Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Penebusan yang Terlambat
Sejak hari Arvino membaca buku harian itu, dinamika di ruang perawatan berubah total. Tidak ada lagi kebencian. Yang ada hanyalah penyesalan yang terlihat nyata di mata Arvino, dan upaya kaku untuk menunjukkan perhatian.
Arvino mencoba bertanya tentang pekerjaanku di RS Merdeka, memuji efisiensiku saat merawatnya, dan bahkan mencoba menanyakan makanan kesukaanku. Aku membalas semua itu dengan kesopanan yang formal.
"Biar aku saja yang ganti perbannya," kataku suatu pagi, mengambil alih tugas perawat.
"Aluna," panggil Arvino.
"Ya, Kak. Apakah perbannya terlalu kencang?"
"Tidak. Bukan itu." Arvino menatapku, matanya memohon. "Aku ingin bertanya tentang... Lili. Apakah dia baik-baik saja?"
"Lili sehat. Tadi malam dia sudah mendapat vaksinasi bulanannya sesuai jadwal. Mama dan Nenek menjaganya dengan baik," jawabku, informatif, tapi tanpa emosi.
"Bisakah kau... memutarkan sedikit video Lili untukku?" pintanya.
Aku mengangguk. Aku mengambil ponsel, memutar video Lili yang sedang tertawa, dan menyodorkannya pada Arvino. Dia menontonnya dengan mata berkaca-kaca, tapi dia tidak berani menyentuh ponselku. Setelah video selesai, aku mengambilnya kembali dan kembali fokus pada perban di kakinya.
Siang harinya, gangguan datang. Pintu ruangan dibuka, dan Clara masuk, membawa sebuket bunga dan kue mahal.
"Oh, Sayang! Aku dengar dari Dokter Yusuf kau sudah sadar!" seru Clara, berjalan cepat ke sisi ranjang. "Aku sangat khawatir. Kau pasti sangat menderita, Vin. Untunglah kau punya Aluna yang bisa menjaga Lili. Kau tahu, aku sudah memberitahu Aluna untuk tidak membuatmu terlalu stres saat kau sakit."
Clara berbicara dengan nada manja dan posesif, seolah ia adalah istri yang sah dan perhatian.
Aku berhenti membersihkan instrumen dan berdiri tegak di sudut ruangan. Aku menunggu Arvino melunak, seperti yang biasa ia lakukan pada Clara.
Namun, Arvino menatap Clara dengan dingin.
"Terima kasih atas bunganya, Clara. Tapi kau bisa menyimpannya. Kami tidak terlalu suka bunga di ruangan ini," kata Arvino, nadanya jauh dari kata hangat.
Clara terkejut. "Vin? Kenapa kau kaku sekali? Aku hanya ingin menghiburmu."
Arvino mengalihkan pandangannya darinya, menatapku di sudut.
"Aluna," panggil Arvino. "Tolong berikan bunga ini pada perawat di meja depan. Dan Clara, tolong, jika kau ingin menjengukku lagi, hubungi istriku terlebih dahulu untuk membuat janji."
Clara memandangku dengan wajah terkejut, marah, dan terhina. "Istrimu? Vin, kenapa kau...?"
"Aku sudah menikah, Clara," potong Arvino tegas. "Dan aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Istriku adalah Aluna. Jika kau ingin berbicara denganku, hormati istriku."
Clara melempar buket bunga itu dengan kasar. "Baiklah, Arvino. Aku harap kau segera sembuh, dan aku harap kau tidak menyesali keputusanmu ini," desisnya, menatapku dengan tajam, lalu berbalik dan keluar.
Aku kembali ke ranjang Arvino, mengambil buket bunga yang ditinggalkan Clara, dan membuangnya ke tempat sampah, seperti yang ia perintahkan.
"Terima kasih, Kak," kataku, mengacu pada pembelaannya.
"Aku tidak membelamu," balas Arvino, suaranya lemah tapi jelas. "Aku hanya menegaskan status. Aku tidak ingin ada lagi kebohongan dalam hidupku."
Malam harinya, setelah Papa dan Mama pulang, hanya ada aku dan Arvino.
Aku sedang duduk di samping ranjang, membaca laporan untukku sendiri. Tiba-tiba, tangan Arvino terulur dan memegang pergelangan tanganku. Kali ini, cengkeramannya lemah, penuh permohonan, bukan paksaan.
"Aluna, tolong," bisiknya. "Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi izinkan aku melakukan penebusan. Izinkan aku membuktikan bahwa aku tidak lagi buta."
Aku menarik tanganku pelan. "Penebusan tidak akan mengembalikan satu tahun yang Kakak ambil dariku, Kak."
"Aku tahu. Aku tahu aku memaksamu tidur di lantai. Aku tahu aku mematikan lampu saat kau ketakutan. Aku tahu aku memanggilmu pembunuh, padahal kau menyelamatkan anakku. Aku adalah pria paling brengsek di dunia ini." Arvino menumpahkan semua pengakuannya, air mata menggenang di matanya. "Aku pantas menerima kebencianmu. Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak membencimu, Kak," jawabku jujur. "Aku hanya lelah. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang menghancurkanku. Pikirkan saja, bagaimana aku bisa mencintai lagi pria yang aku tahu bisa menghinaku sampai aku sakit dan pingsan?"
"Aku akan berubah. Demi Tuhan, aku akan berubah. Aku akan mencintaimu, Aluna. Aku akan belajar mencintaimu," janji Arvino.
Aku menggeleng. Aku tahu dia tulus, tapi hatiku terlalu dingin.
"Aku tidak lagi meminta cintamu, Kak. Yang kuminta adalah kebebasanku. Aku sudah mengirimkan surat gugatan cerai. Dan aku sudah bicara dengan Papa. Kakak harus menandatanganinya."
"Tidak," Arvino memejamkan mata. "Aku tidak akan menandatanganinya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku tidak mau sampai kehilangan Lili, dan aku... aku tidak bisa hidup dengan fakta bahwa aku menghancurkan satu-satunya orang yang tulus mencintaiku."
"Kalau Kakak tidak mau menandatanganinya," kataku, mengambil tasku, "Maka kita akan bertemu di pengadilan."
Aku berdiri. Aku berjalan menuju pintu.
"Aluna!" panggil Arvino, suaranya putus asa. "Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?!"
Aku berhenti di ambang pintu. Aku menoleh, menatapnya.
"Sembuh, Kak. Itu yang harus Kakak lakukan. Sembuh. Setelah itu, kita lihat apakah hati Kakak lebih kuat daripada ketakutanmu."
Aku keluar, meninggalkan Arvino yang terperangkap dalam gips dan penyesalan. Aku tahu hatiku masih memiliki sedikit rasa cinta untuknya, tapi itu terkubur jauh di bawah lapisan trauma yang ia tanamkan. Penebusan Arvino harus dimulai dari dirinya sendiri, bukan dariku.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️