NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Penebusan yang Terlambat

​Sejak hari Arvino membaca buku harian itu, dinamika di ruang perawatan berubah total. Tidak ada lagi kebencian. Yang ada hanyalah penyesalan yang terlihat nyata di mata Arvino, dan upaya kaku untuk menunjukkan perhatian.

​Arvino mencoba bertanya tentang pekerjaanku di RS Merdeka, memuji efisiensiku saat merawatnya, dan bahkan mencoba menanyakan makanan kesukaanku. Aku membalas semua itu dengan kesopanan yang formal.

​"Biar aku saja yang ganti perbannya," kataku suatu pagi, mengambil alih tugas perawat.

​"Aluna," panggil Arvino.

​"Ya, Kak. Apakah perbannya terlalu kencang?"

​"Tidak. Bukan itu." Arvino menatapku, matanya memohon. "Aku ingin bertanya tentang... Lili. Apakah dia baik-baik saja?"

​"Lili sehat. Tadi malam dia sudah mendapat vaksinasi bulanannya sesuai jadwal. Mama dan Nenek menjaganya dengan baik," jawabku, informatif, tapi tanpa emosi.

​"Bisakah kau... memutarkan sedikit video Lili untukku?" pintanya.

​Aku mengangguk. Aku mengambil ponsel, memutar video Lili yang sedang tertawa, dan menyodorkannya pada Arvino. Dia menontonnya dengan mata berkaca-kaca, tapi dia tidak berani menyentuh ponselku. Setelah video selesai, aku mengambilnya kembali dan kembali fokus pada perban di kakinya.

​Siang harinya, gangguan datang. Pintu ruangan dibuka, dan Clara masuk, membawa sebuket bunga dan kue mahal.

​"Oh, Sayang! Aku dengar dari Dokter Yusuf kau sudah sadar!" seru Clara, berjalan cepat ke sisi ranjang. "Aku sangat khawatir. Kau pasti sangat menderita, Vin. Untunglah kau punya Aluna yang bisa menjaga Lili. Kau tahu, aku sudah memberitahu Aluna untuk tidak membuatmu terlalu stres saat kau sakit."

​Clara berbicara dengan nada manja dan posesif, seolah ia adalah istri yang sah dan perhatian.

​Aku berhenti membersihkan instrumen dan berdiri tegak di sudut ruangan. Aku menunggu Arvino melunak, seperti yang biasa ia lakukan pada Clara.

​Namun, Arvino menatap Clara dengan dingin.

​"Terima kasih atas bunganya, Clara. Tapi kau bisa menyimpannya. Kami tidak terlalu suka bunga di ruangan ini," kata Arvino, nadanya jauh dari kata hangat.

​Clara terkejut. "Vin? Kenapa kau kaku sekali? Aku hanya ingin menghiburmu."

​Arvino mengalihkan pandangannya darinya, menatapku di sudut.

​"Aluna," panggil Arvino. "Tolong berikan bunga ini pada perawat di meja depan. Dan Clara, tolong, jika kau ingin menjengukku lagi, hubungi istriku terlebih dahulu untuk membuat janji."

​Clara memandangku dengan wajah terkejut, marah, dan terhina. "Istrimu? Vin, kenapa kau...?"

​"Aku sudah menikah, Clara," potong Arvino tegas. "Dan aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Istriku adalah Aluna. Jika kau ingin berbicara denganku, hormati istriku."

​Clara melempar buket bunga itu dengan kasar. "Baiklah, Arvino. Aku harap kau segera sembuh, dan aku harap kau tidak menyesali keputusanmu ini," desisnya, menatapku dengan tajam, lalu berbalik dan keluar.

​Aku kembali ke ranjang Arvino, mengambil buket bunga yang ditinggalkan Clara, dan membuangnya ke tempat sampah, seperti yang ia perintahkan.

​"Terima kasih, Kak," kataku, mengacu pada pembelaannya.

​"Aku tidak membelamu," balas Arvino, suaranya lemah tapi jelas. "Aku hanya menegaskan status. Aku tidak ingin ada lagi kebohongan dalam hidupku."

​Malam harinya, setelah Papa dan Mama pulang, hanya ada aku dan Arvino.

​Aku sedang duduk di samping ranjang, membaca laporan untukku sendiri. Tiba-tiba, tangan Arvino terulur dan memegang pergelangan tanganku. Kali ini, cengkeramannya lemah, penuh permohonan, bukan paksaan.

​"Aluna, tolong," bisiknya. "Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi izinkan aku melakukan penebusan. Izinkan aku membuktikan bahwa aku tidak lagi buta."

​Aku menarik tanganku pelan. "Penebusan tidak akan mengembalikan satu tahun yang Kakak ambil dariku, Kak."

​"Aku tahu. Aku tahu aku memaksamu tidur di lantai. Aku tahu aku mematikan lampu saat kau ketakutan. Aku tahu aku memanggilmu pembunuh, padahal kau menyelamatkan anakku. Aku adalah pria paling brengsek di dunia ini." Arvino menumpahkan semua pengakuannya, air mata menggenang di matanya. "Aku pantas menerima kebencianmu. Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku."

​"Aku tidak membencimu, Kak," jawabku jujur. "Aku hanya lelah. Aku tidak ingin mencintai seseorang yang menghancurkanku. Pikirkan saja, bagaimana aku bisa mencintai lagi pria yang aku tahu bisa menghinaku sampai aku sakit dan pingsan?"

​"Aku akan berubah. Demi Tuhan, aku akan berubah. Aku akan mencintaimu, Aluna. Aku akan belajar mencintaimu," janji Arvino.

​Aku menggeleng. Aku tahu dia tulus, tapi hatiku terlalu dingin.

​"Aku tidak lagi meminta cintamu, Kak. Yang kuminta adalah kebebasanku. Aku sudah mengirimkan surat gugatan cerai. Dan aku sudah bicara dengan Papa. Kakak harus menandatanganinya."

​"Tidak," Arvino memejamkan mata. "Aku tidak akan menandatanganinya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku tidak mau sampai kehilangan Lili, dan aku... aku tidak bisa hidup dengan fakta bahwa aku menghancurkan satu-satunya orang yang tulus mencintaiku."

​"Kalau Kakak tidak mau menandatanganinya," kataku, mengambil tasku, "Maka kita akan bertemu di pengadilan."

​Aku berdiri. Aku berjalan menuju pintu.

​"Aluna!" panggil Arvino, suaranya putus asa. "Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?!"

​Aku berhenti di ambang pintu. Aku menoleh, menatapnya.

​"Sembuh, Kak. Itu yang harus Kakak lakukan. Sembuh. Setelah itu, kita lihat apakah hati Kakak lebih kuat daripada ketakutanmu."

​Aku keluar, meninggalkan Arvino yang terperangkap dalam gips dan penyesalan. Aku tahu hatiku masih memiliki sedikit rasa cinta untuknya, tapi itu terkubur jauh di bawah lapisan trauma yang ia tanamkan. Penebusan Arvino harus dimulai dari dirinya sendiri, bukan dariku.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!