"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Puncak Dendam Adicandra
Di dalam bunker yang remang-remang seperti diskotik, Alana berdiri terpaku di sudut ruangan.
Dari luar terdengar suara mesin las yang mencoba menjebol pintu baja tempatnya bersembunyi.
Jantungnya berdegup lebih kencang, namun tangannya tetap stabil memegang tiga jarum suntik.
BRAKKK!
Ketika pintu baja itu akhirnya terbuka dengan cukup keras, debu langsung berhamburan menutupi pandangan.
Tiga orang pria bersenjata langsung merangsek masuk dengan senter kecil yang menyorot ke segala arah.
"Kita harus cepat cari gadis itu dan habisi ayahnya!" teriak salah satu penyusup dengan suara tegas.
Alana tanpa membuang waktu langsung bergerak cepat di bawah bayang-bayang kegelapan yang ia kuasai.
Saat penyusup pertama melintas di dekatnya, Alana keluar dari persembunyian secepat kilat.
Ia memutar tubuh musuh, menjepit lengannya, dan langsung menusukkan suntik tepat ke pembuluh vena lehernya.
Pria itu bahkan belum sempat berteriak, tubuhnya terlebih dahulu ambruk lemas karena cairan pelumpuh saraf.
Dua penyusup lainnya langsung menoleh kaget, namun Alana dengan cerdiknya berguling ke meja medis.
Ia lalu menendang sebuah tabung oksigen hingga menggelinding keras, mengecoh perhatian mereka.
Dalam satu gerakan akrobatik, Alana melompat dan menusukkan dua jarum suntik sekaligus ke lengan masing-masing musuh.
Dalam hitungan detik, mereka langsung tersungkur hingga tak mampu menggerakkan badannya sedikit pun.
Alana mengatur napasnya yang tersengal. Setelah berhasil melumpuhkan tiga penyusup itu, ia tidak lagi bisa berdiam diri.
Alana langsung memindahkan ayahnya ke sudut paling aman di dalam bunker dan menyelimutinya dengan kain medis.
Kemudian, ia mengambil jas hitam milik salah satu musuh yang pingsan untuk menyamarkan identitasnya.
Alana menyambar kunci mobil cadangan dan keluar dari dalam bunker tersembunyi itu.
Ia menyetir mobil dengan kecepatan gila seperti orang kesetanan, mengikuti titik koordinat GPS yang dikirimkan Raden sebelumnya.
Ia harus menyusul dan ada di sana, bukan hanya sebagai seorang kekasih yang menunggu untuk diselamatkan.
Tapi juga sebagai saksi kehancuran orang-orang yang telah menyentuh keluarganya.
Sementara itu di depan gedung tua yang terbengkalai, suasana begitu tegang sudah menyerupai medan perang.
Arsenio Adicandra berdiri gagah di bawah guyuran hujan, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk.
Tiba-tiba dari arah kegelapan muncul suami Nadia sekaligus rival bisnis lama Arsenio, Tuan Gunawan Tanujaya.
"Wow, Arsenio Adicandra... Lama tidak jumpa. Oh ya, bagaimana rasanya tidur belasan tahun dengan wanita yang salah?" ejek Gunawan.
Arsenio mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, amarahnya sudah memuncak.
"Bangsat! Jadi kau yang merencanakan semua ini? Kau menukar istriku dengan Arista?" suara Arsenio terdengar mematikan.
"Hhhhh... bener sekali itu semua rencanaku. Aku sengaja mengirim Arista dan mengambil istrimu yang asli untuk menghancurkanmu dari dalam," balas Gunawan.
"Kau begitu angkuh dengan kejayaan Adicandra, sampai kau tak sadar istrimu sendiri telah ditukar. Pria bodoh."
Tidak ingin mendengar omong kosong rival papanya, Raden langsung bergerak masuk ke dalam gedung dengan amarah yang sudah meledak.
Ia langsung menendang pintu kayu yang sudah rapuh dimakan usia itu hingga hancur.
Kakinya melangkah mantap di atas beton becek.
Saat menyisir koridor dengan senapan laras panjangnya, ia siap menembak siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Saat barikade musuh tiba-tiba muncul dari balik pilar, Raden spontan berguling mencari perlindungan sambil membalas tembakan.
Tak pernah ia duga sebelumnya, tiba-tiba sebuah mobil menghantam gerbang masuk gedung dengan sangat keras.
BRAKKK!
Alana keluar dari dalam mobil itu dan menembak seorang pria yang hampir menembak punggung Raden.
Raden dibuat speechless akan kehadiran tunangannya yang nekat itu.
Dengan panik ia segera menarik Alana untuk bersembunyi di balik pilar.
"Kamu... kamu gila! Kenapa kamu bisa ada di sini, Alana?" teriak Raden khawatir di tengah bisingnya peluru.
"Aku tunanganmu! Tempatku adalah di sampingmu, dalam hidup maupun mati! Jadi mari kita hadapi bersama semua ini!" tekan Alana berani.
Setelah Alana mengucapkan itu, Raden langsung memeluk dan mencium keningnya dengan sangat dalam seolah itu adalah janji suci bagi mereka.
"Baik, kita akan menghadapi ini semua bersama. Tapi ingat, kamu harus tetap di belakangku dan jangan pernah melepaskan tanganku sedikit pun," bisik Raden dengan suara rendah.
Di lantai atas gedung tua yang lembap, Arista menatap Mama Raden yang asli dengan penuh iri dengki.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Kak, hmm? Masih tidak percaya kalau selama belasan tahun ini aku yang memeluk dan memanjakan suamimu?" tanya Arista sambil menjambak rambut kakaknya.
"Hidupmu terlalu enak sejak kecil. Kau selalu menjadi kesayangan Papa. Kau cantik, kau pintar, dan kau mendapatkan Arsenio Adicandra, pria yang kucintai sejak lama."
"Kau merebut segalanya dariku!" teriak Arista tepat di wajah Mama Raden yang lemah.
"Sedangkan aku? Selalu menjadi bayanganmu! Semua... semua orang memujimu."
"Bahkan aku harus membuang identitasku dan melakukan operasi plastik agar benar-benar menjadi dirimu."
"Tapi aku sangat puas. Arsenio ternyata pria yang mudah dikelabui."
"Dia tidak pernah tahu kalau wanita yang dicintainya sedang membusuk di gedung kotor ini," tawa Arista pecah seperti orang gila.
Nadia yang berdiri di sampingnya ikut tertawa sinis, lalu beralih menatap wanita paruh baya lainnya yang terikat di sudut ruangan dalam kondisi sangat mengenalkan—itu adalah Ibu Alana.
"Dan untuk kau, wanita miskin," ucap Nadia sambil menampar pipi Ibu Alana.
"Lihatlah dirimu sekarang. Kau sama rendahnya dengan putrimu yang tidak tahu diri itu."
"Berani-beraninya dia bermimpi menjadi bagian keluarga Adicandra. Apa dia pikir ini dongeng Cinderella?"
"Keluarga kalian itu sampah. Harusnya kalian itu sadar diri, sadar posisi, dan tidak perlu ikut campur urusan orang kaya."
"Sekarang lihat dirimu, kau akan mati di tempat kotor ini!" Nadia meludah ke lantai dengan jijik.
Tiba-tiba suara helikopter dan tembakan di lantai bawah semakin hebat hingga pintu ruangan ikut bergetar.
"Sudah saatnya, Arista. Pertunjukan utamanya akan segera dimulai," ucap Nadia angkuh.
BRAKKK!!
Pintu kayu besar itu hancur lebur dihantam tendangan maut dari Raden yang membawa amarah setinggi harapan orang tua.
Raden merangsek masuk dengan napas memburu, diikuti papanya Arsenio Adicandra.
Arsenio tampak seperti malaikat pencabut nyawa dengan pistol di tangannya.
Begitu sampai di dalam, langkah kaki mereka terhenti seketika melihat pemandangan di ruangan itu yang menghantam kewarasan mereka.
Raden mematung, menahan tangis juga dendam saat melihat Mamanya yang asli dijambak kasar oleh Arista.
Tidak jauh dari sana, Nadia berdiri dengan angkuh di atas Ibu Alana yang tergeletak lemah di lantai.
Amarah Raden seketika meledak hingga urat-urat di lehernya menonjol.
"BIADAB KALIAN! IBLIS!" teriak Raden menggelegar memenuhi ruangan lembap itu hingga debu-debu ikut berjatuhan.
"Lepaskan tangan kotor dari mamaku sekarang juga, Arista! Kau benar-benar wanita jalang yang tak punya harga diri. Murahan!"
Caci Raden dengan tatapan yang seolah ingin menguliti wanita itu hidup-hidup.
Di sampingnya, Arsenio Adicandra maju selangkah menatap Arista.
Menatap wanita yang selama belasan tahun menipunya dengan tatapan yang jauh lebih dingin dari es.
"Arista... kau menggunakan wajah suci istriku untuk memuaskan nafsu dan ketamakanmu."
"Kau sudah menodai rumah tanggaku dengan cara paling menjijikkan. Kau benar-benar wanita iblis tidak punya hati, seharusnya dirimu di neraka yang paling dalam!"
Desis Arsenio, setiap katanya penuh dengan penekanan yang mematikan.
Di tengah ketegangan itu, pintu samping terbuka. Tuan Gunawan melangkah masuk dengan santai, seolah baru saja ketemu janda kembang.
Ia langsung berdiri di samping Nadia dan merangkul pinggang istrinya itu dengan gaya tengil provokatif.
"Hahahhahh... selamat datang di akhir ceritamu, Arsenio Adicandra."
"Kau adalah pria paling bodoh karena terlalu sibuk dengan kejayaanmu sampai tak sadar kalau aku sudah menanamkan bom waktu tepat di dalam tempat tidurmu sendiri," ucap Gunawan sambil tertawa penuh kemenangan.
Raden tidak peduli dengan ocehan Gunawan. Matanya kini terkunci pada Aldo yang berdiri gemetaran, namun tangannya tetap menodongkan jarum suntik ke leher Mamanya.
"Dan kau, Aldo... apa yang kau lakukan, bangsat?! Kenapa... kenapa kau berkhianat kepada orang yang sudah menganggapmu saudara?!" tanya Raden penuh kekecewaan.
"Saudara? Jangan ngelawak, Raden!" Aldo tertawa keras hingga suaranya melengking tinggi.
"Aku muak melihatmu selalu dipuji! Aku muak melihatmu bisa mendapatkan segalanya; ketenaran, kekayaan!"
"Dan yang paling membuatku ingin membunuhmu adalah karena kau merebut Alana dariku! Sementara aku hanya dianggap kacung!"
"Hari ini, detik ini juga, aku akan menghancurkan segalanya yang kau cintai, Raden! Aku ingin kau merasakan bagaimana kehilangan banyak hal di hidupmu!"
Aldo mempererat cengkeramannya pada jarum suntik itu, siap menusukkannya.
Tepat sebelum Aldo menusukkan jarum suntik itu, Alana muncul di balik pintu yang hancur.
Wajahnya penuh jelaga, napasnya naik turun seperti harga bahan pokok.
Namun tangannya tetap kokoh menggenggam spuit medis yang mematikan.
"Aldo, lepaskan dia! Atau aku pastikan jarum suntik di tanganku ini yang akan menusuk jantungmu sebelum kau sempat menekan jarum suntik itu sedikit pun!"
Ancam Alana dengan suara sangat dingin.
Suasana di ruangan itu menjadi sangat mencekam.
Hanya ada tetesan air hujan dari atap yang bocor memecah keheningan di antara dua kubu yang siap saling menghabisi satu sama lain.
******
Catatan Penulis:
Gimana bab ini? Akhirnya kedok Arista dan Aldo terbongkar! 😱
Menurut kalian, hukuman apa yang pantas buat mereka? Tulis di kolom komentar ya!
Jangan lupa Like, Komentar, dan Vote supaya Author makin semangat lanjut ke bab pertempuran terakhir! Terima kasih! 🔥