Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalian cocok
Zahra dan Daniel langsung menyambut kedatangan mereka.
"Akhirnya kalian sampai juga. Aku kira kalian nggak jadi datang. Kok lama banget sih?"
Zahra dan Perlita saling berpelukan dan cipika cipiki. Sementara Nathan mengeluarkan belanjaan mereka tadi.
"Mana ada lama Ra. Kan ini baru jam delapan." Perlita melihat jam tangannya yang saat ini masih menunjukkan jam delapan malam.
"Eh, ini apa?" Tanya Zahra ketika Nathan mengeluarkan kantong belanjaan dari mobilnya.
"Buat teman kita malam ini, sudah jangan banyak tanya."
"Kamu ini yah Perl, nggak pernah berubah. Kalau berkunjung selalu saja membawa buah tangan." Zahra masih hafal dengan kebiasaan Perlita yang dulu setiap main ke rumahnya selalu membawa cemilan. Padahal saat itu kehidupan Perlita juga sulit.
"Kamu aja yang berlebihan Ra. Oh iya, mana keponakan aku Ra?"
"Mereka udah pada tidur Perl. Kamu sih datangnya lama jadi mereka udah pada tidur kan."
Sedangkan Daniel membantu Nathan membawa kantong belanjaan.
"Gimana Nat? Kalau lo nggak cepet nanti keduluan sama laki-laki lain lagi. Perlita ini seingat gue banyak sekali yang suka loh. Bahkan saat SMA aja banyak yang mengejar-ngejar cintanya Perlita. Apalagi sekarang kan, pasti banyak yang ingin menjadikan Perlita istrinya." Kata Daniel yang sudah tahu kalau sahabatnya menaruh hati ke Perlita. Daniel sengaja memanas-manasi Nathan agar sahabatnya itu cepat menyatakan cintanya.
"Pengennya sih mau langsung ngelamar Bro. Tapi Perlita ini agak susah, sepertinya dia mau menghindar dari gue gitu. Ini aja gue pepet dia terus. Takutnya Perlita belum mau menjalin hubungan lagi saat ini. Kan lo tahu sendiri belum lama ini Perlita dikhianati oleh orang terdekatnya. Pasti lukanya masih menganga. Apalagi yang mengkhianati dia adalah sepupu gue, takutnya dia nggak mau sama gue karena berpikir kalau gue sama dengan sepupu gue itu."
"Maka dari itu lo harus buktiin ke Perlita kalau lo berbeda dengan sepupu lo itu. Lo obati lukanya Perlita. Bikin Perlita percaya sama lo kalau lo itu adalah laki-laki yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya."
"Iya Bro, kalau begitu doakan gue yah. Semoga aja Perlita adalah jodoh gue."
"Pasti Bro. Gue akan selalu doakan kalian. Tapi lo harus gercep Bro, jangan sampai ditikung oleh laki-laki lain."
"Iya Bro." Nathan bertekad untuk meyakinkan Perlita dan memberikan Perlita kenyamanan saat bersama dirinya.
"Kita makan malam dulu yah. Perlita, kak Nathan, ayo duduk!" Ucap Zahra.
Mereka duduk di meja makan dan makan malam dengan diselingi obrolan dan candaan. Selesai makan malam mereka lanjut barbequean di halaman belakang rumah Zahra dan Daniel.
Daniel dan Nathan ke bagian tugas memanggang sedangkan Zahra dan Perlita bagian membuat minuman.
"Cie yang lagi deket sama Pak dokter." Zahra menggoda Perlita ketika mereka hanya berdua saja di dapur milik Zahra.
"Apaan sih Ra, kami hanya teman aja kok."
"Teman apa teman nih. Aku lihat tatapan Pak dokter itu berbeda loh saat natap kamu Perl. Aku yakin Pak dokter pasti udah jatuh cinta sama kamu. Udah sikat aja Perl. Pak dokter orangnya baik kok. Bang Daniel sudah lama loh kenal sama Pak dokter."
"Kamu pikir dia itu lantai apa pakai main sikat-sikat aja."
"Alah, bestie aku ini malah sok polos lagi. Kamu paham lah maksud aku Perl. Aku jamin hidup kamu akan bahagia jika kamu sama Pak dokter Perl. Percaya deh sama aku. Dia orangnya baik, penyayang dan bertanggung jawab loh. Orang tuanya juga baik dan ramah juga kok."
"Sok tahu kamu Ra, seperti udah kenal aja."
"Bang Daniel yang cerita sama aku. Setelah Bang Daniel ketemu kalian kemarin, Bang Daniel cerita soal Pak dokter yang sepertinya jatuh cinta sama kamu Perl. Terus aku kepo dong tentang Pak dokter ini. Jadi aku tanyain lah gimana Pak Dokter ini sifatnya. Terus Bang Daniel cerita sama aku gimana Pak Dokter ini sampai cerita tentang keluarganya juga. Dia itu jauh berbeda dengan mantanmu itu. Jadi aku dukung kamu deh Perl. Kamu itu berhak loh Perl dapat yang baik dan mencintai kamu dengan tulus. Yang pastinya harus setia Perl."
"Entahlah Ra. Aku merasa nggak pantes bersama kak Nathan. Aku sadar diri siapa aku dan siapa kak Nathan Ra. Rasanya lebih baik aku cari pasangan yang setara aja sama aku."
"Nggak boleh begitu ih Perl. Kamu kan juga tahu bagaimana aku dan Bang Daniel. Bahkan kehidupan ekonomi kami sangat berbeda tapi kamu lihat kan aku bahagia kok menikah dengan Bang Daniel. Semua keluarga Bang Daniel menerima aku dengan tangan terbuka. Mertua aku juga sangat menyayangi aku dan menganggapku seperti anaknya sendiri. Jadi stop berpikir kalau cari pasangan itu harus setara dengan kehidupan ekonominya. Karena nggak semua orang kaya itu jahat dan sombong kok. Mereka ada juga yang baik dan tidak mempermasalahkan status sosial Perl. Lebih baik kamu hilangkan pikiran negatif dan ketakutan kamu yang belum tentu seperti yang kamu bayangkan. Buktikan ke mantan brengsek kamu itu, kalau kamu bahkan bisa mendapatkan penggantinya yang jauh lebih baik dan juga kamu buktikan sama keluarga toxic kamu itu kalau kamu bisa tanpa mereka."
Perlita terdiam mencerna ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Zahra kepada dirinya. Perlita memang bertekad ingin membalas rasa sakit hatinya.
"Kalian itu cocok kok Perl. Percaya deh sama aku. Kamu akan hidup lebih bahagia kalau bersama dengan Pak dokter. Lagian kamu nggak bakalan susah kok untuk mencintai Pak dokter. Asalkan kamu mau membuka hati kamu," sambung Zahra ketika melihat Perlita yang hanya diam saja.
"Hufftt, iya Ra. Akan aku coba," balas Perlita pada akhirnya.
"Ayo kita bawa minumannya ke belakang."
Perlita dan Zahra pun ikut bergabung dengan Nathan dan Daniel yang masih sibuk dengan bakar-bakarannya.
"Nih cobain sayang." Kata Daniel membawakan hasil bakarannya untuk Zahra yang sudah duduk di Gazebo. Begitu juga dengan Nathan.
"Ayo dimakan Perl."
Mereka menikmati malam itu dengan saling bercerita dan juga bercanda. Sembari menghabiskan bakar-bakaran yang sudah Daniel dan Nathan siapkan.
"Ternyata enak yah suasana di rumah ini. Pasti betah deh berada di rumah yang desainnya sudah seperti Villa begini." Celetuk Perlita yang sangat menyukai desain Villa milik sahabatnya.
"Villa kak Nathan bahkan lebih bagus dari ini desain nya Perl. Apalagi ukurannya jauh lebih luas dari ini." Balas Zahra.
"Jadi kak Nathan punya Villa juga di Bali?" Tanya Perlita yang sedikit terkejut karena memang tidak tahu kalau Nathan saat ini tinggal di villa pribadinya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
🙏