Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PENGEPUNGAN VILA BERDARAH
Langit di atas perbukitan utara Kota A tertutup oleh awan mendung yang pekat, seolah alam pun tahu bahwa tanah ini akan segera dibasahi oleh darah. Vila tua keluarga Mahendra berdiri tegak di puncak bukit, dikelilingi oleh hutan pinus yang rapat.
Bangunan bergaya kolonial itu biasanya tampak anggun, namun malam ini, di bawah siraman cahaya lampu sorot yang dipasang oleh tentara bayaran Black Cobra, vila itu menyerupai benteng kematian yang angker.
Tiga kilometer dari sana, di dalam pusat komando berjalan—sebuah truk taktis berlapis baja—Alana berdiri di depan deretan layar monitor yang menampilkan citra termal vila. Ia tidak lagi mengenakan gaun perak yang menawan seperti di malam Gala. Kini, ia mengenakan seragam taktis berwarna hitam pekat yang melekat pas di tubuhnya, lengkap dengan rompi antipeluru dan sabuk senjata.
Rambut hitamnya diikat kuncir kuda yang rapi, menonjolkan garis rahangnya yang keras dan tatapan matanya yang sedingin es.
Arlan berdiri di sampingnya, mengenakan perlengkapan serupa.
Di pinggangnya tersampir pistol kustom dan sebuah pisau komando. "Pasukan Black Hawk sudah menyebar di empat titik mata angin. Tim pengalih perhatian akan mulai menekan gerbang utama dalam tiga puluh detik," kata Arlan, suaranya tenang namun penuh otoritas.
Alana menatap monitor kecil di sudut meja. Di sana, Luna duduk dengan headset besar, matanya yang tajam mengamati pergerakan angin dan kelembapan melalui sensor jarak jauh. "Mummy, sensor laser di halaman belakang sudah kumatikan. Ada celah selama lima menit sebelum sistem mereka melakukan reboot otomatis. Paman Leo sudah siap di sana," lapor Luna melalui jalur komunikasi pribadi.
Alana mengangguk. "Lukas, bagaimana dengan sistem komunikasi mereka?"
Lukas, yang berada di sebelah Luna, menyeringai sambil mengetik kode dengan kecepatan tinggi. "Aku sudah membajak frekuensi radio Black Cobra. Saat ini mereka hanya akan mendengar suara bising atau percakapan palsu yang kukirimkan. Mereka buta dan tuli, Mummy."
"Bagus. Bergerak sekarang," perintah Alana.
Di gerbang utama vila, sebuah ledakan kecil namun mengejutkan terjadi. Tim pengalih Arlan mulai melepaskan tembakan gas air mata dan peluru karet untuk memancing perhatian tentara bayaran. Suara teriakan dan tembakan menyalak, memecah kesunyian malam.
Sementara perhatian musuh tertuju pada gerbang depan, Alana dan Arlan bergerak melalui jalur hutan di belakang vila. Mereka bergerak tanpa suara, seperti dua predator yang telah lama mengintai mangsanya. Alana memegang senapan laras pendek dengan kemahiran yang mengejutkan Arlan. Ia bukan lagi wanita yang butuh dilindungi; ia adalah bagian dari unit tempur itu sendiri.
"Siapa yang mengajarimu cara memegang senjata seperti itu?" bisik Arlan saat mereka berlindung di balik batang pohon besar, hanya beberapa meter dari tembok luar vila.
"Instruktur di The Sovereign tidak mengenal kata 'lembut', Arlan. Selama lima tahun, aku menghabiskan lebih banyak waktu di lapangan tembak daripada di ruang bedah," jawab Alana tanpa mengalihkan pandangan dari penjaga di menara balkon.
Tiba-tiba, seorang anggota Black Cobra muncul dari balik semak-semak, mengarahkan senapan ke arah Alana. Sebelum Arlan sempat beraksi, Alana sudah lebih dulu menarik pelatuknya.
Puff! Suara peredam menyamarkan tembakan itu. Peluru tepat mengenai dahi lawan, membuatnya jatuh tanpa sempat bersuara.
Arlan menatap mayat itu sejenak, lalu menatap Alana. Ada rasa hormat yang mendalam, sekaligus sedikit ngeri melihat betapa efisiennya Alana dalam melenyapkan nyawa.
Mereka masuk melalui pintu evakuasi dapur yang sudah disabotase oleh Leo. Di dalam vila, bau kayu tua bercampur dengan bau mesiu yang samar. Alana memimpin jalan menuju ruang kerja kakeknya, tempat lift rahasia menuju laboratorium berada.
Namun, di lorong menuju ruang kerja, mereka dihadang oleh pimpinan Black Cobra—pria bertato dengan bekas luka di wajah yang ditemui Adrian tadi siang. Ia memegang senapan mesin ringan dan menyeringai saat melihat Arlan.
"Kaisar Bayangan... aku sudah menduga kau akan datang. Tapi membawa seorang wanita ke medan perang? Kau sudah mulai melunak, Syailendra," ejek pria itu.
Arlan melangkah maju, menghalangi tubuh Alana secara naluriah. "Melunak atau tidak, kau akan tahu jawabannya saat kepalamu terpisah dari tubuhmu, Viper."
"Coba saja!" Viper mulai menembak secara membabi buta.
Arlan dan Alana segera berpencar, berlindung di balik pilar marmer yang tebal. Serpihan marmer berhamburan saat peluru menghujani posisi mereka.
Dalam hitungan detik, Arlan melakukan gerakan akrobatik, meluncur di lantai sambil melepaskan tembakan balasan yang tepat mengenai bahu Viper.
Viper mengerang, namun ia adalah tentara bayaran yang tangguh. Ia menarik granat dari rompinya. Sebelum ia sempat mencabut pin-nya, sebuah tendangan putar yang sangat cepat dari samping menghantam pergelangan tangannya. Itu Alana.
Alana tidak berhenti di sana. Ia melakukan serangkaian serangan bela diri jarak dekat yang brutal—kombinasi antara silat dan krav maga. Ia memukul titik-titik saraf Viper, membuatnya lumpuh dalam hitungan detik. Alana mengakhiri serangannya dengan menekan lututnya ke leher Viper yang tersungkur di lantai.
"Di mana Adrian?" tanya Alana, suaranya sedingin es kutub.
Viper tersedak, matanya melotot menatap mata Alana yang tidak memiliki belas kasihan. "D-di bawah... dia sudah membuka bunker... kalian terlambat..."
Alana meningkatkan tekanan lututnya hingga Viper pingsan. Ia bangkit, merapikan rompi taktisnya seolah tidak terjadi apa-apa. Arlan menatapnya dengan alis terangkat. "Krav Maga? Kau benar-benar penuh kejutan, Alana."
"Simpan pujianmu untuk nanti. Kita harus mencapai lift itu," sahut Alana.
Di ruang kerja kakek Mahendra, mereka menemukan rak buku besar yang sudah digeser secara paksa. Sebuah pintu lift baja modern yang sangat kontras dengan desain klasik vila itu terbuka lebar. Alana melangkah masuk, diikuti oleh Arlan. Lift itu turun dengan kecepatan tinggi menuju kedalaman empat puluh meter di bawah tanah.
Saat pintu lift terbuka, mereka disambut oleh bau bahan kimia dan udara yang sangat dingin. Laboratorium itu luas, dipenuhi dengan tabung-tabung kaca raksasa berisi cairan hijau neon yang menerangi ruangan.
Di tengah-tengah laboratorium, Adrian Mahendra berdiri di depan sebuah komputer pusat, wajahnya tampak gila di bawah sinar monitor.
Ia sedang memegang sebuah botol kecil berisi cairan berwarna perak murni—Formula Teratai.
"Berhenti di sana, Adrian!" teriak Alana.
Adrian berbalik, tertawa histeris saat melihat Alana. "Aura! Kau benar-benar Aura! Aku tahu itu! Hanya kau yang bisa menembus sistem keamanan kakekmu secepat ini!"
"Letakkan botol itu, Adrian. Kau tidak tahu apa yang kau pegang. Itu bukan hanya sekadar obat, itu adalah warisan yang tidak boleh disalahgunakan," kata Alana sambil menodongkan senjatanya.
"Warisan?! Ini adalah kekuasaan, Aura! Ini adalah kunci agar aku tidak pernah lagi merangkak di bawah bayang-bayang kakek atau bayang-bayang Arlan Syailendra!" Adrian mengangkat botol itu tinggi-tinggi. "Satu langkah lagi, dan aku akan menghancurkan botol ini! Jika aku tidak bisa memilikinya, maka dunia pun tidak boleh!"
Arlan tetap waspada, tangannya berada di dekat pemicu senjatanya. "Adrian, vila ini sudah dikepung. Black Cobra sudah habis. Kau tidak punya jalan keluar."
"Aku punya jalan keluar yang lebih baik daripada penjara!" Adrian mulai mengetik perintah di komputer pusat. "Sistem penghancuran diri sudah diaktifkan. Dalam tiga menit, laboratorium ini akan meledak dan terkubur selamanya bersama kita semua!"
Lampu peringatan merah mulai berputar di seluruh laboratorium, diiringi suara sirine yang memekakkan telinga.
Alana tidak panik. Ia justru menurunkan senjatanya dan menatap Adrian dengan pandangan merendahkan. "Kau pikir kau sudah menguasai sistem ini, Adrian? Kau lupa siapa yang membantu kakek merancang algoritma biometrik ini saat aku masih remaja."
Alana menyentuh pergelangan tangannya, mengaktifkan alat pemancar dari Lukas. "Lukas, sekarang!"
Di monitor pusat, wajah gila Adrian tiba-tiba tergantikan oleh wajah Lukas yang tersenyum tenang. "Maaf, Paman Adrian. Perintah 'Self-Destruct' Anda telah dialihkan ke sistem pemadam kebakaran. Selamat menikmati mandimu."
Tiba-tiba, sistem sprinkler di atas kepala mereka menyemburkan air dengan deras. Adrian tertegun, botol perak itu hampir terlepas dari tangannya karena licin.
Dalam sekejap mata, Arlan melesat maju. Ia mencengkeram tangan Adrian, memuntir pergelangan tangannya hingga botol itu jatuh.
Alana dengan sigap menangkap botol perak itu sebelum menyentuh lantai.
Arlan menghantamkan wajah Adrian ke meja besi, lalu memborgol tangannya ke belakang dengan kasar. Adrian berteriak penuh kemarahan dan keputusasaan, namun ia tidak bisa melawan kekuatan Arlan.
Alana berdiri tegak, memegang botol Formula Teratai itu dengan tangan gemetar. Ia menatap botol itu, lalu menatap Adrian yang kini tersungkur di lantai, basah kuyup dan kalah.
"Ini berakhir sekarang, Adrian," bisik Alana. "Kau ingin kekuasaan, tapi kau justru kehilangan kemanusiaanmu. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu melihat bagaimana aku membangun kembali apa yang kau hancurkan."
Arlan berdiri di samping Alana, menatap botol di tangannya. "Apa yang akan kau lakukan dengan formula ini?"
Alana menyimpan botol itu di saku rahasia rompinya. "Menyimpannya sampai dunia siap untuk menerimanya. Tapi untuk sekarang... kita punya tugas lain."
Alana menoleh ke arah kamera pengawas di sudut ruangan, tahu bahwa Lukas dan Luna sedang menonton. "Anak-anak, panggil tim pembersihan. Beritahu polisi bahwa kita punya bukti tambahan untuk kasus pembunuhan berencana lima tahun lalu."
Saat mereka meninggalkan laboratorium yang mulai dipenuhi oleh pasukan Black Hawk, Alana merasakan beban besar terangkat dari jiwanya. Namun, ia tahu bahwa ini barulah akhir dari satu bab. Dengan Formula Teratai di tangannya, ia baru saja memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.