Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Confess
Jakarta baru saja diguyur hujan deras, menyisakan aspal yang berkilau di bawah lampu jalanan dan udara yang sedikit lebih bersih dari biasanya. Idris memarkir mobilnya di depan lobi apartemen Tia tepat pukul tujuh malam. Ia tidak mengenakan kemeja seperti biasanya, melainkan kaos putih santai dengan sepatu sneakers yang siap untuk diajak melangkah jauh.
Tia turun dengan wajah yang jauh lebih segar. Rambutnya tidak lagi diikat asal-asalan untuk menahan uap oven, melainkan digerai rapi dengan aroma sampo bunga yang lembut.
Dia juga tidak menggunakan apron atau baju acak-acakan tetapi saat ini dia menggunakan gaun panjang dengan lengan pendek yang diberi kemeja crop panjang warna putih. Penampilannya mencerminkan wanita yang feminim.
Rambut panjangnya juga tergerai. Penampilannya saat ini membuat Idris jatuh cinta. Entahlah Idris semakin tertarik setelah melihatnya.
Setelah Tia siap dengan penampilannya, mereka berdua Idris dan Tia keluar dari apartemen dan langsung masuk ke dalam mobil Idris.
"Kita mau ke mana, Dris?" tanya Tia sambil memasang sabuk pengaman. "Ke restoran mewah? Aku sebenarnya lagi pengen makanan yang nggak bikin aku mikir soal takaran gula atau suhu ruangan."
Idris menyalakan mesin mobil, senyumnya misterius. "Makan mewah itu biasa, Tia. Semua orang bisa ngerayain kesuksesan di atas meja dengan lilin. Tapi buat orang yang sudah berani 'terbang', kita butuh sesuatu yang lebih dekat sama langit."
Idris membawa Tia ke sebuah gedung tua di kawasan Jakarta Pusat. Bukan gedung perkantoran mewah, melainkan sebuah kompleks parkiran bertingkat yang bagian atasnya disulap menjadi area terbuka namun tersembunyi. Mereka tidak berhenti di restoran mana pun, melainkan naik hingga lantai paling atas, di mana hanya ada ruang terbuka dengan pemandangan 360 derajat ke arah cakrawala Jakarta.
Di sana, Idris sudah menyiapkan sesuatu yang sederhana namun luar biasa: sebuah karpet piknik, sebuah keranjang berisi makanan ringan (bukan brownies!), dan sebuah teleskop kecil yang diarahkan ke langit.
"Dris, ini... unik banget," Tia melangkah ke pinggir pagar pembatas, menatap lautan lampu Jakarta di bawahnya. "Rasanya kayak di Gunung Kidul, tapi versi lampu-lampu."
"Aku mau kamu liat Jakarta dari sini," Idris berdiri di sampingnya. "Kemarin kamu bilang Jakarta itu bikin sesak. Tapi liat dari sini, cantik kan? Semua kemacetan itu cuma jadi aliran cahaya. Sama kayak masalah kita; kalau liatnya dari jauh dan dari atas, semuanya jadi seni."
Mereka duduk bersila di atas karpet, menghirup udara malam yang sejuk. Idris membuka sebotol minuman soda dingin dan memberikannya pada Tia.
"Tia," panggil Idris pelan. "Selamat ya. Kamu beneran sudah jadi owner sekarang. Crumbs & Clouds bukan cuma mimpi lagi."
Tia menyesap minumannya, matanya menatap kerlap-kerlip gedung Sudirman. "Makasih, Dris. Tapi jujur, aku nggak bakal sampai di titik ini kalau nggak ada kamu yang selalu ada buat aku bahkan saat aku merasa insecure. Kamu yang ngajarin aku kalau ketakutan itu cuma ilusi sebelum kaki kita lepas dari tanah."
Idris terdiam sejenak, memutar-mutar botol di tangannya. Suasana mendadak berubah dari euforia kesuksesan menjadi sesuatu yang lebih intim dan tenang.
"Tahu nggak, Tia? Pas kamu lagi sibuk di dapur kemarin, pas aku liat kamu kerja keras sampai lupa tidur demi pesanan itu... aku ngerasa ada yang beda," Idris menatap Tia dengan saksama.
Tia menoleh, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat bukan karena adrenalin kafein. "Beda gimana?"
"Aku mengenalmu tidak cukup lama. Kita bertemu saat di jogja waktu itu.Tapi saat kamu menganggap ku sebagai teman dan menjadi tempat untuk bercerita membuatku merasa seperti" Idris masih berpikir dengan keras.
Tia balik menatap Idris dan bertanya padanya "seperti apa?"
"Entahlah. Tapi liat kamu punya determinasi sebesar itu buat mimpi kamu, liat kamu berani lepas dari zona nyaman... itu bikin kamu kelihatan sangat... bersinar," Idris tertawa kecil, sedikit malu mengakui perasaannya. "Aku nggak pernah bilang ini, tapi aku sebenernya takut kalau kamu sukses."
Tia mengernyitkan dahi. "Takut aku sukses? Kenapa?"
"Aku takut kalau kamu sudah sukses, kamu bakal lupa kalau ada aku yang masih di bawah sini, cuma jadi penonton," Idris menunduk. "Aku takut kehilangan teman kalau kamu sudah terlalu sibuk jadi bos besar."
...----------------...
Tia meletakkan minumannya di atas karpet. Ia mendekat ke arah Idris, memangkas jarak di antara mereka. Angin malam menerbangkan beberapa helai rambutnya ke wajah.
"Dris, liat aku," pinta Tia lembut.
Idris mengangkat wajahnya.
"Pas kita di atas Gunung Kidul, siapa yang pegang tangan aku pas aku gemetar?" tanya Tia. "Siapa yang teriak paling kencang buat nyemangatin aku pas aku ngerasa mau jatuh? Itu kamu. Nggak peduli seberapa tinggi aku terbang, aku nggak akan pernah lupa siapa yang ngasih aku sayap."
Tia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan namun mantap. "Dan soal 'bersinar' itu... aku juga ngerasa hal yang sama. Setiap kali aku liat kamu dukung aku tanpa syarat, setiap kali kamu ada di depan pintu apartemen aku bawa kopi pas aku lagi capek... aku ngerasa, dunia ini nggak seserem itu karena ada kamu."
Mata mereka bertemu di bawah temaram cahaya kota. Tidak ada lagi suara bising klakson atau deru mesin yang terdengar; hanya ada hembusan angin malam yang menjadi saksi.
"Aku tertarik sama kamu, Tia. Bukan cuma sebagai teman, tapi sebagai... seseorang yang pengen aku temani selamanya, i want you to be my girlfriend." ucap Idris akhirnya, kalimat yang sudah ia simpan sejak perjalanan pulang dari Jogja.
Tia tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Idris lihat. "Aku juga, Dris. Selama ini aku pikir aku cuma suka petualangannya. Ternyata, aku lebih suka petualangannya karena ada kamu di samping aku dan aku terima kamu sebagai pacar aku."
"Jadi kita pacaran sekarang?"
"Yessssss" seru Tia.
Idris kemudian bangkit, mencoba mencairkan ketegangan emosional yang manis itu dengan mengajak Tia ke arah teleskop.
"Ayo, liat sini," Idris mengarahkan Tia untuk mengintip ke lensa teleskop. "Kamu liat bintang yang paling terang itu?"
Tia mengintip. "Iya, kelihatan jelas banget. Cantik."
"Itu planet Venus. Orang bilang itu bintang fajar, simbol harapan baru. Aku sengaja bawa kamu ke sini supaya kita bisa liat itu," jelas Idris sambil berdiri di belakang Tia.
"Petualangan kita di Jogja itu pembuka jalan agar rasa takutmu perlahan hilang. Bisnis brownies kamu itu perjalanan kedua dari dirimu. Dan malam ini... malam ini adalah hari bahagia buat kita berdua karena telah merasakan perasaan yang sama."
Tia berbalik, menatap Idris dengan mata berbinar. "Jadi, setelah ini apa? Kamu bakal tetep jadi 'asisten' bos brownies atau kamu punya petualangan lain?"
Idris merangkul bahu Tia, menariknya lebih dekat. "Aku bakal tetep jadi penguji rasa nomor satu kamu, kurir darurat kamu, dan orang pertama yang bakal narik kamu lagi kalau kamu mulai takut buat ngelakuin hal baru. Kita harus bareng-bareng terus, ya?"
Tia mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Idris. Di atas atap gedung tua itu, di tengah kerasnya Jakarta, mereka menemukan sesuatu yang lebih manis dari brownies mana pun: sebuah komitmen yang lahir dari keberanian untuk saling mengakui rasa.
"Idris sebenarnya aku mau mendaki gunung merbabu. Bisakah kamu menemaniku minggu depan untuk mendaki kesana bersama" Tia bertanya pada Idri, jemarinya saling bertaut. Dia takut ditolak oleh idris.
Idris melihat Tia yang menautkan jari jemarinya "Kita bisa kesana mungkin di hari Jum'at kita akan berangkat dan ngecamp untuk melihat sunrise. Dan aku akan meminta ijin kepada orang tuamu untuk hal ini." Dia meraih tangan Tia dan menggenggamnya.
"I love you Idris" Idris tersenyum bahagia "I love you too" jawabnya.
...----------------...
Saat mereka berjalan kembali ke mobil, Idris menggenggam tangan Tia dengan erat. Tidak ada lagi keraguan. Jakarta tidak lagi terasa seperti labirin yang menyesakkan bagi Tia. Dengan Idris di sampingnya, Jakarta adalah sebuah panggung besar yang siap mereka taklukkan bersama.
"Dris," panggil Tia saat mereka sudah di dalam mobil.
"Ya?"
"Makasih ya buat perayaannya. Ini jauh lebih bagus daripada makan malam di restoran bintang lima."
Idris menghidupkan mesin, menoleh ke arah Tia, dan mengecup keningnya dengan lembut. "Sama-sama, Anything for you".
Malam itu, Tia pulang bukan hanya sebagai seorang pengusaha yang sukses, tapi sebagai seorang wanita yang akhirnya menemukan tempat mendarat yang paling nyaman: di hati seseorang yang selalu mendukung sayapnya.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada