Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tinta Harapan di Balik Kabut
Malam itu, dinginnya udara tidak lagi terasa menggigit seperti malam sebelumnya. Seolah-olah langit ikut berbelas kasih, menenangkan gejolak emosi yang sempat meluap. Di kamarnya yang sederhana, hanya diterangi oleh temaram lampu minyak, Valaria duduk termenung di depan meja kayu kecil. Aroma kertas baru yang ia beli tadi pagi menguar halus, sebuah bau khas yang menjanjikan sebuah awal yang baru.
Di hadapannya tergeletak dua buah buku tulis. Satu bersampul polos untuk coretan acak dan perhitungan; yang lainnya bersampul biru tua, disiapkan khusus untuk menjadi wadah bagi fantasinya.
Valaria meraih pulpen. Ujungnya sempat bergetar di atas permukaan kertas putih yang masih suci dari noda tinta. Ia telah memantapkan hati: ia akan menulis sebuah novel fiksi dan secara bersamaan menyusun buku materi matematika sederhana untuk anak-anak sekolah dasar dan menengah. Inilah pelariannya, cara ia membuktikan pada dunia bahwa dirinya lebih dari sekadar korban fitnah dan kejahatan.
"Aku harus mulai dari mana?" bisiknya pelan pada keheningan.
Pikirannya melayang pada impian yang terasa sangat jauh: menerbitkan buku. Otaknya yang cerdas mencoba memproses informasi yang terbatas. Bagaimana caranya agar tulisan ini bisa sampai ke tangan banyak orang? Ia membayangkan sebuah percakapan formal dengan penerbit di kota besar, meski ia sendiri belum tahu siapa mereka.
Jika novel ini dijual seharga dua puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah di tahun 1997 ini, berapa yang akan kudapatkan? pikirnya.
Valaria meraih buku polos dan mulai membuat kalkulasi kecil. Ia teringat selentingan informasi tentang royalti penulis sekitar tujuh hingga sepuluh persen dari harga jual. Jika ia berhasil menjual seribu eksemplar, angka-angka itu membuat jantungnya berdebar. Bukan semata karena uangnya, melainkan karena potensi kemandirian finansial yang ditawarkannya. Ini adalah masa depan yang bisa ia bangun sendiri.
Ia tersenyum masam. "Tapi aku bahkan belum tahu bagaimana prosedur kontrak atau cara menembus penerbitan."
Mengambil napas dalam, ia mengenyahkan keraguan itu. Fokus. Selesaikan naskahnya dulu, batinnya tegas.
Ia membuka buku bersampul biru dan mulai merajut kerangka cerita: kisah seorang wanita desa yang menemukan kekuatan dalam dirinya dan jatuh cinta pada seorang prajurit penjaga negara yang berjuang demi keadilan. Cerita itu melankolis, romantis, sekaligus penuh semangat sebuah refleksi halus dari harapan yang selama ini ia sembunyikan.
Di buku satunya, ia menorehkan konsep edukasi. Ia mengubah pecahan dan geometri yang rumit menjadi permainan sederhana yang bisa diajarkan dengan alat-alat seadanya di desa. Imagasinya mengalir deras, mengisi lembar demi lembar dengan detail yang rapi.
Valaria mendongak, merasakan hawa dingin mulai menembus celah jendela. Langit di luar tampak mendung pekat tanpa bintang. "Pasti akan sangat dingin malam ini," gumamnya.
Saat hendak menutup tirai, matanya menangkap siluet yang familier di bawah pohon mangga dekat pagar. Itu Jaya. Pria itu duduk di atas batu besar, menekuk lutut dengan wajah tertunduk. Postur tubuhnya memancarkan kesepian yang dalam. Valaria bertanya-tanya, apakah Jaya sedang memikirkan kejadian semalam, ataukah ia merasa kecewa karena belum mampu membelikan kain nila yang disukainya tadi siang?
Valaria ingin memanggilnya, namun ia menahan diri. Mereka baru saja melalui hari yang sangat melelahkan secara emosional. Mungkin Jaya juga membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Dengan rasa hangat bercampur cemas di hati, Valaria perlahan menutup jendela dan merapatkan tirai.
"Sudah waktunya beristirahat," putusnya, memaksa pikirannya untuk berhenti bekerja.
Pagi hari tiba membawa kabut tebal dan embun yang membuat setiap helai daun berkilauan bak kristal. Bau tanah basah dan asap kayu bakar dari dapur-dapur penduduk desa mulai tercium.
Di dapur, ibu dan Valaria sibuk menyiapkan dagangan. Ayahnya tampak sedang menajamkan pisau di teras, sementara Raka masih terlelap di balik selimut.
"Aku tidak ikut ke pasar hari ini, Bu. Tapi aku juga tidak ingin diam di rumah," ujar Valaria memecah kesibukan.
Ibuku mengernyit heran. "Lalu kau mau ke mana, Nak?"
"Aku ingin ke hutan," jawab Valaria dengan binar mata yang merindukan alam. "Aku ingin mencari bahan tambahan untuk jualan kita, sekaligus mengambil beberapa bunga liar untuk menghias meja makan."
Ayah yang mendengar pembicaraan itu segera mendekat dengan ekspresi serius. "Ke hutan? Jangan sendirian, Valaria. Kau tahu ada bagian hutan yang cukup berbahaya."
Valaria segera merangkul lengan ayahnya, menyandarkan kepala di bahu pria yang selalu menjadi pelindung terbaiknya itu. "Aku tahu, Yah. Aku tidak akan sendiri jika Ayah ikut menemaniku. Setelah kita selesai dari ladang, ya? Kita cari jamur dan akar-akaran."
Melihat ketenangan di mata putrinya setelah badai semalam, Ayah tidak tega melarang. "Baiklah. Tapi janji, kau harus selalu berada di dekat Ayah."
"Janji, Yah!" seru Valaria ceria.
Pagi itu, ibuku, Bibi Tirta, dan Jaya berangkat ke pasar membawa gerobak penuh hidangan. Valaria melambaikan tangan pada Jaya, yang membalasnya dengan senyum tipis dan janji tak terucapkan di matanya untuk segera kembali.
Valaria kemudian bergerak ke ladang di belakang rumah bersama Ayah dan Raka yang akhirnya merengek ikut. Paman Baskoro sudah berada di sana lebih dulu. Mereka bekerja sama memanen sayuran dan membersihkan gulma. Suara cangkul yang beradu dengan tanah menjadi musik yang menenangkan bagi Valaria.
Setelah urusan ladang usai, mereka bersiap memasuki hutan. Paman Baskoro, yang biasanya pendiam, tiba-tiba mendekat. "Aku ikut juga, Arjun. Aku bisa membantu membawa hasil hutan. Lagipula, lebih aman jika kita pergi beramai-ramai."
Ayaku menepuk bahu Baskoro. "Ide bagus, Bas. Terima kasih."
Rombongan kecil itu pun memasuki rimbunnya hutan. Cahaya matahari menerobos celah kanopi pohon, menciptakan pola-pola emas di lantai hutan yang lembap. Di jalan setapak desa, beberapa penduduk melihat mereka.
"Lihat itu, Valaria sudah ke hutan lagi. Benar-benar kuat mentalnya setelah kejadian semalam," bisik Bu Rina kepada tetangganya.
Ibu Marni mengangguk setuju. "Sejak Valaria sembuh dari sakitnya, kehidupan keluarga Arjun jauh lebih baik. Dia itu pembawa berkah."
Di dalam hutan, aroma lumut dan akar basah memenuhi indra penciuman Valaria. Ia menemukan bunga ungu kecil yang cantik di antara sela-sela batu. Saat sedang menggali akar, ia menatap ayahnya.
"Ayah... terima kasih sudah percaya padaku semalam," katanya dengan suara sedikit bergetar.
Ayahnya menghentikan aktivitasnya, menatap lekat mata putrinya. Ia menjatuhkan cangkulnya lalu memeluk Valaria erat-erat. "Aku selalu percaya padamu, Nak. Kau adalah darah dagingku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Pelukan itu memberikan Valaria kekuatan yang jauh lebih berharga daripada royalti buku mana pun.
Malam kembali turun, namun kali ini membawa kehangatan resolusi. Di kamarnya, Valaria kembali ke meja kecilnya. Malam ini, ia fokus menyelesaikan bagian akhir dari draf novelnya.
Di bawah cahaya lampu minyak, penanya menari dengan cepat. Ia menuliskan dialog perpisahan yang mengharukan, pertempuran sang prajurit, dan kesetiaan sang wanita desa dalam menunggu. Tangannya mulai terasa pegal dan pergelangan tangannya sakit karena menulis tanpa henti sejak sore, namun kegembiraan di hatinya jauh lebih besar.
Saat ia membubuhkan tanda titik terakhir, Valaria menarik napas panjang. Punggungnya merosot di sandaran kursi, dan ia tertawa pelan dalam kebahagiaan.
"Selesai! Cerita pertamaku selesai!"
Ia menutup buku biru tua itu dengan sangat hati-hati, membelai sampulnya dengan rasa bangga. Buku itu kini terasa berat, penuh dengan mimpi-mimpi yang telah mewujud menjadi kata-kata. Ia menyimpannya di tempat tersembunyi di bagian terdalam lemari bajunya, di bawah tumpukan kain batik usang.
Setelah mematikan lampu, Valaria melihat ke luar jendela. Langit sudah bersih, dan bintang-bintang berkelip seperti sebuah janji. Ia tersenyum, lalu merebahkan diri. Besok, ia akan memikirkan cara untuk menerbitkan karyanya. Namun malam ini, ia akan tidur nyenyak, dipeluk oleh impian yang kini telah nyata.