NovelToon NovelToon
Pada Ibu Pertiwi Kutitipkan Cintaku

Pada Ibu Pertiwi Kutitipkan Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:317
Nilai: 5
Nama Author: Caeli20

Cintanya itu harusnya menyatukan bukan memisahkan, kan? Cinta itu harusnya memberi bahagia bukan duka seumur hidup, kan? Tapi yang terjadi pada kisah Dhyaswara Setta dan Cakra de Bruijn berbeda dengan makna cinta tersebut. Dua orang yang jatuh cinta sepenuh jiwa dan telah bersumpah di atas darah harus saling membunuh di bawah tuntutan. Siapakah yang menang? Tuntutan itu atau cinta mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caeli20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep.27 : Keinginan Besar Meneer Lorens

Semua menoleh ke arah tepuk tangan. Meneer Lorens mendekat mengakhiri tepuk tangannya mengganti dengan senyuman. Matanya hanya menatap satu, Dhiyas.

"Ternyata Anda hebat sekali Nona. Saya kagum,"

Meneer Lorens berdiri tepat di hadapan Dhiyas. Dhiyas menatap dengan tajam tanpa senyuman sedikit pun.

"Saya minta maaf atas kegaduhan yang dibuat anak buah saya," Meneer Lorens menatap sekitarnya, termasuk Cak Din.

"Saya ingin umumkan bahwa, penggusuran tidak akan terjadi itu tergantung pada keputusan Nona ini. Jika dia menerima cinta saya, maka tidak ada penggusuran,"

Semua terkejut. Apalagi Cak Din. Sedangkan Dhiyas amarahnya sudah memuncak pada Belanda satu ini.

"Rasa percaya diri anda terlalu tinggi, Tuan. Sedikit pun tidak ada terbesit di hatiku untuk menerima cintamu," ucap Dhiyas, tegas. To the point.

Meneer Lorens tertawa ringan,

"Tidak perlu dijawab sekarang. Pikirkan saja baik-baik. Aku masih bisa menunggu,"

"Anda mimpi kesiangan. Saatnya bangun dari tidur,"

"Jangan galak-galak Nona. Aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku. Karena semakin kamu marah, kamu semakin cantik,"

Meneer Lorens menatap Lukman,

"Lukman, ke sini. Minta maaf sama Nona Dhiyas,"

Lukman terbelalak.

Minta maaf?? Yang benar saja. (Lukman).

Meneer Lorens membelalakkan matanya ke Lukman seolah memberi kode untuk mempercepat gerakannya.

Di bawah tekanan tuannya, Lukman menghampiri Dhyas dengan langkah malas.

Lukman saling tatap dengan Dhyas. Sorot mata Dhyas tajam. Ada nyala api tersirat di sana.

Meneer Lorens memberi kode dengan gerakan kepala agar Lukman berinisiatif meminta maaf.

Lukman mendengus. Tangannya terulur,

"Aku minta maaf," Lukman membuang wajahnya.

"Simpan maafku untuk Ibu Pertiwi, pengkhianat," ujar Dhyas dengan suara rendah tanpa membalas uluran tangan Lukman.

Lukman tersedak. Mulutnya sudah terbuka menyanggah Dhyas, tapi Meneer Lorens cepat memberinya kode agar tidak berkata-kata.

Meneer Lorens berdehem,

"Jadi, semua yang di sini menjadi saksi. Kalau nona cantik ini bersedia menerima cintaku maka tanah kalian akan. Tapi jika tidak, kami akan langsung datang dengan alat berat tanpa memberi peringatan lebih dulu,"

"Harga diri anakku tidak semudah itu, Tuan," seru Cak Din.

Meneer Lorens menoleh dan tersenyum,

"Tidak ada yang memberi nilai anakmu seharga tanah, pak Carik. Saya hanya bernegosiasi. Negosiasi yang menguntungkan,"

"Cihhh," Dhyas meludah, "Lebih baik darahku tertumpah daripada harus menerima cintamu,"

Meneer Lorens terkekeh,

"Jangan begitu nona. Tidak enak menjilat ludah sendiri yang sudah kamu buang. Bagaimana kalau suatu hari nanti kamu mengemis cintaku,"

"Tidak akan. Tidak akan pernah," amarah Dhyas mulai memuncak, "Kalau kalian masih sayang nyawa kalian, lebih baik pergi dari sini.

Preman-preman yang terkapar mulai bergerak mencari kekuatan untuk berdiri dan pergi dari situ.

"Dan kamu!," Dhyas menunjuk Lukman, "Aku sudah pernah berjanji untuk menggunduli kepalamu kalau kamu datang lagi. Dan sekarang tanganku gatal untuk memenuhi janjiku itu,"

Melihat tatapan Dhyas yang tidak main-main, Lukman memilih melunak,

"Baiklah, kami pergi sekarang..," Lukman terbata. Dan refleks memberi kode pada para preman untuk pergi.

"Anda juga mau minta dihajar, Meneer?," Dhyas mencibir.

Meneer Lorens tahu kali ini Dhyas cukup serius,

"Ouuw, sabar nona. Sabar. Aku bukan musuhmu. Aku hanya....,"

"Selama kamu tidak di pihak ibu Pertiwi maka kamu musuhku. Musuh kami semua!," seru Dhyas. Tangannya mulai mengepal. Meneer Lorens memperhatikan itu. Buru-buru memakai topi lebarnya kembali dan berjalan ke arah mobilnya.

Semua bernapas lega melihat komplotan itu telah pergi.

**

"Astagfirullah," Nyai Rindi beristighfar mendengar penuturan suaminya, "Berani sekali si Belanda itu bicara begitu. Kalau ada ibu di situ, sudah ibu gampar mulutnya pakai lisung,"

"Mereka itu hanya ngomongnya saja yang besar. Tapi nyalinya ciut. Buktinya, di gertak Dhyas mereka langsung lari," timpal Cak Din.

Nyai Rindi menatap Dhyas yang duduk di seberang mejanya,

"Hati-hati loh nduk. Kalau si Belanda itu sudah ada gelagat jahat padamu, biasanya dia akan membuatnya menjadi kenyataan. Ibu takut kau kenapa-kenapa,"

Dhyas tersenyum kecil,

"Aku tidak akan kenapa-kenapa, Bu. Justru mereka yang akan kubuat kenapa-kenapa,"

**

Ayudiah membereskan meja di hadapan ayahnya,

"Ada apa, ayah? Aku lihat wajah ayah seperti muram?,"

Mbah Lodra menurunkan tangannya yang sedari tadi mengelus janggutnya,

"Ayah kepikiran perkataan Panglima Wira tadi,"

"Soal apa? Misi lagi?," tanya Ayudiah.

"Bukan. Soal Dhyas," jawab Mbah Lodra sambil menatap ke halaman luar.

"Dhyas? Kenapa dengan Dhyas?,"

"Panglima Wira ingin mempersunting Dhyas menjadi istrinya,"

Ayudiah terkejut,

"Benarkah ayah? Apa Panglima Wira sudah lupa sama umurnya?,"

"Yang membuat ayah heran, kenapa dia sampai ada pikiran seperti itu. Ayah pikir dia lurus, ternyata...,"

**

"Terlalu berisiko jika Tuan ingin mengejar cinta gadis itu," keluh Lukman sembari memilin jari-jarinya seperti biasa.

"Bukankah cinta itu memang membawa risiko, Lukman?," Meneer Lorens bersandar penuh di kursi kerjanya seraya menatap plafon ruangannya.

"Tapi Tuan lihat sendiri bagaimana caranya berkelahi. Belum lagi saat dia mengeluarkan ilmu Kanuragan. Benar-benar mengerikan," Lukman bergidik.

"Hahaha...Justru di situ keunikannya, Lukman. Kami para lelaki sangat suka menaklukan wanita superior seperti nona Dhyas. Rasanya berbeda dengan saat berhadapan dengan wanita yang tunduk. Menghadapi Dhyas membakar adrenalin ku,"

Lukman mengernyitkan hidungnya,

"Tuan ada-ada saja. Masih banyak gadis lain yang tidak kalah cantik dari Dhyas. Apa tidak mau coba yang lain saja, Tuan,"

Meneer Lorens memperbaiki posisi duduknya,

"Tidak Lukman," Meneer Lorens mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, "Bagaimana pun caranya. Aku harus mendapatkan Dhyas. Aku harus membalikan keadaan. Aku akan mencari tahu kehidupan pribadinya. Aku akan mencari cela agar bisa menyentuh hatinya,"

Meneer Lorens memajukan tubuhnya, tangannya bersandar di atas meja kerjanya,

"Aku merasakan gairah lain saat melihat Dhyas, Lukman. Bayangkan kalau aku berhasil menaklukannya. Bayangkan saat dia bertekuk lutut memohon-mohon cintaku," suara Meneer Lorens menggebu.

Lukman semakin mengernyitkan hidungnya melihat tingkah tuannya itu,

Meneer Lorens kembali melanjutkan,

"Dan yang paling aku nantikan, bayangkan dia memohon aku menyentuhnya, memuaskan hasratnya saat kami berada di atas ranjang. Seorang wanita jago bela diri, memohon-mohon untuk dipuaskan hasratnya. Bukankah itu sangat sangat menggairahkan, Lukman," air muka Meneer Lorens mulai berubah seperti orang yang sedang terangsang.

Lukman semakin merasa aneh melihat itu. Meneer Lorens menatap Lukman,

"Kenapa? Kamu merasa aneh mendengar keinginan besarku itu? Oh, aku lupa. Kamu tidak bisa memahami semua ini karena kamu tidak punya hasrat kelaki-laki-an lagi, hahahaha,"

Lukman tersinggung.

1
Wiwi Mulkay
ini belum up lagi
Wiwi Mulkay
kpn di up lagi
Wiwi Mulkay
Caeli ini kapan di up lagi
Caeli: on my way dear kak wiwi😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!