NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerinduan yang Menyala

Gedung vila milik Kelinci Perak berdiri megah di pinggir Busan, di atas bukit kecil yang menghadap ke pelabuhan. Bangunan tiga lantai dengan dinding kaca gelap dan atap genteng hitam itu terlihat seperti benteng modern di antara lampu kota yang berkilauan di bawah. Balkon atap vila luas, berlantai kayu jati, dikelilingi pagar kaca transparan. Angin malam Busan bertiup kencang, membawa bau garam dan diesel dari pelabuhan di kejauhan.

Shadiq berdiri di balkon itu sendirian, tangan memegang pagar kaca dingin. Ia sudah seminggu di Busan—seminggu memastikan kontainer Farhank sudah aman di tangan kelinci perak, seminggu tinggal di vila ini bersama tim Kelinci Perak. Seminggu penuh rapat malam, pantau log kapal, dan pura-pura jadi bagian dari mereka. Tubuhnya sedikit gemetar—bukan karena dingin angin malam, tapi karena bayangan sabotase Minggu lalu masih menghantui. Ia masih ingat suara tembakan kecil di pelabuhan, mesin forklift , gesekan antara besi dan peti-peti yang direbut. Ia masih ingat rasa bersalah yang menumpuk setiap kali istrinya marah-marah.

“Kapan aku pulang,” gumamnya pelan, suara hampir tenggelam oleh angin.

Ia memandang kota Busan di sekitarnya: lampu neon pelabuhan berkedip seperti bintang jatuh, kapal kontainer raksasa bergerak lambat di laut hitam, gedung-gedung tinggi berkilauan seperti permata. Tapi semuanya terasa asing. Ia bukan milik kota ini. Ia bukan milik vila ini. Ia bukan milik Kelinci Perak.

Jelas, kalau ketahuan aparat kepolisian Korea Selatan, Shadiq bisa dipenjara. Senjata curian di Container itu bisa di anggap perampokan koneksi dengan tim internasional—semua itu cukup untuk membuatnya terkurung bertahun-tahun. Tapi yang lebih menakutkan adalah kalau Farhank tahu. Atau kalau Arva tahu. Atau kalau Irva tahu Papa-nya jadi penjahat.

Shadiq memandang langit Busan yang gelap, tanpa bintang karena polusi cahaya kota. Dadanya sesak.

Ponselnya bergetar di kantong celana. Shadiq keluarkan, layar menyala. Nama “Arva” berkedip di layar—video call.

Shadiq melotot. Jantungnya berdegup kencang. Ia angkat dengan tangan gemetar.

“Sayang… aku seneng banget nih, kamu nelpon. Ada apa sayang? Ga ada sesuatu kan?”

Wajah Arva muncul di layar, latar belakang teras rumah kontrakan di Jakarta. Lampu teras kuning redup, Irva duduk di pangkuannya, mata besar dan mengantuk.

Arva tersenyum tipis, tapi mata tetap lelah.

“Ga ada apa-apa bang. Ini anakmu si Irva pengen banget ketemu kamu. Kamu di mana kok rumah kosong?”

Shadiq suara gemetar.

“Maaf ga ijin ke kamu sayang, aku…” Ia berhenti, mencari kata. “Aku merantau cari kerjaan yang lebih baik, tapi ga lama kok, cuma sebentar.”

Arva menggeleng pelan, nada sedikit gurau tapi ada nada kecewa.

“Eh buset dah. Aku jauh-jauh dari rumah orang tuaku kamu malah ga di rumah. Ih kebiasaan.”

Shadiq mencoba tersenyum, tapi bibirnya kaku.

“Maaf, aku jan—”

Arva potong cepat.

“Cukup.”

Ia tatap Shadiq melalui layar.

“Aku ga mau kamu janji lagi. Kamu pulang kapan?”

Shadiq menunduk.

“Kamu udah bosen ya denger aku janji-janji tapi ga pernah ku tepati. Maaf. Untuk pulangnya sebenarnya aku juga belum tau l—”

Arva potong lagi, suara lebih lembut tapi tegas.

“Tunggu proyek selesai, mau gamau harus lembur? Kan??”

Arva lanjut.

“Kamu sama sekali ga berubah ternyata yaa… Aku sekarang di teras sama Irva loh, ini udah malem ga mungkin kami langsung balik ke kampung lagi.”

Shadiq buru-buru.

“Oh itu kunci rumah kita di bawah pot bunga kertas, dekat dengan pilar paling kanan.”

Arva suruh Irva.

“Irva sayang coba angkat pot bunga yang itu, ada kunci ga di bawahnya.”

Irva kecil bergerak, angkat pot dengan tangan mungilnya. Kunci rumah jatuh ke lantai teras. Arva ambil, lalu tatap Shadiq lagi.

“Kapan yaaa bisa jadi… istri buat suami, dan…”

Shadiq mata panas.

“Aku minta maaf.”

Arva geleng pelan.

“Ga perlu minta maaf bang… Aku udah sering denger itu dari kamu. Jangan ngindarin masalah kita pake kata maaf… Kamu berubah dulu, lalu perlahan pasti aku maafin tanpa perlu kamu bilang maaf.”

Shadiq menunduk, jongkok di depan kursi balkon. Badannya gemetar.

“Aku ga tau harus ngomong apa selain maaf.”

Arva suara lembut.

“Kamu ga perlu ngomong apapun… Aku mohon bangettt… Berubah, Irva butuh kamu bang… Dia juga yang bikin aku balik ke rumah ini.”

Shadiq sesak. Dadanya terasa terbakar.

Arva lanjut.

“Aku mau istirahat bang. Kasian Irva pasti capek di jalan tadi. Tuh kuncinya udah di Irva.”

Shadiq buru-buru.

“Aku mau lihat Irva sebentar.”

Arva berikan ponsel ke Irva. Irva duduk di sofa teras, wajah kecilnya muncul di layar, mata besar dan mengantuk.

Shadiq suara lembut.

“Irva sayang. Irva udah makan?”

Irva angguk hebat.

“Udah papa. Tadi nenek suapin Irva. Irva makan banyak banget.”

Shadiq tersenyum tipis.

“Nenek masak apa Irva?”

Irva cerita antusias.

“Banyak pa, tadi ada ayam pedes juga. Kata nenek papa suka ayam pedes itu pas main ke sana. Tapi Irva ga mau… Pedes banget.”

Shadiq ketawa kecil.

“Oh iya? Papa mau kayaknya nak, masih ada kan? Besok kapan-kapan kita ke nenek lagi papa yang abisin ayam pedes itu.”

Irva geleng.

“Udah abis pa. Tadi kakek yang makan semuaa… Papa ga kebagian.”

Shadiq.

“Besok masak lagi.”

Irva tiba-tiba berteriak ke arah ibunya.

“Mama, papa mau ikut ke rumah nenek. Katanya mau ayam pedes.”

Arva menoleh sekilas, lalu berkata pada Irva (Shadiq dengar samar).

“Bangus dong kalo papa ikut. Bilang sama papa coba ‘kalo janji ditepati ya pa, jangan dilupain karna sibuk, takutnya ada yang kecewa kalo ga jadi’.”

Irva mengulang dengan polos, suara manja.

“Papa kalo janji ditepati yaa… jangan sibuk kata mama. Takut ada yang kecewa pa.”

Shadiq dadanya panas seperti terbakar. Air mata hampir jatuh.

“Iya nak. Sabar dulu tapi ya. Ga sekarang.”

Irva angguk gembira.

“Iya pa. Besok aja… sekarang udah malem, nenek udah tidur.”

Shadiq.

“Iya besok kalo papa pulang. Kalo besok pagi papa belum bisa nak, masih cari uang saku buat ke rumah nenek.”

Irva mengangguk.

“Oke paa. Aku tungguuuu.”

Arva duduk di sebelah Irva.

Tak lama telepon dimatikan karena Irva mengantuk.

Shadiq jongkok di balkon, ponsel masih di tangan, air mata jatuh pelan ke lantai kayu.

Rasa gelisah, rasa bersalah, dan rasa ingin membunuh diri perlahan menyala di dadanya—tanpa senjata, tanpa darah. Hanya rindu yang membakar.

Ia tatap kota Busan di bawah. Lampu pelabuhan berkedip seperti mata yang menertawakan.

*Gue harus berubah. Gue harus buktiin. Gue harus pulang.*

Tapi ia tahu: pulang bukan cuma soal tiket pesawat. Pulang adalah soal membersihkan tangan dari darah dan kebohongan.

Dan itu jauh lebih sulit daripada sabotase kontainer.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!