NovelToon NovelToon
Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Legenda Penguasa Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.

Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.

Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Guru Mahendra

Guru Mahendra tinggal di rumah kosong di ujung Desa Batu Tua.

Rumah itu sudah lama dianggap menyeramkan.

Atapnya yang bocor, dindingnya dipenuhi lumut, dan halaman depannya ditumbuhi rumput setinggi pinggang.

Anak-anak desa biasanya berani bermain di mana saja, kecuali di tempat itu.

Konon, siapa pun yang tidur di dalamnya akan bermimpi buruk selama tujuh hari tujuh malam.

Namun berbeda dengan Yuda, ia malah justru tertarik dengan hal itu.

Bukan karena berani, melainkan karena hanya penasaran saja.

Saat sejak kehadiran pria tua berjubah abu-abu itu datang, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat, seperti ada bara kecil yang terus menyala di dadanya.

“Jangan mendekat ke rumah itu,” kata ibunya tegas.

Yuda yang mendengar itu terlihat hanya mengangguk patuh.

Namun, lima menit kemudian, ia sudah terlihat sedang mengintip dari balik pohon pisang yang berada di dekat rumah kosong.

Guru Mahendra bukanlah orang yang ramah.

Saat pertama kali Yuda memberanikan diri mendekat, pria tua itu sedang menyapu halaman dengan gerakan lambat dan tidak efisien.

“Kalau mau mengintip, mengintiplah dengan benar,” kata Guru Mahendra tanpa menoleh.

Yuda pun terkejut. “Guru bisa lihat saya?”

“Aku bisa mencium bau singkong curian dari jarak dua puluh langkah,” jawab Guru Mahendra datar.

Yuda langsung refleks menutupi kantong bajunya.

“Masuk,” ucap Guru Mahendra.

“Atau pulang, aku juga tidak peduli.” lanjutnya.

Akhirnya, Yuda memilih untuk masuk.

Ia kemudian meminta Guru Mahendra untuk melatihnya, karena ia memiliki keinginan untuk menjadi kuat dan mampu membantu orang yang lemah.

Mendengar itu, Guru Mahendra mengangguk tanpa menolak, tanpa mendengar alasan Yuda yang lain, ia sudah tahu bahwa anak ini akan mampu merubah dunia bela diri di masa depan.

Dan sejak hari itu Yuda benar-benar resmi menjadi murid dari Guru Mahendra.

Latihan dimulai dengan hal yang sama sekali tidak terlihat seperti silat.

Hari pertama, Yuda disuruh menyapu halaman.

Hari kedua, mengangkut air dari sumur.

Hari ketiga, berdiri di bawah terik matahari sambil memegang kendi penuh air tanpa boleh bergerak.

“Ini latihan apa?” tanya Yuda sambil gemetar.

“Latihan tidak mati bodoh,” jawab Guru Mahendra datar.

Setiap kali Yuda mengeluh, hukumannya bertambah.

Tanpa terasa hari-hari pun berlalu dengan begitu cepat.

Anehnya, tubuh Yuda justru malah semakin kuat.

Ototnya terlihat semakin padat, serta napasnya menjadi lebih panjang, dan saat malam hari ia tidur seperti orang mati tanpa mimpi.

Guru Mahendra mengamati dalam diam.

"Tubuh Wadah, hanya saja isinya belum terbangun." batinnya.

Pada hari berikutnya, Guru Mahendra akhirnya mengajarkan sesuatu yang benar-benar terasa seperti silat.

Ia menyuruh Yuda berdiri di tengah halaman, membuat gerakan dengan kaki dibuka selebar bahu.

“Pukul aku,” kata Guru Mahendra.

Yuda hanya menelan ludah. “Guru… aku takut.” ucapnya.

“Bagus, takut itu tanda kau masih hidup.” jawab Guru Mahendra menggoda.

Yuda pun akhirnya memukulnya.

Pukulan itu mengenai dada Guru Mahendra.

Namun Yuda malah yang terpental.

Ia terlempar sejauh tiga langkah, jatuh terduduk dengan mata membelalak.

“Apa—” teriaknya terkejut.

“Tenaga mentahmu bocor ke mana-mana,” potong Guru Mahendra. “Kau seperti kendi retak yang diisi air sungai, banyak, tapi tak tersimpan.” lanjutnya.

Ia lalu menepuk tanah dengan tongkatnya.

“Duduk, tarik napas, dan dengarkan tubuhmu sendiri.” ucap Guru Mahendra dengan tegas.

Di situlah Yuda pertama kali merasakan aliran tenaga dalam mulai terasa mengalir.

Bukan seperti api atau angin seperti cerita orang-orang, tapi lebih mirip seperti aliran hangat yang lamban, mengalir mengikuti napasnya, berputar di perut, lalu menyebar ke anggota tubuh.

“Jangan dipaksa,” kata Guru Mahendra.

“Biarkan ia mengenalmu dulu.” lanjutnya.

Sejak hari itu, latihan Yuda pun mulai berubah setiap harinya, hingga tanpa terasa setahun telah berlalu.

Ia belajar pernapasan, ia belajar berdiri diam, ia juga belajar menahan lapar dan rasa sakit.

Dan tanpa sadar, ia mulai melampaui anak-anak seusianya.

Hingga sebuah masalah datang dari luar.

Desa Batu Tua berada di wilayah perbatasan antara dua klan kecil yaitu Klan Giri dan Klan Wasesa.

Selama bertahun-tahun, mereka hidup dalam ketegangan yang dingin, tanpa sebuah perang terbuka, tapi penuh dengan ancaman.

Suatu sore, sekelompok pemuda bersenjata datang ke desa.

Lambang di dada mereka jelas yaitu Klan Giri.

“Minggir,” kata pemimpin mereka. “Kami mencari seorang bocah bernama Yuda.”

Wira berdiri di depan rumahnya dengan wajah pucat. “Anakku tidak bersalah apa-apa, mengapa kau mencarinya?” ucapnya tegas.

“Kami tidak peduli,” jawab pria itu dingin.

"Ia dilaporkan memiliki tanda tubuh aneh, dan itu berada di wilayah kami.” lanjut pemimpin kelompok itu.

Yuda yang mengintip dari dalam rumah menggenggam tangan erat-erat.

Sebelum keadaan memburuk, terdengar suara tongkat Guru Mahendra mengetuk tanah.

Entah kapan ia datang, tidak ada yang satupun orang yang sadar, hanya Yuda yang mampu merasakan kedatangan Gurunya tersebut.

“Pergilah, jangan membuat keributan disini,” katanya singkat.

Mendengar itu, para pemuda Klan Giri malah tertawa.

Namun dalam satu napas kemudian, mereka sudah tergeletak di tanah, tidak terluka parah, tapi tidak mampu berdiri lagi.

“Desa ini bukan ladang perekrutan kalian,” lanjut Guru Mahendra.

“Dan bocah itu, dia adalah muridku.” ucap tegas Guru Mahendra.

Dan sejak hari itu, nama Yuda pun mulai berbisik di dunia luar.

Perubahan itu membuat takdirnya bergerak lebih cepat.

Malam itu, Guru Mahendra menatap langit dengan waktu yang lama sekali.

“Waktumu di desa ini tidak panjang, mungkin hanya beberapa tahun kedepan saja," katanya pada Yuda.

“Ke mana aku akan pergi nanti Guru?” jawab Yuda.

Guru Mahendra hanya tersenyum tipis.

“Ke tempat yang akan mencoba membunuhmu berkali-kali.” jawab Guru Mahendra selalu dengan nada yang datar.

Yuda pun akhirnya hanya berpikir sejenak lalu menjawabnya.

“Oh,” katanya polos.

“Berarti aku harus makan banyak mulai sekarang.” jawabnya dengan nada tak bersalah, sehingga membuatnya mendapat sebuah pukulan yang keras di kepalanya.

Pletakk...

"Auuwww.. Sakit Guru." teriak Yuda melompat berdiri sembari mengusap kepalanya yang di pukul tongkat kayu oleh Guru Mahendra.

Guru Mahendra di samping hanya mendengus, namun kini terlihat ada sedikit senyuman tipis muncul di wajahnya setelah sekian lama.

Meskipun terasa hanya sebentar dan seperti baru kemarin Yuda berlatih dengan Guru Mahendra, namun pada kenyataannya mereka berdua telah melewati hampir lima tahun bersama.

Namun meskipun begitu, Yuda sampai saat ini belum mampu menguasai tenaga dalamnya.

Hingga tanpa sadar, waktu untuk Yuda pergi dari Desa Batu akhirnya tiba.

......................

1
JUNG KARYA
/Coffee/
JUNG KARYA
mohon dukungannya teman-teman🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!