Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alexey Liebert
Alexey turun dari mobil sport hitam matte yang berhenti tepat di depan gerbang utama kampus. Ia melangkah keluar dengan gerakan terkendali, tapi wajahnya tetap dingin, tanpa senyum, tanpa tatapan ke sekitar. Matanya yang tajam, campuran abu-abu dingin Eropa dan garis Asia halus, langsung menyapu area gerbang.
Di antara kerumunan mahasiswa yang sedang berjalan ke kelas, bisik-bisik langsung menyebar.
“Siapa tuh yang baru masuk gerbang?” bisik salah satu mahasiswi sambil menarik lengan temannya, jarinya gemetar pelan karena excited.
“Gak tau, tapi kayak aktor film aja, campuran Eropa sama Asia gitu,” sahut yang lain, matanya tak berkedip dari sosok tinggi itu, bibirnya sedikit terbuka tanpa sadar.
“Tampan banget sih... kayak keluar dari manhwa,” timpal seorang lagi.
Alexey tak menoleh. Ia hanya menarik napas pendek. “Benar-benar merepotkan…” gumamnya pelan,
“Sialan, aku harus tampil di depan semua orang kayak gini…”
Ia adalah Alexey Liebert, putra tunggal Thomas Liebert, pewaris nama keluarga yang dikenal di kalangan elit global sekaligus dunia bayangan. Delapan tahun lalu, ibunya tewas di Bandara Internasional Incheon, sebuah tragedi yang sengaja disamarkan sebagai kecelakaan.
Sejak saat itu, ia memilih menghilang, tenggelam dalam operasi-operasi gelap. Dua tahun terakhir, ia memimpin pasukan mercenary ayahnya dengan tangan besi. Kini, ia kembali ke Icheon bukan untuk kuliah semata, ada sesuatu, atau seseorang, yang harus ia temukan di tempat ini.
Langkahnya panjang dan teratur menuju gedung administrasi.
Sampai di ruang rektor, pintu kayu mahoni tebal terbuka lebar. Rektor Minsook sudah berdiri di belakang meja besarnya.
“Selamat datang, Tuan Liebert! Sungguh kehormatan luar biasa bisa menerima siswa rekomedasi London di kampus kami yang sederhana ini,” serunya, suaranya menggelegar, tangan terulur untuk jabat tangan yang terlalu antusias.
Alexey hanya mengangguk tipis, tak menyentuh tangan itu. Ia tetap berdiri tegak, tangan di saku celana.
“Bagaimana perjalanan Anda? Apakah akomodasi yang kami siapkan cukup nyaman? Kamar itu memang bukan suite presiden, tapi kami pastikan standarnya layak untuk… tamu istimewa seperti Anda,” tanya Minsook lagi, tertawa kecil yang terdengar dipaksakan.
Alexey menatapnya datar. “Di mana ruang kelasku?” tanyanya dingin, langsung memotong obrolan.
Rektor tersentak sebentar, tapi cepat pulih. “Ruang kelas Tuan Liebert berada di Gedung Elite, lantai tiga, sayap barat,” jawabnya cepat, suaranya berusaha tenang. “Kalau Anda tidak keberatan… saya akan sangat senang mengantar Anda langsung ke sana.”
Alexey tak menjawab, hanya berbalik dan melangkah keluar. Minsook buru-buru menyusul, langkahnya setengah berlari untuk mengejar.
Mereka tiba di depan pintu kelas elite. Rektor membuka pintu dengan gestur dramatis.
“Selamat datang, Rektor Minsook… dan Tuan Liebert,” ucap Dosen Lisa dengan suara lembut penuh penghormatan.
Seluruh kelas langsung hening. Puluhan pasang mata tertuju pada Alexey, terutama para gadis yang saling bisik-bisik, tangan menutup mulut, mata berbinar.
“Eh, tau gak sih siapa sebenarnya cowok itu?” tanya Yubin pelan sambil menoleh ke temannya.
Sebelum temannya sempat menjawab, ia menghela napas panjang. “Gila… apa beneran ada pangeran kayak gitu di dunia nyata? Jangan-jangan dia datang buat jemput aku.”
“Yubin, diam!” bentak Haerim dengan suara rendah sambil mencengkeram pulpen. “Jangan ganggu konsentrasiku dengan omong kosong soal pangeran segala.”
Haerim Kang, putri cabang keluarga Kang yang ambisius, keponakan langsung Rektor Minsook. Hubungan mereka lebih politis daripada hangat. Sejak kecil, ia dididik untuk mendominasi, dan posisinya di kelas elite ini adalah takhta yang tak boleh diganggu.
Rektor melangkah maju, suaranya menggema. “Perkenankan saya perkenalkan,” ujarnya dengan nada penuh wibawa yang dibuat-buat. “Ini Tuan Alexey Liebert, mahasiswa baru yang direkomendasikan langsung oleh Universitas London. Mulai hari ini, ia akan bergabung dalam kelas elite ini.”
Alexey berdiri diam di depan kelas, tangan masih di saku, ekspresi tak berubah. Tatapannya menyapu ruangan sekali.
“Sepertinya dia jenius banget, ya…” gumam Haerim dalam hati, matanya menyipit tajam saat menatapnya. “Tapi nggak peduli seberapa pintar dia… aku nggak akan biarkan siapa pun merebut posisiku.”
“Silakan duduk, Tuan Liebert,” ucap Dosen Lisa dengan anggukan sopan, suaranya tenang namun tegas, tanpa embel-embel berlebihan.
Alexey bergerak tanpa kata. Ia melangkah ke bangku kosong di baris belakang, dekat jendela.
Rektor Minsook tersenyum lebar sekali lagi, lalu membungkuk sedikit. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga hari pertama Tuan Liebert menyenangkan.” Ia keluar dengan langkah cepat, pintu tertutup pelan di belakangnya.
Kelas kembali hening sesaat. Tatapan masih tertuju pada Alexey, tapi ia tak bereaksi. Hanya hembusan napas.
Di depan, Haerim menoleh sekilas ke belakang, mata mereka bertemu sepersekian detik. Alexey tak berkedip. Haerim yang pertama memutus kontak, bibirnya mengerucut tipis, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kelas elite kembali hening setelah lonceng berakhir. Dosen Lisa mengangguk sopan ke arah mahasiswa, merapikan map catatannya dengan gerakan presisi, lalu melangkah keluar ruangan tanpa sepatah kata pun lebih.
Tak lama, dari pojok ruangan Junhwan bangkit dari kursinya. Ia melangkah menghampiri bangku Alexey, dagu terangkat tinggi, senyum sinis terukir di bibirnya.
“Eh, anak baru,” seru Junhwan penuh sindiran, suaranya sengaja dikeraskan agar seluruh kelas mendengar. “Emangnya apa tujuanmu masuk kelas kita? Pengin pamer muka doang atau sok jadi bintang baru?”
Junhwan, putra salah satu donatur utama kampus, merasa kedatangan Alexey seperti tamparan langsung ke statusnya. Proses masuk kelas elite biasanya panjang, penuh koneksi dan ujian tersembunyi. Tapi orang ini? Muncul begitu saja.
Alexey tak langsung menjawab. Ia hanya mengambil tas ransel hitamnya dari lantai, seolah kehadiran Junhwan tak lebih dari hembusan angin.
“Enyah dari hadapanku,” perintah Alexey datar.
Wajah Junhwan langsung memerah. Tangannya keluar dari saku dan mengepal. “Berani sekali kau membentakku di depan semua orang!” bentaknya, langkahnya maju satu langkah lagi, hampir menyentuh bahu Alexey.
“Kamu kira ini tempatmu seenaknya ngasih perintah?”
Alexey akhirnya berbalik pelan. Matanya dingin, tak berkedip, menatap langsung ke pupil Junhwan. Tak ada amarah, hanya kontrol mutlak.
“Kamu butuh pelajaran sopan santun, anak baru,” ancam Junhwan lagi, giginya gemeretak, tangan kanannya terangkat setengah jalan seolah siap meninju. “Dan aku yang akan memberikannya untukmu.”
Dalam sekejap, Junhwan meluncurkan pukulan, tinju kanan lurus ke arah wajah Alexey.
Tapi Alexey sudah bergerak lebih dulu. Tubuhnya miring ke samping dengan efisiensi minimal, pukulan itu hanya menyapu udara kosong. Seketika, kakinya bergerak, tendangan tipuan cepat ke arah perut Junhwan, cukup kuat untuk membuat yang lain tersentak.
“Kalian berdua! Cukup!” teriak Haerim tiba-tiba dari baris depan. “Dasar bodoh. Bikin malu diri sendiri aja. Duduk. Sekarang.”
Haerim menatap Junhwan dengan mata menyala, bukan karena khawatir, tapi karena muak. Keributan ini pemborosan waktu, dan yang lebih buruk, membuat kelas elite terlihat seperti arena anak SMA.
Junhwan terdiam, napasnya tersengal. Ia mundur pelan. “Kalau bukan karena Haerim nyela, lehermu udah patah sekarang.”
“Konyol banget sih ngomong gitu,” seru Yubin tiba-tiba dari samping, suaranya penuh ejekan. Ia menyilangkan tangan, bibirnya melengkung sinis.
“Baru aja hampir terbang kena tendangan Alexey, malah sok jagoan ngancam-ngancam.”
Tawa kecil tertahan dari beberapa mahasiswi lain. Junhwan semakin memerah, tapi tak berani balas.
Alexey tak menunggu lagi. Ia menyampirkan tas ke bahu, melangkah melewati Junhwan tanpa menyentuhnya.