NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. PERMAINAN KEKUASAAN

..."Ketika terjepit oleh serigala di kanan dan harimau di kiri, satu-satunya jalan adalah melompat ke atas."...

...---•---...

Van der Berg melangkah mendekat, sepatu kulitnya menginjak tanah kering dengan suara lembut. "Leiden itu bajingan. Dia tidak peduli pasien. Dia hanya peduli kekuasaan dan uang." Dia menatap Doni dengan mata yang lebih tajam dari biasanya. "Tapi dia juga punya pengaruh. Jika dia laporkan kau, kau selesai."

"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Doni, frustrasi mulai meluap seperti air mendidih. "Jadi budaknya? Jadi boneka?"

"Tidak," Van der Berg menggeleng tegas. "Kau cari perlindungan yang lebih tinggi."

"Lebih tinggi dari dokter pemerintah?"

Van der Berg tersenyum tipis, tapi matanya serius. "Residen. Kepala pemerintahan kolonial untuk seluruh wilayah. Dia di atas Leiden. Jauh di atas."

"Dan kenapa Residen mau lindungi saya?"

"Karena istrinya sakit," jawab Van der Berg langsung, tidak ada jeda, tidak ada ragu. "Sakit parah. Sudah bertahun-tahun. Leiden tidak bisa menyembuhkannya. Tidak ada yang bisa." Dia menatap Doni tajam. "Tapi mungkin kau bisa."

Doni terdiam. Permainan semakin besar. Semakin berbahaya. Seperti kartu domino yang semakin tinggi tumpukannya, satu kesalahan dan semuanya runtuh.

"Aku bisa atur pertemuan," lanjut Van der Berg, suaranya turun setengah nada. "Tapi kau harus yakin. Jika kau gagal, kau tidak hanya kehilangan praktik. Kau kehilangan hidup."

"Dan jika berhasil?"

"Jika berhasil, kau punya perlindungan tertinggi di wilayah ini. Bahkan Leiden tidak bisa sentuh kau."

Doni menatap langit, merasakan berat keputusan ini menekan dadanya seperti batu. Ini bukan lagi soal mengobati orang sakit. Ini soal bertahan di dunia yang ingin menghancurkan.

"Atur pertemuannya Tuan," kata Doni akhirnya.

Van der Berg mengangguk sekali. "Besok sore. Datang ke rumahku. Aku akan bawa kau ke kediaman Residen."

...---•---...

Doni kembali ke kampung ketika matahari sudah mulai condong ke barat, cahayanya berubah keemasan, panjang dan hangat. Balai kampung masih penuh pasien. Bambang menangani sebaik yang dia bisa, tangannya bergerak cepat membersihkan luka, tapi beberapa orang sudah pulang karena menunggu terlalu lama. Ketika mereka melihat Doni, wajah-wajah itu langsung berbinar harap.

Doni tidak punya hati untuk menolak mereka. Dia duduk, memeriksa satu per satu, meski pikirannya setengah berada di tempat lain.

Seorang anak dengan kudis yang menyebar di wajah dan tangan, kulitnya merah dan kasar seperti kulit buaya. Doni membersihkan dengan lembut, mengoleskan ramuan belerang, mengajarkan cara mandi yang benar pada ibunya.

Seorang lelaki tua dengan demam yang tidak kunjung turun, tubuhnya kurus dan gemetar. Doni memberikan ramuan penurun panas, memeriksa tidak ada tanda-tanda malaria, lalu menyuruhnya istirahat total.

Seorang perempuan hamil dengan perut yang membesar tidak wajar, kulitnya menguning, kakinya bengkak hingga dua kali lipat. Keracunan kehamilan. Berbahaya. Doni hanya bisa memberikan ramuan penurun tekanan dan pesan untuk istirahat total.

Kudis. Demam. Luka terbuka. Sakit perut. Semua penyakit yang bisa ditangani. Semua nyawa yang masih punya peluang.

Tapi di sudut matanya, dia melihat bayangan. Bayangan dua belas orang yang mati. Wajah-wajah yang tidak bisa dia selamatkan. Angka statistik yang Leiden lemparkan kepadanya seperti senjata.

Dua belas dari tiga puluh.

Hampir setengahnya.

Apa aku memang tidak kompeten?

"Doni?" Karyo duduk di sampingnya ketika pasien terakhir pergi, langit sudah berubah jingga kemerahan. "Kau baik-baik saja?"

"Tidak," jawab Doni jujur, suaranya serak. "Aku tidak baik-baik saja."

"Apa yang terjadi di kantor?"

Doni menceritakan semuanya. Tawaran Tuan Kasim yang menggiurkan tapi penuh jebakan. Ancaman Leiden dengan data dua belas kematian. Tawaran Van der Berg tentang Residen yang bisa jadi pelindung atau algojo. Karyo mendengarkan dengan wajah semakin gelap, rahangnya mengeras.

"Ini gila," katanya akhirnya, napasnya keluar panjang. "Kau terjepit di semua sisi."

"Aku tahu."

"Lalu apa rencanamu?"

Doni menatap tangannya. Tangan yang sudah menyentuh ratusan pasien. Tangan yang menyelamatkan dan gagal menyelamatkan. Tangan yang gemetar dari kelelahan dan sekarang gemetar dari keraguan.

"Aku akan temui Residen," katanya pelan. "Aku akan coba selamatkan istrinya. Dan jika berhasil, aku akan punya kekuatan untuk melawan mereka semua."

"Dan jika gagal?"

Doni menutup mata. "Jika gagal, setidaknya aku sudah mencoba."

Karyo diam lama, lalu meletakkan tangannya di bahu Doni. Genggamannya kuat, meyakinkan. "Aku akan tetap di sisimu. Apapun yang terjadi."

Doni membuka mata, menatap sahabatnya. "Terima kasih."

"Kau tidak perlu berterima kasih. Kita sudah seperti saudara."

...---•---...

Malam tiba dengan angin dingin yang menusuk tulang. Doni duduk sendirian di teras gubuk Pak Karso, menatap pelita yang bergoyang di depannya. Api kecil itu menari-nari, bayangan bergerak di dinding seperti hantu yang gelisah. Besok, hidupnya akan berubah. Entah jadi lebih baik, atau jauh lebih buruk.

Tapi satu hal yang dia tahu pasti.

Dia tidak akan berhenti. Tidak peduli siapa yang mencoba menghentikannya.

Karena di luar sana, di gubuk-gubuk gelap, ada orang yang menunggu. Orang yang sakit. Orang yang sekarat. Orang yang hanya punya satu harapan.

Dan harapan itu adalah dia.

Lima gulden per bulan dari Tuan Kasim. Jebakan Leiden dengan ancaman penjara. Kesempatan terakhir dari Van der Berg dengan taruhan nyawa.

Tiga jalan. Tiga pilihan. Dan dia sudah memilih yang paling berbahaya.

Doni menarik napas dalam, merasakan dinginnya mengisi paru-parunya. Udara malam berbau tanah basah dan asap kayu dari tungku-tungku yang mulai padam. Suara jangkrik bersahutan di kejauhan, monoton dan menenangkan.

Besok, aku akan bertemu istri Residen.

Besok, aku akan tahu apakah aku bisa menyelamatkannya.

Besok, aku akan tahu apakah aku layak disebut tabib atau hanya penipu beruntung seperti yang Leiden bilang.

Tangannya terkepal di pangkuan, buku-buku jarinya memutih. Keraguan berbisik di sudut pikirannya, tapi dia tolak. Tidak sekarang. Tidak saat orang masih membutuhkan.

Pelita di depannya berkedip, nyaris padam, lalu menyala lagi. Seperti harapan yang nyaris mati tapi terus bertahan.

Seperti dirinya.

Doni bangkit, menutup pelita dengan tangan untuk melindungi apinya dari angin, lalu masuk ke dalam gubuk. Dia perlu tidur. Besok akan jadi hari yang panjang.

Hari yang akan menentukan segalanya.

...---•---...

Di kejauhan, di rumah besar dengan pagar besi tinggi, Tuan Kasim duduk di ruang kerjanya dengan segelas arak di tangan. Di depannya, laporan keuangan terbentang, angka-angka yang menunjukkan keuntungan yang bisa dia raih jika koneksi dengan Van der Berg berhasil.

Doni akan terima tawaranku, pikirnya. Dia tidak punya pilihan lain.

Di kantor kecamatan, Dokter Leiden menulis laporan dengan tinta hitam, setiap kata dipilih dengan hati-hati untuk menghancurkan reputasi Doni. Di sudut mejanya, map tebal berisi data dua belas kematian terbuka, menjadi amunisi sempurna.

Besok dia akan berlutut, pikirnya sambil tersenyum tipis. Atau masuk penjara. Tidak ada jalan ketiga.

Dan di dekat pabrik gula, Van der Berg duduk menulis surat untuk Residen, meminta pertemuan khusus, menyebut nama Doni sebagai tabib yang mungkin punya cara berbeda.

Ini pertaruhan besar, pikirnya sambil menutup amplop. Tapi jika berhasil, semua akan berubah.

Tiga orang. Tiga kepentingan. Tiga jebakan yang mengelilingi satu tabib kampung yang hanya ingin menolong orang sakit.

Dan besok, semua akan bertemu di satu titik.

Di kediaman Residen.

Di tempat di mana takdir akan diputuskan.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
Greta Ela🦋🌺
Iya utamakan yang urgen dulu sih harusnya
Greta Ela🦋🌺
Ya dukun sama dokter beda lah
Greta Ela🦋🌺
Hmm andai kau tau dia itu dokter
Stanalise (Deep)🖌️
💆 Kak mardoni, sumpah aku ga bisa berword-word baca diksi kamu. Ini, masuk ke sastra sih bahasanya kebanyakan. Tapi, justru itu yang buat aku kagum. Karena aku juga sering pakai diksi yang sastra banget di novel aku sebelumnya. jadi pas gitu waktu aku baca karya kakak.
Stanalise (Deep)🖌️
pemilihan kata yang bagus thor. 👍 Kaki telanjangnya,
Miu Nuha.
semoga Tuhan segera mengangkat penyakit dan rasa sakitmu mboookkk 🤧🤧🤧
Miu Nuha.
kasihan banget mbok Supi 🤧
dia harus menahan siksaan akan rasa sakit itu, aahhhh gk kuwaatt psti sakit bngt !!!
Cimol krispy
Lega sekali ya Doni.
Semangat dan ketulusanmu berbuah manis
Hana Agustina
semangat thor.. slalu dinantikan up nyaa.. menunggu kelanjutan crita yg slalu buat degdegan
MARDONI: Terimakasih kk hana😄, pantengin terus kk setiap hari
total 1 replies
Blueberry Solenne
Semua dokter apakah punya perasaan seperti ini ya, Doni terlalu bekerja dengan hati.
Blueberry Solenne
Jago bener cara ngedeteksi dari beberapa gejalanya
Chimpanzini Menolak Hiatus
akhirnya tari berhasil juga melawan penyakitnya. good job Doni, good job thor/Determined//Determined/
Chimpanzini Menolak Hiatus
vigil itu apa thor?
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!