku nggak akan tertipu lagi!" ujar Alexa tak memiliki minat menghubungi nomor lain yang ada di kertas nota tempel itu. Dia membuangnya tanpa ragu.
Memilih untuk mencoba mencari pekerjaan lagi dan memperbaiki kualitas hidupnya, Alexa segera mandi dan bersiap meskipun tahu kalau hari sudah terlalu siang.
Alexa hanya mengambil susu yang ada di kulkasnya, meminumnya sedikit karena khawatir akan muntah, kemudian pergi dari kontrakannya.
"Eh, Mbak Alexa, udah keliatan seger dari pada beberapa hari sebelumnya, ya." Salah satu tetangga kontrakannya menyapa.
Alexa hanya balas tersenyum karena tak mau menanggapi ibu - ibu yang hanya akan membuatnya merasa tersinggung dengan semua ucapan mereka.
"Mau ke mana, Mbak?" tanyanya lagi.
"Mau kerja, Tante. Hari ini dapat sift siang," jawabnya bohong.
"Owalah... pantesan rapi. Oh ya, ngomong - ngomong soal kakak laki - laki kamu, boleh nggak di kenalin ke anak tante?"
Alexa langsung memasang wajah sinis. Dia tahu kalau orang yang biasa berbicara pedas tiba - tiba bersikap begitu ramah itu berarti memang ada sesuatu.
"Kakak saya sudah punya istri, Tante. Maaf, ya. Saya duluan." Alexa langsung melipir pergi.
"Kakak laki - laki konon? bikin repot aja!" keluhnya mencibir karena akhirnya dia mengakui Steven sebagai kakak laki - lakinya di hadapan orang lain.
Alexa masuk ke beberapa tempat seperti restoran, kafe, tempat cuci kendaraan, toko kelontong dan masih banyak lagi hanya untuk mencari lowongan pekerjaan. Tak peduli dengan gaji, selama itu bisa membuatnya bertahan hidup sedikit lebih lama.
Sampai akhirnya Alexa melihat poster lowongan pekerjaan sebagai cleaning service—di depan gedung besar yang entah bergerak dibidang apa.
Selain besar, di depan gedung itu juga sangat ramai. Ada beberapa reporter dan juga orang - orang yang duduk di tanah tanpa takut kotor membawa poster - poster seperti pendemo.
Tapi Alexa tidak mempedulikan itu. Dia memberanikan diri masuk ke gedung yang mewah itu. Baru masuk pun, dia sudah disambut oleh display iklan yang besar yang memutar sebuah lagu.
"AAAAA!!!"
Teriakan orang - orang di luar begitu menghebohkan membuat Alexa langsung mengintip melalui pintu kaca.
"NOVA! KALIAN SELALU MENAWAN!"
"ABI, I LOVE YOU! "
Alexa menganga lebar semua anggota NOVA keluar dari mobil dengan dikawal oleh penjaga.
Mereka semua berjalan cepat masuk ke gedung sementara Alexa langsung menghimpit tubuhnya di pojokan karena tak mah mengganggu perjalanan artis itu.
Para penggemar bahkan ikut masuk hanya untuk merekam jelas wajah para anggota NOVA.
Saat itulah, mata Alexa bertemu dengan mata Steven. Wajah Steven yang awalnya tampak serius berubah menjadi senyum yang lebar.
Bodohnya, Steven melambaikan tangannya pada Alexa dengan antusias membuat para penggemarnya langsung memandang Alexa. [ ]