NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:995
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Galen

Hujan badai menghantam Jakarta dengan amukan yang jarang terjadi. Akhir-akhir ini cuaca memang sedang tidak bersahabat. Petir menyambar silih bergantian, menerangi pilar-pilar beton mansion Gemilar dengan kilatan putih yang menyeramkan. Di dalam kamar utama yang luas, Shabiya duduk meringkuk di atas sofa beludru, memeluk lututnya sendiri. Ia masih mengenakan baju tidur sutra tipis, matanya menatap kosong ke arah pintu yang terkunci.

Galen belum pulang. Biasanya, deru mesin mobilnya sudah terdengar sejak pukul sepuluh malam, namun jarum jam kini sudah merangkak menuju angka dua pagi. Ada kegelisahan aneh yang merayap di dada Shabiya, sebuah perasaan yang ia benci karena seharusnya ia merasa lega saat sang pemilik sangkar emasnya tidak ada di rumah. Namun, di rumah sebesar dan sesunyi ini, keberadaan Galen adalah satu-satunya hal yang memberikan ritme pada hidupnya.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari lantai bawah, disusul oleh suara kaca pecah yang memekakkan telinga. Shabiya tersentak. Ia berlari ke arah pintu dan mencoba memutar gagangnya. Anehnya, pintu itu tidak terkunci dari luar seperti biasanya. Mungkin Arsen sedang lengah, atau mungkin badai ini telah mengganggu sistem pengamanan elektronik mansion.

Shabiya melangkah keluar dengan hati-hati. Koridor lantai dua remang-remang, hanya diterangi oleh lampu dinding yang berkedip karena tegangan listrik yang tidak stabil. Ia menuruni tangga melingkar, langkah kakinya yang telanjang nyaris tidak bersuara di atas marmer dingin.

Di aula utama, ia menemukan pemandangan yang menghancurkan citra sang pemilik kegelapan.

Galen ada di sana, terduduk di lantai dekat meja bar granit yang mahal. Botol wiski Macallan yang harganya bisa menghidupi satu keluarga selama setahun pecah berkeping-keping di sekitarnya. Cairan amber itu membasahi karpet persia, aromanya yang tajam memenuhi ruangan.

Jas Galen sudah hilang entah ke mana. Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, ternoda oleh minuman dan tetesan darah dari tangan kanannya yang terluka akibat serpihan kaca. Pria yang biasanya tampil tanpa cela, yang setiap helai rambutnya diatur dengan presisi, kini tampak seperti reruntuhan sebuah monumen.

"Galen?" bisik Shabiya ragu.

Pria itu mendongak. Matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena duka yang begitu pekat hingga Shabiya bisa merasakannya dari jarak beberapa meter. Galen menatap Shabiya, namun tatapannya tampak kabur, seolah ia sedang melihat menembus raga Shabiya menuju dimensi lain.

"Kau..." Galen bergumam, suaranya serak dan hancur. "Kau datang lagi..."

Shabiya mendekat perlahan, menghindari pecahan kaca. Ia berlutut di samping Galen. Saat tangannya menyentuh bahu pria itu, Galen tersentak, lalu tiba-tiba menarik Shabiya ke dalam pelukan yang sangat erat, begitu erat hingga Shabiya sulit bernapas.

"Jangan pergi lagi," isak Galen. Ya, pria yang ditakuti oleh seluruh bursa saham itu sedang terisak di bahu Shabiya. "Aku sudah membangun semuanya... aku sudah memberikan segalanya... kenapa kau meninggalkanku di tengah api itu?"

Shabiya membeku. Ia tahu pelukan ini bukan untuknya. Ia tahu kata-kata ini bukan ditujukan pada Shabiya Sena Cantara. Namun, melihat pria yang selama ini begitu angkuh dan kejam menjadi serapuh ini, sesuatu di dalam hati Shabiya patah. Rasa bencinya untuk sejenak terkalahkan oleh rasa iba yang mendalam.

"Aku di sini, Galen. Tenanglah," bisik Shabiya, tangannya tanpa sadar mengusap tengkuk Galen, mencoba menenangkan badai di dalam jiwa pria itu.

"Thana..." Galen menggumamkan nama itu dengan suara yang begitu perih, seolah setiap suku katanya adalah belati yang menyayat lidahnya. "Maafkan aku... Thana, maafkan aku karena tidak bisa menarikmu keluar... Maafkan aku karena aku masih hidup sementara kau menjadi abu..."

Shabiya memejamkan mata, membiarkan air matanya sendiri jatuh. Ia merasa seperti seorang penipu yang sedang memberikan kenyamanan palsu, namun ia tidak tega melepaskan pelukan itu. Ia menuntun Galen untuk berdiri, memapah tubuh pria itu yang jauh lebih besar darinya menuju sofa panjang di ruang keluarga.

Dengan telaten, Shabiya mengambil kotak pertolongan pertama. Ia membersihkan luka di tangan Galen. Pria itu tidak meringis sedikit pun saat alkohol menyentuh lukanya, matanya tetap terpaku pada wajah Shabiya dengan binar pemujaan yang menyakitkan.

"Kau terlihat sangat cantik malam ini," bisik Galen, jemarinya yang terbalut perban mengusap pipi Shabiya. "Jangan pernah pakai warna lain selain merah... merah mengingatkanku pada hari kita berjanji untuk bersama selamanya."

Shabiya terdiam. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Thana, namun dari igauan Galen, ia mulai menyusun kepingan tragedi itu. Sebuah kebakaran. Sebuah kegagalan untuk menyelamatkan. Galen bukan hanya seorang mafia yang posesif, dia adalah seorang penyintas yang menderita survivor's guilt yang akut. Dia tidak mencintai Shabiya, dia sedang menghukum dirinya sendiri dengan mencoba menghidupkan kembali orang yang gagal ia selamatkan.

"Tidur lah, Galen. Ini sudah sangat malam," ucap Shabiya lembut.

Galen meraih tangan Shabiya dan menciumnya berkali-kali. "Jangan tinggalkan aku, Thana. Berjanjilah... kau tidak akan kembali ke dalam api itu."

"Aku berjanji," bohong Shabiya. Hatinya terasa berat seperti timah.

Galen akhirnya tertidur karena pengaruh alkohol dan kelelahan emosional yang luar biasa. Shabiya tetap duduk di sampingnya, menjaga pria itu hingga fajar mulai menyingsing dan badai di luar mereda.

Saat matahari mulai menunjukkan sinarnya, Galen terbangun, topengnya kembali terpasang sempurna. Ia duduk di meja makan dengan jas yang rapi, seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Ia hanya melirik tangan kanannya yang terbalut perban rapi hasil kerja Shabiya.

"Arsen bilang kau membantuku semalam," ucap Galen tanpa menatap mata Shabiya.

"Kau terluka, Galen. Dan kau... kau tampak sangat menderita," jawab Shabiya pelan.

Galen menghentikan gerakannya saat memegang cangkir kopi. Ia menatap Shabiya dengan tatapan tajam yang biasa, namun ada sisa-sisa kerentanan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Lupakan apa pun yang kau dengar semalam. Itu hanya omong kosong orang mabuk."

"Kau menyebut namanya berkali-kali. Kau meminta maaf padanya."

Galen meletakkan cangkirnya dengan dentuman keras. "Aku bilang lupakan, Shabiya!"

Namun, meski Galen membentaknya, Shabiya tidak lagi merasa setakut dulu. Ia telah melihat apa yang ada di balik dinding beton itu. Ia melihat seorang anak laki-laki yang ketakutan dan penuh rasa bersalah yang bersembunyi di balik jubah penguasa kegelapan.

Pikiran Shabiya mulai terombang-ambing. Mungkin, pikirnya, jika dia bisa membantunya sembuh dari lukanya, dia akan berhenti melihat dirinya sebagai Thana. Mungkin dia akan mulai melihat dirinya sebagai Shabiya.

Ini adalah awal dari kesalahan terbesar Shabiya. Rasa ibanya membutakannya dari fakta bahwa Galen adalah seorang penguasa dan seorang penguasa tidak akan pernah berhenti membangun dunianya sampai dunianya itu sempurna, tak peduli berapa banyak material hidup yang harus ia korbankan. Shabiya mulai memberikan hatinya pada sebuah bayangan, tanpa menyadari bahwa di mata Galen, dia tetaplah hanya sebuah wadah untuk menampung duka yang tak berujung.

Shabiya merasa ada secercah harapan semu, wanita itu mulai menggantungkan harapannya.

Sementara Galen tidak mendapatkan efek apa-apa dari yang terjadi semalam, pria itu berdiri di ruang kerjanya yang gelap, menatap foto Thana dan berbisik pada keheningan, "Hampir, Thana. Sedikit lagi, dia akan benar-benar menjadi dirimu."

1
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!