Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I. Mimpi Buruk yang Tidak Pernah Berhenti
Malam itu, Aruna nggak bisa tidur. Ia merebahan tubuhnya di atas kasur. Melihat langit-langit, matanya masih terbuka lebar meskipun sudah jam dua pagi.
Setiap kali Aruna menutup mata, wajah-wajah itu muncul. Nisa, Adrian, Alya, Dinda, dan Sari. Dan juga wajah Dhira.
Wajah Dhira yang terlihat ragu, Aruna menggeleng keras lalu membuka mata lagi.
Tubuhnya terasa lelah, bahkan kelopak matanya begitu berat. Hingga akhirnya Aruna tertidur, dan mulai bermimpi buruk.
**MIMPI PERTAMA**
Aruna berdiri di ruang kelas, tapi bukan kelas SMA-nya yang sekarang. Ini kelas SMP, kelas dua SMP. Ruangan yang Aruna kenal terlalu baik. Ruangan yang penuh dengan trauma.
Aruna melihat sekeliling, bangku-bangku terlihat kosong, dan papan tulis putih yang bersih.
Suasana kelas terlihat begitu sepi, Aruna berjalan pelan ke mejanya. Meja paling belakang yang berada di pojok kanan.
Tapi begitu Aruna sampe, mejanya penuh coretan. Coretan dari spidol hitam, merah, dan warna biru.
**PEMBOHONG**
**MURAHAN**
**MATI AJA LO**
**NGGAK ADA YANG SUKA SAMA LO**
Aruna mundur, napasnya terasa sesak. Hingga tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Orang-orang masuk, teman sekelasnya dulu. Wajah-wajah yang mencoba Aruna lupakan.
Mereka masuk dengan senyum yang kejam.
"Aruna," panggil salah satu cewek yang namanya Lina. "Kamu kembali lagi? Kenapa? Kamu kangen di-bully?"
Mereka tertawa keras, Aruna mencoba bicara. "A-aku nggak…"
Tapi suaranya nggak keluar, mulutnya bergerak tapi nggak ada suara.
Lina berjalan mendekat, menarik buku dari tangan Aruna lalu merobeknya lembar demi lembar.
"Kamu pikir kamu pintar? Kamu pikir kamu berharga?" Lina tertawa. "Kamu nggak ada apa-apanya!"
Anak-anak lain ikutan. Mereka mencoret meja Aruna lagi. Mencoret buku-bukunya/ bahkan seragamnya Aruna pun di coret oleh mereka.
**SAMPAH**
**NGGAK PANTAS HIDUP**
Aruna berteriak, tapi tetep nggak ada suara. Ia mencoba lari, tapi kakinya nggak bergerak. Kayak seperti ditanam di lantai.
"KAMU NGGAK PANTAS DI SINI!" teriak mereka semua.
Dan tiba-tiba, Dhira muncul di antara mereka. Aruna merasa lega sebentar.
*Dhira bakal menolong aku.*
Tapi Dhira malah ikut tertawa.
"Aruna, kamu pikir gue percaya sama kamu?" katanya dengan senyum yang dingin. "Kamu pembohong. Kamu nggak pantas."
"Dhira, kumohon," ucap Aruna yang mencoba meraih tangan Dhira.
Tapi Dhira menepis tangannya kasar, dan tiba-tiba Elang muncul dari pintu belakang. Cowok itu lari, mencoba melindungi Aruna.
"Hentikan! Kalian nggak berhak nyakitin dia!" teriak Elang.
Tapi mereka melirik Elang, lalu tertawa semakin keras.
"Elang si cupu mau melindungi Aruna?" ejek salah satu cowok. "Lo pikir lo bisa? Lo sendiri aja pecundang!"
Mereka mendorong Elang dengan keras, hingga Elang terjatuh. Lalu mereka mulai menyakiti Elang juga. Mereka menendang dan memukul Elang.
"JANGAN!" teriak Aruna, tapi tetep nggak ada suara.
Elang melihat Aruna dengan mata penuh air mata. "Maafkan aku, Aruna. Aku nggak kuat."
Dan Elang menghilang, jadi bayangan hitam.
**MIMPI KEDUA**
Ruangan berubah, sekarang Aruna berada di koridor sekolah SMA-nya. Anak-anak berlalu lalang. Tapi mereka semua melihat Aruna dengan tatapan yang menghakimi.
Aruna berjalan pelan dengan kepala yang menunduk. Hingga tiba-tiba, Dhira muncul di depannya.
Aruna merasa lega. "Dhira."
Tapi Dhira menatapnya dengan tatapan ragu.
Tatapan yang sama, tatapan yang menyakiti.
"Kamu pikir aku percaya sama kamu?" tanya Dhira, suaranya dingin.
"Dhira, itu kakak aku. Aku nggak bohong, kumohon percayalah." Aruna mencoba menjelaskan.
Tapi Dhira menggeleng. "Kamu bohong. Kamu selalu bohong."
"TIDAK!" Aruna berteriak, kali ini suaranya keluar tapi lemah.
Dhira langsung berbalik dan pergi.
"DHIRA! JANGAN PERGI! KUMOHON!" Aruna mencoba mengejar tapi kakinya nggak bergerak lagi.
Dan tiba-tiba, wajah-wajah lain muncul. Nisa, Adrian, Alya, Dinda, dan Sari. Mereka mengelilingi Aruna. Senyum kejam di wajah mereka.
"Kamu pikir kamu pantas dicintai?" tanya Nisa dengan nada meremehkan.
"Kamu pikir kamu berharga?" tambah Adrian sambil tertawa.
"Kamu cuma sampah," kata Alya.
"Beban," tambah Dinda.
"Nggak pantas hidup," bisik Sari.
Wajah-wajah mereka mulai berubah, menjadi bayangan hitam. Bayangan yang mengerikan.
Mereka mengelilingi Aruna, semakin dekat.
"Kamu tidak berharga."
"Kamu tidak pantas hidup."
"Kamu hanya beban."
"Mati saja."
"MATI SAJA."
"MATI SAJA!"
Bayangan-bayangan itu mencengkram Aruna. Tangan-tangan hitam yang dingin. Menariknya ke dalam kegelapan.
Aruna berteriak. "TIDAK! LEPASKAN AKU! KUMOHON!"
Tapi nggak ada yang mendengarkan, ia tenggelam dalam kegelapan yang nggak ada ujungnya.
Aruna terbangun, napasnya mulai tersengal. Tubuhnya basah oleh keringet. Jantungnya berdegup dengan kencang. Aruna langsung duduk dan memeluk erat lututnya.
"Nggak, itu cuma mimpi. Itu cuma mimpi," gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri.
Tapi tangannya terlihat gemetar, dadanya terasa sesak.
*Ini terjadi lagi, kenapa harus terjadi lagi?*
Air matanya jatuh dalam diam, Aruna memeluk dirinya sendiri. Mencoba mencari kehangatan. Tapi tubuhnya dingin, sangat dingin.
"Ya Allah, kumohon hentikan ini. Aku nggak kuat lagi," bisiknya putus asa.
Tapi nggak ada jawaban, cuma suara jam dinding yang berdetak pelan. cuma kegelapan yang ada di kamarnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu.
"Run? Kamu oke?" suara Arya dari luar. Khawatir.
Aruna diam, ia nggak menjawab.
"Run, kakak denger kamu teriak. Kamu mimpi buruk lagi?" Arya mengetuk lagi. "Buka pintunya, dek. Kakak mau masuk."
Tapi Aruna nggak bergerak sama sekali. Ia cuma duduk di sudut tempat tidur, sambil memeluk lutut dan menunduk.
"Run, please. Jangan kayak gini, buka pintunya," suara Arya semakin khawatir.
Tapi Aruna tetep diam, ia nggak mau Arya melihat dia kayak gini. Aruna nggak mau jadi beban lagi. Arya menunggu lama di depan pintu, hingga akhirnya pergi dengan langkah berat.
Dan Aruna, ia tetap duduk di situ sendirian, di kamar yang gelap. Dengan mimpi buruk yang nggak pernah berhenti. Dan luka lama yang belum sembuh kini terkoyak lagi.
Dan kali ini lebih dalam, sampai Aruna nggak tau, apakah Aruna masih bisa sembuh, atau ia akan tenggelam selamanya.
...——…★…——...
...Hati yang terluka itu seperti gelas yang retak. Kamu bisa mengisinya dengan air, tapi akan selalu bocor, kecuali kamu memperbaiki retaknya dengan cahaya iman dan kesabaran....
...——…★Mentari Senja★…——...
So, be happy on your days 🤝😇